Nasehat
ITTAQILLAH (BERTAQWALAH KEPADA ALLAH)

ITTAQILLAH (BERTAQWALAH KEPADA ALLAH)
RINGKASAN AL HIKAM MASJID DAARUT TAUHIID BANDUNG Kamis, 21 Maret 2013 : 15.45 - 16.20 WIB Oleh Ust. Jamaludin Kajian Alhikam Dilaksanakan Setiap Kamis setelah sholat Ashar Di masjid Daarut Tauhiid Bandung.


RINGKASAN  AL HIKAM MASJID DAARUT TAUHIID BANDUNG

Kamis, 21 Maret 2013 : 15.45 - 16.20 WIB

 Bismillahirrahmanirrahim


Innalhamdalillah nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh wana’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyiaati a’maalina man yahdillahu falaa mudhilla lahu wa man yudhlil falaa haadiya lahu, wa asyhadu anlaa ilaaha illalloh wahdahu laa syarika lahu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu, amma ba’du.

 

Kami panjatkan segala puji padaNya dan kami meminta pertolonganNya. Seraya memohon ampun dan meminta perlindunganNya dari segala keburukan jiwaku dan dari kejelekan amaliahku. Barangsiapa yang telah Allah tunjukkan jalan baginya, maka tiada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa yang telah Allah sesatkan jalannya, maka tiada yang bisa memberinya petunjuk. Ya Allah limpahkanlah salawat dan salam bagi Muhammad saw berserta keluarga dan sahabat-sahabatnya, semuanya.

 

Ada 1 kalimat yang sering di lafadzkan, terutama dalam khutbah di setiap hari jum’at.

 

“ittaqullah (bertaqwalah kepada Allah)”

 

Sering sekali kita mendengar kalimat ini. Hingga banyak dari kita yang menghafalnya dengan sangat baik. Meskipun demikian perintah untuk bertaqwa kepada Allah tetap saja diulang-ulang terutama di setiap khotbah jum’at. Mengapa demikian? Karena taqwa adalah sesuatu yang bisa menyelamatkan seseorang di dunia hingga di akhirat nanti.  Bagi orang beriman pengulangan perintah untuk bertaqwa ini tidaklah membosankannya, bahkan semakin  terus nikmat saat didengarkan.

 

Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat yang menceritakan tentang taqwa yang menunjukkan ciri-ciri dari kebaikan taqwa itu sendiri.

{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

 

Ayat ini menjelaskan bahwa hanya dengan taqwa kepada Allah kita bisa keluar dari masalah. Secerdas & sehebat apapun kita jika Allah tidak menghendaki masalah kita selesai maka tidak akan pernah selesai. Dalam kondisi apapun kita pasti akan di hadapkan dengan masalah.

Adakalanya masalah-masalah yang diberikan itu malah membuat seseorang dekat dengan Allah. Namun sebaliknya ada org yg mendapatkan nikmat justru semakin jauh dari Allah. Alangkah lebih baiknya jika kenikmatan yg di dapatkan seorang hamba semakin mendekatkannya kepada Allah. Sebagaimana nabi Allah Sulaiman as.

Dengan memanfaatkan nikmat dari Allah untuk bertaqwa kepada-Nya maka Allah akan semakin menambah nikmat itu. sebagaimana yang Allah janjikan dalam firman-Nya

”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.  (QS. Ibrahim : 7)

Dengan demikian semakin bertambah rasa syukur hamba, semakin taat kepada Allah, maka semakin tinggi ketaqwaannya.

 

CIRI-CIRI ORANG YANG BERTAQWA

Adapun ciri-ciri hamba Allah yang bertaqwa sudah termaqtub dalam firman Allah, Al Quranul Karim diantaranya :

1.       Dekat kepada Allah baik dalam keadaan mudah maupun sulit.


"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. ALLAH menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran : 134)

Orang yang bertaqwa kepada Allah adalah mereka yang dekat kepada Allah baik saat lapang maupun sempit. Mereka dicintai oleh Allah & mendapatkan hadiah yang sangat istimewa yaitu syurga yg indah. Di dalam kehidupannya mereka senantiasa mendapatkan kemudahan dalam menjalaninya.

 

2.   Diberkahi oleh Allah

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. 7:96)

 Berkah adalah suatu kebaikan bukan keburukan. Segala sesuatu yang Allah berikan kesemuanya itu adalah berkah, namun kemudian perbuatan manusialah yang menyebabkan segala yang datang menjadi musibah.

Berkah berasal dari kata birkah. Kolam yg menampung air sehingga bisa bermanfaat. Air yang tadinya mengalir kemana-mana kemudian bisa dimanfaatkan karena ia terkumpul sehingga menghasilkan kebaikan bagi yang menggunakannya. Oleh karena itu, jika harta yang kita miliki berkah, maka harta itu akan mendatangkan kebaikan. Suami/istri yang berkah maka itu akan mendatangkan kebaikan.

Rasulullah mengajarkan sebuah doa untuk kita saat menghadiri pernikahan untuk memohon keberkahan.

بارك الله لك و بارك عليك و جمع بينكما في خير

“Semoga Allah memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu disaat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.  (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majjah)

 

Hendaklah dalam menghadiri pernikahan perlu kita untuk diluruskan niat. Memberikan do’a untuk pernikahan itu agar diberikan keberkahan.

Dalam kaitannya dengan keberkahan begitu juga dengan hal-hal yang tidak menyenangkan seperti sakit, musibah ujian apabila menghadirkan kebaikan & ketaatan kepada Allah maka itu adalah sebuah keberkahan.

 

3.       Bertaqwa kepada Allah dimana pun berada

Taqwa artinya melaksanakan perintah Allah & menjauhi larangan-Nya. Salah satu ciri ketaqwaan adalah tetap bertaqwa kepada Allah dalam keadaan ramai maupun sendirian. Terkadang orang bisa terlihat taqwa di dalam perkumpulan, saat bersama orang lain. Namun ketika sendirian sangat mudah baginya terjebak dalam dosa.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr: 18)

Akhir ayat ini menjelaskan kpd kita bahwa Allah mengetahui secara detail atas apa yg kita kerjakan tersebab ketaqwaan kita sering pudar disaat kesendirian. Karena itulah  kita harus membiasakan menjadi orang yang berbuat jujur dimanapun kita berada & menghindari perbuatan munkar. Allah sangat mengetahui apapun yang kita kerjakan.

 

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Luqman Hakim, diceritakan pada suatu hari ada seorang menemui Rasulullah s.a.w. untuk memeluk agama Islam. Sesudah mengucapkan dua kalimah syahadat, lelaki itu lalu berkata : “Ya Rasulullah. Sebenarnya hamba ini selalu berbuat dosa dan sulit meninggalkannya.” Maka Rasulullah s.a.w. menjawab : “Maukah engkau berjanji engkau akan meninggalkan perkataan dusta?” “Ya, saya berjanji” jawab lelaki itu singkat. Setelah itu, dia pun pulang ke rumahnya.

 

Menurut riwayat, sebelum lelaki itu memeluk agama Islam, dia sangat terkenal sebagai seorang yang jahat. Kegemarannya hanyalah mencuri, berjudi dan meminum minuman keras. Maka setelah dia memeluk agama Islam, dia sekuat teanga untuk meninggalkan segala keburukan itu. Sebab itulah dia meminta nasihat dari Rasulullah s.a.w. Dalam perjalanan pulang dari menemui Rasulullah s.a.w. lelaki itu berkata di dalam hatinya : “Berat juga aku hendak meninggalkan apa yang aku janjikan kepada Rasulullah s.a.w. itu (untuk tidak berdusta).”

 

Maka setiap kali dirinya terdorong untuk berbuat jahat, hati kecilnya terus mengejek. “Beraninya engkau berbuat jahat. Apakah jawaban kamu nanti apabila ditanya oleh Rasulullah s.a.w. akankah engkau berbohong kepadanya” bisik hati kecil. Setiap kali dia berniat hendak berbuat jahat, maka dia teringat segala pesan Rasulullah s.a.w dan setiap kali pulalah hatinya berkata : “Kalau aku berbohong kepada Rasulullah s.a.w. berarti aku telah mengkhianati janjiku padanya. Sebaliknya jika aku berkata benar berarti aku akan menerima hukuman sebagai orang Islam.”

 

Setelah dia berjuang dengan hawa nafsunya itu, akhirnya lelaki itu memenangkan perjuangannya dalam menentang kehendak nalurinya. Dia telah berhijrah dari kejahatan kepada kemuliaan hidup seperti yang digariskan oleh Rasululliah s.a.w. Hingga ke akhirnya dia telah berubah menjadi mukmin yang soleh dan mulia.

 Demikianlah ketaqwaan menyelamatkan manusia dari keburukan.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Menjaga Lisan
Menjaga Lisan
20
Sebagian umat muslim belum mampu menahan dirinya dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat maupun ungkapan yang dapat menyakiti orang lain.