Kesehatan
Jika Batuk tak Kunjung Sembuh

Jika Batuk tak Kunjung Sembuh
Mungkin Anda tak mengira, bahwa kecepatan batuk bisa mencapai puluhan kilometer per jam. Dengan kecepatan seperti itu, batuk merupakan mekanisme pertahanan yang bekerja dengan cepat sekali.

Jangan pernah menyepelekan batuk. Sebab, batuk merupakan pertanda, ada yang tak beres dalam tubuh kita. Batuk? Ah, itu sih penyakit lumrah, tak usah khawatir. Begitu anggapan sebagian masyarakat kita. Terlebih lagi, di negeri tropis seperti Indonesia ini, pencetus batuk ada di mana-mana. Mulai dari udara panas, debu yang beterbangan, asap kendaraan bermotor, asap rokok, sampai cuaca lembab akibat hujan berkepanjangan.

Pada dasarnya, batuk diciptakan Tuhan sebagai mekanisme pertahanan tubuh. Itu mekanisme defensif dari seorang manusia. Dengan batuk, berarti kita tengah berupaya mengeluarkan sesuatu yang berada dalam saluran napas. Mungkin Anda tak mengira, bahwa kecepatan batuk bisa mencapai puluhan kilometer per jam. Dengan kecepatan seperti itu, batuk merupakan mekanisme pertahanan yang bekerja dengan cepat sekali. Namun demikian, batuk juga bisa merupakan suatu penyakit, atau lebih tepatnya manifestasi dari suatu penyakit.

Itu pula yang pernah dirasakan oleh Ian (10 tahun). Dulu, ketika umurnya masih empat tahun, ia pernah menderita batuk berkepanjangan, terutama pada pagi hari. ''Macam-macam merek obat batuk saya berikan. Tapi batuknya tak sembuh-sembuh juga, sampai hampir sebulan,'' kata Yati, sang ibu. Yati, ibu rumah tangga berusia 33 tahun, lalu membawa anaknya ke dokter spesialis anak. Namun, seminggu meminum obat dari dokter itu, Ian masih batuk-batuk juga. Akhirnya, Yati memutuskan membawa anaknya ke dokter spesialis paru di sebuah rumah sakit besar di Jakarta. ''Waktu itu saya khawatir anak saya kena TB (dulu dikenal dengan istilah TBC).''

Benarkah Ian kena TB? Foto rontgen menunjukkan, paru-paru Ian bersih. Ia tidak kena TB. ''Anak ibu ini asma,'' kata Yati menirukan perkataan dokter spesialis paru yang memeriksa Ian. Benar saja, dengan obat asma yang diberikan sang dokter, tak sampai seminggu, Ian tidak batuk-batuk lagi. Rupanya, batuk terus-menerus yang dialami Ian selama ini merupakan gejala dari penyakit asma. Namun, bukan cuma asma yang ditandai oleh gejala batuk. Seperti dijelaskan oleh Dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K) MARS, spesialis paru dari RSUP Persahabatan, Jakarta, menjelaskan, ada sejumlah penyakit yang bisa ditandai oleh batuk terus-menerus selama beberapa minggu. Selain asma, batuk bisa juga merupakan gejala sinusitis, bronkhitis, TB, gangguan pada lambung (gastroesophageal reflux disease), dan tumor.

Sulit bagi kita untuk mengetahui penyebab batuk dengan hanya mendengar suara batuk si penderita. Menurut Tjandra, penyebab batuk biasanya bisa dideteksi dari gangguan tambahan yang dialami. Misalnya, bila batuk disertai dengan sesak napas, maka kemungkinan batuk tersebut disebabkan oleh penyakit asma. ''Namun, bila sebelumnya sehat wal afiat terus mengalami batuk disertai pilek dan demam, penyebabnya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),'' katanya.

Lain lagi bila batuk terus-menerus dan disertai benjolan di dada. Kemungkinan besar, batuk ini dipicu oleh tumor. Karena itu, Tjandra mengingatkan, untuk tak menganggap remeh masalah batuk. Selain bisa merupakan pertanda penyakit serius, batuk yang berlebihan dan sangat keras, bisa pula memecahkan pembuluh di bagian mata, dan otot-otot menjadi meregang. ''Kalau boleh saya menyarankan, bila batuk terus-menerus lebih dari satu minggu harus segera diperiksa ke dokter.'' Bagi dokter yang juga menjabat direktur medik dan keperawatan RS Persahabatan ini, tak ada istilah batuk biasa.

Semua batuk yang dialami orang adalah luar biasa. ''Ini menjadi semacam warning (peringatan/pertanda) bahwa dalam tubuh kita ada sesuatu yang tak beres.'' Untuk mengetahui penyakit penyebab batuk, dokter biasanya akan meminta penderita untuk menjalani rontgen. Terkadang, dokter juga akan meminta pasien menjalani pemeriksaan dahak. Ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah batuk yang tak kunjung sembuh itu merupakan indikasi TB atau bukan. Tak jarang pula, penderita batuk menjalani tes darah dan pemeriksaan fungsi pernapasan. ''Dengan begitu akan terlihat penyakit apa yang menyebabkan orang tersebut menderita batuk,'' kata Tjandra.

Obat batuk
Ada dua jenis batuk yang sering dialami. ''Ada batuk kering, dan batuk berlendir (batuk produktif),'' kata dr Maydie Esfandiari SpP. Penderita batuk kering biasanya merasa sangat terganggu dan sakit pada waktu batuk. Untuk mengatasi batuk jenis ini, penderita dianjurkan untuk meminum obat batuk jenis antitusif. ''Obat batuk jenis ini bisa menghambat atau menekan batuk,'' kata spesialis paru alumnus Fakultas Kedokteran UKI, Jakarta ini. Sedangkan, untuk penderita batuk produktif, jenis obat yang perlu diberikan adalah jenis ekspektoran. Obat batuk jenis ini bisa merangsang pengeluaran mukus (lendir) dan bahan iritan lainnya dari saluran napas.

Tjandra menambahkan, obat batuk antitusif tidak dianjurkan untuk diminum oleh orang yang batuknya berlendir. Alasannya, bila obat batuk antitusif diminum penderita batuk produktif, akibatnya dahak akan makin sulit dikeluarkan. Ini karena obat batuk antitusif bersifat menekan batuk. ''Begitu pula dengan batuk kering, tak bisa diberi ekspektoran. Sebab, batuk kering tak mengeluarkan lendir,'' imbuhnya. Nah, agar tidak keliru, minumlah obat batuk yang sesuai dengan jenis batuk yang diderita. Dengan meminum obat batuk yang tepat, diharapkan gangguan batuk akan segera hilang. ''Kalau bisa sembuh dengan obat yang ada, tak perlu ke dokter. Namun bila dalam satu hingga dua minggu tidak sembuh, segera periksa ke dokter,'' imbuhnya.

Sebenarnya, lanjut Tjandra, hal paling efektif dan perlu dilakukan untuk mengobati batuk adalah menyembuhkan penyakit penyebabnya. Sebab, bila penyakit penyebabnya tidak diobati, maka batuk akan terus terjadi. Hal serupa dikatakan pula oleh Maydie. Itu mengapa, obat untuk penderita batuk, seringkali berbeda-beda tergantung penyebabnya. Batuk yang disebabkan oleh asma misalnya, dapat diatasi dengan pemberian inhalasi beta agonis atau steroid. ''Sedangkan batuk akibat peradangan dan peningkatan sekresi saluran napas dapat diatasi dengan dekongestan dan antihistamin,'' jelas Maydie. Lain halnya pada penderita batuk akibat pneumonia (radang paru) bakterial, dokter biasanya akan memberi antibiotik. Selain mengunakan obat-obatan, fisioterapi juga memegang peranan penting dalam menyembuhkan batuk. Untuk membantu anak-anak yang menderita batuk, penguapan dengan air hangat sambil menepuk dada si anak ternyata mampu membantu melonggarkan saluran napasnya.

Menjauhkan Diri dari Batuk
Batuk bukanlah gangguan sepele. Karena itu, alangkah baiknya jika batuk tak sampai menyerang kita. Bagaimana caranya? Ikuti beberapa tips dari dokter Maydie Esfandiari SpP berikut ini.
* Berhentilah merokok.
* Banyak minum air putih. Anda dianjurkan untuk minum air putih, sedikitnya 10 gelas sehari.
* Kurangi mengonsumsi makanan yang bersifat 'panas' seperti goreng-gorengan dan sambal.
* Agar perjalanan udara di tenggorokan menjadi lancar dan lega, sesekali bernapas di uap air panas.
* Hindari menumpuk barang dan menggantung pakaian di dalam kamar. Kebiasaan buruk ini membuat kamar dipenuhi debu dan menyesakkan.
* Bersihkan ruangan kamar minimal dua minggu sekali, sehingga debu tak memenuhi ruangan.
* Berolahraga secara teratur agar tubuh tetap prima.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kesehatan Lainnya
Kenali Macam-Macam Bakteri Berbahaya
Kenali Macam-Macam Bakteri Berbahaya
22
Dengan ratusan ribu spesies yang hidup di darat, laut hingga tempat-tempat ekstrim, macam-macam bakteri mampu hidup di tempat yang kiranya tak mungkin ditempati oleh organisme lain, termasuk manusia.