Nasehat
Tragedi Buah Khuldi: Pentingnya Memiliki Kemauan yang Kuat

Tragedi Buah Khuldi: Pentingnya Memiliki Kemauan yang Kuat
Seseorang dengan kualitas Nabi yang berdialog dengan Allah serta diberikan fasilitas surga, namun masih terbujuk godaan Iblis. Inilah kedurhakaan pertama yang dilakukan manusia.

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. Thaha [20]: 115)

Ayat ini adalah penggalan petunjuk yang Allah SWT sampaikan kepada kita, sebagai pelajaran dan peringatan dari kisah turunnya Nabi Adam dari surga. Kisah tersebut begitu dalam dan bagi yang mengabaikan pelajaran serta peringatan dari kisah ini, maka ia akan tenggelam dalam kesengsaraan dan kecelakaan. Oleh karenanya, ayat tersebut diawali dengan kata ”walaqad” yang memiliki arti: “Dan sesungguhnya….” yang dalam kaidah bahasa Arab adalah huruf atau kata taukid, yaitu huruf atau kata yang memiliki fungsi penegasan.

Allah sebelumnya mempersilakan Nabi Adam dan istrinya untuk menggunakan seluruh potensi yang ada di surga, kecuali satu hal, yaitu: “Janganlah engkau dekati pohon ini. Tentunya bila kita dihadapkan dengan banyak hal, dan hanya dilarang melakukan satu hal, bukanlah perkara yang berat. It’s gonna be easy.

Iblis pun melakukan tipu daya dengan membisikkan pikiran jahat kepada Nabi Adam. Dia mengajak berdialog terus-menerus dengan bujuk rayu, bahwa ia akan menunjukkan kepada Nabi Adam satu perkara yang membuat Nabi Adam (dan istrinya) kekal, serta mendapatkan kerajaan yang tidak akan binasa. Inilah “buah khuldi” yang terus dihembuskan Iblis kepada Nabi Adam.

Apa yang disampaikan Iblis terus mengetuk logika Nabi Adam, hingga akhirnya hadir di benak dan pikiran Nabi Adam dan bersemayam di dalamnya. Lambat-laun menjadi sugesti yang kian lama kian memunculkan rasa penasaran dan keinginan untuk membuktikan. Semakin Iblis meningkatkan frekuensi bujukannya, maka semakin Nabi Adam dibuat lalai hingga lupa dengan perintah Allah, “Jangan engkau dekati pohon ini.” Akhirnya Nabi Adam (dan istrinya) bukannya menjauhi bahkan memakan buahnya, sehingga jatuhlah Nabi Adam (dan istrinya) ke dalam lembah kedurhakaan.

Wow, peristiwa yang sangat tragis. Seseorang dengan kualitas Nabi yang berdialog dengan Allah serta diberikan fasilitas surga, namun masih terbujuk godaan Iblis. Inilah kedurhakaan pertama yang dilakukan manusia. Dari peristiwa ini, kita bisa mengambil pelajaran serta peringatan bahwa tidak ada jaminan bagi seseorang untuk tidak diganggu Iblis. Maka, jangan merasa aman. Sahabat Ali bin Abi Thalib bahkan menegaskan, “Rasa aman adalah racun. Lalu, bagaimana kita menghadapinya?

Melalui kisah Nabi Adam tersebut, sebetulnya Allah berkehendak menunjukkan satu hal pokok yang harus dimiliki manusia, yaitu keinginan yang kuat. Hanya dengan keinginan kuat inilah seseorang mampu bertahan, bahkan memperjuangkan yang diyakininya. Keinginan kuat ini pula yang membuat seseorang membenci bahkan menghancurkan segala rintangan.

Saat kemauan seseorang mulai luntur, maka saat itu rasa malas menggerogotinya, sehingga ia lalai bahkan lupa dengan tugas dan tujuan utama dari keberadaannya. Melalui kisah ini, Allah menyadarkan kita pentingnya menjadi pribadi tangguh, yaitu pribadi yang memiliki keinginan kuat. Wallahu a’lam






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Kisah Kedurhakaan Tsa’labah
Kisah Kedurhakaan Tsa’labah
28
Mendengar itu, Rasulullah bersedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin, namun setelah kaya ia telah berubah.