Nasehat
Menafakuri Kemudahan dan Kesulitan Hidup

Menafakuri Kemudahan dan Kesulitan Hidup
Nabi memulai episode kehidupan dunia ini dengan sebuah ujian yaitu sebagai anak yatim, tidak merasakan kasih sayang, belaian, perlindungan dari ayahnya.

Segala puji hanyalah milik Allah SWT. Semoga Allah Yang Maha Menguasai segala isi hati, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang istiqamah menjaga qalbun saliim ada dalam diri kita. Salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Semoga kita termasuk para pengikutnya yang mendapat syafaat beliau di akhirat kelak.
 
Saudaraku, dunia adalah rangkaian ujian demi ujian. Selesai kita menghadapi satu ujian, berarti masuk pada ujian berikutnya. Setiap hari selalu saja kita temui persoalan yang boleh jadi membuat kita pusing, stres, galau, resah, gelisah, hingga putus asa. Dunia itu memang begitu. Namun, kalau kita tidak tahu ilmunya, maka kita akan berhenti pada keadaan galau, resah dan gelisah tadi. Barang siapa bisa melewati setiap ujian dengan baik, niscaya ia semakin menjadi manusia yang lebih baik.
 
Allah SWT berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah [2]: 155)
 
Rasulullah saw ketika dilahirkan ke dunia ini ayahnya sudah wafat. Jadi, Nabi memulai episode kehidupan dunia ini dengan sebuah ujian yaitu sebagai anak yatim, tidak merasakan kasih sayang, belaian, perlindungan dari ayahnya. Kemudian, saat masih kanak-kanak, saat sangat membutuhkan kasih sayang ibunya, ibunya pun wafat. Masa kanak-kanak beliau lalui dengan hidup mandiri, tanpa ayah ibu.
 
Sejak periode awal beliau sudah ditempa dengan ujian-ujian yang tidak mudah. Dan, ujian datang semakin kencang manakala sudah diangkat sebagai rasul. Kawan menjadi lawan, yang dekat menjauh, teman menjadi musuh, saudara menjadi benci.
 
Demikianlah, jalan dakwah beliau dilalui tidak dalam jalan yang penuh kesenangan dan kegembiraan, melainkan jalan yang kulit dan penuh ujian, yang mengantarkan kepada kemenangan gilang-gemilang. Dalam pandangan sebagian orang, kesulitan dan kepahitan yang dilewati oleh rasul adalah penderitaan. Padahal sesungguhnya tidak. Bagi orang-orang yang beriman, segala yang Allah tentukan merupakan kebaikan.
 
Ujian merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan seorang manusia yang mengaku beriman kepada Allah SWT. Karena Allah berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.’” (QS. al-Ankabut [29]: 2-3)
 
Allah pasti akan menguji kesungguhan hamba-Nya yang menyatakan iman, yakin, percaya kepada-Nya. Mungkin kemudian ada orang yang berkata, “Ah kalau begitu saya tidak akan beriman supaya tidak dapat ujian.” Nah, orang seperti ini malah lebih tragis lagi.
 
Padahal Allah menghadirkan ujian kepada kita tiada lain adalah untuk menaikkan derajat kita. Jika sebelumnya hanya manusia yang biasa-biasa saja, maka kemudian menjadi manusia yang shalih dan ahli ibadah, kemudian naik lagi menjadi hamba yang muhsin, yang senantiasa merasakan kehadiran Allah di mana saja dan kapan saja. Kemudian naik lagi menjadi hamba yang mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya. Dan seterusnya. Masya Allah.
 
Ujian adalah sarana untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, Yang Maha Menguasai segala kejadian di alam semesta ini. Tiada ujian yang buruk bagi kita, setiap ujian adalah untuk kebaikan kita, untuk menaikkan derajat kita di hadapan-Nya. Dan, di antara ujian-ujian itu ada yang bentuknya berupa kemudahan dan ada juga yang bentuknya kesulitan. Tidak ada yang lebih baik di antara keduanya, kecuali orang yang bisa menyikapi ujian apa pun bentuknya dengan kesabaran.
 
Jadi, kemudahan atau pun kesulitan dalam hidup ini merupakan ladang amal shalih bagi kita. Hidup tidak akan seterusnya menyenangkan, akan datang masanya sesuatu yang tidak kita sukai terjadi. Orang-orang yang menjadikan sabar dan syukur sebagai perhiasan dirinya, maka merekalah orang-orang yang lulus ujian dan tinggi derajatnya di hadapan Allah SWT. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung ini. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Menjaga Lisan
Menjaga Lisan
20
Sebagian umat muslim belum mampu menahan dirinya dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat maupun ungkapan yang dapat menyakiti orang lain.