Inspirasi
Erie Sudewo: Kemiskinan = Musnahnya Ruh Sebuah Bangsa

Erie Sudewo: Kemiskinan = Musnahnya Ruh Sebuah Bangsa
Ternyata, badannya yang besar sebanding dengan cita-cita dan pemikiran-pemikirannya yang besar pula. Namanya pun kerap terdengar akrab di kalangan pegiat zakat dan media massa.

“Visi tanpa tindakan adalah mimpi. Tindakan tanpa visi hanyalah rutinitas. Maka visidan tindakan meniscayakan rutinitas.”
 
Erie Sudewo, pertama melihatnya memang seperti sosok asing. Perawakannya yang besar memberi kesan cukup khas bagi orang yang pertama mengenalnya. Ternyata, badannya yang besar sebanding dengan cita-cita dan pemikiran-pemikirannya yang besar pula. Namanya pun kerap terdengar akrab di kalangan pegiat zakat dan media massa.
 
Usianya lebih dari setengah abad tapi semangatnya tak pernah redup. Erie memang dikenal sebagai orang yang “bawel” dan “keras” terhadap amilin (pengelola zakat). Laki-laki kelahiran Cimahi, 25 September  53 tahun silam ini tak segan mengkritik performance anak buahnya saat menjabat sebagai pimpinan sebuah lembaga amil zakat (Dompet Dhuafa).
 
Akrab dengan Kemiskinan
Gembar-gembor soal kemiskinan, tak berarti Erie belum pernah mencicipi kemiskinan. Pahitnya kehidupan Erie rasakan saat ayahnya, sang perwira meninggal.Usianya baru 44 tahun. Masih tergolong muda bagi seorang ayah dari delapan anak ini. Kiamat kecil bagi keluarga Erie. Ibu tercinta pun pontang-panting menghidupi delapan anaknya yang telah yatim.sejumlah orang meninggalkan keluarganya. Tak seakrab ketika sang ayah berjaya.
 
Meski begitu akrab dengan kemiskinan, tak berarti Erie saat ini orang “miskin”. Otaknya amat kaya. Ide-ide brilian mampu diproduksinya setiap saat. Gagasan demi gagasan Erie lahirkan dari sebuah pemikiran yang matang. Tak tanggung-tanggung dan tak setengah-setengah. Tak mudah dipatahkan oleh aneka kritik dan gugatan yang bermunculan menyerangnya.
 
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim membuat Erie senantiasa aktif merespon hal-hal yang berbau kesenjangan social, kemiskinan, dan pemiskinan. Hadis tersebut berbunyi “ Kemiskinan, kebodohan, dan penyakit merupakan musuh islam. Ketiganya dapat menggoyah sendi kehidupan, menghancurkan ketentraman, menghalangi ukhuwah, serta meruntuhkan kemuliaan dan kejayaan bangsa.
 
Pengalamnnya sebagai wartawan di berbagai media massa membuat Erie piawai menuangkan gagasan. Gagasan-gagasannya kerap terasa “sadis” dan menyentak. Membuat orang terperanjat dari “tidurnya”. Tak berlebihan jika Erie menerima anugerah Ernst & Young Entrepreneur of the Year Awards 2009 kategori Social Entrepreneur pada tahun 2009.
 
“kemiskinan memang indah dilantunkan di pentas apapun. Retorika kemiskinan memang sanggup menggugah nilai hakiki manusia: keharuan, air mata, dan simpatik selalu menyertai saat kita menelusuri babak kehidupan dari mereka yang tercabik.” Ujar Erie dalam sebuah bukunya.
 
Menulis, menulis, dan menulis
Sepuluh tahun, bukan waktu yang singkat untuk memimpin sebuah lembaga. Apalagi, sebuah lembaga  yang menyangkut hajat hidup banyak orang. Lembaga Amil Zakat. Tahun 1993, Erie dipercaya sebagai koordinator dompet dhuafa. Sebelumnya, Erie diamanahi sebagai wartawan di berbagai media massa seperti Bisnis Indonesia, Berita Buana, dan harian Republika.
 
Wajar saja ketika Erie memimpin sebuah Lembaga Amil Zakat, nalurinya sebagi jurnalis pun keluar. Menulis, menulis, dan menulis, tiada hari tanpa menulis buat Erie. Tak sedikit gagasan-gagasannya  Erie tuangkan lewat tulisan. Berawal dari tulisan hingga akhirnya Erie pun mengumpulkan “energy” untuk dijadikan sebuah aksi konkret ihwal zakat.
 
“Zakat adalah politik yang paling penting di dalam islam. Maka di dalam pembangunan, ruh membangun Negara adlah mengatasi orang-orang miskin. Jadi kalau Negara tidak mengatasi orang-orang miskin. Negara ini tidak punya ruh. Meskipun dia membangun. Meskipun dia kaya. Tapi kalau dia tidak berkiprah membantu mengatasi persoalan ini, maka ruhnya hilang.” Ungkap Erie saat mengisi acara workshop Daarut Tauhiid beberapa hari lalu.
 
Tahun2003, Erie menyatakan lengser. Walaupun telah lengser, tak berarti Erie angkat tangan dengan kondisi saat ini. Erie pun diamanahi sebagai konsultan pemberdayaan masyarakat di samping aktifitasnya sebagai Sekretaris Dewan Wali Amanah Dompet Dhuafa Republika (DDR). Seabreg aktifitas lain pun Erie geluti. Menjadi Penanggung Jawab Sementara Direktur Raudha Rahma Abadi, Direktur Azhari Islamic School, Chief Executive Officer (CEO) perusahaan konsultan pemberdayaan, dan lain-lain.
 
 “Sesungguhnya zakat sudah jadi jaminan social bagi orang-rang miskin dan asuransi social bagi orang-orang kaya. Jadi, jiika sudah terkumpul hebat ziswafnya, kalau kita sekarang wajib menyalurkan 2,5%, pada waktu nanti sudah tidak kaya lagi, maka dia boleh mengambiol kebvutuhannya, satu tahun itu seharusnya, untuk memenuhi kebutuhan dia. Tidak lagi 2,5% pada waktu kita memberikan.”
 
Menurut Erie, dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa mewujudkan kesejahteraan bangsa, tidak identik dengan atasi kemiskinan melulu. Artinya negara harus menata seluruh sektor. Untuk itu negara mesti pandai mengemas sumber daya sebagai instrumen pembangunan.

sumber foto : http://khazanah.republika.co.id






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Mempertahankan Kebiasaan Mulia Pascaramadan
Mempertahankan Kebiasaan Mulia Pascaramadan
12
Mudah-mudahan tulisan ini membantu membangun kebiasaan yang sebaiknya dipertahankan dan disempurnakan pascaramadan