Inspirasi
Berinvestasi dan Menabung Tanpa Uang

Berinvestasi dan Menabung Tanpa Uang
Cara menabung dengan berternak atau bertani sebenarnya bukan cara baru. Tapi sehubungan saat ini sudah serba dinilai dengan uang, maka cara itu menjadi tidak populer bahkan terlupakan.

Awal tahun 2011 ini, alhamdulillah penulis berkesempatan dari Aceh datang ke Kuningan, Jawa Barat untuk menengok anak-anak yang tengah menempuh ilmu di sebuah pesantren. Selain menjenguk anak-anak, penulis juga berkesempatan bersilaturahim dengan seorang bapak yang baik. Ia adalah petani yang menjadi sumber pembelajaran pada tulisan ini, yang penulis sharing kepada para pembaca setia rubrik Pundi Swadaya. 
 
Meski penampilannya tampak sederhana, tapi bapak tersebut merencanakan keuangan dengan baik. Mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, yakni pertanian. Saat ini ia menanam beraneka jenis tanaman dengan masa panen yang berbeda. Ada yang bisa dipanen setiap bulan, berumur 3 bulanan (palawilja), dan ada juga yang masa panennya cukup lama (lebih dari 3 tahunan) seperti tanaman keras (kayu-kayuan).
 
Dari jenis tanaman-tanaman tersebut, ia telah memiliki alokasi peruntukkan. Baik yang sifatnya rutin bulanan (dari panen tumbuhan yang dapat dipanen cepat), serta untuk pengeluaran jangka panjang,  yakni keperluan kuliah anaknya. Termasuk juga bagi rehabilitasi atau perluasan rumahnya dari hasil panen tanaman yang panennya lama.
 
Kisah di atas adalah contoh “menabung dan berinvestasi tanpa uang”. Bapak itu menabung dan berinvestasi tapi tidak dengan uang namun dengan tumbuhan yang ia tanam. Cara menabung dengan berternak atau bertani sebenarnya bukan cara baru. Tapi sehubungan saat ini sudah serba dinilai dengan uang, maka cara itu menjadi tidak populer bahkan terlupakan.
 
Para orang tua kita terdahulu sering juga menabung yang tidak berbentuk uang. Namun berbentuk beras, misalnya menyisihkan satu sendok beras setiap akan menanak nasi. Bahkan secara kolektif, menabung dengan beras pernah menjadi tradisi di beberapa daerah di Indonesia, sehingga lahirnya istilah “jimpitan”, “perelek”, dan lain-lain. 
 
Bentuk lain menabung yang mungkin masih baru bagi kita adalah “menabung sampah.” Ya, memang yang ditabung atau yang disimpan bukan barang menjijikkan atau mendatangkan penyakit. Tapi beberapa barang yang sudah tak bisa dipakai, dan masih berharga karena bisa dijual (koran bekas misalnya) atau diolah menjadi produk yang ekonomis melalui proses daur ulang, dan sebagainya. Menabung dengan cara ini, selain bermanfaat secara ekonomis juga bermanfaat secara ekologis. Mengurangi sampah yang menumpuk.
 
Lalu. adakah menabung atau berinvestasi dalam bentuk non-uang yang lain?
 
Tentu saja banyak. Salah satu contoh lain, yang penulis lakukan adalah “menabung tulisan” atau “menabung ide untuk tulisan.” Setiap ada waktu yang memungkinkan dan ketika ada ide, penulis berupaya menulis dan menyimpannya. Memang tidak segera menghasilkan uang, namun dengan pengolahan lanjutan (editing, penambahan, dan mencari peluang media yang cocok untuk memuatnya) maka suatu saat nanti “tabungan” tersebut bisa “dicairkan”. Ia berbentuk uang yakni honor menulis.

Nah, para pembaca setia rubrik Pundi, adakah ide menabung dan berinvestasi non-uang yang lainnya?
 
sumber foto : http://wakaf.daaruttauhiid.org






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Sedekah is Good
Sedekah is Good
15
Upayakan tetap ada sedekah dalam bentuk nyata lainnya karena sedekah adalah salah satu pintu rezeki. Jangan sampai kesempitan kita sekarang menjadikan kita kehilangan rasa syukur kepada Sang Pencipta hingga tidak mau lagi bersedekah.