Nasehat
Jangan Mengeluh

Jangan Mengeluh
Salah satu hal yang membuat kita tidak nyaman, dan membuat orang lain juga tidak nyaman berada dekat kita adalah kebiasaan berkeluh kesah.


Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah SWT, Dzat Yang Maha Menguasai segala apa yang ada di alam semesta ini. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw. Suri teladan bagi sekalian alam. Semoga di akhirat kelak kita mendapatkan syafaatnya. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
 
Saudaraku, salah satu hal yang membuat kita tidak nyaman, dan membuat orang lain juga tidak nyaman berada dekat kita adalah kebiasaan berkeluh kesah. Tanpa disadari, sering lisan kita melontarkan ucapan, dan tubuh kita memperlihatkan sikap mengeluh terhadap apa yang sedang dijalani atau terhadap kenyataan yang dihadapi.
 
Hidup di dunia ini penuh misteri bagi kita. Betapa pengetahuan kita sangat terbatas untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok hari, atau bahkan satu jam lagi. Kita tidak bisa mengetahui apakah umur kita sampai ke besok hari, bahkan ke waktu satu jam lagi dari sekarang. Kita tidak mengetahui dengan pasti apakah rencana-rencana kita akan terlaksana sebagaimana perencanaannya. Pengetahuan kita yang terbatas ini paling hanya mampu memprediksi, tanpa bisa memastikan apa yang akan terjadi.
 
Mari kita menafakuri firman Allah SWT berikut ini, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman [31]: 34)
 
Pada ayat ini kita bisa memetik pelajaran, bahwa kita tidak bisa mengetahui kapankah kiamat akan terjadi. Setahun lagi, sebulan lagi, seminggu lagi, besok ataukah lusa?! Kita sama sekali tidak mengetahuinya. Kita juga tidak bisa mengetahui kapankah pastinya hujan akan turun. Saat awan mendung, kita tidak bisa memastikan hujan akan turun atau tidak. BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) pun hanya sebatas mampu memprediksi atau memperkirakan cuaca, apakah di satu kota akan hujan atau tidak. Dan, kita pun tidak bisa mengetahui secara pasti bagaimana keadaan janin di dalam rahim. Dokter melalui USG-nya tidak bisa melihat jenis kelamin calon bayi, kecuali setelah Allah SWT menghendaki dan menentukannya.
 
Rasulullah saw menerangkan dalam hadisnya,  “Kunci-kunci gaib ada lima dan tidak ada yang mengetahuinya selain Allah: 1) Tidak ada yang mengetahui apa yang ada dalam rahim, kecuali Allah; 2) Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi besok, kecuali Allah; 3) Tak seorang pun tahu kapan hujan akan turun, kecuali Allah; 4) Tidak ada yang mengetahui di mana ia akan mati, kecuali Allah; dan 5) Tidak ada yang tahu kapan kiamat terjadi, selain Allah.” (HR. Bukhari)
 
Masya Allah, betapa terbatasnya pengetahuan kita. Oleh karena keterbatasan inilah, ada iman yang menjadi penyeimbangnya. Kita tidak mengetahui secara pasti, tapi Allah Maha Mengetahui. Kita tidak mengetahui kejadiannya secara pasti, tapi kita yakin bahwa ada kehendak dan kekuasaan Allah di balik segala kejadian di dunia ini.
 
Sayangnya tidak sedikit di antara kita, bahkan boleh jadi termasuk diri kita, yang ketika menemui sesuatu yang di luar pengetahuannya, dia mengeluh dan putus asa. Ia kecewa dan mengeluh karena kenyataan yang terjadi tidak seperti yang ia harapkan. Ia terus mengeluhkan pencapaiannya meleset dari target yang ia harapkan. Mengeluh dan mengeluh terus. Yang lebih tragis lagi adalah ia mengeluh tidak hanya sebatas lisan, tapi juga sikapnya menyuratkan keluhan-keluhannya. Bersikap lesu, melampiaskan kekecewaan dengan kemaksiatan dan lain sikap-sikap lainnya yang sangat tidak produktif, selain menimbulkan dosa bagi dirinya sendiri.
 
Ada juga tipe orang yang sangat mudah mengeluh, lalu menceritakan keluhan-keluhannya pada orang lain, pada keluarganya atau temannya. Kemudian, ia tidak berupaya memperbaiki keadaan. Tidak ada ikhtiar memperbaiki diri dan cara bertindaknya. Ia hanya sibuk mengeluh hingga membuat orang yang mendengarnya menjadi jenuh. Yang lebih tragis adalah ketika diberi nasihat, dia lebih sibuk mengelak, mencari kambing hitam dan merendahkan dirinya sendiri.
 
Padahal tidak ada kebaikan dari sikap berkeluh kesah itu. Berkeluh kesah hanya membuat kita sendiri mendramatisir masalah yang sesungguhnya bisa diselesaikan. Akibatnya kita sibuk dengan kecemasan dan ketakutan yang sebenarnya dibuat oleh kita sendiri. Sehingga kita semakin jauh dari solusi, karena bukan Allah yang menjadi sandaran.
 
Saudaraku, semoga kita dijauhkan dari sikap-sikap seperti ini. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang sangat mudah berkeluh kesah dan berputus asa. Selain tidak produktif, sikap seperti ini tidak memperbaiki apa-apa dan malah bisa menjauhkan diri kita dari Allah SWT. Na’udzubillaahi mindzalik!






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Menjaga Lisan
Menjaga Lisan
20
Sebagian umat muslim belum mampu menahan dirinya dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat maupun ungkapan yang dapat menyakiti orang lain.