Nasehat
Selamatkan Air, Selamatkan Peradaban Manusia

Selamatkan Air, Selamatkan Peradaban Manusia
Begitulah Qur’an bercerita akan ”alat penyulingan” raksasa, yaitu alat yang disandarkan, diletakkan, dan diangkat oleh Allah di antara langit dan bumi.

Tidakkah kalian memperhatikan air yang kalian minum. Apakah kalian yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya?” (QS al-Waqi’ah [56]: 68-69).
 
Dialah Yang menurunkan air hujan dari langit, lalu dengan dengan air itu, Kami menurunkan segala macam tumbuh-tumbuhan...” (QS al-An’am [6]: 99).
 
Kami menurunkan dari langit, air yang banyak manfaatnya...” (QS Qaf [50]: 9).
 
Dialah Yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Kami menurunkan dari langit air yang sangat bersih, agar dengan air itu, Kami menghidupkan negeri yang mati, dan memberi minum sebagian besar makhluk Kami, yaitu bintang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Sesungguhnya Kami telah menggilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka bisa mengambil pelajaran. Namun, sebagian besar manusia itu tidak mau, kecuali terhadap kekafiran.” (QS al-Furqan [25]: 48-50).     
 
Begitulah Qur’an bercerita akan ”alat penyulingan” raksasa, yaitu alat yang disandarkan, diletakkan, dan diangkat oleh Allah di antara langit dan bumi. Melaluinya (siklus hidrologi), jutaan butir air tercipta dan bertebaran menyapa kehidupan di bumi ini.
 
Air, memanglah teramat vital bagi kehidupan. Sebagaimana firman-Nya, ”Dari air itu, Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup.” (QS al-Anbiya [21]: 31). Karenanya, jangan pernah berbicara tentang adanya kehidupan, bila air tak ada wujudnya. Dan jangan pula berbicara akan peradaban, bila air telah sirna.     
 
Air, Sumber Segala Peradaban  
Semua peradaban yang pernah mengisi sejarah kehidupan manusia, tak lepas dari adanya sumber air di kawasan tersebut. Lihatlah peradaban Mesir kuno (Egypt), berkembang dan maju pada jamannya karena keberadaan Sungai Nil. Peradaban Mesopotamia juga melahirkan berbagai peradaban yang maju, karena pengaruh kesuburan tanah di sekitar Sungai Efrat dan Tigris.
 
Begitu pula, peradaban-peradaban modern yang diwakili negara-negara maju, tingkat kemajuannya diukur dari baik tidaknya sistem pengaturan air di negara tersebut. Kemampuan untuk mengatasi beragam permasalahan yang berkaitan pengelolaan air. Terutama pengadaan air bersih bagi warga negaranya.
 
Logikanya, air bersih menunjang kesehatan yang baik, memungkinkan orang untuk bekerja dan bersekolah dengan baik. Karenanya, ketersedian air bersih merupakan langkah pertama untuk keluar dari kemiskinan. Berawal dari air bersih, semua orang di seluruh dunia dapat membangun kehidupan yang lebih baik.
  
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Dalam catatan UNDP, Indonesia termasuk negara yang mundur dalam hal pencapaian UN Millennium Development Goals (MDG) khususnya untuk mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi dasar dalam 2015. Tercatat sekitar 100 juta penduduk Indonesia tidak/ belum punya akses terhadap air yang aman untuk dikonsumsi, bahkan semakin hari semakin terasa air makin sulit dan langka.
 
Fenomena ekstrimitas debit air (banjir, kekeringan) dan terjadinya rob (air pasang) di pesisir kawasan binaan yang terjadi satu dekade terakhir terutama di Pantura Jawa, sudah memasuki tingkat mengkhawatirkan. Mengganggu jalannya kehidupan sosial dan perekonomian, dan berujung pada rusaknya fungsi-fungsi infrastruktur transportasi darat, laut, dan udara. Di samping itu, semakin sulitnya memperoleh sumber-sumber air dalam rangka pengembangan air minum dalam mencapai target MDG Nasional.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa meski Indonesia termasuk 10 negara yang kaya akan air, namun ancaman krisis air itu sangat nyata. Di Pulau Jawa, misalnya, pada tahun 2000 ketersediaan air hanya 1.750 meter kubik per kapita per tahun. Jumlah yang jauh di bawah standar kecukupan minimal, yakni 2.000 meter kubik per kapita per tahun. Dan jumlah ketersediaan air itu akan makin merosot menjadi 1.200 meter kubik per kapita per tahun pada 2020. Pulau-pulau besar lain yang bakal menghadapi kelangkaan air adalah Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.


Pentingnya Menumbuhkan Kesadaran
Air adalah nikmat dan karunia Allah yang luar biasa bagi umat manusia. Air menjadi sumber kehidupan yang paling penting, selain matahari dan udara. Kesadaran menjaga dan menggunakan air—terutama air bersih—amatlah penting untuk ditumbuhkembangkan.
 
Menghargai nilai air sebagai anugerah Allah dan sumber kehidupan, diwujudkan dengan menjaga kelestarian sumber air, melakukan penghematan pemakaian air dan tidak melakukan perusakan atau pencemaran air serta sumber air. Sikap dan tindakan seperti ini perlu disadari dan dilakukan saat ini juga, baik secara individual mau pun komunal. Kepedulian akan pentingnya air yang bersih dan aman untuk kehidupan.
 
Ingatlah, meskipun air adalah sumber daya alam yang dapat diperbarui, tapi keberadaannya dapat musnah jika tidak dikelola dengan baik. Bila saat ini kita dapat meneguk segelas air bening yang segar, jangan terkejut bila suatu waktu nanti, ia menjadi teramat langka untuk dinikmati. Mari, selamatkan peradaban masa depan dengan berbuat sebijak mungkin dalam mensyukuri adanya air di kehidupan kita saat ini. 

sumber foto : http://www.qumwater.co.id/






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Merentas Generasi Berkualitas
Merentas Generasi Berkualitas
12
Faktor manusia menjadi sentral. Setinggi apa pun peradaban, pasti akan runtuh bila memiliki generasi yang lemah fisik dan fikirnya. Lemah iman maupun ilmunya.
Galeri
HAJJ

Ya Allah, Undang kami ke Baitullah-MU

Motret dari yang motret

motret orang yang lagi motret , karena banyak yang paka

Ditengah Kerumunan

Seorang anak dan bapaknya berdiri ditengah ribuan jamaa