Kesehatan
Membuka Lawang Sighotaka

Membuka Lawang Sighotaka
Jangan padamkan anugerah potensi yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepada mereka. Namun sebaliknya, pupuklah dengan benar potensi kebaikan yang bibitnya telah Allah Ta’ala tanamkan di dalam kesejatian dirinya.

Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orangtuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim)

Alkisah, di ranah pewayangan yang termaktub dalam dongeng epik Mahabaratha terdapat dua keluarga sedarah yang saling bermusuhan. Keluarga atau trah pertama dikenal sebagai Pandawa, terdiri dari putra-putra Raden Pandu Dewanata dengan Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Sedangkan keluarga atau trah yang kedua dikenal sebagai wangsa Kurawa, terdiri dari 100 anak Prabu Destarata dengan Dewi Gandari. Pandawa dikenal sebagai cerminan dari nilai-nilai kebajikan yang antara lain diekspresikan melalui kejujuran, kepedulian terhadap sesama, dan juga konsistensi dalam menegakkan keadilan dan membela kebenaran. Sementara wangsa Kurawa adalah representasi dari bersimaha-rajalelanya nafsu duniawi yang sarat dengan perilaku hedonistik, chauvinistik, dan itik-itik lainnya.

Sifat, sikap, dan perilaku yang tercermin dalam moral kisah ini ternyata berawal dari sebuah runtutan algoritma kehidupan, yang tentu saja bersifat kausatif atau memiliki hubungan sebab akibat. Wangsa Kurawa terlahir dari rasa dendam Dewi Gandari yang sangat kecewa karena dijodohkan dengan Prabu Destarata yang buta. Maka, sang dewi yang tenggelam dalam samudera kemurkaan ini bertekad memiliki keturunan yang diharapkan mampu menuntaskan hasrat nafsiahnya melalui kekuasaan. Gandari berhipotesis bahwa manisnya madu kekuasaan yang direguk lewat tangan keturunannya, mampu menjadi obat mujarab bagi luka hatinya yang terkoyak oleh kenyataan.

Maka, lahirlah segumpal daging yang dimetaforakan sebagai kumpulan kebusukan yang sarat dengan aroma kedurjanaan manusia. Lalu, daging itu terburai, tercerai berai menjadi 100 janin merah yang dipenuhi hawa nafsu dan amarah. Gandari, Sengkuni, dan wadya balad Kurawa sebenarnya hanyalah analogi dari setan-setan yang bisikannya pun kerap kita jumpai dalam keseharian. Tumbuhlah ke-100 anak tersebut dengan tempaan kekecewaan, buntut dari hasrat yang tidak tersalurkan, awal dari sebuah kebodohan yang berkepanjangan.

***

Kisah ini adalah metafora. Bukankah Rabb kita melalui lisan utusan-Nya menyatakan pada diri manusia terdapat segumpal daging, yang apabila dia baik adanya maka baik pula manusianya, demikian pula sebaliknya. Maka, anak-anak Gandari dan Destarata yang tumbuh dan berkembang dari “segumpal daging” kebusukan serta dipupuk dengan kebencian serta terselubung selimut cinta duniawi, yang secara semu menghangatkan tersebut, kelak menjadi perlambang kejahatan dan angkara yang terlahir dari dendam semata. Demikian pula Rahwana, sang Dasamuka, antitesis fitrah manusia yang menolak untuk uzur, menua, dan perlaya. Sepuluh wajahnya adalah sepuluh dosa besar manusia yang akhirnya terkubur oleh kekuatan pasukan wanara yang berjamaah membelah samudera.

Maka, celakalah orang-orang yang salat apabila dia menjadi riya karena kelebihannya dan juga secara proyektif; menjadi dengki karena kelebihan orang lain. Konsep Kurawa ini sesungguhnya adalah cerminan proses kehamilan yang mengintegrasikan peran seorang ibu dan janin yang dikandungnya. Apabila ibu mengalami stres dan terjadi perubahan pada poros atau aksis HPA (hipotalamus-pituitari-adrenal), otak janin akan berkembang sesuai dengan arah pengaruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengalami stres berkepanjangan, merupakan salah satu faktor yang diduga menyebabkan disorientasi seksual pada bayi yang dikandung. Na’uzubillâhi min zâlik.

Itulah mengapa, Rasulullah saw pernah menegur seorang sahabat yang berlaku kasar kepada bayinya yang mengompoli baju beliau. Baju yang ternoda oleh pipis bayi atau anak dapat disucikan kembali dengan proses mencuci. Tetapi hardikan, celaan, ataupun teguran dari orangtua dapat bersifat permanen dan membekas seumur hidup. Maka, dendam, kebencian, dan kekecewaan kronis yang diwariskan melalui jalur genetika maupun pengasuhan, niscaya mempengaruhi pembentukan nurani keturunan.

***

Maka, jika kita sebagai orangtua berharap agar keturunan memiliki karakter kejujuran, konsistensi terhadap nilai yang diyakini, serta sekaligus lembut dan peduli sesama seperti Umar bin Khathab atau pun Umar bin Abdul Aziz, sudah seharusnya apabila kita mempelajari kembali dan menelusuri tanda-tanda Ilahi yang termanifestasikan dalam fitrah anak kita. Mari kita kenali potensi ruhiyah, jasadiyah, dan aqliyahnya. Jangan padamkan anugerah potensi yang telah Allah Ta’ala karuniakan kepada mereka. Namun sebaliknya, pupuklah dengan benar potensi kebaikan yang bibitnya telah Allah Ta’ala tanamkan di dalam kesejatian dirinya.

Tentu kita ingin anak-anak kita mahfum, arif, dan bijak saat bicara dalil karena menguasai ushul fiqh dan qawaidhul fiqh; bisa mengerti konsep nasikh-mansukh atau takhsis ayat bil ayat dan paham bahwa ada pendekatan al-ibratu bi khususisabab. Dia tahu dalam konteks fiqh muamalah tidak patut sesuatu dilarang atau diharamkan sebelum ada dalil yang mengharamkannya. Dia pandai dalam nahwu sharaf, mampu membaca al-Quran dengan tartil yang benar, dan juga mampu mentahfiz 2-3 juz, syukur jika lebih. Akan tetapi, dia pun sekaligus juga brilian dan cemerlang dalam mendaras ilmu-ilmu yang mengupas ayat-ayat qauniyah seperti fisika teori, astrofisika, fisika quantum, matematika, bahasa pemrograman, biologi, bioteknologi, farmasi, agroteknologi, maupun ilmu sosial, budaya, dan psikologi, serta ekonomi untuk mengelola mâliyah istima’iyyah atau aset umat agar manfaat.

Ini semua bolanya ada di tangan ayah dan bunda, ibu dan bapak semua. Maka, bermohonlah kepada Allah Azza wa Jalla agar kita diberi kemampuan untuk menjaga amanah terbesar yang telah Dia titipkan kepada kita, yaitu anak keturunan. Lalu, berikhtiarlah sekemampuan diri melakukannya dengan landasan iqra’ bismirabbikal-ladzî khalaq.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kesehatan Lainnya
Mencegah dan Mengobati Penyakit dengan Sayuran dan Buah
Mencegah dan Mengobati Penyakit dengan Sayuran dan Buah
07
Zat ini dapat merangsang proses pembuatan hormon serotonin di sistem saraf manusia. Serotonin bertugas menghadirkan ketenangan dan kesabaran dalam pikiran manusia.
Galeri
DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por