Kajian Aa Gym
Sibuk dan Ambisi dalam Berkarir

Sibuk dan Ambisi dalam Berkarir
Begitu sebaliknya, jika Allah SWT berkehendak mencabut atau mengambilnya kembali, pasti lepas, turun, dan lengser. Tanpa ada yang sanggup menghalangi sedikit pun.

Saudaraku, misalkan bagi kita yang lulus pendidikan Akademi Militer (Akmil), atau Akademi Kepolisian (Akpol), tidak perlu sibuk memikirkan atau berambisi pada karir. Nanti bakal ada yang pensiunnya sebatas mayor, letkolnya awet, atau sampai brigjend saja. Karena tidak mungkin semuanya jadi jenderal. Itu semua ada garisnya dari Allah SWT.
 
Orang yang mencapai pangkat jenderal, bukan karena ia hebat dan badannya berotot tegap atau gagah perkasa. Karena ada jenderal yang tidak sampai begitu. Contohnya Jenderal Sudirman. Sepengetahuan saya, mungkin beliau jenderal terkurus sepanjang sejarah Indonesia. Bahkan sebagian masa mengabdi beliau harus digotong karena mengidap sakit paru-paru.
 
Demikian pula bagi kita yang bekerja di kantor sebagai pegawai atau karyawan. Sungguh tidak perlu merintis karir dengan mencari muka maupun menjilat atasan. Juga bagi yang sedang menjabat, tidak usah pusing mempertahankan kedudukan. Ingatlah bahwa mutasi bukan mutilasi. Jadi tidak perlu dipersoalkan, apalagi sampai kasak-kusuk membawa urusan karir pergi ke dukun. Kalau dukun yang dianggap sakti itu memang sakti, pasti dialah yang jadi jenderal atau menjabat pimpinan di kantor.
 
Saudaraku, teruslah bekerja dengan baik, bagus, dan amanah. Persoalan karir serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Pangkat, jabatan, dan kedudukan berada dalam kekuasaan-Nya. Dan suka-suka Allah memberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.
 
Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan’.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 26-27).
 
Siapa pun yang dikehendaki Allah menjabat, menjadi jenderal, dan memegang kedudukan lainnya, pasti akan terjadi. Tidak ada seorang dan sesuatu pun yang mampu menjegal. Begitu sebaliknya, jika Allah SWT berkehendak mencabut atau mengambilnya kembali, pasti lepas, turun, dan lengser. Tanpa ada yang sanggup menghalangi sedikit pun.
 
Benar-benar terserah kehendak Allah. Siapa pun bisa diberi-Nya kedudukan, pangkat dan jabatan. Meski kurus dan sakit, ketika Allah memang berkehendak jadilah Jenderal Sudirman misalnya. Dan tidak harus orang baik, orang yang jahat dan zalim pun bisa memegang kedudukan dengan izin-Nya.
 
Tetapi orang yang zalim berkedudukan hanya sebatas mendapat izin Allah SWT. Tidak seperti orang yang baik dan menjadikan pangkat dan jabatanya untuk kebaikan, atau sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya, yang bisa memperoleh keridhaan Allah.
 
Mungkin contohnya Jenderal Sudirman yang dikenang dengan akhlaknya yang baik. Karena tidak sedikit juga jenderal yang dikenang dengan keburukan maupun kezalimannya. Bukan pangkat dan jabatan yang mengangkat derajat seseorang, tapi kemuliaan akhlaknya yang akan tetap dikenang orang.
 
Oleh sebab itu, terus saja bekerja dengan bagus dan amanah. Jangan sibuk memikirkan karir, tapi sibuklah kepada Allah. Sebaiknya jangan berambisi pada karir, karena ambisi yang patut hanya pada keridhaan-Nya. Persoalan karir serahkan kepada Pemilik dan Penguasa seluruh kekuasaan dan rezeki, yaitu Allah SWT.
 
Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata, “Saya tidak peduli kelapangan dan kesempitan, karena keduanya baik.” Dalam kesempitan bisa sabar, dan akan mendapat pahala kesabaran. Dalam kelapangan bisa bersyukur, itu juga menjadi kebaikan.
 
Apabila di depan kita terbuka sebuah kesempatan menerima suatu jabatan atau kedudukan, maka istikharahlah. “Ya Allah, kalau saya memang bisa amanah dan semakin dekat kepada-Mu dengan jabatan ini, bermanfaat bagi orang banyak, maka kuatkanlah saya untuk menerimanya. Tapi kalau jabatan ini membuat saya jauh dari-Mu, dan berbuat zalim pada yang lain, maka saya mohon jangan Engkau berikan kepada saya, ya Allah.”
 
Karena Dia-lah Pencipta, Pemilik, Penggenggam, dan Penguasa segala-galanya. Dia mengetahui kadar iman, kemampuan dan intelektual kita. Allah yang paling tahu segalanya tentang kita. Mampu atau tidaknya kita bertanggung jawab dan amanah dalam mengemban suatu pangkat, jabatan dan kedudukan. 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kajian Aa Gym Lainnya
Hati-hati Prasangka!
Hati-hati Prasangka!
14
Setelah prasangka, orang menjadi tajassus, mencari-cari yang bukan hak atau pun kewajibannya, mengorek-ngorek hal yang bukan tanggungjawabnya di dunia dan akhirat.