Kesehatan
Kala Pandangan Membajak Otak

Kala Pandangan Membajak Otak
Ketika seorang lelaki memandang lawan jenisnya yang bukan haknya, demikian pula sebaliknya, misal ketika sedang berpacaran, informasi berupa objek yang dipandang yang diubah menjadi sinyal-sinyal

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’. Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya; dan memelihara kemaluannya; dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…”
(QS An-Nûr, 24:30-1)
 
Dalam risalahnya, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Menjaga pandangan mata, menjamin kebahagiaan seorang hamba dunia akhirat. Memelihara pandangan mata, memberi nuansa kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya. Menahan pandangan mata, bisa menguatkan hati dan membuat orang lebih bahagia. Sungguh, menjaga pandangan akan menutup pintu masuk setan ke dalam hati.”

Allah Ta’ala menjadikan mata sebagai cermin hati. Dengan demikian, pandangan mata akan sangat mempengaruhi kondisi hati. Betapa tidak, dari matalah sebagian besar informasi masuk ke dalam otak, untuk kemudian diolah, dianalisis, dan lalu menjadi input yang mewarnai segenap tingkah laku manusia. Maka, apabila seseorang mampu menjaga pandangan matanya, dia akan lebih kuat menahan nafsunya. Sebaliknya, apabila gemar mengumbar pandangan, dia pun akan lebih mudah mengumbar syahwatnya.

Oleh karena itu, Rasulullah saw sangat menekankan umatnya agar senantiasa menjaga pandangan. Beliau bersabda, “Pandangan mata itu (laksana) anak panah beracun dari berbagai macam anak panah Iblis. Siapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita, maka Allah mewariskan kelezatan di dalam hatinya, yang akan dia dapatkan hingga hari dia bertemu dengan Tuhannya.” (HR Ahmad)

Apabila kita menelaah al-Quran, kita pun akan menemukan fakta bahwa perintah menjaga pandangan Allah dahulukan sebelum perintah memelihara kemaluan. Sebab, menjaga pandangan merupakan langkah awal menjaga kemaluan. Mampu menjaga kemaluan pada akhirnya akan menutup celah kemaksiatan yang lain. Seks bebas, aborsi, pemerkosaan dan pembunuhan yang kerap dilakukan para penikmat media porno, semuanya berawal dari ketidakmampuan mereka menjaga pandangan.

Menjaga Pandangan dari Sudut Pandang Psikobiologis
Ketika seorang lelaki memandang lawan jenisnya yang bukan haknya, demikian pula sebaliknya, misal ketika sedang berpacaran, informasi berupa objek yang dipandang yang diubah menjadi sinyal-sinyal listrik akan jatuh pada sistem limbik. Pada sistem ini terdapat suatu daerah yang disebut nucleus acumben. Inilah pusat hedonisme, kenikmatan, dan kesenangan dalam diri manusia. Sifat yang diefektori oleh daerah ini pun adalah keinginan memiliki, bersenang-senang, dan memperturutkan hawa nafsu.

Jika yang dipandang adalah wanita cantik, bawaan yang timbul adalah keinginan memiliki, menikmati, dan ketakutan kalau-kalau si dia diambil orang. Padahal, wanita itu bukan barang koleksi. Wanita adalah amanah bagi pasangannya yang sah. Wanita—dalam hal ini istri—adalah partner untuk bersinergi dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan penuh rahmah. Apabila istri hanya dianggap sebagai barang koleksi, dia akan dihitung dari jumlah.

Ketika ada wanita lain yang dianggap lebih cantik dan memesona, dia pun akan berusaha mendapatkannya sebagai bagian dari koleksi. Akhirnya, jumlah yang dibatasi pun dilampaui. Fenomena selingkuh, perzinahan, atau kawin cerai pun menjadi fenomena. Seperti itulah, kalau hanya didasarkan pada pandangan fisik, cinta yang tumbuh biasanya tidak akan bertahan lama.

Apabila kita lihat dari struktur tubuh, mata itu berada pada bagian depan, akan tetapi lobus oksipitalis—yaitu bagian otak yang mengatur pandangan mata manusia—berada pada bagian paling belakang. Dari posisi ini saja, pandangan mata bisa membajak keluhuran moral dan rasio manusia. Kalau tidak dikendalikan, efek visual akan sangat menentukan sikap dan tindak manusia secara keseluruhan.

Faktor yang menentukan jodoh, yang paling utama bukan berasal dari pandangan. Akan tetapi, dari aroma tubuh yang tertangkap oleh indra pembauan. Maka, menjaga pandangan tidak menghalangi seseorang untuk sulit mendapatkan jodoh. Apabila hati kita nyaman, tenang, dan tenteram ketika bersama si dia, itu tanda-tanda ada kecocokan antara kita dengannya. Sesungguhnya, Allah Ta’ala telah memberikan sebuah mekanisme yang sangat cerdas dalam proses penentuan jodoh; mekanisme yang indah, bersih, dan jauh dari dominasi nafsu. ***






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Kesehatan Lainnya
Piring Kaca atau Piring Emas?
Piring Kaca atau Piring Emas?
13
Apa sebabnya Nabi saw melarang hal tersebut? Bukankah emas dan perak adalah bahan tambang yang halal zatnya dan boleh dimanfaatkan manusia?