Profil Program
Wakaf Quran Plus, untuk Membangun Generasi Qurani

Wakaf Quran Plus, untuk Membangun Generasi Qurani
Tak hanya memfasilitasi masyarakat yang ingin berwakaf, menurutnya, Wakaf DT juga membuka kesempatan bagi masjid, pesantren, rumah tahfidz, atau sekolah yang membutuhkan wakaf al-Quran untuk mengajukannya ke Wakaf DT.

Tahun 2018, Wakaf Daarut Tauhiid (DT) melanjutkan beberapa program yang telah berjalan di tahun sebelumnya. Salah satu program tersebut yakni program wakaf al-Quran. Khusus untuk Program Wakaf al-Quran, program tersebut sengaja dilanjutkan di tahun 2018 karena masih banyak mitra yang mengajukan pengadaan wakaf al-Quran.

Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan upaya membumikan al-Quran di nusantara, wakaf DT meluncurkan Program Wakaf al-Quran tahap dua. Di tahap kedua ini, al-Quran tidak hanya didistribusikan ke masjid-masjid yang memerlukan, tetapi juga ke pesantren, rumah tahfidz, dan sekolah yang membutuhkan.

Ketika menerima wakaf al-Quran, jamaah dapat lebih menjaga al-Qurannya dan menjadikannya sesuatu yang sangat berharga. Mengapa? Karena hasil analisa dan survei terutama di pelosok, kondisi al-quran banyak yang memprihatinkan. Bahkan, terkadang satu al-Quran dapat terbagi menjadi beberapa bagian.

Tak hanya memfasilitasi masyarakat yang ingin berwakaf, menurutnya, Wakaf DT juga membuka kesempatan bagi masjid, pesantren, rumah tahfidz, atau sekolah yang membutuhkan wakaf al-Quran untuk mengajukannya ke Wakaf DT. Dengan demikian, semakin banyak al-Quran yang diwakafkan, maka semakin banyak pula generasi-generasi masa kini berakhlak qurani.

Desain, warna, dan fungsi al-Quran yang akan didistribusikan di tahap kedua ini berbeda dengan al-Quran tahap pertama. Selain untuk dibaca, al-Quran tahap kedua ini juga dapat berfungsi untuk menghafal. Selain terjemah dan kata-kata hikmah, al-Qurannya juga dilengkapi dengan metode menghafal al-Quran ala DT. Karenanya, Program Wakaf al-Quran tahap kedua ini juga disebut dengan Wakaf al-Quran plus.

Seleksi untuk Penerima Wakaf Al-Quran

Hampir setiap hari, pengajuan pengadaan wakaf al-Quran berdatangan ke kantor wakaf DT. Ada yang mengajukan langsung dengan mendatangi kantor Wakaf DT, ada juga yang mengirimkan surat permohonannya melalui email.

Dari sekian banyak pengajuan yang datang itu, Wakaf DT akan menyeleksi masjid yang layak untuk mendapatkan wakaf al-Quran. Seleksi tersebut bertujuan agar penyaluran tepat sasaran dan nilai manfaat al-Qurannya jelas.

Wakaf al-Quran akan didistribusikan kepada masjid-masjid yang sangat membutuhkan. Artinya, di masjid tersebut jumlah al-Qurannya sangat terbatas tetapi jamaah yang menggunakannya sangat banyak, dan kondisi al-Qurannya tidak memadai baik dari jumlah maupun fisiknya yang sudah tidak layak pakai.

Hal tersebut dilakukan karena Wakaf DT memiliki prinsip jika al-Quran telah didistribusikan, maka al-Quran tersebut harus dimanfaatkan dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, nilai pahala yang berlipat akan didapatkan oleh muwakif (pewakaf) ketika al-Quran diwakafkan kemudian dibaca, dipelajari, diamalkan, dan diajarkan kembali kepada orang lain.

Ladang Amal Kebaikan

Program Wakaf Al-Quran tahap kedua adalah ladang amal kebaikan yang dapat diakses siapa pun. Siapa pun dapat bergabung dan menyukseskan program ini dan mendapat pahala mengalir dari al-Quran yang diwakafkan.

Disebut “Wakaf Al-Quran Plus” karena al-Quran yang didistribusikan di tahap kedua ini memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki al-Quran tahap pertama. Selain penampilannya yang berbeda, al-Quran tahap kedua juga sangat mendukung masyarakat yang ingin menghafal al-Quran.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang menghafal al-Quran melalui al-Quran dari wakaf DT, maka semakin banyak pula pahala yang mengalir kepada muwakif. Tak hanya itu, Agus menjelaskan, Program Wakaf Quran tahap kedua ini sangat mendukung lahirnya generasi-generasi qurani yang berakhlak al-Quran.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Profil Program Lainnya
DPU DT untuk Somalia
DPU DT untuk Somalia
14
Kondisi cuaca yang sangat panas, ditambah kelaparan, membuat rombongan mereka tidak semuanya sampai ke lokasi, ada saja yang meninggal di perjalanan. Bahkan, setiap harinya ada yang meninggal karena kelaparan.