Kesehatan
Jengkol, Pete, Mengapa Tidak? Asaaaal...

Jengkol, Pete, Mengapa Tidak? Asaaaal...
Sejatinya aneka bawang, jengkol, dan pete halal dimakan dan boleh diperjualbelikan, akan tetapi ada mudharat yang ditimbulkan. Efek yang paling khas adalah baunya yang sangat mengganggu.

“Siapa makan bawang putih atau bawang merah hendaklah menjauhi kita atau menjauhkan diri dari masjid kita dan sebaiknya tinggal di rumahnya.”
(HR Al-Bukhari)
 
Idealnya, seorang Muslim tidak cukup makan dengan makanan yang halal saja, tetapi juga thayyib alias baik (lihat misalnya QS Al-Baqarah, 2: 168, QS Al-Mâ’idah, 5: 88, QS Al-Anfâl, 8: 69, atau QS An-Nahl, 16: 144). Dengan memakan makanan yang halal dan thayyib, kita bisa mendapatkan keuntungan yang optimal dari makanan tersebut, baik keuntungan lahir maupun batin, bahkan bisa menjadi amal ibadah dan cermin rasa syukur kita kepada Allah Swt (QS Al-Baqarah, 2:172), sekaligus mereduksi aneka keburukan yang kerap ditimbulkan oleh makanan yang kurang baik.

Maka, dalam situasi tertentu, Nabi saw. memakruhkan kita untuk mengonsumsi sejumlah bahan makanan yang dinilai kurang thayyib karena dapat mengganggu kekhusyukan ibadah. Salah satunya adalah makanan dengan bau menyengat semacam bawang putih dan bawang merah. Dalam beberapa hadis, kita akan menemukan pernyataan dari Nabi saw. yang menganjurkan kita untuk tidak mengonsumsi makanan ini, khususnya ketika hendak bertemu dengan orang lain, semacam shalat berjamaah di masjid.

Dari Jabir bin Abdullah, Nabi saw. bersabda, ”Siapa memakan bawang putih atau bawang merah, maka hendaklah ia meninggalkan kami, atau hendaklah dia meninggalkan masjid kami, dan hendaklah ia duduk di rumahnya.” (HR Al-Bukhari)

Kemudian, masih dari Jabir bin Abdullah, Nabi saw pun bersabda, ”Siapa memakan biji-bijian ini, yakni bawang putih (suatu kali beliau mengatakan, ’Siapa memakan bawang merah, bawang putih dan kurrats—sejenis mentimun), janganlah dia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu dengan hal yang membuat Bani Adam (manusia) terganggu’.” (HR Muslim)

Di dalam hadis ini, Nabi saw. hanya menyebutkan bawang merah, bawang putih, dan kurrats, karena dalam masyarakat di mana beliau hidup, makanan jenis inilah yang dikenal memiliki bau menyengat. Memang, ada kebiasaan dari masyarakat Muslim di Timur Tengah atau di Semenanjung India untuk mengonsumsi bawang merah atau bawang putih yang berlebihan, terkadang, bawang bombay muda dijadikan sebagai lalapan. Dalam konteks masyarakat Indonesia, yang termasuk ”keluarga” makanan berbau menyengat adalah jengkol dan pete. Bahkan boleh jadi, kadar baunya lebih menyengat daripada bawang bombay. Di sini termasuk pula tembakau atau rokok yang asapnya menimbulkan bau di mulut dan pakaian.

Sejatinya aneka bawang, jengkol, dan pete halal dimakan dan boleh diperjualbelikan, akan tetapi ada mudharat yang ditimbulkan. Efek yang paling khas adalah baunya yang sangat mengganggu. Inilah kemudian yang menyebabkan makanan ini dimakruhkan untuk kita makan, khususnya pada saat hendak pergi ke masjid. Kita dapat membayangkan, atau bahkan pernah mengalami, kita ada orang pergi ke masjid dengan tanpa mencuci terlebih dulu bau mulutnya dari makanan tersebut, kita yang ada di samping orang tersebut menjadi sangat terganggu dengan bau khas yang ditimbulkannya.

***

Ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan dari anjuran Rasulullah saw ini, yang seharusnya kita taati dan laksanakan sebaik mungkin, antara lain:

Pertama, larangan mengganggu orang lain dengan segala jenis sarananya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di dalam hadis di atas, terdapat sarana yang telah dinyatakan berdasarkan nash, maka menggolongkan yang lain kepadanya, semacam jengkol, pete, tembakau atau rokok, adalah benar dan sesuai dengan metode qiyas.

Kedua, kita jangan sampai ketinggalan shalat berjamaah yang sangat utama hanya karena ”hal yang sepele”. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk tidak mengonsumsi makanan berbau menyengat sebelum pergi ke masjid atau ke tempat berkumpulnya orang-orang, kecuali kalau kita bisa membersihkannya terlebih dahulu sehingga tidak tercium lagi baunya. Namun, ada yang terlarang, yaitu apabila kita sengaja memakan jengkol dan kawan-kawannya itu sebagai sebuah rekayasa agar kewajiban hadir di masjid menjadi gugur.

Ketiga, pelarangan mengonsumsi bawang putih dan sejenisnya bukan karena keharamannya. Dalam sebuah hadis, Nabi saw. memperbolehkan para sahabat memakannya. ”Sesungguhnya beliau disuguhi panci berisi biji-bijian hijau lantas mencium bau darinya, lalu beliau diberitahu mengenai biji-bijian apa itu. Lantas beliau bersabda, ’Dekatkanlah kemari’ — beliau mengatakan hal itu kepada sebagian sahabat yang bersamanya — pada saat melihatnya, beliau tidak suka untuk memakannya seraya bersabda, ’Makan saja, sesungguhnya aku sedang bermunajat kepada Zat Yang tidak kalian munajati’.” (HR Muslim). Dengan demikian, berpantangnya Rasulullah saw. dalam memakannya tidak menunjukkan kepada pengharaman.

Keempat, pelarangan ini dapat menghindarkan kita dari menjadi pribadi yang memiliki imej buruk di mata orang lain. Apabila kita sering tampil ”apa adanya” ketika ke masjid, seperti dengan pakaian yang bau rokok atau mulut bau jengkol, pete, dan bau lainnya yang tidak nyaman, orang pun akan mencap kita sebagai orang jorok alias kurang beradab. Jika sudah demikian, orang pun akan malas dekat dengan kita. Inilah yang kemudian menghambat pola interaksi yang positif. Akan lebih berbahaya apabila yang dicap buruk ini adalah seorang pendakwah atau orang yang dihormati. Ada banyak kebaikan yang akan terhambat dan ada banyak kemudharatan yang akan timbul.

Kelima, beberapa makanan berbau tajam, khususnya jengkol, memiliki komposisi gizi yang kurang support untuk kesehatan tubuh, bahkan bisa membahayakan apabila sering dikonsumsi dalam jumlah banyak. Hasil penelitian membuktikan biji jengkol mengandung asam jengkolat sebagai komponen terpenting. Strukturnya mirip dengan asam amino sistein (pembentuk protein) yang mengandung unsur sulfur sehingga ikut berpartisipasi dalam pembentukan bau dan tidak dapat dicerna sehingga manfaatnya bagi tubuh sangat minimal. Molekul ini pun terdapat dalam bentuk bebas dan sukar larut ke dalam air.

Maka, dalam jumlah tertentu asam jengkolat dapat membentuk kristal. Nah, terbentuknya kristal asam jengkolat dalam tubuh yang akan dapat menyumbat saluran air seni. Jika kristal yang terbentuk tersebut semakin banyak, dalam jangka waktu lama lamaan dapat menimbulkan gangguan pada saat mengeluarkan air seni. Bahayanya akan semakin besar apabila sampai terjadi infeksi.

Dengan demikian, hobi jengkol, pete, bayang putih, bawang merah, bawang bombay, dan lainnya tidak apa-apa asal jangan berlebihan dan pastikan baunya tidak mengganggu orang lain. ***






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kesehatan Lainnya
Kenali Macam-Macam Bakteri Berbahaya
Kenali Macam-Macam Bakteri Berbahaya
22
Dengan ratusan ribu spesies yang hidup di darat, laut hingga tempat-tempat ekstrim, macam-macam bakteri mampu hidup di tempat yang kiranya tak mungkin ditempati oleh organisme lain, termasuk manusia.