Inspirasi
Qabil dan Keturunannya: Terjebak dalam Tipu Daya Iblis

Qabil dan Keturunannya: Terjebak dalam Tipu Daya Iblis
Segala daya upaya ia kerahkan. Terwujudlah masyarakat Qabil yang beradab (sesuai prasangkanya). Di tengah masyarakat seperti inilah, Iblis laknatullah memilih dan menjadikannya sebagai lahan subur untuk melancarkan tipu daya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. an-Nur [24]: 21)

Menyadari kemurkaan ayahnya terhadap tindakan (membunuh Habil), Qabil (menurut salah satu riwayat) segera membawa lari Iqlima menuju tempat yang jauh. Ia mencari lembah yang memungkinkan dijadikan tempat membina keluarga dan keturunannya. Allah berkehendak Qabil memiliki keturunan yang banyak.
Qabil pun mengajarkan berbagai macam kebaikan kepada keturunannya. Tentu, bukan berdasarkan wahyu Allah (10 mushaf yang dibawa dan diajarkan Nabi Adam), namun disesuaikan prasangka nalar dan logikanya.

Walaupun ia berbuat salah, namun hati kecilnya tetap berharap keturunannya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga mampu membangun peradaban sempurna. Segala daya upaya ia kerahkan. Terwujudlah masyarakat Qabil yang beradab (sesuai prasangkanya). Di tengah masyarakat seperti inilah, Iblis laknatullah memilih dan menjadikannya sebagai lahan subur untuk melancarkan tipu daya.

Maka, Iblis melakukan penjajakan. Ia memilih waktu yang tepat untuk melakukan pendekatan. Saat waktunya tiba, ia tawarkan hidup penuh kenikmatan dan kepuasan (sebagaimana yang pernah dilakukan kepada Rasulullah Adam, sehingga menyebabkan terjadinya “Tragedi Buah Khuldi”). Tanpa memerlukan usaha keras, masyarakat Qabil dengan serta merta menerima dan menyambutnya. Iblis pun memperkenalkan dan memperdengarkan beberapa alat yang dijadikan senjata tipu dayanya. Benda-benda ini memiliki kelebihan berupa suara merdu, yang keluar saat ditiup dan ditabuh dengan seksama.

Awalnya kaku. Namun, seiring irama merdu yang keluar dari setiap tiupan dan tabuhan, tanpa sadar tubuh masyarakat Qabil mulai santai mengikuti irama. Semakin lama gerakan tubuh mereka semakin lentur. Bahkan mereka mulai menciptakan ekspresi-ekspresi unik melengkapi keindahan irama. Ada yang memperagakan dan ada pula yang berkomentar. Maka, terciptalah beberapa tarian yang terus mereka peragakan. Mereka pun merasakan kepenatan dan rasa lelah setelah bekerja seharian seolah hilang, seiring kesenangan yang didapatkan.

Keturunan Qabil semakin banyak yang ketagihan.Tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Mereka lalu membuat kesepakatan. Memilih satu hari dalam seminggu yang dijadikan hari perayaan untuk bersuka-cita dan bergembira. Di hari itu, para lelakinya membawa hadiah yang diberikan kepada para perempuannya. Para perempuannya pun berdandan (tabaruj) supaya menjadi pusat perhatian, agar para lelaki memilih dan memberikannya banyak hadiah.

Seiring waktu berjalan, masyarakat Qabil semakin melewati batas. Mereka terjerembab kepada budaya dan gaya hidup tanpa hijab dan aurat. Maka, terjadilah perlakuan-perlakuan layaknya binatang. Tidak ada budaya malu. Yang ada adalah perasaan bangga tatkala mampu melakukan hal yang tidak bisa dilakukan orang lain. Jiwa mereka akhirnya diperbudak hasrat mendapatkan kepuasan belaka.

Inilah gambaran masyarakat Qabil. Mereka terperangkap dalam tipu daya Iblis. Padahal (sebelumnya) Qabil berusaha keras menanamkan kebaikan-kebaikan. Namun, ternyata kebaikan-kebaikan versi logika (Qabil) tidak berdaya guna apa-apa. Bukannya mendapatkan peradaban yang sempurna, malah mengundang malapetaka dan kecelakaan. Tentunya tidak ada yang mereka dapatkan kecuali penyesalan. Wallahu a’lam.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Berinvestasi dan Menabung Tanpa Uang
Berinvestasi dan Menabung Tanpa Uang
22
Cara menabung dengan berternak atau bertani sebenarnya bukan cara baru. Tapi sehubungan saat ini sudah serba dinilai dengan uang, maka cara itu menjadi tidak populer bahkan terlupakan.