Kajian Aa Gym
Bekerja dan Berdaganglah dengan Profesional

Bekerja dan Berdaganglah dengan Profesional
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah [62]: 10).

Saudaraku, mohon maaf sebelumnya, di Pesantren Daarut Tauhiid ada beberapa perusahaan. Punya banyak karyawan yang syariatnya harus digaji. Kalau dulu kita harus ikhtiar bagaimana orang datang, lalu membelanjakan uangnya, tapi sekarang jangan. Saya sampaikan untuk tidak begitu. Konsepnya dulu dengan sekarang berbeda.
 
Yang kita ikhtiarkan adalah bagaimana memakmurkan tanah wakaf yang sudah diamanahkan Allah SWT. Jaga dan ikhlaslah melakukan apa yang bisa kita lakukan. Contohnya tentang kebersihan. Kita menjaga kebersihan bukan agar orang kagum atau mendapat sertifikat internasional. Tapi kita membersihkannya karena bersih itulah yang disukai Allah, dan karena ini tanah wakaf titipan Allah.
 
Begitu pula dengan karyawan perusahaan di pesantren. Jangan risaukan tentang gaji atau pemasukan, Allah yang mendatangkan semua itu. Jangan takut oleh persaingan karena saat ini banyak perusahaan. Allah SWT tahu persis dan menjamin rezeki kita. Bekerjalah dengan hati yang tulus, ibadah yang bagus, hidup dan ikhtiar yang lurus dan serius, juga bertobat terus menerus. Dalam ketenangan dan kenyamanan itu, kita pikirkan saja baik-baik bagaimana agar perusahaan kita disukai Allah, dan bagaimana mengurus tanah wakaf yang sudah diamanahkan-Nya.
 
Nah, kalau kita mau bekerja atau berdagang, pikirkanlah bagaimana supaya apa yang akan kita lakukan itu tidak dibenci oleh Allah SWT. Misalnya kita tidak berbohong dan tidak boleh bersumpah palsu, karena Allah tidak suka. Kita harus ramah bukan karena ketidakramahan kita nanti bisa dilaporkan pada atasan, atau kita khawatir orang tidak jadi membeli. Tapi, Rasulullah saw bersabda, “Allah merahmati seseorang yang ramah dalam menjual, membeli dan menagih.” (HR. al-Bukhari dan at-Tirmidzi)
 
Kita tidak boleh dengki melihat kiri-kanan. Selain Allah melarang kita dengki, tetangga sebelah itu juga ciptaan dan hamba Allah. Timbangan kita pun harus bagus, karena Allah SWT berfirman, “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! Orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” (QS. al-Muthaffifîn [83]: 1-3).
 
Demikian misalkan ada orang datang menawar dagangan, maupun produk perusahaan kita. Tapi yang jadi dibelinya adalah dagangan tetangga sebelah. Kita tidak boleh kotor hati, karena Allah tidak suka. Kalau itu memang bukan rezeki kita, walau dia sudah sumringah mencoba-coba barang dagangan kita, tapi membelinya nanti tetap di tempat lain.
 
Tidak usah ramah supaya dibeli, baik supaya laku, dan jujur supaya orang percaya. Tapi kita melakukan semua itu cuma satu, yaitu supaya Allah suka. Saudaraku, coba siapakah yang lebih dekat dengan kita, pembeli atau Allah? Uang yang di dompet pembeli siapa yang mengatur keluarnya? Walau ada orang yang tidak ingin beli, tapi kalau Allah SWT sudah memberi rezeki pada kita, maka duit di dompetnya pun akan menjadi milik kita.
 
Enak sekali sebetulnya kalau kita fokus dengan apa yang disukai atau yang diperintahkan Allah, maka tidak akan ada sakit hati, dengki dan jengkel, baik dalam bekerja maupun berdagang. Perkara nanti ada orang yang memuji dan menghargai kejujuran, kebaikan, keramahan, atau akhlak kita, itu perkara Allah Yang Mahamenggerakkan.
 
Konsep bekerja dan berdagang tersebut profesional sekali. Kita tidak perlu sibuk memikirkan pembeli, karena itu urusan Allah yang membolak-balik hati. Kita cukup mematuhi perintah-Nya dalam bekerja dan dagang. Selebihnya terserah Allah. Apakah nanti atasan saudara misalnya jadi senang. Lalu menyerahkan anaknya untuk dididik supaya bisa bekerja seperti saudara, karena dia lelaki juga. Sesuka Allah saja.
 
Ini berbeda dengan konsep bisnis yang akal-akalan. Seperti, “pembeli adalah raja.” Kenapa pembeli jadi raja? Yang biasa beli paling juga tidak jauh dari Asep, Otong, dan Udin. Kita baik pada pembeli bukan agar dia mau datang lagi. Tetapi kita baik pada pembeli karena itu yang diperintahkan Allah. Titik.
 
Saya juga pernah mendengar tentang “service excelent”. Katanya, service excelent itu dengan memakai rok mini. Bagaimana dagangan kita laku, orang mau mendekat saja rasanya menjijikkan, karena yang pakai rok mini itu laki-laki. Kita bukan tidak boleh service excelent, tapi service kita itu harus amal saleh.
 
Jadi, bekerja dan berdaganglah dengan profesional. Dalam semua ikhtiar itu, kita berurusan cukup dengan Allah Yang Mahamendengar, Mahamelihat, Mahatahu isi hati, dan detail sekali mencatat. Profesionalnya kita adalah hanya memikirkan dan melakukan apa yang diperintahkan oleh AllahSWT, Pemilik Langit dan Bumi. “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. al-Jumu’ah [62]: 10).






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kajian Aa Gym Lainnya
Jangan Lebay dalam Hidup ini!
Jangan Lebay dalam Hidup ini!
12
Sungguh percuma berharap pada makhluk. Jika Dia tidak mengizinkan, maka apa yang diharapkan tak akan pernah datang dalam bentuk apapun.