Kajian Aa Gym
Saya Kan Bukan Nabi

Saya Kan Bukan Nabi
Ketika dipermalukan seperti itu, mungkin yang kita pikirkan adalah, “Oh, pasti dia yang menyebarkan. Dasar sok saleh!” Karena secara umum, kita memang sulit menerima kalau dikoreksi.

Saudaraku. Pernahkah saudara merasa dipermalukan? Misalkan suatu hari kita mendapati banyak orang di pengajian menyapa dan tersenyum kepada kita. Awalnya kita merasa GR, karena beranggapan tidak sia-sia hari itu mandi dulu sebelum berangkat. Tapi ternyata, mereka tersenyum dikarenakan ada yang memberi tahu bahwa kitalah sosok misterius, yang selama ini selalu terlambat datang salat di masjid. Subuh pukul enam seperempat, dan salat zuhur pukul setengah tiga.
 
Ketika dipermalukan seperti itu, mungkin yang kita pikirkan adalah, “Oh, pasti dia yang menyebarkan. Dasar sok saleh!” Karena secara umum, kita memang sulit menerima kalau dikoreksi. Terlebih jika koreksinya dalam bentuk dipermalukan.
 
Seharusnya kita tidak perlu mencari, menuduh maupun menyerang orang lain yang dianggap sebagai penyebar kekurangan atau keburukan kita. Karena sudah jelas bahwa yang membuka aib kita adalah Allah SWT. Dan Allah hanya membuka sedikit, karena yang sedikit itu pun sudah membuat kita terjungkal. Orang yang mengumumkan aib kita itu hanya perantara saja.
 
Tapi tolong diingat, saya tidak memberikan saran untuk mempermalukan orang, lalu berdalihm, “Saya cuma perantara Allah.” Ini salah. Maksud saya, mempermalukan orang tetap bukanlah cara yang baik. Tetapi jika kita dipermalukan orang, maka jangan emosi dan berburuk sangka maupun merasa sudah tidak punya masa depan. Ingatlah kepada Allah.
 
Nah, saudaraku. Allah SWT mendatangkan koreksi kepada kita bisa melalui siapa saja, kapan saja dan dalam bentuk apa saja. Termasuk seperti dipermalukan di pengajian tadi. Namun, betapa pun rasanya tidak enak, tujuan Allah pasti sangat baik. Pertama, rasa sakitnya untuk menggugurkan dosa kita, dan kedua untuk membuat kita lebih tegar. Karena seseorang yang semakin ditempa akan semakin kuat.
 
Hanya saja, kita suka tidak sadar dan menghindar. Kita lebih cenderung untuk mencari-cari alasan, membentengi diri, bahkan menyerang balik. Terlebih kalau kita lebih tua, lebih tinggi pangkat atau jabatannya, maupun lebih berilmu.
 
Misalkan ada yang memberi masukan, “Kang, hadis yang akang baca tadi nggak jelas.” Lalu dijawab, “Eh, tunggu dulu. Saudara baca kitab yang mana? Kitab itu banyak. Saudara pernah belajar ilmu hadis? Belum, kan? Pikir dong!” Atau, “Adik berani ngasih masukan kepada saya? Adik sendiri sudah benar, belum? Baru kemarin dikhitan sudah berani. Gini-gini, saya itu pimpinan pondok pesantren.”
 
Sama halnya dalam rumah tangga. Seorang ayah yang diprotes anaknya berkata, “Dengarkan! Saya ini ayah kalian!” Anak-anaknya bingung, “Dari dulu juga. Kapan jadi nenek?” Atau, suami berkata pada istrinya, “Heh! Saya ini lelaki!” Anak-anaknya yang semakin bingung dan saling berpandangan, “Kamu pernah mencurigai ayah kita betina?”
 
Kurang lebih begitu. Kalau kita sudah menganggap diri lebih berpengalaman, lebih tahu, lebih berjasa, lebih tua, maupun menekankan diri sebagai pemimpin dan kepala keluarga, maka sudah semakin susah untuk sadar. Apalagi jika suatu waktu dipermalukan, kecenderungannya justru menyerang balik.
 
Nah, mengapa kita menjadi begitu? Ada beberapa penyebab.
 
Pertama, sombong. Orang yang sombong sulit sekali dikoreksi. Baginya, tidak ada yang layak mengoreksi apa yang dia katakan. Apalagi mempermalukan. Koreksi dianggapnya sebagai penghinaan yang amat merendahkan. Maka ikut serta pula takabur di dalamnya, yakni mendustakan kebenaran dan meremehkan orang lain. Orang yang sombong memosisikan dirinya lebih tahu dan lebih tinggi. Dia tidak sadar kalau yang sedang mengoreksinya adalah Yang Mahatahu dan Mahatinggi.
 
Kedua, ujub. Kalau seseorang yang sombong akan menganggap orang lain lebih rendah. Sedangkan ujub merasa dirinya lebih suci atau saleh. Ketika dikoreksi atau dipermalukan, orang yang ujub akan berpura-pura menerima dengan tenang. Tetapi dalam hatinya berucap, “Ya, ya. Dia belum tahu bahwa setiap malam saya selalu tahajud dan berlinang air mata, dan saya puasa Daud setiap hari.” Bibirnya mungkin diam, tapi hatinya terus mengangkat dirinya sendiri.
 
Ketiga, dengki. Seorang pendengki tidak suka dikoreksi, dan paling tidak mau dikoreksi atau dipermalukan oleh orang yang didengki. Ingat, bahwa dengki itu sepasang. Misalkan ada mu’adzin pendengki. Lalu disampaikan oleh imam, “Ustad, azan yang tadi ‘Ha’-nya kurang bersih.” Dan langsung dijawab, “Nggak usah ikut campur! ‘Ha’ saya memang begitu penjiwaannya. Lakum diinukum wa liyadiin!
 
Dan, keempat, orang yang merasa teraniaya. Misalnya seorang murid yang merasa terzalimi oleh guru. Ketika guru menasehati, “Kamu belajar lagi ya, biar tidak merah terus.” Si murid menjawab dengan manis, “Iya, pak.” Tapi dalam hatinya, “Ngomong aja! Bapak yang belajar, biar kami mengerti apa yang diterangkan.”
 
Di hati mendustakan. Kita tak mau mendengar nasihat dari orang yang pernah menyakiti, walaupun kepala mengangguk-angguk. Terlebih kalau dia kembali menyakiti atau mempermalukan kita.
 
Nah, saudaraku. Menganggap diri lebih atau sombong dan ujub, dengki maupun merasa teraniaya, seluruhnya buruk bagi diri kita sendiri. Karena hal-hal itulah yang membuat kita susah sadar, bahwa yang sedang mengoreksi kita sebetulnya adalah Dia Yang Mahabaik, Mahapenyayang dan Mahapengampun.
 
Jadi, tergantung pada tekad kita sendiri. Apakah kita mau hidup kita semakin lebih baik dan diterima oleh Allah? Kalau mau serius mendekat kepada Allah, mari bersama-sama kita buang jauh semua penyebab yang membuat sulit memperbaiki diri. Kita terima setiap koreksi, apa pun bentuknya, dengan berlapang dada dan bertobat.
 
Sehingga tidak perlu lagi berkata, “Tapi saya tidak mungkin sanggup seperti itu. Saya kan bukan nabi, saya cuma manusia biasa.” Karena sebagai sang uswatun hasanah, Nabi Muhammad saw juga manusia seperti kita. Dan memang tidak akan ada lagi nabi sesudah beliau. 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kajian Aa Gym Lainnya
Jangan Diambil kecuali Telurnya
Jangan Diambil kecuali Telurnya
28
Jadi, saudaraku. Jangan takut jika Allah membuka aib kita. Tidak mungkin Allah Yang Mahabaik berbuat tidak baik.