Kesehatan
Piring Kaca atau Piring Emas

Piring Kaca atau Piring Emas
Islam baru menancapkan pengaruhnya di seputaran Jazirah Arabia. Dalam masa transisi yang diwarnai dengan serangkaian peperangan dan penaklukkan tersebut, ada begitu banyak orang yang memerlukan bantuan agar bisa menyambung hidup.

“Rasulullah saw melarang kami minum dan makan dengan perkakas makan dan minum dari emas dan perak. Beliau juga melarang kami berpakaian sutera dan yang dibordir dengan benang sutera dengan sabdanya, ‘Itu untuk kaum musyrikin di dunia dan untuk kamu di akhirat’.”
(HR Muttafaqun ‘Alaih)
 
Islam tidak hanya mengatur masalah makan dari sudut pandang zatnya, cara mendapatkannya, atau masalah adab perbuatannya saja, tetapi juga mengatur media yang digunakannya. Sekarang orang terbiasa makan dan minum menggunakan piring atau gelas dari kaca dan dari plastik. Namun, pada masa Rasulullah saw, materi semacam ini hampir tidak digunakan. Materi yang umum digunakan adalah dari bahan dasar tanah liat, daun, dan kulit. Pada masa itu, logam pun sudah banyak digunakan sebagai perkakas atau perhiasan dan tidak jarang pula digunakan sebagai alat atau perkakas makan, khususnya dari jenis logam mulia seperti emas dan perak.

Akan tetapi, Rasulullah saw melarang umatnya untuk makan dan minum dari piring atau bejana emas dan perak. Sebuah hadis menginformasikan, “Rasulullah Saw melarang kami minum dan makan dengan perkakas makan dan minum dari emas dan perak. Beliau juga melarang kami berpakaian sutera dan yang dibordir dengan benang sutera dengan sabdanya, ‘Itu untuk kaum musyrikin di dunia dan untuk kamu di akhirat’.” (HR Mutafaqun ‘Alaih)

Apa sebabnya Nabi saw melarang hal tersebut? Bukankah emas dan perak adalah bahan tambang yang halal zatnya dan boleh dimanfaatkan manusia?

Pertama, dilihat dari aspek historis. Pada masa beliau hidup, ada dua kekaisaran besar yang menguasai dunia, yaitu Persia dan Romawi. Kedua adidaya tersebut dikenal sangat kaya dan memiliki daerah kekuasaan yang sangat luas. Kaisar, para pembesar, dan kaum bangsawan kedua negeri tersebut hidup dalam kemewahan. Emas dan perak yang merupakan simbol kekayaan terpenting tidak hanya mereka jadikan perhiasan di baju, mahkota, senjata, pelana kuda, atau patung dewadewi, tetapi juga pada perkakas makan dan minum mereka. Semakin mewah akan semakin tinggi pula prestisenya, semakin naik pula harga dirinya, dan semakin tinggi pula penghormatan yang diberikan oleh para bawahannya.

Sikap pamer dan berlebih-lebihan ini kemudian dicela oleh Nabi saw. yang membawa ajaran mencintai kebersahajaan dan kedermawanan. Untuk membedakan antara penganut agama tauhid dengan penganut agama pagan yang mendewakan kemewahan duniawi, Rasulullah saw pun memerintahkan pengikutnya agar tidak meniru kebiasaan buruk mereka. Beliau bersabda, ”Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah-laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka.” (HR Abu Daud)

Kedua, selain menutup peluang untuk meniru hal-hal buruk, pelarangan itu dilakukan untuk memenuhi unsur kepantasan dan solidaritas sosial. Saat itu, kondisi perekonomian umat Islam masih belum stabil. Islam baru menancapkan pengaruhnya di seputaran Jazirah Arabia. Dalam masa transisi yang diwarnai dengan serangkaian peperangan dan penaklukkan tersebut, ada begitu banyak orang yang memerlukan bantuan agar bisa menyambung hidup. Banyaknya peperangan menyebabkan jumlah janda dan anak-anak yatim, orang yang cacat, kehilangan pekerjaan, dan lainnya bertambah. Maka, sangat tidak pantas apabila ada segelintir orang Islam yang hidup bermewah-mewahan sedangkan ada banyak saudaranya yang hidup dalam kesusahan. Rasulullah saw mengecam keras seorang Muslim yang tidak memiliki tenggang rasa dan hidup bermewah-mewahan, termasuk yang makan dengan menggunakan perkakas dari logam-logam mulia, sedangkan saudaranya kesusahan. Beliau amat menganjurkan agar barang-barang tersebut disedekahkan demi tegaknya Islam atau membantu orang-orang yang kesusahan.

Rasulullah saw sendiri menjadi teladan terbaik dalam hal ini. Setiap kali beliau mendapatkan hadiah dari pemimpin kaum yang ditaklukkan atau dari harta rampasan perang (ghanimah) beliau langsung mensedekahkannya kepada kaum Muslimin. Beliau sendiri tetap hidup sederhana dan jauh dari kemewahan, demikian pula keluarganya.
Ada satu kisah dari Rabi‘ binti Ma’udz bin ‘Urfa. Suatu ketika ayahnya memintanya membawakan satu sha’ kurma basah dan mentimun halus untuk dihadiahkan kepada Rasulullah saw. Kebetulan saat itu ada yang mengirim hadiah berupa perhiasan emas yang banyak dari Bahrain. Ketika melihat Rabi’, Rasulullah saw. segera mengambil emas-emas itu sampai telapak tangan beliau dipenuhi barang berharga tersebut. Di luar dugaan Rabi’ binti Ma’udz, Rasulullah saw memberikan emas-emas ini kepadanya. “Maka beliau memberikan perhiasan atau emas sepenuh telapak tanganku, lalu bersabda, ‘Berhiaslah engkau dengan ini!” (HR Ath-Thabrani dan Ahmad).

Ketiga, dari sudut pandang ilmiah, larangan Rasulullah saw. agar kita tidak makan dan minum dari wadah berbahan logam, khususnya emas dan perak, ternyata sangat dapat dipertanggungjawabkan.

Materi logam memiliki karakteristik khusus yang bisa membahayakan tubuh manusia apabila terjadi kontak yang intens. Materi logam memiliki polaritas, muatan listriknya bersifat statis, memiliki suhu endogen atau suhu internal tertentu, mengandung medan elektromagnetik, dan memiliki sifat sebagai penghantar atau konduksi yang baik. Apabila terjadi interaksi antara makanan dan minuman yang kita konsumsi dengan materi logam, peluang untuk timbulnya radikal bebas karena berubahnya struktur kimia dan fisika makanan menjadi sangat besar. Apabila sampai terjadi, apalagi terjadi berulang-ulang, hal ini dapat mengakibatkan tidak efektifnya mekanisme penyerapan, pemecahan, dan proses katalitisasi zat-zat makanan oleh enzim. Proses semacam ini pada akhirnya dapat menimbulkan gangguan metabolisme. Dengan kata lain, logam emas dan perak akan menghasilkan reaksi yang berantai dan kurang menguntungkan bagi sistem tubuh. ***






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kesehatan Lainnya
 Keharaman Mengonsumsi Bangkai
Keharaman Mengonsumsi Bangkai
06
Binatang buruan yang mati karena terluka, semisal terkena panah atau tombak, walaupun mati tidak disembelih, masih boleh kita konsumsi. Seorang sahabat pernah bertanya tentang hal tersebut