Nasehat
Jangan Seperti Qarun

Jangan Seperti Qarun
Qarun bukan tidak tahu bahwa Allah Maha Menguasai, Maha Memberi Rezeki. Tetapi Qarun menjadi buta hatinya. Ia menolak dengan sombongnya segala nasihat dari Nabi Musa.

Saudaraku, tidak ada seorang pun manusia yang mau hidup sengsara. Setiap orang pasti ingin hidup bahagia. Banyak orang yang mengira sumber kebahagiaan itu adalah harta kekayaan, sehingga mereka pontang-panting mengumpulkan harta kekayaan. Padahal ternyata harta kekayaan itu seperti minum air laut, semakin diminum bukannya menghilangkan haus tetapi malah semakin menambah haus.
 
Maka tidak heran, orang yang silau dengan kemegahan dunia, semakin ia kaya raya semakin ia merasa berambisi menambah kekayaannya. Para pejabat yang korupsi itu bukan karena kecil gajinya, tapi karena miskin hatinya. Mereka tidak pernah puas dengan kekayaan yang sudah dimiliki, tetap saja bernafsu untuk menguasai lebih banyak lagi walau dengan jalan mencuri.
 
Kita juga tentu sangat akrab dengan satu kisah di zaman Nabi Musa, tentang orang yang kaya raya bernama Qarun. Ia adalah masih sepupu dari Nabi Musa. Orang yang awalnya hidup miskin, tidak memiliki kekayaan banyak, kemudian dia meminta kepada Nabi Musa agar didoakan supaya Allah memberikan harta kekayaan yang berlimpah kepadanya.
 
Tetapi, setelah doanya terkabul dan dia pun menjadi orang yang kaya raya, Qarun berubah. Ia menjadi sombong, enggan sedekah, dan kufur nikmat. Dengan sengaja ia memamerkan harta kekayaannya, sehingga membuat orang-orang yang melihatnya hampir saja terjerumus pada kesesatan, karena terbuai gemerlap harta kekayaan itu. Ia pun dengan sombongnya mengatakan bahwa harta kekayaan yang ia miliki, semata-mata hasil dari kecerdasannya sendiri.
 
Sebagaimana tercantum di dalam al-Quran, “Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’ Dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS. al-Qashash [28]: 78)
 
Qarun bukan tidak tahu bahwa Allah Maha Menguasai, Maha Memberi Rezeki. Tetapi Qarun menjadi buta hatinya. Ia menolak dengan sombongnya segala nasihat dari Nabi Musa.
 
Allah SWT berfirman, “Dan (juga) Qarun, Firaun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).” (QS. al-Ankabut [29]: 39)
 
Oleh karena kesombongan dan kekufurannya itu, Allah menimpakan bencana terhadap Qarun. Membuatnya binasa bersama semua harta kekayaannya tenggelam ke perut bumi. Allah berfirman, “Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. al-Qashash [28]: 81)
 
Bukan tidak boleh kita menjadi orang yang kaya raya. Bukan tidak boleh kita memiliki harta berlimpah. Tapi, satu hal penting yang harus selalu kita sadari adalah harta kekayaan yang dimiliki itu adalah ujian. Apakah dengan harta tersebut kita semakin dekat kepada Allah, ataukah malah semakin menjauh dari Allah?! Apakah harta kekayaan yang Allah titipkan kepada kita itu membuat kita bersyukur, atau malah membuat kita kufur kepada-Nya?!
 
Jangan sampai kita seperti Qarun yang kufur. Jadilah kita seperti sahabat Utsman bin ‘Affan yang penuh syukur. Harta kekayaan yang ada di tangan kita sesungguhnya bukan milik kita, melainkan milik Allah yang Allah karuniakan kepada kita sebagai titipan. Manakala Allah perintahkan untuk berzakat, maka lakukanlah karena harta itu hakikatnya milik Allah. Ketika kita ketahui Allah menyukai hamba-Nya yang berinfak, sedekah, wakaf, maka lakukanlah.
 
Tidak ada alasan bagi kita menahan-nahan harta kekayaan untuk kita belanjakan di jalan Allah SWT. Semakin kita merasa memiliki pada harta kita, merasa takut habis kalau kita sedekahkan, maka semakin tersesat kita, dan tidak akan lulus dari ujian harta. Dan, semakin tersesat lagi manakala kita tidak peduli lagi dari manakah harta kita datang, apakah halal ataukah haram.
 
Rasulullah saw bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak peduli lagi dengan apa yang ia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram.” (HR. Bukhari)
 
Semoga kita tergolong orang-orang yang mampu menjalani epidose hidup berlimpah kekayaan dunia dengan baik, selamat dari kufur nikmat, tetap rendah hati dan semakin menggiatkan diri dalam beramal di jalan Allah SWT. 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Menjaga Lisan
Menjaga Lisan
20
Sebagian umat muslim belum mampu menahan dirinya dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat maupun ungkapan yang dapat menyakiti orang lain.