Inspirasi
Berpetualang, Berkarya, dan Berdakwah Ala Hanum Salsabiela Rais

Berpetualang, Berkarya, dan Berdakwah Ala Hanum Salsabiela Rais
Walau cukup lama berada di Eropa, Hanum masih menyadari dirinya adalah muslimah yang memiliki kewajiban untuk berdakwah sesuai dengan kemampuannya. Menurut Hanum, berdakwah itu tidak mesti berceramah di depan banyak orang dan

Menjadi seorang muslimah bukan berarti segala kesempatan untuk menggali potensi lainnya menjadi terhalang. Tapi justru dengan menjadi muslimah, banyak peluang dan kesempatan untuk lebih “bersinar”, baik dalam pandangan Allah SWT maupun manusia.
 
Menjadi muslimah apalagi seorang ibu harus memiliki wawasan yang luas. Karena seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi putra-putrinya. Kali ini, Majalah Swadaya bersilaturahim dengan salah seorang muslimah yang melanglangbuana ke berbagai daerah, dan memiliki prestasi bersinar.
 
Bertempat di kediaman pribadinya, di daerah Condong Catur, Yogyakarta, tim Majalah Swadaya bertukar pikiran secara langsung dengan Hanum Salsabiela Rais. Perempuan kelahiran Kota Gudeg, Yogyakarta, 34 tahun lalu. Ia merupakan putri dari Amien Rais, seorang tokoh reformasi di Indonesia dan dikenal luas masyarakat.
 
Sepenggal Pengalaman di Eropa
Hanum menempuh pendidikan dasar hingga pendidikan atas di sekolah Muhammadiyah Yogyakarta. Setelah itu, Hanum melanjutkan kuliah dan pendidikan profesi di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga memperoleh gelar dokter gigi pada 2006.
 
Hanum mengawali karirnya sebagai pembawa acara lepas di berbagai stasiun televisi di Yogyakarta. Pada 2006, Hanum pun menerima tantangan untuk hijrah ke Jakarta dan meniti karir sebagai reporter di salah satu stasiun televisi swasta. Di stasiun TV ini, Hanum juga membawakan program berita harian Reportase sebagai presenter.
 
Pada 2008, Hanum diboyong suaminya ke kota Wina, Austria. Saat itulah Hanum memulai petualangannya di Eropa. Di negara ini, Hanum mendalami pendidikan bahasa Jerman sambil bekerja sebagai video host dan editor untuk program Podcast Executive Academy, Universitas Ekonomi dan Bisnis, Wina.
 
Selama di Eropa, Hanum sempat menjadi salah seorang kontributor dan jurnalis responden salah satu berita portal terbesar di Indonesia. Hanum juga pernah membawa ayahnya untuk berceramah ke beberapa kampus di Eropa.
 
Walau cukup lama berada di Eropa, Hanum masih menyadari dirinya adalah muslimah yang memiliki kewajiban untuk berdakwah sesuai dengan kemampuannya. Menurut Hanum, berdakwah itu tidak mesti berceramah di depan banyak orang dan menyampaikan ayat-ayat al-Quran, karena setiap orang memiliki kemampuan dan kapasitas yang berbeda-beda. 
 
Ada sebuah pengalaman yang membuat Hanum mengubah pandangan teman-temannya di Eropa terhadap muslim, terutama seorang muslimah. Saat itu, Hanum diundang ke sebuah pesta temannya. Layaknya sebuah pesta di Eropa, hampir di setiap sudut menyajikan minuman beralkohol. Hanum dan Rangga, suaminya, menolak ketika disuguhkan minuman beralkohol tersebut.
 
Pada kesempatan yang lain, Hanum dan Rangga memberikan hadiah kepada temannya yang berulang tahun dengan mempersembahkan lagu. Hanum bermain piano dan Rangga bernyanyi. Dari kejadian itu, beberapa temannya penasaran dan tidak percaya seorang muslimah bisa melakukan hal itu.
 
“Teman saya bertanya dengan bahasa setempat. Intinya, ia mempertanyakan bagaimana bisa seorang muslimah seperti itu (bermain piano). Saya lalu menjawabnya bahwa seorang muslim/muslimah harus maju dan memiliki wawasan yang luas. Islam itu indah, tidak melarang seorang muslim untuk belajar bahkan menyuruh untuk banyak belajar,” tutur Hanum.
 
Prihatin dengan Perfilman Indonesia
Meski memiliki gelar sebagai dokter gigi, Hanum tak lantas meninggalkan kegemarannya menulis. Bahkan dengan kegemarannya itu, beberapa karya luar biasa telah dihasilkannya. Pada 2010, Hanum menerbitkan buku yang berjudul “Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta”. Dari judulnya saja dapat ditebak bahwa buku ini merupakan rekam jejak seorang ayah yang bernama Amien Rais, yang ditulis oleh putrinya.
 
Beberapa karya lainnya menjadi best seller, bahkan filmnya pun ditonton jutaan orang dan menjadi film yang recomended. Salah satu buku yang membuat nama Hanum semakin bersinar adalah novel berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa”. Selain menjadi best seller, novel ini juga difilmkan dengan judul serupa pada 2013. Dibintangi pemain-pemain muda Tanah Air, film ini menyedot perhatian masyarakat dari berbagai kalangan.
 
“Alhamdulillah, banyak masyarakat antusias dengan film ini. Saya nggak nyangka bahkan banyak ibu-ibu majelis taklim yang tertarik dan nonton film ini,” kata Hanum dengan semringah.
 
Di tengah kebahagiaan Hanum karena suksesnya film 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum merasa prihatin dengan perkembangan film di Indonesia saat ini. Hanum menilai perfilman saat ini masih banyak yang jauh dari nilai-nilai pendidikannya. Walau bergenre Islam, namun isinya jauh dari nilai Islam, bahkan lebih condong seperti berkesan menjelekkan Islam.
 
“Di satu sisi, saya senang dengan perkembangan perfilman di Indonesia saat ini. Di sisi lain saya juga prihatin karena masih banyak film yang bergenre Islam tapi malah menjelekkan Islam,” katanya.
 
Setelah merampungkan novel dan film 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum kembali meluncurkan novel terbarunya dengan judul “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Rencananya, sebuah film dengan judul yang sama pun akan dirilis tahun ini.
 
Lelaki yang Menginspirasi
Kehadiran sang suami rupanya tak hanya menjadi teman hidup bagi Hanum, namun juga sebagai teman perjalanan, teman berpetualang, dan teman menulis. Semua buku yang Hanum tulis memiliki penulis kedua, yakni suaminya, Rangga Almahendra.
 
Rangga menempuh pendidikan dasar hingga atas di Yogyakarta, kemudian meneruskan pendidikan S1 di ITB dan S2 di UGM. Setelah itu, Rangga memenangkan beasiswa dari pemerintah Austria untuk studi S3 di WU Vienna. Saat itulah Rangga berkesempatan berpetualang bersama istrinya menjelajah Eropa. Pada 2010, ia menyelesaikan studinya dan meraih gelar doktor di bidang International Business & Management.
 
Selain suami yang begitu setia menemani perjalanan hidupnya selama ini, rupanya ada lelaki lain yang membuatnya bersinar seperti sekarang. Yakni ayahnya, Amien Rais. Di mata Hanum, sosok ayah tak sekadar ayah yang baik tetapi juga sumber inspirasi. Buku yang berjudul “Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta” sepenuhnya terinspirasi dari ayahnya.
 
Bagi Hanum, ayah banyak memberinya pelajaran. Salah satunya adalah pelajaran tentang berbagi. Sebuah pengalaman bersama ayah membuat Hanum semakin sadar untuk lebih peduli terhadap sesama.
 
“Suatu hari saat saya masih remaja, ada yang jual sapu lewat rumah dan saya memanggilnya. Saya membelinya, tapi sebelumnya saya tawar habis-habisan hingga harganya jauh dari yang ditawarkan. Dengan gembira dan bangganya, saya tunjukkan ke ayah saya dan saya bilang tadi harganya segini dan saya tawar jadi segini. Saya kira ayah saya senang dan memuji saya, ternyata tidak. Ayah saya marah karena saya sudah berbuat zalim kepada tukang sapu tersebut, yang keuntungannya tidak seberapa. Ayah saya lebih menganjurkan untuk menambah uang lebih, bukannya menawarnya. Dari sana saya sadar. Setiap hari saya berharap tukang sapu itu lewat rumah lagi, karena saya ingin menebus kesalahan saya,” kenang Hanum.
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Sepuluh Fondasi Rumah Tangga
Sepuluh Fondasi Rumah Tangga
20
Seni yang jika diibaratkan sebagai fondasi atau pilar dalam berumah tangga, maka ia haruslah kokoh dan kuat terhujam.
Galeri
DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por