Nasehat
Membimbing Anak untuk Mandiri

Membimbing Anak untuk Mandiri
Semakin bertambah usia anak, tentu bentuk kemandirian yang harus dicapai pun meningkat. Tidak hanya sekadar mampu memakai pakaiannya sendiri, namun lebih luas lagi.

Anak menjadi mandiri adalah salah satu tugas orang tua dalam mendidik putra-putrinya. Dimulai sejak dini, anak diarahkan untuk bisa mandiri, melakukan tugas-tugas kecil dalam kesehariannya. Bahagia rasanya saat melihat si kecil sudah mampu memakai bajunya sendiri, mengikatkan tali sepatu, dan mampu untuk makan sendiri tanpa harus disuapi. Itu adalah bagian kecil dari contoh kemandirian seorang anak.

 

Semakin bertambah usia anak, tentu bentuk kemandirian yang harus dicapai pun meningkat. Tidak hanya sekadar mampu memakai pakaiannya sendiri, namun lebih luas lagi dia harus mampu memilah dan memilih apa yang terbaik untuk diri dan lingkungannya. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk membimbing anak agar mandiri:

 

  1. Memberikan pemahaman sesuai tingkat perkembangan anak.

Memilih kalimat yang mudah difahami anak atau memberikan gambaran yang tepat menjadi salah satu kepandaian yang harus dimiliki orang tua. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka ketahui. Apakah engkau suka jika Allah dan Rasul didustakan?” (HR. Bukhari).

  1. Berbuatlah secara bijaksana.

Hal ini berkaitan dengan pemahaman fase perkembangan anak. Cara tepat menghadapi fase-fase perkembangan anak yang berbeda mutlak diperlukan kebijaksanaan. “Kamu disuruh untuk berlaku manis dan bijaksana, bukan berlaku kasar dan mengundang kesulitan.” (HR. Bukhari).

  1. Memberikan kasih sayang secara wajar.

Berbuat adil dalam berbagi kasih sayang diantara anak-anak yang dimiliki merupakan kewajiban setiap orang tua. Kasih sayang yang diberikan bukan kasih sayang yang membutakan, namun proporsional. Saat anak melakukan kesalahan, bentuk kasih sayang kita berupa teguran bahkan hukuman. Namun sebaliknya, jika anak berprestasi, maka layaklah dia mendapatkan pujian atau hadiah. Jadi kasih sayang disini bukan hanya kemudahan atau pemaafan saja.

  1. Konsisten atau memberikan ketegasan dalam mendidik.

Bentuk ketegasan mutlak diperlukan dalam segala hal. Hal ini untuk membentuk sebuah kedisiplinan. Disiplin dalam belajar, bekerja dan ibadah.

 

Sebagai orang tua yang baik, tentu tidak ingin salah langkah dalam membimbing anak-anaknya untuk mandiri. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diwaspadai yang dapat menghambat kemandirian pada anak, yaitu :

  1. Faktor bawaan. Ada anak yang berpembawaan mandiri, tetapi ada pula yang memang suka dan menikmati jika dibantu orang lain.
  2. Pola asuh. Bisa saja anak berpembawaan mandiri menjadi tidak mandiri karena sikap orang tua yang selalu membantu dan melayani atau terlalu melindungi (over protective).
  3. Kondisi fisik anak. Anak yang kurang cerdas atau memiliki penyakit bawaan, bisa saja diperlakukan lebih “istimewa” ketimbang saudara-saudaranya, sehingga malah menjadikan anak tidak mandiri.
  4. Urutan kelahiran. Anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi, dibantu, apalagi orang tua belum berpengalaman. Sementara itu anak bungsu cenderung dimanja, apalagi jika selisih usianya cukup jauh dari kakaknya.

 

Akhirnya semua ikhtiar itu kita pulangkan kembali kepada Yang Maha Penentu berupa doa. Doa bentuk ketawakalan kita yang berharap diberikan terbaik oleh-Nya. Selain itu, kita pun harus introspeksi diri, sudahkan diri ini memberikan contoh bentuk kemandirian? Contoh atau keteladanan orang tua adalah modal efektif untuk perbaikan dan perkembangan anak-anaknya. Wallahu ‘alam






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Kisah Kedurhakaan Tsa’labah
Kisah Kedurhakaan Tsa’labah
28
Mendengar itu, Rasulullah bersedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin, namun setelah kaya ia telah berubah.