Kajian Aa Gym
Miliki Hati yang Bersih

Miliki Hati yang Bersih
Apalah artinya berbagai kemampuan dan keahlian kalau digunakan di jalan yang Allah murkai. Apalah artinya kepintaran kalau digunakan membodohi orang lain,

Saudaraku, hati adalah panglima. Rasulullah saw bersabda, “…ketahuilah bahwa dalam jasad itu terdapat sekerat darah, yang apabila ia baik maka baik pula seluruh jasadnya. Dan apabila ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa sekerat darah tersebut adalah hati. (HR. Bukhari, Muslim)
 
Syaikh Ibnu Atha’illah, semoga Allah rida kepadanya, menerangkan, “Keajaiban yang sangat mengherankan terhadap orang yang lari dari apa yang sangat dibutuhkan, dan tidak dapat lepas daripadanya. Dan berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tetapi yang buta ialah mata hati yang ada di dalam dada.”
 
Yang terpenting dari sosok pribadi unggul adalah memiliki hati yang bersih. Hati yang senantiasa menjadi radar baginya agar selalu berjalan menuju keridaan Allah. Radar yang selalu sensitif menangkap sinyal bahaya jika dirinya berjalan ke arah bahaya, sehingga bahaya itu dijauhinya. Hati yang bersih menuntunnya agar selalu berada di jalur perjalanan yang Allah ridai.
 
Apalah artinya berbagai kemampuan dan keahlian kalau digunakan di jalan yang Allah murkai. Apalah artinya kepintaran kalau digunakan membodohi orang lain, untuk berbuat curang atau mencuri. Tidak sedikit orang yang cerdas, namun hatinya buta sehingga kecerdasannya tidak bisa menyelamatkannya. Tidak bisa memuatnya bahagia. Yang ada malah kegelisahan dan galau yang tiada ujungnya.
 
Saudaraku, kita sering merasa prihatin, kasihan, kepada orang yang matanya tidak bisa melihat (tuna netra). Padahal, tidak bisa melihat dunia sebenarnya bukan masalah besar.  Masalah yang besar itu adalah ketika hati yang buta. Yakni hati yang tidak bisa melihat kebenaran.
 
Hati buta tidak bisa membedakan mana yang kekal dan mana yang fana. Kebutaan hati membuat seseorang tidak mengenal Allah, yang dikenalnya hanyalah dunia. Sehingga, orang yang mata hatinya buta dia lebih sibuk mencari duniawi dibanding kedudukan di sisi Allah. 
 
Lihatlah para pecinta dunia. Mereka rela berkelahi, saling sikut satu sama lain dengan mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, menghalalkan berbagai macam cara hanya demi memburu perhiasan dunia. Padahal, segala perhiasan dunia itu pasti ia tinggalkan.
 
Sekaya raya apa pun seseorang, tetap meninggalkan apa yang ia miliki. Rumah megah, kekayaan berlimpah, kedudukan terhormat, pangkat dan jabatan yang tinggi, semuanya ia tinggalkan. Para pecinta dunia, mereka tidak bisa melihat sesuatu yang lebih indah, lebih besar, lebih agung, selain daripada hiruk pikuk duniawi.
 
Allah SWT berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Faathir [35]: 5) 
 
Jadi, jika kita terlalu terkesima oleh dunia, berarti kita rentan tertipu. Namun, apakah dunia harus kita acuhkan? Tentu tidak, karena dunia ini merupakan ladang kita untuk beramal, tempat untuk kita beribadah. Dunia adalah tempat kita menanam amal saleh, yang hasilnya kelak kita petik baik itu semasih di dunia maupun di akhirat.
 
Bukan tidak boleh kaya raya, bukan tabu punya pangkat jabatan tinggi, juga tidak haram punya kedudukan yang terhormat. Namun, semua itu menjadi salah manakala membuat kita malah menjauh dari Allah dan melupakan akhirat. Semua perhiasan dunia semestinya bisa kita jadikan sarana untuk beribadah kepada Allah. Dan ini tidak bisa dilakukan oleh hati yang buta.
 
Hati yang buta disebabkan kemaksiatan dan dosa-dosa yang terus-menerus kita lakukan. Hati yang buta akibat dari dosa yang tidak kita tobati dengan tobat yang sebenar-benarnya. Dampaknya, ia tidak bisa melihat cahaya kebenaran, ia akan tersesat dalam kehidupan dan celaka pada hari kemudian. Maka, pribadi unggul memiliki keseimbangan antara kecerdasannya menyikapi kehidupan dunia dan kecerdasannya menghadapi kehidupan sesungguhnya di akhirat kelak.
 
Suatu ketika ada seorang laki-laki dari kaum Anshor bertanya kepada Rosululloh Saw., “Ya Rosululloh, siapakah mukmin yang paling utama?” Rosululloh menjawab, “Yang paling baik akhlaknya.” Kemudian, laki-laki itu bertanya lagi, “Siapakah mukmin yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah, Thabrani dan al-Haitsami)
 
Dengan mengingat kematian, dengan mengingat hidup setelah kematian, maka seseorang semakin efektif hidupnya di dunia. Tidak ingin waktunya berlalu dengan sia-sia. Baginya setiap waktu yang ia lalui tidak boleh berlalu dengan sia-sia, harus berguna, harus bermanfaat, harus bernilai, karena ia tidak pernah tahu pada menit yang mana ia akan dimatikan oleh Allah. Ia ingin agar ketika ia meninggalkan dunia ini, ia bisa meninggalkan manfaat bagi sebanyak mungkin orang, karena inilah yang menjadi investasi pahala baginya di akhirat.
 
Kesadaran ini secara disadari atau pun tidak, akan membuatnya meningkatkan kualitas ibadahnya, kualitas kerjanya, ilmunya, keterampilannya. Karena dengan begitulah ia bisa menjadi orang yang berguna, dengan cara inilah ia akan menanam amal saleh di dunia.
 
Pantang baginya untuk sibuk dengan buruk sangka, pamer, dengki, sombong dan berbagai penyakit hati lainnya. Bahkan, ia sebenarnya tidak punya waktu untuk menuruti berbagai penyakit itu. Waktunya habis untuk belajar dan beramal. Ia pun sudah lebih dahulu sibuk menghitung keburukan dirinya dan memperbaikinya. Beruntung sekali orang yang demikian.
 
Saudaraku, puncak kesuksesan seseorang itu alat ukurnya adalah perjumpaan dengan Allah SWT. Ingatlah pada salah satu firman Allah di dalam al-Quran, "(Yaitu) hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qolbun saliim (hati yang bersih)." (QS. asy-Syu'aro [26]: 88-89)
 
Kesuksesan sejati adalah manakala Allah rida kepada kita dan kita berjumpa dengan-Nya. Maka kunci sukses ada pada kegigihan menjaga kebeningan hati, agar sekecil apa pun amal kita bisa diterima Allah. Allah Yang Maha Mengetahui tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas. Amal besar akan sia-sia jika tidak ikhlas.
 
Hati bisa kotor baik sebelum beramal, sedang beramal atau setelah beramal. Kotor hati sebelum beramal yaitu niat yang salah. Misalnya, kita bersedekah, tapi niatnya ingin disebut dermawan, takut disangka pelit, atau supaya tidak diganggu.
 
Kotor hati ketika sedang beramal yaitu riya’ (pamer, ingin dilihat). Misalnya, kita ingin dilihat orang saat sedekah ratusan ribu, ingin diketahui orang jika mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Padahal berzakat itu bukan sebuah prestasi karena zakat adalah kewajiban. Jika tidak menunaikan berarti berdosa.
 
Kotor hati setelah beramal yaitu pertama, menceritakan amal, misalnya menceritakan jumlah sedekah. Menceritakan kebaikan boleh saja, tapi Allah Maha Mengetahui niat di balik setiap cerita. Apakah niatnya mengajak orang lain sedekah atau ingin disebut ahli sedekah. Atau, menceritakan tentang seringnya kita beribadah umrah. Kalau niatnya memotivasi orang yang lain, mudah-mudahan menjadi amal kebaikan, tapi kalau sekadar untuk pamer, bisa jadi kita justru tidak lebih baik dari orang yang belum beribadah umrah.
 
Kedua, takabur yaitu merasa diri bisa berbuat, merasa lebih dengan merendahkan orang lain. Misalnya kita merasa berjasa lantaran menyekolahkan, memberi pekerjaan, atau mengajari seseorang. Padahal hakikatnya Allah-lah yang berbuat, kita hanyalah dijadikan jalan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya.
 
Ketiga, ujub yaitu merasa diri berbeda dari yang lain, mungkin tidak berbicara/menceritakan, tapi hati kecilnya merasa lebih dari yang lain. Misalnya, kita rajin membaca al-Quran, saum atau tahajud, tapi ketika melihat ada orang yang jarang membaca Quran, saum atau tahajud, hati kecil kita meremehkannya dan kita merasa paling saleh. Padahal, hanya Allah Yang Maha Mengetahui siapa yang lebih ikhlas dalam beramal di antara hamba-hamba-Nya. Karenanya kita tak cukup bisa beramal, kita juga harus membersihkan penyakit hati di awal, di tengah, maupun akhir amal-amal kita.
 
Ketika hati kita bersih, orang menghargai kita karena kemuliaan pribadi kita. Tetapi yang terpenting adalah hati yang bersih akan membuat amal kita diterima oleh Allah, dan Allah berkenan menjamu kita di akhirat kelak. Tiada kesuksesan kecuali orang yang berhasil berjumpa dengan Allah, buah dari qolbun saliim, hati yang selamat, yang bersih dari kebusukan.
 
Inilah profil dari pribadi unggul. Tidak hanya sungguh-sungguh berikhtiar menambah ilmu dan kemampuannya, namun ia juga sibuk menjaga kebersihan hatinya. Karena hati menjadi pangkal dari selamatnya setiap niat dan perbuatan dari keburukan. Hati menjadi pangkal dari setiap kesuksesan dan kebahagiaan sejati.
 
Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita petunjuk agar kita tidak tersesat jalan, dan agar kita istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya. Hanya kepada Allah kita menyembah, dan hanya kepada-Nya kelak kita akan kembali. Wallahua’lam bishawab.
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kajian Aa Gym Lainnya
Hati-hati Prasangka!
Hati-hati Prasangka!
14
Setelah prasangka, orang menjadi tajassus, mencari-cari yang bukan hak atau pun kewajibannya, mengorek-ngorek hal yang bukan tanggungjawabnya di dunia dan akhirat.