Kajian Aa Gym
Hamba Pilihan Allah

Hamba Pilihan Allah
Karena ciri kekasih Allah itu tidak takut pada apa pun dan siapa pun. Jangankan tidak dicintai makhluk, dihina, dicaci, bahkan diancam dibunuh sekalipun ia tidak takut. Sehingga tiada pula kesedihan atas dunia kepadanya. Punya atau tidak punya uang bukan masalah baginya.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seseorang yang senang membangun masjid, tapi ia merasa banyak dosa. Beliau sudah membangun sepuluh masjid. Dua di antaranya dibangun di lahan yang ada kuburan. Yakni kuburan pemilik tanahnya itu, yang meninggal lebih dari empat puluh tahun lalu.
 
Ketika kuburan dibongkar dan hendak dipindah, orang yang bertugas menggali tiba-tiba berteriak. Karena ternyata mayit beserta kain kafannya masih utuh dan tetap bersih. Dan lebih dramatis lagi ada tiga kuburan lain, yang semua jenazah dan kain kafannya juga utuh setelah 60 tahun dikuburkan. Dua kubur milik sepasang suami-istri, hafiz dan hafizah. Adapun jasad ketiga adalah jasad seorang jawara atau preman yang bertobat. Insya Allah mereka adalah orang-orang pilihan Allah.
 
Saya baru pertama kali melihat empat mayit utuh sekaligus. Padahal sekarang kita banyak melihat mayit yang baru sebentar sudah mulai menimbulkan bau busuk. Belum disimpan di liang lahat sudah mulai berubah bentuk. Dan tidak perlu mayit, kain kafan yang dikubur berpuluh tahun tetap bersih saja sudah menakjubkan. Karena baju yang kita pakai saja kalau ditanam di dalam tanah pasti akan kotor.
 
Mengapa bisa tetap utuh? Tentunya bukan disebabkan ahli warisnya yang selama berpuluh-puluh tahun rajin menyiram kuburan dengan air formalin. Tapi karena semua yang ada di langit dan di bumi adalah ciptaan Allah SWT, termasuk bakteri, belatung dan cacing.
 
Apabila Allah cinta pada seorang hamba, Ia akan memberi tahu dan memerintahkan malaikat Jibril, “Aku mencintai hamba ini, cintailah!” Maka malaikat Jibril akan mencintai dan memberi tahu seluruh penghuni langit. Lalu makhluk di bumi pun—bagi yang dikehendaki oleh Allah untuk tahu—akan tahu bila hamba tersebut kekasih Allah.
 
Nah, pernahkah terpikirkan oleh kita untuk menjadi hamba pilihan Allah SWT? Terbersit di hati meski sedikit? Tekadkanlah di dalam hati untuk menjadi kekasih-Nya. Dan bukan dengan memajang pengumuman, seperti membuat tulisan, “Saya pemburu cinta Allah”, di pintu rumah atau di laptop. Aneh jadinya, cinta kepada Allah, tapi pengumuman pada orang-orang. Sebetulnya itu berharap dicintai dan dikagumi oleh makhluk.
 
Karena ciri kekasih Allah itu tidak takut pada apa pun dan siapa pun. Jangankan tidak dicintai makhluk, dihina, dicaci, bahkan diancam dibunuh sekalipun ia tidak takut. Sehingga tiada pula kesedihan atas dunia kepadanya. Punya atau tidak punya uang bukan masalah baginya. Ketakutannya hanya satu, yaitu takut tersisih dari sisi Allah SWT. Selain keyakinan penuhnya kepada Allah, ia juga pasti istiqamah. Patuh kepada Allah, dan hatinya bersih. Qolbun salim.
 
Seperti cucu rasulullah saw suatu waktu dihina dan dimaki-maki. Kemudian dengan tenang ia berkata, “Masih adakah yang mau kau katakan, katakanlah.” Dan setelah semua cacian habis dilemparkan padanya, ia pun membuka jubahnya dan mengambil uang. Kemudian jubah berserta uang itu ia berikan sebagai balasan caci-maki tadi.
 
Agaknya sekarang ini jarang ada orang yang seperti itu di sekitar kita. Dan saudara yang sedang membaca, saudara juga jangan coba-coba berpikir untuk datang ke Daarut Tauhiid, lalu mencaci-maki saya dengan mengharapkan sorban dan uang.
 
Jadi, para pecinta Allah sejati, penuh kerahasiaan di lubuk hati. Dan Allah SWT pasti tahu. Oleh sebab itu, mari saudaraku, kita bulatkan tekad di dalam hati untuk menjadi hamba pilihan-Nya. “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Mahapengampun, Mahapenyayang.” (Âli ‘Imrân [3]: 31).






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kajian Aa Gym Lainnya
Jangan Pernah Lupakan Kebaikan Orang Lain
Jangan Pernah Lupakan Kebaikan Orang Lain
15
Jangan betah menjadi orang yang berutang budi pada orang lain. Karena setiap orang tentu ingin terjaga kehormatan dirinya. Jika pun terpaksa kita membebani orang lain, maka sebisa mungkin balaslah kebaikannya