Kesehatan
Rahasia Tubuh Sehat dengan Enzim

Rahasia Tubuh Sehat dengan Enzim
Prof. Dr. Hiromi Shinya, ahli usus terkemuka di dunia ini mengungkapkan betapa pentingnya peran enzim bagi kesehatan manusia. Lalu, apa hubungan antara enzim dengan makanan yang berbentuk daging?

Pernahkah Sahabat menghitung jumlah gigi taring? Kalau belum, ambil cermin dan mulailah menghitung jumlah gigi yang bertugas mengoyak daging itu. Jika jumlahnya 15 persen dari seluruh gigi yang ada, artinya jumlah makanan berbentuk daging hanya 15 persen dari seluruh makanan yang diperlukan tubuh.

 

Prof. Dr. Hiromi Shinya, ahli usus terkemuka di dunia ini mengungkapkan betapa pentingnya peran enzim bagi kesehatan manusia. Lalu, apa hubungan antara enzim dengan makanan yang berbentuk daging?

 

Nah, secara singkat akan dijelaskan hubungan antara enzim, usus, makanan berbentuk daging, dan makanan lainnya. Penjelasan diambil dari buku “The Miracle of Enzyme”, karya Prof. Dr. Hiromi Shinya.

 

Pencernaan Manusia

Tugas usus adalah menyerap makanan. Tugas tersebut tidak bisa dilakukan jika makanan yang masuk ke usus tidak memenuhi syarat. Bukan saja ususnya “kecapean”, sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus. Menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit.

 

Adapun enzim adalah protein yang berperan sebagai katalis didalam tubuh makhluk hidup yang berperan mempercepat reaksi kimia. Enzim seharusnya berada dalam jumlah banyak dan berkualitas dalam tubuh makhluk hidup. Tidak terkecuali manusia, agar tubuh senantiasa sehat dan terjaga dari segala macam serangan penyakit.

 

Faktanya, enzim ikut ambil bagian dalam seluruh aktivitas yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. Seperti sintesis dan penguraian, transportasi, ekskresi, detoksifikasi, penyediaan energi, regenerasi sel, dan sebagainya. Singkatnya, kunci menuju hidup panjang dan sehat terangkum dalam satu kata, enzim.

 

Cara Makan Sehat

Makanan itu menurut Prof. Dr. Hiromi Shinya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan baik. Minum itu sebaiknya setengah jam sebelum makan. Supaya air sudah sempat diserap usus terlebih dahulu.

 

Hiromi juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gemuk.

 

Yang paling mendasar dari teorinya adalah setiap tubuh manusia sudah diberi “modal” oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu. Enzim-enzim ini tersimpan di dalam “lumbung enzim-induk”. Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari “lumbung”-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Dan ketika manusia mati, maka itu berarti habisnya enzim di lumbung masing-masing.

 

Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing, haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan-makanan segar. Hindari makanan yang digoreng. Apalagi jika makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, semakin diperparah kalau minyak itu sudah teroksidasi (lama di udara terbuka). Minyak teroksidasi sangat bahaya bagi usus. Membutuhkan enzim yang banyak untuk mengolahnya. Ini berarti, semakin banyak pula enzim dalam tubuh yang terkuras. 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kesehatan Lainnya
Demamkah Anak Anda?
Demamkah Anak Anda?
16
Dengan langsung memberikan obat penurun panas maka tidak memberikan kesempatan pada tubuh untuk melaksanakan fungsi mekanisme pertahanan tubuh, karena tumbuh kembang anak lebih pesat daripada orang dewasa sehingga biasanya menghasilkan panas yang lebih banyak.
Galeri
Lempar Jumroh

Ust. Abdul Wahab sedang memperagakan Lempar Jumroh kepa

DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar