Nasehat
Merentas Generasi Berkualitas

Merentas Generasi Berkualitas
Faktor manusia menjadi sentral. Setinggi apa pun peradaban, pasti akan runtuh bila memiliki generasi yang lemah fisik dan fikirnya. Lemah iman maupun ilmunya.

Kota Roma tak dibangun dalam satu malam. Ungkapan yang tidak asing ini menyiratkan bahwa kemajuan peradaban suatu bangsa, butuh waktu lama. Proses panjang, berliku, semangat serta kesabaran. Dan tak kalah pentingnya adalah kualitas manusia yang ada di dalamnya.
 
Faktor manusia menjadi sentral. Setinggi apa pun peradaban, pasti akan runtuh bila memiliki generasi yang lemah fisik dan fikirnya. Lemah iman maupun ilmunya. Terjerat oleh berbagai gaya hidup hedonis dan perilaku amoral di era kapitalis ini, seperti pergaulan bebas, praktik aborsi di kalangan remaja, perilaku seks menyimpang, penyalahgunaan NAPZA, tawuran antar pelajar, dan lain-lain.
 
Kualitas manusia unggul, mandiri dan kreatif—sebagai cerminan generasi berkualitas—tentunya tidak terlahir begitu saja. Ada proses pendidikan yang berlangsung dan menjadi tanggung jawab bersama. Bermula dari keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah, akan terlahir manusia berkepribadian Islam, memahami tsaqafah (pengetahuan) Islam, menguasai ilmu kehidupan (sains, teknologi dan seni) yang memadai, dan selalu menyelesaikan masalah kehidupannya sesuai syariat. Sesosok Insan kamil!
 
Peran Keluarga yang Sentral
Di antara pranata sosial yang memiliki tanggung jawab tersebut, keluarga adalah pendidik pertama dan terutama bagi anak. Orangtua yaitu ayah dan ibu berbagi kewajiban yang sama. Sebagaimana sudah tergambar jelas dalam al-Qur’an Surah at-Tahrim [66]: 6. Ada pun masalah yang sering dihadapi orangtua adalah bagaimana cara mendidik anak yang berkualitas, dunia-akhirat.
 
Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Tarbiyyatul Aulad Fil Islam menyebutkan ada 5 metode yang perlu dilakukan orangtua dalam mendidik anak-anaknya, yaitu:

  1. Mendidik anak dengan keteladanan yang baik. Orang tua harus memberikan contoh setiap hari dalam berbagai hal. Jangan sampai ada orangtua yang memerintahkan sesuatu yang baik kepada anaknya tapi dia sendiri tidak melaksanakannya sebagaimana dalam firman-Nya di Surah al-Baqarah [2]: 44.
  2. Mendidik anak dengan pembiasaan yang baik. Segala hal yang baik dalam Islam sudah harus dibiasakan untuk dilaksanakan walaupun anak masih kecil.
  3. Mendidik anak dengan pengajaran dan dialog. Orangtua perlu mengembangkan suasana dialogis dengan anaknya. Sebagaimana Nabi Ibrahim as telah mencontohkan ketika beliau berdialog ketika mendapat perintah Allah untuk menyembelih Ismail as, anaknya sendiri. Sebagaimana tercantum di QS. as-Saffat [37]: 102.  
  4. Mendidik anak dengan pengawasan dan nasihat. Orangtua harus mengontrol perkembangan anaknya, dengan siapa ia berteman dan jika ada hal yang kurang baik maka ia harus memberi nasihat. Contohnya dalam Surah Lukman [31]: 12-19 ketika Lukmanul Hakim menasehati anaknya.
  5. Memberikan hukuman atau sanksi. Keputusan ini diambil bila anak tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sementara perintah yang lemah lembut sudah diberikan.
 
Pendidikan di keluarga bertujuan membentuk fondasi kepribadian Islam pada anak, yang akan dikembangkan setelah anak masuk sekolah. Bekal utama bagi anak ketika ia dewasa nantinya.
 
Rasulullah saw bersabda: “Apabila anak telah mencapai usia enam tahun, maka hendaklah ia diajarkan adab dan sopan santun.” (HR. Ibnu Hibban).
 
 “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan salat pada usia tujuh tahun dan pukullah mereka pada usia sepuluh tahun bila mereka tidak salat, dan pisahkan mereka dari tempat tidurnya (laki-laki dan perempuan).” (HR. al-Hakim dan Abu Dawud).
 
Demikianlah pentingnya pendidikan dalam keluarga. Menyiapkan anak menjadi muslim yang siap menjalankan semua hukum dari Allah ketika ia memasuki usia baligh (dewasa). Dididik untuk mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya di atas segalanya.
 
Mengembalikan Izzah Islam
Kejayaan dan kehancuran suatu bangsa tergantung kepada kualitas generasi yang mengembannya. Begitu juga masa depan umat, bangsa dan negara salah satunya sangat tergantung pada bagaimana kondisi generasi muda pada hari ini. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi muda (anak-anak kita) untuk menghadapi hari esok yang zamannya sangat berbeda dengan sekarang.
 
Cara mempersiapkan generasi muda adalah dengan memberikan pendidikan yang terbaik. Pendidikan yang 14 abad lalu telah ada contoh nyata, Rasululah saw. Dengan mencermati berbagai sirah nabawiyah, dapat kita temukan berbagai pengajaran yang diberikannya.   
 
Sayangnya berbagai contoh dan hikmah yang telah di contohkan Rasulullah saw, baik dalam tataran keluarga maupun dalam proses Beliau mendidik para sahabat, kurang dikembangkan oleh umat Islam sekarang ini. Sehingga kejumudan (statis) luar biasa terjadi pada dinamika umat Islam. Tak terkecuali di Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Sebuah ironi tentunya.
 
Karena itu, menjadi generasi yang unik, penuh dengan inovasi dan kejutan sejarah atau berada di garde terdepan dalam merentas generasi berkualitas, senantiasa perlu dikobarkan. Ingatlah Rasulullah saw selalu mengingatkan akan janji yang diberikan Allah bagi setiap muslim yang berprestasi membangun peradaban.
 
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran [3]: 110).
 
Semoga berbagai upaya mendidik generasi yang berkualitas akan mengembalikan kembali izzah (kehormatan) umat yang terlenakan. Karena bukankah dari bibit (potensi individu) dan pupuk (pendidikan) yang baik akan tumbuh tunas baik dan buah yang bermanfaat? Insya Allah. 

sumber foto : http://www.kompasiana.com






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Kisah Kedurhakaan Tsa’labah
Kisah Kedurhakaan Tsa’labah
28
Mendengar itu, Rasulullah bersedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin, namun setelah kaya ia telah berubah.