Inspirasi
Mengenal Syaikh Abdur Raheem McCharty

Mengenal Syaikh Abdur Raheem McCharty
Ketertarikannya semakin besar ketika mengatahui Islam begitu memperhatikan masalah kebersihan. Dia sangat terkesan dengan keharusan bersuci sebelum salat,

Setelah kedatangan Zakir Naik beberapa bulan lalu, Indonesia kembali kedatangan ulama Internasional. Dialah Syaikh Abdur Raheem McCharty, seorang ulama dari Washington DC, Amerika Serikat. Dia datang pada Ramadan lalu dan sempat mengisi acara Buka Bersama Dompet Peduli Ummat (DPU) Daarut Tauhiid di Cinnamon Hotel. Beliau datang bersama keluarganya.

Troublemaker Bertemu Cahaya Islam
Walaupun lahir dari keluarga katolik dan terbilang keluarga sukses di Amerika, McCharty muda tumbuh menjadi seorang troublemaker (pembuat masalah). Bahkan, dia mengaku sempat bergabung dengan gang kota DC di usianya yang masih belasan tahun.

Perjalanannya mengenal Islam terjadi ketika dirinya mengunjungi rumah temannya saat berumur 18 tahun. Di rumah itu dia tidak bertemu dengan temannya. Dia hanya bertemu dengan ayah temannya. Kemudian, McCharty muda diminta untuk bermain game sambil menunggu temannya datang.

Saat itu, dia melihat ayah temannya membaca al-Quran mengikuti suara kaset dengan terjemahan bahasa Inggris. Rasa penasaran mendorongnya untuk bertanya kepada pria paruh baya yang sekitar 10 tahun memeluk agama Islam tersebut.

Islam sebagai agama untuk orang kulit hitam menjadi informasi utama yang diketahuinya. Dia pun bertanya, “Apakah aku bisa menjadi Muslim sebagai seorang kulit putih?” Ayah temannya menjawab dengan mantap, “Islam itu untuk semua orang, mau kulit hitam, kulit putih, bahkan kulit ungu sekalipun!” diikuti senyuman. Di akhir pembicaraan, McCharty muda diberikan buku Islam, The Religion of The Truth.

Dia merasa tersentuh dengan isi buku terbitan Kedutaan Arab Saudi itu. Ketertarikannya akan hal-hal keagamaan, walaupun dia memilih menjadi anak bermasalah, membuatnya tersentuh dengan konsep monoteis yang dipaparkan buku tersebut.

Ketertarikannya semakin besar ketika mengatahui Islam begitu memperhatikan masalah kebersihan. Dia sangat terkesan dengan keharusan bersuci sebelum salat, termasuk tata cara bersucinya, seperti jongkok ketika buang air kecil dan buang air besar.

Setelah membaca buku itu, dia memutuskan untuk menjadi seorang muslim. McCharty memberi tahu Ayah temannya yang memberikan buku tadi. Dia pun diajak ke Islamic Center di Washinton. Mereka berdua tiba saat memasuki magrib.

McCharty yang belum bersyahadat pun ikut salat magrib dengan meniru orang-orang di sekelilingnya. Setelah salat magrib, barulah dia mengikrar syahadat. “Saya pergi ke Islamic Center Washinton DC. Saya tiba magrib dan ikut salat padahal belum menjadi muslim. Saya hanya meniru gerakan mereka yang salat. Setelah itu, diumumkan ada yang akan menjadi muslim. Saya maju ke depan. Di hadapan semua orang, saya bersyahadat. Saat itu Januari 1994,” kenangnya.

Perjuangan Dalami Islam
Kabar keislamannya membuat keluarga McCharty merasa senang. Anak yang sering membuat masalah dan membuat kedua orang tuanya sedih kini sudah memilih Islam menjadi jalan hidup. Islam membuat McCharty jauh menjadi lebih baik. Sebagai mualaf diapun mulai belajar Islam dan berkeinginan menjalankan semua ajarannya. “Saya terinspirasi dan ingin mempelajari Islam lebih dalam. Dan ingin melaksanan sunah Rasulullah dalam setiap aspek kehidupan,” ujarnya.

Menurutnya, syarat untuk memahami Islam adalah memahami Bahasa Arab. Bahasa al-Quran ini hanya bisa dipahami jika dipelajari di negara berbahasa Arab. Dipilihlah Sudan sebagai negara pertamanya untuk mempelajari bahasa Arab dan memperdalam keislamannya. Dengan pengetahuan yang sangat sedikit, dirinya memberanikan diri pergi ke negara di Benua Afrika tersebut. Tiga tahun di Sudan, dia tidak berbicara bahasa Inggris sama sekali.

“Untuk mempelajari Islam dengan lebih baik saya memilih belajar ke luar negeri untuk belajar bahasa Arab. Saya menyadari kita tidak bisa akan memahami Islam 100 persen, kecuali memahami bahasa Arab,” tuturnya di acara ClickYourIman, acara yang didukung DPU Daarut Tauhiid yang digelar di Naripan saat Ramadan lalu.

Dia mengungkapkan, ketika belajar di Sudan, dirinya pernah terjangkit malaria. Selama dua pekan, McCharty tidak bisa beraktivitas sama sekali. Kemudian sembuh, lalu terkena malaria lagi selama dua pekan. Akhirnya, ketika sembuh kembali dia buru-buru pergi ke Arab Saudi untuk melanjutkan keislamannya. Dia sempat berpikir untuk kembali ke Amerika, Namun diurungkan karena akan sulit baginya unuk kembali ke negara Arab.

“Saya teringat, saya pernah terkena malaria di Sudan. Saya tidak bisa bergerak sekitar dua minggu, saya sembuh selama dua pekan, dan terjangkit malaria lagi selama dua minggu. Jadi saya berpikir untuk kembali ke Amerika untuk kondisi lebih baik dan mencari uang dan kembali. Namun saya sadar jika saya kembali ke sini, saya tidak akan bisa keluar lagi,” tuturnya sambil tersenyum.

Di Arab Saudi, McCharty berhasil masuk masuk Universitas Madinah. Dia memperolah B.A-nya dalam bidang Usuludin. Dia juga berhasil lulus dari Institut Bahasa Arab di Madinah. “Di Sudan, saya belajar selama tiga tahun pertama, kemudian ke Madinah selama 10 tahun, Alhamdulillah,” ungkapnya.

Kondisi Umat Islam Menurutnya
Lulus dari Universitas Madinah, dirinya fokus berdakwah dengan mengisi ceramah di berbagai penjuru dunia. Syaikh McCharty menjadi pengisi ceramah di Peace TV, Huda TV, Syarjah TV, Tayba TV, dan Qatar TV. Negara yang pernah dikunjunginya untuk berceramah, antara lain Britania Raya, Irlandia, Kanada, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Sudan.

Syaikh McCharty merasa miris melihat kondisi umat Islam saat ini. Konflik yang terjadi di berbagai negara, seperti Palestina, Suriah, Somalia, dan Yaman membuat kondisi umat Islam di negara tersebut sangat menyedihkan. Kelaparan, kekeringan, dan kemiskinan yang merupakan efek konflik tersebut, membuat saudara seiman di negara-negara konflik memerlukan bantuan.

Peranan lembaga zakat menjadi sangat membantu ketika menggulirkan penyaluran bantuan kepada saudara seiman di berbagai negara muslim. Dia pun sangat terkesan dengan program DPU Daarut Tauhiid yang menyalurkan bantuan ke tiga negara. Syaikh Abdur Raheem pun merasa kagum dengan umat Islam di Indonesia yang masih peduli dengan saudara seimannya di negara-negara tersebut.

“Saya pikir itu luar biasa, masih ada umat yang sangat baik, walaupun banyak orang di Indonesia tidak memiliki banyak uang. Mungkin banyak orang yang juga butuh di sini. Mereka tidak lupa dengan saudara di luar negeri, ketika melihat apa yang terjadi di Somalia, di Palestina, dan negera-negara lainnya dimana situasinya sangat buruk. Itulah persaudaraan dalam Islam. Mereka menginginkan Rida Allah dengan uang yang mereka berikan,” tuturnya.

Di sisi lain, Umat Islam juga menghadapi serangan dari dalam dan dari luar. Tantangan dari dalam ialah kesalahpahaman umat mengenai Islam modern dan isu-isu kontemporer modern, serta umat yang masih mudah terpecah belah. Sementara itu, tantangan dari luar, di antaranya Islamophobia dan berbagai serangan dari musuh Islam.

“Pengetahuan miskonsepsi tentang Islam modern ini harus dipahami. Kalau tidak, dakwah kita tidak relevan. Apa isu-isu kontemporer yang dihembuskan kepada Islam harus diketahui, sehingga bisa umat Islam bisa menyaringnya dan tidak terperdaya oleh isu yang ada di luar tapi langsung mengklarifikasi ke sumber-sumber langsung yang berkaitan,” jelas Syaikh McCharty.

Dia pun menegaskan, umat Islam harus bersatu dan saling menolong dalam kebaikan. Dia mengutip surat al-Imran yang berisi, Allah memerintahkan umat Islam untuk bekerja sama dalam berdakwah, berbuat kebaikan, dan bertakwa kepada Allah SWT.

“Masalah umat ini tidak mudah. Sayangnya, umat Islam ini masih banyak yang terpecah belah, bahkan di barat dimana muslim masih minoritas. Kita harus saling mengingatkan kepada perintah Allah SWT, bahwa kita dilarang berpecah belah dan berpegang kepada tali agama Allah. Dalam surat al-Imran Allah memerintahkan kita untuk bekerja sama dalam kebaikan dan takwa. Jika untuk kebaikan, kita harus bekerja sama, namun untuk hal buruk, jangan dilakukan,” pungkas Syaikh Abdur Raheem McCharty.
 
 
 
 
 
 
 
 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Metamorfosa Keimanan Terry Putri
Metamorfosa Keimanan Terry Putri
03
Tekad Terry untuk berhijrah menjadi hamba yang dicintai Allah sudah bulat. Ia terus maju, walaupun tahu harus kehilangan pekerjaan. Karir yang dibangun selama 15 tahun.