Kesehatan
Membudayakan Gerakan Slow Food

Membudayakan Gerakan Slow Food
Industri fast food memaksa penduduk dunia menyantap makanan yang seragam. Contohnya, ayam goreng (fried chicken) dari ayam ras telah menyisihkan ayam kampung yang lebih alami karena umumnya dipelihara secara organik.

Tanpa sadar banyak di antara kita sudah tergiring pada pola makan amburadul serba fast food. Selain resto, supermarket penyedia fast food siap masak seperti nugget dan drumstick makin mudah terjangkau. Wajar saja kalau anak-anak kita pun makin banyak yang mengidap penyakit akibat kebiasaan menyantap fast food. Di balik ancaman fast food, pelan tapi pasti kita makin disadarkan pentingnya kembali ke pola makan tradisional yang alami, beragam, dan lebih sehat. Salah satunya oleh gerakan Slow Food.

Sudah banyak kesimpulan hasil penelitian terhadap fast food. Prevalensi anak-anak kegemukan (obesitas) semakin meningkat. Usia penduduk pengidap diabetes dan penyakit degeneratif lainnya seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan osteoporosis menjadi semakin dini, termasuk diabetes di kalangan anak-anak.

Makanan fast food umumnya kaya lemak jenuh dan lemak trans, tinggi kalori, rendah serat, berlimpah gula, dan bahkan royal dengan tambahan food additives sintetis untuk menjadikan warna, tekstur, dan cita rasanya menggugah selera. Semua bahan tersebut kurang bersahabat dengan kesehatan. Bahkan, sebagian fast food seperti donat dikelompokkan sebagai "makanan sampah" (junk food) karena nyaris tidak menyumbangkan nutrisi kecuali gula, lemak, dan setumpuk kalori.

Rajin Makan Fast Food Merugikan Kita Semua
Fast food menciptakan budaya makan baru, yakni makan hanya sekadar mengisi perut. Buru-buru karena harus mengejar waktu. Ritual makan dengan tenang di antara sanak keluarga sambil mengobrol santai dan mengunyah lamban semakin luntur. Sepintas bersantap serba cepat gaya fast food memang praktis, tetapi membebani sistem metabolisme tubuh. Tubuh dipaksa bekerja berat mencerna makanan kurang lengkap gizi, namun berlimpah zat tak berguna (lemak jenuh, lemak trans, kolesterol, gula, kalori berlebihan), apalagi disantap terburu-buru.

Industri fast food memaksa penduduk dunia menyantap makanan yang seragam. Contohnya, ayam goreng (fried chicken) dari ayam ras telah menyisihkan ayam kampung yang lebih alami karena umumnya dipelihara secara organik. Agar cepat besar, ayam ras dipelihara intensif dengan pakan formula khusus, suntikan hormon, dan antibiotik. Dikhawatirkan lama kelamaan orang makin melupakan makanan lokal mereka, berganti dengan makanan global (ayam ras).

Penyeragaman pola makan akibat membanjirnya franchise fast food di seluruh dunia sungguh mengkhawatirkan. Bukan hanya karena akibat buruknya terhadap kesehatan setelah kita menyantapnya, tetapi juga bisa mengancam keseimbangan alam akibat penyeragaman pola makan yang berujung pada penyeragaman sistem pertanian. Menjamurnya gerai fast food di seluruh dunia lambat laun bisa memaksa dunia menerapkan sistem pertanian monokultur, yakni hanya membudidayakan tanaman atau hewan yang dibutuhkan industri fast food. Bila kita semakin gandrung pada fast food, bisa jadi 50 atau 100 tahun ke depan anak cucu kita tidak bisa lagi melihat sawah atau ayam kampung.


Selain itu, industri fast food yang meraja lela membuat sistem pertanian harus tunduk pada tuntutan industri tersebut untuk serba cepat dan instan. Akibatnya penggunaan pupuk dan pestisida sintetis menjadi gila-gilaan. Selain membahayakan kesehatan manusia, juga mengancam ekosistem alam karena berisiko memusnahkan makhluk lokal pendukung sistem pertanian seperti cacing, kodok, serangga, ikan.

Nikmati Makan dengan Lambat dan Tenang
Kondisi ini mengusik seorang jurnalis dan pemerhati pola hidup sehat di Italia yakni Carlo Petrini. Gerakan Slow Food dicetuskan di Italia pada tahun 1986. Organisasinya didirikan pada tahun 1989 bersamaan dengan pembukaan gerai fast food McDonald's di Roma, sebagai gerakan perlawanan terhadap globalisasi fast food.

Secara prinsip, Slow Food meminta kita kembali pada ritme alami. Dengan mencermati ritme alami, kita lebih mudah menemukan makna hidup dan bisa menikmati hidup. Mungkin kita tidak sadar bahwa makan dengan tenang tanpa terburu-buru merupakan aktivitas relaksasi (meditation on moving), yang bisa membantu melepaskan kepenatan pikiran dan jiwa.

Sesuai lambang siput yang digunakan oleh organisasi ini, Slow Food bukan hanya menekankan pada kita untuk menikmati makanan secara lamban dan tenang, tetapi juga mengharap kita bisa memasak dengan tenang pula. Dengan demikian, kita tidak lagi memerlukan bumbu instan maupun makanan instan dan fast food, karena semua hidangan kita masak dengan tenang dari bahan aslinya sebagaimana di alam.

Gerakan makan dan memasak lamban ini akan menghindarkan sistem pertanian dari eksploitasi. Tanaman pangan dan pemeliharaan ternak tidak harus diproduksi secara terburu-buru untuk mengejar produksi. Tanaman buah, sayuran, dan bahan makanan lainnya, serta ternak dibiarkan tumbuh secara organik sesuai ritme alam, sehingga tidak lagi memerlukan pestisida, hormon, antiobiotik, dan obat-obatan sintetis. Dampaknya, keseimbangan alam akan terjaga, karena makhlukyang hidup di sekitar sistem pertanian tidak terbunuh.

Dengan menjauhi fast food dan membiasakan diri menyantap makanan sehat alami dengan ritme alami pula (lamban, tenang, dan tidak terburu-buru), gerakan Slow Food berharap akan bisa menyelamatkan warisan budaya makan yang autentik di seluruh dunia. Meskipun kelihatannya sepele, tujuan ini ternyata tidak semata berkait dengan peningkatan taraf kesehatan penduduk.

Slow Food berdampak panjang terhadap keselamatan lingkungan. Keutuhan benih tanaman pangan alami terjaga. Keragaman ternak/unggas lokal terpelihara. Sistem pertanian yang bersahabat terhadap alam serta kehidupan manusia dan hewan juga terselamatkan. Dan yang tak kalah penting, Slow Food memberi lahan subur warisan budaya makan lokal untuk berkembang kembali, sehingga bisa merekatkan cinta kasih dalam keluarga yang kini makin terkikis oleh gaya makan ala fast food.

Nah, bila kita juga ingin menjadi bagian dari keluarga dunia yang sehat, Slow Food selayaknya menjadi keseharian. Tak soal apa pun pilihan pola makan—food combining, vegetarian, makrobiotik, mediteranian, okinawa, atau yang lain—yang terpenting dimasak dari bahan-bahan alami, dimasak secara alami, dan dinikmati dengan ritme alami pula (lamban, tenang, dan tidak terburu-buru). (diadaptasi dari sumber: community.um.ac.id) [swady]






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kesehatan Lainnya
Demamkah Anak Anda?
Demamkah Anak Anda?
16
Dengan langsung memberikan obat penurun panas maka tidak memberikan kesempatan pada tubuh untuk melaksanakan fungsi mekanisme pertahanan tubuh, karena tumbuh kembang anak lebih pesat daripada orang dewasa sehingga biasanya menghasilkan panas yang lebih banyak.
Galeri
Lempar Jumroh

Ust. Abdul Wahab sedang memperagakan Lempar Jumroh kepa

DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar