Inspirasi
dr. Bayu Wahyudi, MPHM, Sp.OG.: “Anak Nakal” Kaya Prestasi

dr. Bayu Wahyudi, MPHM, Sp.OG.: “Anak Nakal” Kaya Prestasi
Melahirkan azam (tekad) yang ia pegang hingga sekarang. Bertekad untuk selalu berbuat baik, tidak ria, ikhlas, dan bermanfaat bagi umat. Dan terutama, ikhlas dalam berbuat.

Tantangan. Kata yang akrab dengan kehidupan ini. Disadari atau tidak, tantangan adalah karunia besar dari Allah. Semakin banyak tantangan, kesulitan, dan ujian dalam kehidupan, maka semakin besar pula peluang untuk dekat dengan-Nya.
 
Adanya beragam tantangan, akan membuat hidup jadi berwarna. Kemampuan kita pun makin terasah. Inilah yang diyakini dr. Bayu Wahyudi.  
 
Mendengar namanya, mungkin sebagian orang merasa asing. Tapi, jika mendengar tempat laki-laki ini “berdiri”, pastilah hampir semua orang mengenalnya.
 
Sebuah rumah sakit ternama di Kota Bandung, adalah “rumah” tempatnya mengabdi. Rumah Sakit Hasan Sadikin, rumah sakit pemerintah terbesar di Jawa Barat, tempat dr. Bayu Wahyudi menerima amanah sebagai Direktur Utama.
 
Gelar “Anak Nakal”
Satu Maret 1962 di Jakarta, anak laki-laki ini dilahirkan. Karena beberapa hal, Bayu ikut pindah bersama orang tuanya ke Palembang. Waktu itu, Bayu masih duduk di kelas II SMP. Walaupun demikian, gelar “anak nakal” sudah ia terima saat itu.
 
Bagaimana tidak, Bayu dikenal sebagai tukang berkelahi. Bahkan, tak sedikit yang mengenal Bayu sebagai jagoan di daerahnya, Jalan Kawi, Ujung Malabar, Jakarta.
 
Menginjak SMA, sisa kenakalannya masih ada. Kesehariannya kebanyakan diisi dengan berbagai hal ekstrem. Balapan motor jadi hobi sekaligus menu sehari-hari. Walaupun demikian, Bayu selalu jadi juara kelas.
 
“Pernah suatu hari ada anak nakal. Sok-sokan. Saya tonjok, saya pukuli, dan ia lari ke rumahnya. Saya kejar masuk tengah rumah, saya pukuli di tengah rumahnya. Kakeknya, engkongnya, encingnya, bapaknya, mukulin saya pake sapu dan segala macem. Akhirnya jadi perang besar. Anehnya walau badan saya kecil, saya tahan pukul. Badan saya tidak apa-apa. Saya juga suka belajar silat, kungfu, dan berbagai seni bela diri,” ujar Bayu saat ditemui di kantornya, Jumat (8/10).
 
Memang, Bayu remaja akrab dengan “tantangan”. Baginya saat itu, mendekati kesulitan dan menjadikan kesulitan sebagai sebuah tantangan adalah seni menikmati hidup. Meskipun nakal, Bayu selalu bertekad untuk tidak menyusahkan orang tuanya.
 
Sesulit apa pun, pantang bagi laki-laki berdarah Sumatra-Jawa ini untuk melapor ke orang tua. Bertekad menerima sendiri akibat kenakalan dan bertanggung jawab penuh atas perbuatannya.
 
Proses Pendewasaan
Tamat SMA, Bayu mengikuti tes masuk universitas. Kedua orang tuanya menginginkan Bayu masuk kedokteran. Bayu kemudian diterima di kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri). Tak puas menimba ilmu di Universitas Sriwijaya, Bayu melanjutkan studinya dan lulus tahun 1980.
 
Belajar dari satu tempat ke tempat lain bukanlah tanpa tantangan dan ujian. Saat yang sulit bagi Bayu adalah kesempatan untuk mengukir prestasi. Menjadikan hambatan sebagai tantangan dan prestasi adalah bukti keberhasilannya.
 
“Saya melihat banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Saat itulah waktunya pematangan. Bukan terbuang. Tapi justru itu yang mendewasakan saya sampai saat ini,” kenang anak ke-3 dari 8 bersaudara ini.
 
Bayu kian mendapat pelajaran luar biasa dalam hidupnya. Terutama ketika adiknya (anak ke-4) dan kakaknya (anak ke-2) meninggal. “8 November mbak meninggal karena kecelakaan. Tiga bulan koma. Itulah yang membuat saya dewasa. Itu semua Allah yang mengatur,” kenangnya.
 
Ketika telah menjadi dokter, Bayu mendapat tugas di daerah terpencil di Selat Bangka. Di daerah tersebut, Allah menakdirkannya sebagai daerah yang sulit untuk mendapat air bersih. Ini sebuah tantangan besar bagi Bayu dan rekan-rekannya sesama dokter. Mau tidak mau, bayu dan rekan-rekannya harus berpikir keras—memecahkan masalah di daerah tersebut.
 
Tantangan semakin jelas ketika saat itu dikabarkan 25 orang meninggal karena kekurangan makanan. Akhirnya, digagaslah program alat pengolah air dengan menggunakan kincir. Tak hanya itu, didirikan juga sarana air bersih untuk masyarakat.
 
Hasilnya berbuah manis. Tak sekadar bermanfaat bagi masyarakat, Bayu pun mendapatkan reward dari Gubernur Sumatera Selatan untuk berhaji. Tak hanya itu, kesempatan belajar di luar negeri semakin terbuka lebar. Setelah berhaji, Bayu kembali memperdalam ilmu kedokterannya di Bangkok, Thailand.
 
Buah Hubungan Baik
Setelah menyelesaikan studi di Bangkok, Bayu mulai memikirkan pendamping hidup. Setelah beberapa waktu, Bayu meminang Marisa, seorang dokter magang di tempatnya bekerja saat itu. Dana menikah ia dapatkan dari hasil tabungan beasiswa. Karena semasa memperoleh beasiswa, tak terlintas dalam benaknya untuk berfoya-foya. Ia tidak ingin menyusahkan orang tua.
 
Selama kuliah, Bayu mempunyai hubungan baik dengan dosen-dosen yang mengajarnya. Masalah prestasi, memang tak diragukan lagi. Namun, buah dari hubungan baik dan prestasi yang dimiliki membuat Bayu mendapatkan berbagai kesempatan mengembangkan karir sebagai seorang dokter.
 
“Inilah buah dari silaturahim dan buah berprestasi. Di mana pun jadi mata uang yang berharga sekali. Bagaikan emas, gak di Afrika, India, Indonesia, pasti laku. Maka jadilah emas. Kalau kita jadi loyang, laku enggak dijual enggak.”
 
Suatu saat, Bayu berkesempatan berkarya di kanwil dan diamanahi sebagai pimpinan proyek. Karena merasa tidak tenteram berkarya di sana, Bayu memutuskan mengakhiri amanahnya di kanwil. Bayu kembali mendapat tawaran dari berbagai rumah sakit. Akhirnya, Bayu memilih spesialis kandungan.
 
Tak mudah untuk menjalani itu semua. Ada saja tantangan yang harus dihadapi. Walaupun demikian, tantangan tersebut tak membuat Bayu surut dan menyerah pada keadaan. ”Asal kita berjalan on the track, berjalan di jalan Allah, tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan dan ketentuan Allah dan aturan manusia. Semuanya terus berjalan, malah jadi pupuk untuk maju terus,” ujarnya penuh keyakinan.
 
Tahun 2005-2008, Bayu mengemban amanah sebagai Direktur Rumah Sakit Kusta di Palembang. Dan pada tanggal 26 Juli 2010, Bayu resmi menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.
 
Berbagai amanah itu memberinya banyak pelajaran dalam hidup. Melahirkan azam (tekad) yang ia pegang hingga sekarang. Bertekad untuk selalu berbuat baik, tidak ria, ikhlas, dan bermanfaat bagi umat. Dan terutama, ikhlas dalam berbuat.
 
“Kalau kita hanya minta materi, yang dapat hanya dunia. Tapi, kalau kita minta akhirat, insya Allah dunia pun dapat,” ujar Bayu mengakhiri perbincangan. 

sumber foto : http://usepsaepurohman.gurusiana.id






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Berinvestasi dan Menabung Tanpa Uang
Berinvestasi dan Menabung Tanpa Uang
22
Cara menabung dengan berternak atau bertani sebenarnya bukan cara baru. Tapi sehubungan saat ini sudah serba dinilai dengan uang, maka cara itu menjadi tidak populer bahkan terlupakan.