Nasehat
Manajemen Cemburu

Manajemen Cemburu
Bila tidak ada rasa yang satu itu, terbayang seorang istri atau suami merasa tenang-tenang saja saat pasangannya berkhalwat (berduaan) atau selingkuh sekali pun! Lantas dimana letak kemuliaan seorang manusia bila sudah hilang rasa cemburu?

Cemburu adalah kebencian atau rasa tidak suka seseorang karena disamai atau bergabungnya orang lain pada haknya. Ada haknya yang terambil atau terpaksa harus berbagi. Perasaan cemburu ini merupakan tabiat alami yang lahir karena adanya rasa cinta. Merupakan fitrah yang dimiliki manusia baik lelaki maupun perempuan. 
 
Apakah cemburu sesuatu yang buruk?
 
Tidak semua perasaan cemburu berakibat buruk, karena ternyata Allah menciptakan rasa cemburu ini ada maksudnya. Allah ciptakan rasa cemburu untuk menjaga kemuliaan dan kehormatan manusia. Bila tidak ada rasa yang satu itu, terbayang seorang istri atau suami merasa tenang-tenang saja saat pasangannya berkhalwat (berduaan) atau selingkuh sekali pun! Lantas dimana letak kemuliaan seorang manusia bila sudah hilang rasa cemburu?  
 
Cemburu yang dibenarkan adalah cemburu demi kebenaran dan ketaatan kepada-Nya dan cemburu pada tempatnya. 
 
Sesungguhnya cemburu itu ada yang disukai oleh Allah dan ada yang dibenci-Nya.  Kecemburuan yang disukai Allah adalah cemburu yang disertai alasan yang benar.  Kecemburuan yang tidak disukai Allah adalah cemburu yang tidak disertai alasan yang benar. ” (HR. Abu Dawud).  
 
Pada kenyataannya dalam kehidupan ini, perasaaan cemburu banyak yang membawa kesengsaraan. Tak sedikit pasangan suami isteri berselisih paham akibat api cemburu, bahkan sampai menimbulkan perceraian. Naudzubillah!
 
Tidak dipungkiri pula bahwa perasaan cemburu dominan dimiliki kaum perempuan. Sesuai dengan tabiat perempuan yang kadang lebih mengutamakan perasaan daripada logika, sehingga hal ini memicu rasa cemburu yang tinggi. Untuk itu kita harus dapat mengendalikannya sehingga tidak mengakibatkan dampak yang buruk.
 
Ada beberapa tips yang dapat dilakukan saat cemburu menyelinap di hati kita, yaitu:
1.Membangun jiwa bersih, dari cemburu yang tidak pada tempatnya.
2.Mengalihkan perhatian, ambil air wudhu dan salat untuk meminta pertolongan-Nya.
3.Jangan mendramatisasi.
4.Alirkan unek-unek atau kekesalan pada tempatnya.
5.Turunkan ambang kecemburuan, dengan cara menghadirkan berbagai alasan untuk memakluminya.
6.Kendalikan diri, andalkan logika.
7.Berfikir positif.
 
Selain itu sudah sepantasnya kita membudayakan sikap berikut ini:
1.Klarifikasi ( tabayyun).
2.Koreksi (tanashuh).
3.Introspeksi (muhasabah).
 
Semua itu hendaklah dilakukan dengan lapang dada, kepala dingin dan fikiran jernih, sehingga terhindar dari campur tangan setan laknatullah yang ingin melihat kita menderita. 
 
Mengendalikan cemburu dalam sebuah rumah tangga yang benar adalah dengan cara menampakkan ketulusan cinta pada pasangan semata karena Allah. Selain itu hendaklah senantiasa dijaga kelancaran komunikasi kedua belah pihak, jangan terjebak dengan cemburu yang membinasakan. Mengendalikan cemburu tidak berarti menumpasnya habis, tapi memeliharanya dengan benar. Menyalurkannya tepat pada sasaran, karena sangat tidak disukai Allah bila dalam sebuah rumah tangga antara pasangan sudah tidak memiliki rasa cemburu. Hal ini termasuk pada perbuatan dayyuts.
 
Ada 3 golongan yang tidak akan masuk surga, yaitu: peminum khamr, pendurhaka pada orang tua, dan dayyuts.” (HR. Ahmad, al-Hakim dan Baihaqi).
 
Kemudian Rasulullah menjelaskan tentang dayyuts, yaitu orang yang membiarkan keluarganya dalam kekejian atau kerusakan dan keharaman. 
 
Jadi, kendalikan dan peliharalah rasa cemburu dengan memohon pertolongan-Nya.
 
Sesungguhnya Allah itu memiliki sifat cemburu, dan orang-orang beriman juga memilikinya.  Ada pun rasa cemburu Allah adalah saat melihat seorang hamba yang mengaku dirinya beriman kepada-Nya melakukan sesuatu yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari dan Nasai)

sumber foto : http://medan.tribunnews.com






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Nasehat Lainnya
Kisah Kedurhakaan Tsa’labah
Kisah Kedurhakaan Tsa’labah
28
Mendengar itu, Rasulullah bersedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin, namun setelah kaya ia telah berubah.