Kesehatan
Hati-hati dengan Masturbasi

Hati-hati dengan Masturbasi
Bagaimana pandangan Islam terhadap praktik masturbasi atau onani ini? Apabila kita membuka kitab Fiqhus Sunnah karya Syaikh Sayyid Sabbiq, kita akan menemukan sejumlah perbedaan pendapat di antara para ulama fikih.

Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya ...”
(QS An-Nûr, 24:33)
 
Pemenuhan kebutuhan seksual termasuk hal paling mendasar bagi manusia selain makanan dan minuman. Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang akan mengalami “gangguan” kejiwaan, mulai dari ringan sampai berat.
Masalahnya, tidak semua orang bisa bebas menyalurkan gairah seksualnya kepada lawan jenis, baik karena tiadanya pasangan yang sah atau sudah punya pasangan akan tetapi tidak bisa berhubungan secara normal karena faktor tertentu. Dalam keadaan seperti ini, masturbasi (atau onani kerap dipilih sebagai solusi paling aman sehingga gairah seksual tadi dapat tersalurkan.
Pada dasarnya, onani atau masturbasi (istimna’) adalah mengeluarkan mani bukan melalui persetubuhan, baik dengan telapak tangan atau dengan cara yang lainnya. Pada praktiknya ada beragam cara masturbasi yang dilakukan orang, yaitu mulai dari menggosok kemaluannya menggunakan tangan, menggosokkan kemaluan pada suatu benda, menggunakan mainan seks berfantasi, menonton video porno, dan sebagainya. Apapun caranya, semuanya bertujuan sama, yaitu menyalurkan kebutuhan biologis tanpa melakukan hubungan seks dengan pasangan dengan cara merangsang bagian sensitif dari alat kelamin sehingga terjadi ejakulasi atau sensasi seksual lainnya.
***
Bagaimana pandangan Islam terhadap praktik masturbasi atau onani ini? Apabila kita membuka kitab Fiqhus Sunnah karya Syaikh Sayyid Sabbiq, kita akan menemukan sejumlah perbedaan pendapat di antara para ulama fikih tentang haram tidaknya onani atau masturbasi. Para ulama dari Mazhab Maliki, Syafi’i, dan Zaidiyah misalnya menganggap bahwa onani adalah perbuatan haram.
Hal ini didasarkan pada perintah Allah dalam Al-Quran bahwa orang-orang beriman telah diperintahkan untuk untuk menjaga kemaluan dalam segala kondisi kecuali terhadap istri dan budak perempuannya. Pelanggaran terhadap hal tersebut dikatagorikan sebagai perbuatan yang melampaui batas. Dasar hukumnya adalah surah Al-Mu’minûn (23: 5-7) dan surah An-Nûr (24:33).
Adapun Mazhab Hanafi menganggap bahwa masturbasi hukumnya haram dalam keadaan-keadaan tertentu dan wajib pada keadaan yang lainnya. Ulama Mazhab Hanafiah berargumen bahwa onani menjadi wajib apabila seseorang akan jatuh pada perbuatan zina jika tidak melakukannya. Dalam konteks ini, masturbasi dianggap sebagai emergency exit alias pintu darurat, di mana seseorang akan celaka apabila tidak melewati pintu tersebut.
Hal ini didasarkan pula pada kaidah untuk mengambil kemudharatan yang lebih ringan daripada terjatuh pada kemudharatan yang lebih besar. Akan tetapi, dalam kondisi “normal”, ulama Mazhab Hanafi mengharamkan praktik masturbasi bagaimana pun caranya, terlebih jika praktik tersebut dilakukan hanya sekadar untuk bersenang-senang.
Hampir senada dengan Mazhab Hanafi, para ulama Mazhab Hanbali mengharamkan onani atau masturbasi kecuali ketika seseorang takut jatuh ke dalam praktik perzinahan atau mengancam kesehatannya sementara ia tidak memiliki istri dan tidak memiliki kemampuan untuk menikah.
***
Lalu, bagaimana efek masturbasi terhadap kesehatan, baik fisik maupun psikologis? Apabila kita analisis lebih jauh, efek positif masturbasi lebih sedikit daripada efek negatif yang ditimbulkannya. Efek positifnya adalah bahwa masturbasi dapat melepaskan beban emosi dan ketegangan akibat keinginan untuk melakukan aktivitas seksual sehingga dalam kondisi tertentu dapat melepaskan orang dari perbuatan zina. Akan tetapi, jika perbuatan tersebut sering dilakukan, dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan alias ”rutininitas harian” yang akan sulit dihentikan.
Berikut ini sejumlah “efek samping” dari kebiasaan bermasturbasi yang menjadi sebab perlunya kita menjauhi aktivitas tersebut.

  • Onani atau masturbasi yang dilakukan secara intens, kasar, dan brutal dapat mengakibatkan iritasi pada kulit penis, menyebabkan luka, atau mencederai saluran kemih. Masturbasi semacam ini bisa mengganggu aktivitas kencing. Urine yang keluar menjadi tidak normal seperti menyembur ke semua rah dan sulit dikontrol play, pause, dan stopnya.
  • Kebiasaan onani atau  masturbasi, menurut dr. Hernano Chavez (lihat situs askmen.com), bisa mengakibatkan seseorang sulit mencapai klimaks saat berhubungan seks atau justru mempercepat ejakulasi atau ejakulasi dini.  Masturbasi mengondisikan seseorang untuk mencapai orgasme sendiri. Dalam jangka panjang, otak yang bersangkutan akan terlatih untuk merespons sentuhan tangan sendiri dan mengurangi sensitivitas sentuhan yang berasal dari orang lain. Akibatnya, akan lebih sulit mencapai klimaks pada saat berhubungan seks secara normal.
  • Secara psikologis, aktivitas onani atau masturbasi yang terlalu sering, dapat menyebabkan kompulsif masturbasi yang bisa mengganggu kehidupan sehari-hari. Ketidakseimbangan antara hasrat dan kebutuhan pribadi ini bisa menimbulkan rasa pusing dan ingin marah apabila yang bersangkutan tidak melakukan masturbasi. Hal ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan hubungan sosialnya.
  • Pelaku onani atau masturbasi pun menjadi sangat rentan terhadap gangguan obsesif kompulsif (OCD) alias melakukan sesuatu secara berulang-ulang, karena terobsesi dengan sesuatu itu, semisal terus menerus mencuci tangan karena selalu merasa kotor. Gangguan ini bisa timbul karena hadirnya perasaan berdosa yang senantiasa menghantui. Nah, masturbasi termasuk aktivitas yang kerap menimbulkan perasaan berdosa bagi pelakunya. Dia merasakan kalau tangannya kotor. Karena kotor itulah dia menjadi terobsesi untuk mencucinya secara berulang (kompulsif) sampai berjam-jam lamanya.
  • Secara biologis, onani atau masturbasi yang telah menjadi kebiasaan bisa memengaruhi otak dan zat-zat kimia dalam tubuh sehingga berpengaruh pada diproduksinya seks hormon secara berlebihan. Walaupun dampaknya berbeda-beda pada setiap orang, onani atau masturbasi kronik ini bisa menyebabkan rasa lelah, sakit di bagian pelvic, sakit punggung, sakit di bagian testis, sampai mengakibatkan terjadinya kerontokan rambut.
  • Dalam perspektif neurosains, onani atau masturbasi di otak memiliki daerah yang sama dengan perilaku berjudi, yaitu nukleus akumben, hormonnya pun sama yaitu dopamin. Intinya, masturbasi dilakukan untuk meraih kesenangan tanpa proses sehingga bisa menyebabkan efek adiksi atau kecanduan. Jika sudah kecanduan, apabila tidak onani, kadar dopamin dalam tubuh akan menurun drastis sehingga tidak motivasi untuk beraktivitas akan menurun. Frekuensi dan intensitas reseptor di otak pun akan terus meningkatkan tuntutan pemenuhan kebutuhannya.
  • Efek jangka panjangnya, manusia akan menjadi budak nafsu. Dia akan lebih mengedepankan kenikmatan sesaat daripada moral. Setiap keputusan yang diambilnya akan cenderung tergesa-gesa, melampaui batas, dan senang berkeluh-kesah. Raja dengan banyak selir, orang yang suka berzina, para pecandu narkoba atau rokok, sangat mirip dengan para “praktisi masturbasi”, di mana kesenangan yang didapat akan menuntut dosis yang selalu meningkat.
Tentu tidak mudah bagi manusia dewasa untuk mengabaikan dorongan seksual apabila dia datang. Namun, tetapi kita dituntut untuk lebih bijak menyikapinya. Masturbasi adalah langkah terakhir yang dapat ditempuh dalam kondisi darurat. Adapun bagi seorang Muslim, menghiasi diri dengan kesabaran dan kesungguhan dalam menjaga kehormatan diri adalah terapi paling ampuh yang akan menjaga seseorang dari aneka dosa dan kemaksiatan.
Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa menjaga diri (iffah) maka Allah akan menjaganya. Siapa meminta pertolongan kepada Allah maka Allah akan menolongnya. Siapa bersabar maka Allah akan memberikan kesabaran kepadanya. Dan, tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik atau lebih luas daripada kesabaran.” (HR Al-Bukhari)






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kesehatan Lainnya
Kala Pandangan Membajak Otak
Kala Pandangan Membajak Otak
17
Allah Ta’ala menjadikan mata sebagai cermin hati. Dengan demikian, pandangan mata akan sangat mempengaruhi kondisi hati.