Nasehat
Membumikan Al-Quran Ala Syekh Ali Jaber

Membumikan Al-Quran Ala Syekh Ali Jaber
Allah menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat bagi mereka yang mempelajari dan mengajarkan al-Quran.

Siapa yang tidak kenal dengan Syekh yang menjadi juri dalam acara tahfiz anak-anak pada Bulan Ramadan ini? Beliaulah Syekh Ali Jaber. Sejak 2011 lalu beliau resmi menjadi Warga Negara Indonesia yang sebenarnya mulai berdakwah di Nusantara ini sejak 2008, tiga tahun sebelumnya.
 
Ulama al-Quran yang lahir di Madinah 41 tahun silam ini menerima pendidikan agama yang kuat sejak dari kecil. Terlahir dari keluarga yang relijius, menjadikan Syikh bernama lengkap Syaik Ali Saleh Muhammad Ali Jaber ini menjadi hafiz di umurnya yang kesebelas. Sebagai anak terbesar dari 12 bersaudara, beliau dituntut untuk meneruskan perjuagan sang ayah dalam mensyiarkan Agama yang dibawa oleh Rasulullah ini.
 
Syekh Ali Jaber tampil sebagai ulama yang fokus terhadap pengajaran al-Quran. Beliau sendiri memperoleh pendidikan al-Quran dari ulama-ulama Madinah terkemuka. Pendidikan formalnya pun diperolehnya di kota perjuangan  Rasulullah tersebut, dari jenjang ibtidaiyah hingga perguruan tinggi. Kini beliau masih melakukan mulazamah dan kursus al-Qur’an di Madinah.
 
Beberapa waktu lalu, tim Swadaya bersilaturahim kepada Syekh yang kini tinggal di Jakarta Timur ini. Selepas mengisi acara pengajian akbar oleh DPU Daarut Tauhiid, tim Swadaya menemui beliau di ruang VIP Masjid Agung Trans Studio Bandung. Beliau berbagi inspirasi mengenai aktifitasnya kini yang ingin membumikan al-Quran di negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia ini.
 
Membumikan al-Quran di Indonesia
Beliau menekankan al-Quran itu bukan hanya untuk dibaca melainkan juga ditaddaburi dan dipahami isinya. Dalam perjuangan dakwahnya, Syekh yang mempersunting Akhwat asal Lombok ini, bukan hanya mengajarkan al-Quran saja, beliau juga berusaha mencetak kader-kader pengajar al-Qur’an, terutama para penghafal al-Qur’an. “Bahkan kami punya program Insya Allah lima tahun ke depan, kita bisa mengasilkan satu juta orang Indonesai penghafal al-Qur’an 30 Juz,” ucap beliau penuh ketegasan.
 
Cita-cita tersebut, kata Syekh Ali Jaber, tidak akan pernah terwujud tanpa adanya kerja sama antar lembaga yang memiliki fokus terhadap al-Qur’an, seperti dengan Baitul Qur’an Daarut Tauhiid. “Kita bisa membuat kerja sama yang sangat efektif untuk kebaikan, membumikan al-Quran di Indonesia,” katanya.
 
Syekh yang juga aktif menjadi pengajar tahfid di Pesantren Tahfidz al-Asykar Puncak ini mengungkapkan dirinya terus mengajak semua lembaga tersebut untuk menggalakkan program wakaf al-Quran yang sedang dijalankannya saat ini. Pada 22 Februari 2016 lalu, beliau bersama wakil Gubernur Jawa Barat dan Wakil Wali Kota Bandung melakukan pemberian al-Quran Braille Digital kepada 300 tunanetra di Bandung.
 
“Kami harap setiap muslim memiliki al-Quran di rumahnya sendiri, bukan hanya di masjid. Bahkan kami bercita-cita, bukan hanya memberikan dan menghantarkan al-Quran bergitu saja. Tapi, mereka juga terlibat dalam program mempelajari al-Quran,” tuturnya.
 
Beliau berharap masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan kemampuan dalam beriteraksi al-Quran. Dari buta huruf menjadi tahu dan bisa membaca dengan baik dan benar, kemudian menghafal sambil memahami al-Quran untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu adanya bimbingan berkelanjutan bagi masyarakat untuk terus mempelajari al-Quran hingga bacaannya sesuai contoh dari Rasulullah.
 
“Karena kita harap jangan ada orang yang bisa menghafal sembarangan, hafal tanpa bagus bacaannya, termasuk tajwid, makhrijul huruf. Karena kami tidak berharap mengahafal, tapi bacaannya masih tidak benar. Kami berharaf mereka bisa menghafal dengan bacaan sesuai dengan nabi Muhammad SAW,” jelasnya Syekh yang juga mengajar tahfidz di Islamic Center Lombok ini.
 
Kenikmatan Mempelajari dan Mengajarkan Quran
Suami Umi Nadia ini masih melihat banyak orang yang perlu dibina lagi ketika mengajarkan bacaan al-Quran yang dipahaminya. Seringkali, dirinya menemukan, dengan semangat yang menggebu seseorang mengajarkan al-Quran tanpa memperhatikan kebenaran bacaannya. Beliau khawatir anak-anak yang dibina olehnya memiliki hafalan namun dengan bacaan yang kurang pas.
 
Beliau menekankan kesesuaian bacaan dengan kaidah bacaan, erat kaitannya dengan kenikmatan yang diperoleh ketika al-Quran dibaca. Bacaaan yang benar akan mendatangkan kenikmatan tersendiri, baik katika mempelejari setiap ayat kalam Allah ini maupun ketika mengajarkannya kepada orang lain.
 
Oleh karena itu, penting sekali bagi seseorang yang mengajarkan al-Quran untuk memiliki kapasitas terutama terkait bacaan yang harus sesuai dengan sifat dan makharajil setiap huruf dalam al-Qur’an. Selain itu, pemahaman tajwid juga menjadi kunci utama ketika harus membaca al-Quran dengan baik dan benar.
 
Bagi yang hendak mempelajari al-Quran, pesan Syekh Ali Jaber, hendaknya beguru kepada ahlinya. “Bisa kepada Imam masjid yang hafalannya bagus. Walaupun hafalannya belum 30 juz,” ujarnya.
 
Setelah seseorang bisa membaca al-Quran dengan baik dan benar, sebaiknya, dirinya membaca hafalannya dalam salat, baik itu salah sunat maupun wajib. “Setiap kita hafal, walaupun satu ayat diamalkan dibacakan dalam salat kita, salat sunah Kabliah dan Bakdiyah, di Tahajud kita, di salat wajibpun boleh. Begitu baca al-Fatihah, baca ayat yang sudah hafal, Misal kita hafal tiga ayat kita baca tiga ayat, kita baca tiga ayat. jika dua ayat saya bisa dan ayat yang ketiga ternyata lupa, gak apa-apa, langsung takbir,” beliau memberi contoh.
 
Hal lainnya, agar seseorang bisa menikmati al-Quran, saran ustaz yang juga imam masjid di Madinah ini, orang tersebut harus merasakan bacaan dengan hatinya. Melakukan sima’ (mendengarkan) qari’ kesayangan untuk kemudian dibacakan secara berulang-ulang juga bisa dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan tersebut.
 
“Apalagi bisa ditambah terjemahannya baru bisa akan merasa nyaman. Memang al-Quran untuk menikmatinya bukan sesuatu yang susah. Cuman harus ada ikhtiar, jangan membaca cepat karena tidak akan bisa (mendapat ketenangan),” kata Syekh Ali Jaber.
 
Berbagi Membumikan Quran
Selain membutuhkan sinergi semua lembaga dalam membumikan al-Quran, Syekh Ali Jaber menegaskan, membumikan al-Quran membutuhkan sumber daya yang dirinya sendri merasa masih banyak katerbatasan. Perlu ada guru, tempat, dan dana yang cukup untuk mendakwahkan al-Quran ke setiap pelosok negeri ini.
 
Beliau mengajak semua umat muslim untuk bahu membahu dan rela berbagi sumber daya yang dimilikinya untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut. “Semua yang memilki kelebihan rizki ayo bersama-sama membangkitkan pembelajaran al-Quran pada masyarakat karena sesungguhnya mereka dari masyarakat untuk masyarakat Indonesia yang sudah bersedia. Karena kami terbatas dalam menyediakan guru, al-Quran dan tempat,” ajak beliau.
 
Syekh yang aktif mengisi berbagai pengajian di Indonesia ini kembali menegaskan, Allah menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat bagi mereka yang mempelajari dan mengajarkan al-Quran. Untuk itu, beliau mengharapkan sinergi semua lembaga dan masyarakat dapat mewujudkan masyarakat yang dipenuhi kebaikan dengan al-Quran.
 
“Kita memikirkan bersama-sama dengan biaya dan membantu program ini, untuk merubah umat ini bisa menjadi lebih baik. Dekat dengan al-Quran Allah, jamin dengan kebaikan,” pungkas Syekh Ali Jaber. 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Manajemen Cemburu
Manajemen Cemburu
13
Bila tidak ada rasa yang satu itu, terbayang seorang istri atau suami merasa tenang-tenang saja saat pasangannya berkhalwat (berduaan) atau selingkuh sekali pun! Lantas dimana letak kemuliaan seorang manusia bila sudah hilang rasa cemburu?