Nasehat
Saat Hati Tak Bertaut

Saat Hati Tak Bertaut
Kehidupan berkeluarga ibarat aktivitas arung jeram. Ketika kita memutuskan untuk melakukannya, terjun berperahu ke dalam arus sungai, kita harus siap menghadapi apa yang ditemui selama perjalanan.

Langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasi keadaan seperti itu? Seyogyanya harus ada i’tikad baik dari kedua belah pihak untuk mencari solusi. Kebaikan bersama sambil memohon pertolongan-Nya. Ada pun langkah-langkahnya sebagai berikut: 
 
Kembalikan semua urusan kepada Allah.
Mengembalikan urusan kepada Allah dengan cara memperbaiki ibadah dan doa. Itulah solusi yang sangat bijaksana dan paling utama harus dilakukan. Hanya Dia yang menguasai segala kejadian dan hikmah dibalik semua kejadian. Taubat dan mengakui semua kelalaian seperti layaknya penyesalan Nabi Adam as.
 
Ya Rabbi, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, serta tidak memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-Araaf [7]: 23). 
 
Bangun kembali komunikasi yang lebih intens dan terbuka.
Tentunya ini memerlukan energi yang besar. Salah seorang harus ada yang berani mendahului. Keberanian untuk memaafkan dan mengenyampingkan ego, kemudian memulai komunikasi. Beratkah? Bila niat kita untuk kebaikan, hal tersebut tidak akan terasa berat. Dia adalah pasangan kita, orang yang terdekat dan diharapkan tidak saja untuk pasangan di dunia tapi di akhirat kelak, di surgaNya. Gunakanlah selalu rumus yang Aa Gym sarankan, yaitu: ”Berani mengakui jasa dan kelebihan orang lain, bijak terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain. Lihat kesalahan dan kekurangan diri dan lupakan jasa dan kelebihan diri.” (2B2L). 
 
Menyiapkan diri.
Siapkan diri untuk mendengar dan menerima apa yang diinginkan pasangan selama hal itu tidak bertentangan dengan agama dan kesanggupan diri. 
 
Saling memahami dan bersabar.
Setiap orang pasti ingin difahami, ingin dimengerti. Bila masing-masing mempertahankan keinginannya ini tentu sulit untuk mencari solusinya. Jadikanlah tekad dalam diri untuk lebih dulu memahami orang lain, mengerti orang lain sebelum diri kita ingin difahami atau dimengerti. Tuntutlah diri untuk lebih dulu memberi daripada ingin diberi. 
 
Buatlah acara inovatif dengan pasangan.
Boleh jadi masalah tak terpautnya hati karena kejenuhan. Terperangkap dengan rutinitas. Dalam hal ini harus ada yang dapat membuat variasi kebersamaan dengan pasangan, misalnya jalan-jalan berdua tanpa disertai anak-anak. Memberi kejutan-kejutan menyenangkan seperti pemberian hadiah di luar hari-hari istimewa pasangan sebagai tanda sayang. Biasanya hal-hal tersebut dapat menyegarkan kembali suasana hubungan di antara pasangan suami istri. 
 
Kehidupan berkeluarga ibarat aktivitas arung jeram. Ketika kita memutuskan untuk melakukannya, terjun berperahu ke dalam arus sungai, kita harus siap menghadapi apa yang ditemui selama perjalanan. Terkadang ada arus yang memutar, siap membalikkan perahu, batu-batu besar yang menghalangi jalan, ranting-ranting pohon yang menjuntai menghalangi dan tak jarang akan menggores tubuh kita saat melaluinya. Semua itu kita hadapi tanpa keluhan karena sudah ada persiapan matang 
 
Boleh jadi tak terpautnya hati adalah batu-batu kecil yang akan kita temui saat mengarungi bahtera kehidupan. Sebelum batu-batu itu menghantam perahu kita, alangkah bijaksana bila kita selalu waspada dan menyiapkan tenaga untuk melaluinya tanpa harus terbentur dan merusakkan perahu yang kita tumpangi. Selamat berjuang! 

 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Kisah Kedurhakaan Tsa’labah
Kisah Kedurhakaan Tsa’labah
28
Mendengar itu, Rasulullah bersedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin, namun setelah kaya ia telah berubah.