Resensi Buku
BAHAYA LISAN

BAHAYA LISAN
Buku berjudul Bahaya Lisan merupakan buah hikmah dari KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Buku saku setebal 87 halaman ini diterbitkan oleh Emqies Publishing, dicetak untuk pertama kalinya pada Juni 2016 lalu.

Bahaya Lisan
Oleh: Agus Iskandar Darmawan
Buku berjudul Bahaya Lisan merupakan buah hikmah dari KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Buku saku setebal 87 halaman ini diterbitkan oleh Emqies Publishing, dicetak untuk pertama kalinya pada Juni 2016 lalu.
Dalam buku cetakan pertama ini, Aa Gym menguraikan berbagai potensi lisan, baik dari keutamaan menjaganya, maupun bahaya ketika salah menggunakannya. Beliau juga memberi kiat agar lisan senantiasa terjaga.
Ketika lisan selalu terjaga, digunakan sesuai dengan perintah Allah SWT, maka surga akan menjadi hadiahnya. Sebaliknya, tatkala lisan terus digunakan dengan mengatakan segala sesuatu yang Allah SWT murkai, maka neraka dan kehinaan di dunia akan menjadi konsekuensinya. Maka, Rasullullah mengingatkan umatnya, lebih baik diam daripada berkata sesuatu yang tidak disukai Allah SWT.
Ada enam keutamaan jika seseorang senantiasa menjaga lisan. Pertama, orang yang menjaga lisan berarti meneguhkan dirinya sebagai orang beriman. Rasulullah bersabda, “siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari, Muslim).
Kedua, seseorang yang menjaga lisan akan meraih kedudukan utama dalam Islam. Rasulullah pernah ditanya, “siapakah muslim yang paling utama?” Rasulullah menjawab, “orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain.” (HR. Bukhari).
Ketiga, Allah memberi jaminan masuk surga bagi orang yang senantiasa menjaga lisannya. “Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun hanya denga sebutir kurma, jika tidak mampu hendaknya berbicara yang baik.” (HR. Bukhari, Muslim).
Keempat, orang yang menjaga lisannya akan diangkat drajatnnya oleh Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridai dalam keadaan tidak tepikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu, ternyata dengan kata itu Allah mengangkatnya beberapa derajat…” (HR. Bukhari).
Kelima, lisan yang terkendali akan menutup aib, terutama sang pemilik lisan. Ketika seseorang menjaga lisan walaupun memilki banyak kekurangan, Allah akan menutup aibnya. Rasulullah bersabda, “barang siapa menahan lisannya (dari mengucapkan keburukan dan perkataan sia-sia), niscaya Allah menutup aurat (aib)nya.(HR. Ibnu Abi Dunya).
Terakhir, keenam, orang yang mampu menjaga lisannya dengan berkata baik atau diam, maka dia telah mengalahkan setan. Diriwayatkan, suatu hari ada seseorang yang mencaci maki Abu Bakar ketika sedang duduk dengan Rasulullah sebanyak tiga kali. Pada dua kali cacian pertama, Abu Bakar membalasnya dengan diam, kemudian pada kali ketiga Abu Bakar membalasnya
Rasulullah berdiri ketika Abu Bakar membalas cacian itu. Abu Bakar kemudian bertanya, apakah ada sesuatu yang tidak menyenangkan Rasulullah. Rasulullah menjawab, “Malaikat turun dari langit mendustakan apa yang dikatakannya tentang dirimu, tetapi tatkala kamu membalasnya, datanglah setan. Aku tidak mau duduk di tempat yang ada setan di sana.” (HR.Abu Daud).
Sementara itu, ada lima bahaya lisan yang harus dihindari setiap muslim. Pertama, berkata dusta. Allah sangat memurkai seorang muslim yang berkata dusta. Dusta merupakan ciri orang munafik.
Rasulullah memerintahkan, “…. Dan sesungguhnya durhaka itu akan membwamu ke neraka. Seseorang tidak henti-hentinya berdusta dan membiasakan dusta sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim).
Kedua, berburuk sangka (suudzan). Lisan yang terbiasa melontarkan perkataan penuh prasangka dapat membuat hati menjadi busuk, karena apa pun yang disangkakan akan mempengaruhi cara berpikir, cara bersikap, dan cara mengambil keputusan. Allah berfirman dalam surat al-Hujurat ayat 12, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian prasangkaan itu dosa….”
Ketiga, menggunjing (ghibah). Rasulullah menjelaskan, “Ghibah adalah membicarakan saudaramu dengan apa yang dia tidak suka.” Lalu ada sahabat bertanya, “bagaimana jika saudaraku itu seperti apa yang aku bicarakan, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Jika saudaramu memang seperti apa yang engkau bicarakan, sungguh engkau telah meng-ghibah-nya. Dan jika saudaramu tidak seperti yang engkau katakan, sungguh engkau telah menuduhnya.(HR. Muslim, Tirmidzi)
Bahaya lisan keempat adalah mengadu domba (namimah). Bahaya lisan ini timbul akibat permusuhan dan kedengkian dari hati seseorang. Dengki dan adu domba merupakan akhlak yang dimurkai Allah SWT. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan janganlah kamu saling menjual serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.(HR. Muslim).
Kelima, Banyak berbicara. Sebelum berbicara, seorang muslim hendaknya berpikir dan memeriksa hati terlebih dahulu. Seorang muslim sebaiknya berbicara jika dia sudah tahu menafaat dan kebenaran dari pembicaraannya.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Resensi Buku Lainnya