Kajian Aa Gym
Perbedaan Pendapat dalam Islam

Perbedaan Pendapat dalam Islam
Allah SWT menciptakan Islam sebagai agama keselamatan. Sehingga adanya perbedaan pendapat pada umat Islam, itu merupakan bagian dari khazanah Kemahasempurnaan Allah.

Saudaraku. Kira-kira kapan kita mulai belajar agama? Aa sendiri terlambat, baru mulai umur 24 tahun. Saat ini usia Aa sudah 54 tahun, itu artinya baru sekitar 30 tahun belajar Islam. Dari 30 tahun yang digunakan belajar juga hanya seberapa. Sepuluh tahunnya dipakai tidur, makan, mengobrol, dan aktivitas lainnya. Kalau dihitung dengan satuan jam saja amatlah sedikit.
 
Nah, dari waktu yang sedikit itu, kita belum tentu mengerti apa yang dipelajari. Kalau sudah mengerti belum tentu ingat, dan sudah ingat belum tentu diamalkan. Jadi, dari yang sudah sedikit, menjadi sedikit, sedikit, dan sedikit. Lalu, dengan ilmu yang sangat amat sedikit itu, bagaimana caranya kita mau memborong surga sendirian?
 
Saudaraku. Allah SWT menciptakan Islam sebagai agama keselamatan. Seluruh aturan dalam Islam itu selamat, tanpa ada yang tertukar. Sehingga adanya perbedaan pendapat pada umat Islam, itu merupakan bagian dari khazanah Kemahasempurnaan Allah. Islam sudah sempurna. Hanya kita saja yang belajarnya belum utuh, tapi sudah merasa paling benar.
 
Ada pun masalah sebenarnya bukan perbedaan pendapatnya, tetapi nafsunya. Kita cermati ulama-ulama yang ilmunya tinggi, perbedaan pendapat itu mereka sikapi dengan jernih dan tanpa marah-marah. Jadi, ketika kita sering marah-marah sebetulnya bukan karena perbedaan pendapat dalam Islam. Tetapi, kita sering bertengkar disebabkan belum islami dalam mengendalikan nafsu.
 
Logikanya begini. Ilmu Allah SWT Mahaluas, dan Dia Pencipta segalanya. Allah menciptakan Islam pasti untuk semua jenis dan karakter orang. Islam bukan untuk orang yang pintar saja. Yang bodoh juga terakomodasi dengan Islam. Bukan untuk orang kaya saja, tapi yang tidak punya juga terakomodasi. Bukan cuma untuk yang pengetahuannya luas, karena ternyata orang yang baru tahu pun terakomodasi. Sehat maupun sakit, dan semuanya pasti mendapat bagian dalam Islam untuk bisa selamat. Karena yang menciptakan keragaman kita juga Allah.
 
Islam sudah diciptakan begitu luas, dan untuk kurun waktu berbagai peradaban. Sehingga kalau orang yang berilmu dan jernih mempelajarinya, maka al-Quran dan Sunnah itu akan amat terang keindahan dan kehebatannya. Berbeda kalau kita belajar Islam dengan emosional, padahal yang baru kita pelajari itu pun masih amat sangat sedikit.
 
Jadi, sebagaimana perumpamaan mempelajari gajah tadi, ternyata bukan gajah masalahnya. Tetapi pada masing-masing diri kita. Sudah kita hanya baru mengetahui sangat sedikit, tapi merasa mengetahui semuanya dan merasa paling benar. Inilah yang menimbulkan pertengkaran di antara kita.
 
Oleh sebab itu, agak berbahaya kalau ada yang menyebut, “Ini sesuai dengan al-Quran dan Sunnah.” Karena bisa berarti apa yang dikatakan itu sudah hebat atau sempurna. Padahal, faktanya yang kita ketahui belumlah seberapa.
 
Aa sendiri tidak berani. Aa mengikuti pendapat KH. Saiful Islam Mubarak, yakni, “Ini berdasarkan yang saya pahami tentang al-Quran dan Sunnah saat ini.” Karena setelah itu kita belajar lagi, dan mungkin didapati pemahaman berbeda.
 
Atau, misalkan ada yang berkata, “Ah, si Eta bakal masuk api neraka.” Memangnya kita tahu dari mana? Bukankah Allah yang memiliki orang itu? “Tapi amalnya jelek.” Apa saudara pernah tidur serumah dengannya? Apa saudara pernah masuk ke dalam pori-pori pikiran dan lubuk hatinya? Tidak.
 
Saudaraku. Kalau mengenal Kemahabesaran Allah, sadar bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Menguasai segalanya, insya Allah kita tidak berlebihan dalam menyikapi perbedaan pendapat. Kita harus terus belajar sambil tetap hati-hati, karena kita sadar kalau yang kita ketahui baru sangat sedikit. Kira-kira seperti membayangkan bagaimana para ulama yang makrifat itu menjadi bijak.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kajian Aa Gym Lainnya
Saya Aman Bagimu
Saya Aman Bagimu
17
“Saya aman bagimu” adalah bagian dari akhlak Islam yang agung. Yang mana keislaman seseorang tidak hanya dilihat dari ikrar syahadat dan salatnya, melainkan juga dari bagaimana ia memelihara lisan dan perbuatannya