Kesehatan
Keharaman Mengonsumsi Bangkai

Keharaman Mengonsumsi Bangkai
Ketika nama ”bangkai” disebutkan, otak kita segera mengasosiasikan kata tersebut dengan sesuatu yang buruk lagi menjijikan. Maka, ajaran agama melarang kita memakannya dengan

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.” (QS. al-Baqarah [2]: 173)
 
Bangkai dapat diartikan sebagai “binatang yang mati tanpa melalui proses penyembelihan yang sah”. Dengan demikian, semua jenis binatang yang mati tanpa sempat disembelih, semacam mati tercekik, mati tenggelam, distrum, tertabrak, diterkam binatang buas, mati ditanduk, mati karena dipukul, dapat dihukumi sebagai bangkai sehingga haram untuk dimakan.
 
Allah Ta’ala berfirman, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala …” (QS. al-Mâ’idah [5]: 3)
 
Di sini aspek waktu—baru atau sudah lamanya mati—tidak memengaruhi status keharaman binatang-binatang tersebut. Walaupun baru satu menit mati dan belum sempat disembelih sebelum kematiannya, tetap saja dianggap sebagai bangkai yang tidak layak dikonsumsi. Jadi, satu menit, satu jam, satu hari, atau beberapa hari dari kematiannya, hukumnya tetap sama. Walaupun demikian, ada pengecualian dua jenis bangkai yang boleh kita makan, yaitu ikan dan belalang. Rasulullah saw bersabda, “Dihalalkan kepada kita dua jenis bangkai dan darah, (yaitu) bangkai ikan dan belalang, serta hati dan limpa.”
 
Binatang buruan yang mati karena terluka, semisal terkena panah atau tombak, walaupun mati tidak disembelih, masih boleh kita konsumsi. Seorang sahabat pernah bertanya tentang hal tersebut dan Nabi saw menjawab, “Jika engkau mengenakan dengan ujungnya yang tajam, makanlah; dan jika engkau mengenakan dengan tangkainya, kemudian ia terbunuh, sesungguhnya ia mati terkena pukulan dan jangan dimakan.” (HR. Bukhari)
 
Mengapa Tidak Boleh Mengonsumsi Bangkai?
Ketika nama ”bangkai” disebutkan, otak kita segera mengasosiasikan kata tersebut dengan sesuatu yang buruk lagi menjijikan. Maka, ajaran agama melarang kita memakannya dengan cara apa pun, karena itu bertentangan dengan sifat kemuliaan manusia. Hewan dianggap pantas memakan bangkai karena derajat mereka jauh lebih rendah daripada derajat manusia. Itu alasan pertama.
 
Alasan kedua, bangkai sangat rentan terhadap tumbuh kembangnya bakteri-bakteri yang membahayakan tubuh manusia. Ketika seekor hewan mati, semisal sapi, unta, domba, ayam, dan sejenisnya, dan matinya tidak melalui proses penyembelihan sehingga darah tidak keluar, bakteri anaerob yang ada pada diri hewan tersebut akan bekerja membusukkan jaringan (nekrosis). Bagian tubuh hewan yang sudah rusak dan mengandung banyak bakteri ini, apabila dikonsumsi akan mengganggu dan merusak flora normal alias bakteri-bakteri baik yang ada di usus.
 
Pada bangkai pun biasanya terjadi radang seperti TNF alfa dan protein jaringan yang dikeluarkan saat terjadinya kerusakan jaringan. Selain itu, keberadaan darah dalam saluran vaskuler juga rawan untuk dijadikan media pertumbuhan mikroba patogen alias virus dan bakteri sumber penyakit. Di tempat inilah mikroba berbahaya membelah dan mengembangkan diri secara berlipat ganda. Nah, proses penyembelihan atau pengeluaran darah secara optimal dapat mengeliminasi semua faktor berbahaya tersebut. [ↄ]






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kesehatan Lainnya
Kenali Macam-Macam Bakteri Berbahaya
Kenali Macam-Macam Bakteri Berbahaya
22
Dengan ratusan ribu spesies yang hidup di darat, laut hingga tempat-tempat ekstrim, macam-macam bakteri mampu hidup di tempat yang kiranya tak mungkin ditempati oleh organisme lain, termasuk manusia.