Nasehat
Perbaiki Diri dan Orang Lain

Perbaiki Diri dan Orang Lain
Tidak sedikit orang yang gemar menasihati orang lain, harus berbuat ini berbuat itu, melaksanakan ibadah ini dan itu, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan.

Saudaraku, seseorang disebut memiliki kepribadian mushlih manakala ia shalih secara pribadi dan menshalihkan orang lain serta lingkungannya. Nah, ada satu ciri yang sangat identik pada diri seorang mushlih, yaitu ia senantiasa memperbaiki dirinya sebelum memperbaiki orang lain. Ia senantiasa memiliki semangat bahwa yang ia sampaikan kepada orang lain, setiap nasihat yang ia berikan pada orang lain, mestilah sudah ia amalkan juga.
 
Orang yang mushlih sangat menyadari akan firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. ash-Shaff [61]: 2-3)
 
Tidak sedikit orang yang gemar menasihati orang lain, harus berbuat ini berbuat itu, melaksanakan ibadah ini dan itu, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan. Ia menasihati orang lain hanya agar terlihat lebih memahami dibanding orang yang ia nasihati. Lebih parah lagi kalau dikotori dengan penyakit riya’ dan sum’ah, ingin terlihat dan terdengar sebagai orang yang pintar dan alim. Maka, orang yang seperti ini sungguh menyedihkan.
 
Allah SWT merendahkan perilaku demikian, seperti yang pernah dilakukan kaum Bani Israil. Allah berfirman, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. al-Baqarah [2]: 44)
 
Awalilah dengan ikhtiar yang serius dalam memperbaiki diri. Perbaiki niat, ucapan dan perbuatan kita. Memperbaiki diri bisa diawali dengan menafakuri dua kalimat syahadat yang sering kita ucapkan. Karena inilah tonggak awal keislaman kita. Bagi seorang non-muslim, dua kalimat syahadat menjadi ikrar pertama yang harus dilantangkan untuk menyatakan keislamannya. Dua kalimat yang memiliki konsekuensi lanjutan, tidak selesai hanya dengan mengucapkannya saja.
 
Saudaraku, kalau ada orang muslim yang belum baik akhlaknya, masih gemar berbuat dosa, kata-katanya masih banyak yang kotor, dusta dan menyakiti orang lain, perbuatannya masih sering menzalimi orang lain, maka kemungkinan besar belum benar syahadatnya. Ia baru menyatakan dua kalimat syahadat sebatas ucapan saja, belum meresap ke dalam hati. Belum kokoh menjadi keyakinan.
 
Asyhadu anlaa ilaaha illallah. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Kalimat ini baru sebatas lisannya. Sementara di dalam hatinya masih ada tuhan-tuhan lain yang selalu ia ingat, ia sebut, ia kejar, ia utamakan. Yaitu harta, pangkat, jabatan, popularitas, pasangan, dan urusan duniawi lainnya.
 
Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat ini pun masih sebatas lisan. Sementara dalam hatinya ia mengidolakan orang lain. Pada sikapnya sehari-hari ia tidak meneladani perilaku Rasulullah saw. Sunnah seakan jauh dari kesehariannya.
 
Padahal Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab [33]: 21)
 
Perbaiki ibadah kita. Boleh jadi salat kita masih banyak bolongnya, masih jauh dari khusyu, masih belum terasa nikmat saat bermunajat kepada Allah, masih sering tertinggal salat berjamaah, masih sering salat di akhir waktu. Begitu juga dengan ibadah lainnya, perbaiki agar semakin berkualitas.
 
Sementara diri terus diperbaiki, tunaikanlah kewajiban untuk saling mengingatkan dengan saudara kita. Ada orang yang berkata, jangan dulu memperbaiki orang lain sebelum diri sendiri baik. Saudaraku, tidak ada manusia sempurna. Sekuat apa pun seseorang memperbaiki dirinya, sebagai manusia pasti ada kalanya iman naik dan turun. Kalau kita menunggu sampai diri kita sempurna, maka dakwah tidak akan berjalan. Sikap terbaik adalah serius memperbaiki diri sembari mengajak orang lain pada kebaikan.
 
Wajib bagi kita memperbaiki diri, menjaga kebersihan hati, karena ini akan sangat mempengaruhi dakwah kita. Nasihat kebaikan yang datang dari kebersihan hati, akan sampai kepada hati. Ajaklah orang-orang terdekat kita untuk sama-sama memperbaiki diri. Dimulai dari keluarga, tetangga sekitar, teman, dan seterusnya. Karena Allah SWT berfirman, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. asy-Syu’araa [26]: 214)
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Menjaga Lisan
Menjaga Lisan
20
Sebagian umat muslim belum mampu menahan dirinya dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat maupun ungkapan yang dapat menyakiti orang lain.