<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss"
	>
<channel>
<title>Pesantren Daarut Tauhiid | Artikel</title>
<atom:link href="http://www.daaruttauhiid.org/artikel/rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/rss</link>
<description>[25 Artikel terbaru Pesantren Daarut Tauhiid]</description>
<copyright>Copyright by Pesantren Daarut Tauhiid! - All rights reserved.</copyright>
<language>id</language>

			<item>
			  <title>Menyambut Bulan Ramadhan</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/27/artikel-27.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/27/artikel-27.html</comments>
   			  <pubDate>Thu, 15 Jul 2010 08:44:36 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - Humas, 2010</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/27/artikel-27.html</guid>
			  <description>Ramadhan adalah bulan yang diagungkan oleh rasulallah saw, salah satu tandanya adalah rasulullah mempersiapkan diri dan mengajak para sahabatnya untuk menyambutnya dari sejak bulan rajab.  [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><strong>RAMADHAN YANG KURINDU</strong></span><div><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /></span></div><div><div style="text-align: justify"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Beberapa hari lagi kitaakan kedatangan tamu agung, tamu yang kita tunggu-tunggu selama 11 bulanlamanya. Dialah bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh dengan berkah, bulan yangsangat diistimewakan oleh Allah. D dalamnya terdapat malam yang lebih baik dariseribu bulan, di dalamnya penuh dengan rahmah, ampunan, dan pembebasan dari apineraka. Bulan yang dirindukan kedatangannya dan ditangisi kepergiannya olehorang-orang yang sholeh.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span></div><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify">Pada bulan inilah kaum muslimin seharusnya melakukan pengembaraan rohani denganmengekang nafsu syahwat dan mengisi dengan amal-amal yang mulia. Semua itumerupakan momen dan sekalius saran yang baik untuk mencapai puncak ketaqwaan.Dosa dan kekhilafan juga merupakan sasaran yang akan kita hapuskan dalam bulanRamadhan ini.</div><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify">Untuk mendekatkan sasaran tersebut, kiranya perlu menyambut tamu Allah yangagunfg ini dengan mengadakan pembekalan ruhani dan pengetahuan tentang bulanRamadhan dengan sebaik-baiknya. Di antara bejal-bekal yang harus dimiliki dalammenyongsong bulan mulia ini adalah sebagai berikut:</div><div style="text-align: justify"><br /></div><br /></span><strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">1. Mempersiapkan pemahamanyang benar tantang bulan Ramadhan</span></strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br /><div style="text-align: justify">Untuk memberikan motivasi agar beribadah dalam bulan Ramadhan ini bisadilaksanakan dengan maksimal, sebelum Ramadhan datang Rasulullah SAWmengumpulkan para sahabatnya guna memberikan persepsi yang benar danmengingatkan betapa mulia bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits yang panjangRasulullah bersabda:</div><div style="text-align: justify"><br /></div></span><em><div style="text-align: justify"><span style="font-style: normal" class="Apple-style-span"><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Dari Salman Ra., beliau berkata, </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&ldquo;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Rasulullah berkhutbahdi tengah-tengah kami pada akhir Sya</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&rsquo;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ban, Rasulullah bers</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">abda: </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&ldquo;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Hai manusia, telahmenjelang kepada kalian bulan yang sangat agung yang penuh dengan barokah, yangdi dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan di mana yangAllah telah menjadikan puasa di dalamnya sebagai puasa wajib, qiyamullailn</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ya sunnah, barangsiapa yang pada bulan itumendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orangyang melakukan amalan wajib tujuh puluh kali pada bulan lainnya... dst.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(HR. Ibnu Hujaimah, beliau berkata: hadits ini adalah hadits shahih).</span></span></div></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br /></span><strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">2. Mempersiapkan diridengan ilmu</span></strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br />Sasaran dan ibadah puasa adalah untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwakita. Untuk itu, ibadah puasa harus dilakukan dengan tatacara yang benar.Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:<br /><br /></span><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&ldquo;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Banyak orang berpuasa</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"> yang tidak mendapat apa-apa dari puasanyakecuali lapar. Dan banyak orang shalat malam, tidak mendapat apa-apa darishalatnya kecuali bergadang.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(HW. Abu Dawud, Ibnu Majah)<br /><br />Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:<br /><br /><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Barangsiapa tidakmeninggalkan kata-kata dusta (dalam berpuasa) dan tetap melakukannya, makaAllah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(HR. Bukhari).</span></span></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Dari dua hadits di atas bisa disimpulkan bahwa membekali diri dengan segalailmu yang berkaitan dengan puasa memang akan sangat berpengaruh terhadapkemampuan kita untuk menigkatkan kualitas ketaqwaan kita melalui bulan Ramadhanyang mulia ini.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span></span></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br /></span><strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">3. Mempersiapkan ruhani danjasmani</span></strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br /><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Sebelum masuk bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agarbanyak melakukan ibadah puasa di bulan Sya</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ban. Dengan banyak berpuasa di bulan Sya</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ban berarti kita telah mengkondisikan diri, baik dari sisi ruhiyah ataujasadiyah. Kondisi ini akan sangat positif pengaruhnya dan akan mengantarkankita</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"> untuk menyambut Ramadhan dengan berbagai ibadah dan amalan yang disunnahkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dan prosespenyesuaian terlalu lama seperti banyak terjadi pada orang yang pertama kaliberpuasa. Misalnya lemas, badan terasa panas, tidak bersemangat, banyakmengeluh, dan sebaginya.</span></span></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Aisyah ra. Berkata:</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;&ldquo;</span><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Saya tidak melihat Rasulullah SAW menyempurnakanpuasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulanyang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan S</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ya</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ban.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(HR Muslim).</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span></span></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Bulan Sya</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ban adalah bulan dimana amal shalih diangkat ke langit.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span></span></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Dari Usamah bin Zaid berkata:</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Saya bertanya: </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Wahai Rasulullah saw,saya tidak melihat engkau puasa disuatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ban</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">. Rasul saw b</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ersabda:</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"> Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antaraRajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta,maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">i dan Ibnu Huzaimah)</span></span></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div><br /></span><strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">4. Memahamikeutamaan-keutamaan bulan Ramadhan</span></strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br />Bulan Ramadhan diciptakan Allah penuh dengan kutamaan-keutamaan dan kemuliaan.Maka mempelajari dan memahami keutamaan tersebut akan memotivasi kita untuklebih meningkatkan amal ibadah kita. Di antara keutamaan dan kemuliaan bulanRamadhan adalah:<br /><br /></span><strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">a. Bulan kaderisasi taqwadan bulan di turunkannya Al Qur</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">an</span></strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br />Allah SWT berfirman,<br /><br /></span><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Hai orang-orang yangberiman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orangsebelum kamu, agar kamu bertaqw</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">a.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(QS. Al Baqarah: 183)<br /><br /></span><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Bulan Ramadhan, bulanyang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusiadan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hakdan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di anta</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ra kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulanitu....</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(QS. Al Baqarah: 185).<br /><br /></span><strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">b. Bulan paling utama,bulan penuh berkah</span></strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br />Rasulullah SAW bersabda,<br /><br /></span><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Bulan yang palingutama adalah bulan Ramadhan, dan hari yang paling mulia adalah hari J</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">um</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">at.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /></span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br />Dalam hadits lain,<br /><br /><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Dari Ubaidah binShomit, bahwa ketika Ramadhan tiba, Rasulullah bersabda: </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Ramadhan telah datangkepada kalian, bulan penuh berkah, pada bulan itu Alah akan memberikannaungan-Nya kepada kalian. Dia turunkan rahmat-Nya, Dia ha</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">puskan kesalahan-kesalahan dan Dia kabulkan do</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">a pada bulan itu.Allah Ta</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">ala akan melihatkalian berlomba melakukan kebaikan. Allah akan membanggakan kalian di depanMalaika. Maka pelihatkanlah kebaikan diri kaliah kepada Allah, sesungguhnyaorang yang ce</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">lakaadalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat rahmat Allah </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Azza Wa Jalla.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(HR. Tabroni).</span></span></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div></span><strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">c. Bulan ampunan dosa,bulan peluang emas melakukan ketaatan.</span></strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br /><div style="text-align: justify">Rasulullah SAW bersabda:</div><div style="text-align: justify"><br /></div></span><em><div style="text-align: justify"><span style="font-style: normal" class="Apple-style-span"><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Antara sholat limawaktu, dari hari Jum</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">at sampai Jum</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">at lagi, dari</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"> Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskandosa-dosa apabila dosa-dosa besar dihindarkan.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(HR.Muslim).</span></span></div></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div></span><em><div style="text-align: justify"><span style="font-style: normal" class="Apple-style-span"><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Barang siapa puasakarena iman dan mengharap pahala dari Allah, ia akan diampuni semua dosanyayang telah lalu.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(HR. Bukhari </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"> Muslim)</span></span></div></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div></span><em><div style="text-align: justify"><span style="font-style: normal" class="Apple-style-span"><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Apabila Rama</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">dhan telah datang pintu syurga dibuka,pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(HR. Bukhari </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"> Muslim)</span></span></div></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /></span><strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">d. Bulan dilipatgandakannyaamal sholeh</span></strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br />Rasulullah SAW bersabda,<br /><div style="text-align: justify"><br /></div></span><em><div style="text-align: justify"><span style="font-style: normal" class="Apple-style-span"><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Setiap amal anak Adamdilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan menj</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">adi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, Allah berfirman, </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Kecuali, puasa. Puasaitu untuk dan Akulah yang akan membalasnya. Ia tinggalkan nafsu syahwat danmakannya semata-mata karena Aku.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"> Orang yang berpuasamendapat dua kebahagiaan, ketika</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">berbuka dan ketika berjumpa Rabbnya. Bau mulut orang yang berpuasa disisi Allahlebih wangi daripada bau parfum misik.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(HR.Muslim)</span></span></div></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br />Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda,<br /><div style="text-align: justify"><br /></div></span><em><div style="text-align: justify"><span style="font-style: normal" class="Apple-style-span"><em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Rabb-mu berkata, </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Setiap perbuatan baik(di bulan Ramadhan) dilipatgandaka</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">n pahalanya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Puasauntuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai dari apineraka, bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi dari parfummisik. Apabila orang bodoh berlaku jahil kepada seseorang di antara kamu yangsedang berpuasa, maka hendaklah kamu katakan, </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Saya sedang berpuasa.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">(HR.Tirmizi).</span></span></div></em><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /></span><strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">e. Bulan jihad dankemenangan</span></strong><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><br /><br /><div style="text-align: justify">Sejarah telah mencatat, bahwa pada bulan suci Ramadhan beberapa kesuksesan dankemenangan besar diraih ummat Islam. Ini membuktikan bahwa bulan Ramadhan bukanmerupakan bulan malas dan bulan lemah, tapi bulan Ramadhan adalah bulan jihaddan kemenangan.</div><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Perang Badar Kubro yang diabadikan dalam Al Qur</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">an sebagai </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Yaumul Furqon</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"> dan umat Islam meraih kemen</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">angan besar, terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 10 Hijriyah. Danpada saat itu juga gembong kebathilan Abu Jahal terbunuh.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span></span></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Pada bulan Ramadhan, fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah) yang diabadikandalam Al Qur</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">an sebagai </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Fathan Mubina</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">, terjadi pad</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">a tanggal 10 Ramadhan tahun8 Hijriyah.</span></span></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Perang </span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: `Arial Unicode MS`, sans-serif; color: black">&#65533;</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Ain Jalut menaklukan tentara Mongol terjadi pada Ramadhan, tepatnya padatanggal 25 Ramadhan 658 Hijriah.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span></span></div></span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black"><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify">Andalusia (Spanyol) yang ditaklukan oleh tentara Islam di bawah pimpinan Tariqbin Ziyad juga terjadi pada bulan Ramadhan, yaitu pada tanggal 28 Ramadhan 92Hijriah.</div><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify"><br /></div><div style="text-align: justify"><span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; line-height: normal; font-size: 10px" class="Apple-style-span"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">Demikianlah beberapa hal yang perlu kita lakukan dalam persiapan menyambutRamadhan. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun ini.</span><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%; font-family: Verdana, sans-serif; color: black">&nbsp;</span></span></div></span></div> ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Fatwa Rokok Haram</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/24/artikel-24.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/24/artikel-24.html</comments>
   			  <pubDate>Fri, 14 May 2010 09:50:49 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/24/artikel-24.html</guid>
			  <description>Lagi-lagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat kejutan. Setelah melarang yoga, MUI lagi-lagi buat fatwa. Tapi kali ini giliran rokok yang diharamkan.Pro kontra soal rokok memang bukan perkara baru. Di setiap negeri...... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <p align="justify">
Pro kontra soal rokok memang bukan perkara baru. Di setiap negeri, ulah perokok memang sudah seperti musuh. Lihat saja di setiap bugkus rokok selalu tertera peringatan merokok dapat membahayakan kesehatan.
</p>
<p align="justify">
<br />
Tapi tidak selamanya rokok dibenci. karena menurut penelitian terdapat lebih dari 37 juta rumah tangga yang menghabiskan Rp. 113.000 untuk rokok setiap bulanya. Dengan demikian uang sejumlah Rp. 4,1 triliun setiap bulannya dibakar sia-sia.
</p>
<p align="justify">
<br />
Bisnis candu ini tidak akan goyang dalam krisis ekonomi seperti saat ini. Hal ini terbukti dari daftar orang terkaya versi salah satu majalah, dan lima dari sepuluh orang terkaya di Indonesia datang dari usaha bisnin candu asap ini. Nama Djarum, Gudang Garam dan Sampoera adalah Jaminan pengontrol kekayaan di negeri ini.
</p>
<p align="justify">
<br />
Inilah sebabanya rokok menjadi salah satu penghasil pajak nomor satu. Barangkali ini yang di sebut buah simalakama yang bernama rokok. Apabila dihisap merongrong kesehatan, bila dilarang samasekali juga beresiko merugikan pendapatan negara.&nbsp;
</p>
<p align="justify">
<br />
Tak&nbsp;mengherankan bahwa fatwa MUI yang akan dikeluarkan kali ini pun bukan fatwa keras, seperti merokok itu haram. Namun sebatas larangan merokok di area publik.
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Tauhiid: Pondasi Keluarga Muslim</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/26/artikel-26.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/26/artikel-26.html</comments>
   			  <pubDate>Fri, 14 May 2010 09:29:41 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - Ust. Abdullah Assegaf</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/26/artikel-26.html</guid>
			  <description>Mukadimah Semua maujud [eksistensi] berasal dari satu sumber dan bergerak secara pasti serta teratur ke arah sumber tersebut. Setiap kejadian tidak terjadi karena kebetulan. Namun merupakan suatu rencana penuh hikmah dan kebijaksanaan. Di antara maujud, datang dan pergi merupakan suatu paksaan yang tak dapat dielakkan. Sebagian yang lain diberi kebebasan untuk...... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align="justify">
<strong><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Mukadimah</span></strong><font face="Times New Roman" size="3"> </font>
<br />
<br />
<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Semua maujud [eksistensi] berasal dari satu sumber dan bergerak secara pasti serta teratur ke arah sumber tersebut. Setiap kejadian tidak terjadi karena kebetulan. Namun merupakan suatu rencana penuh hikmah dan kebijaksanaan. Di antara maujud, datang dan pergi merupakan suatu paksaan yang tak dapat dielakkan. Sebagian yang lain diberi kebebasan untuk menentukan nasib mereka sendiri. Sebagian yang lain menemukan asalnya dan sebagian yang lain melupakan dirinya.</span><font size="3"><font face="Times New Roman"> </font></font><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Manusia adalah bagian dari alam yang diberikan kepadanya ikhtiar untuk menentukan nasibnya sendiri. Selama kehidupan manusia mengejar keberuntungan. Sebagian mereka berangkat dari anggapan akal yang terbelenggu dunia dan sebagian lainnya dari anggapan akal yang merdeka. Maka keberuntungan untuk sebagian mereka selalu datang dan pergi tanpa kepastian. Merupakan sesuatu yang abadi bagi sebagian yang lain sehingga usaha bagi mereka hanya sebagai pelengkap dan penyempurna eksistensi mereka sendiri.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><br />
<br />
<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Hakikat keberuntungan tergantung kepada pengetahuan [makrifat] akan sumber segala maujud yakni makrifat kepada Allah Swt, sifat-sifat-Nya, penciptaan-Nya atas malak dan malakut. Makrifat inilah yang menumbuhkan rasa optimis, semangat juang yang tinggi, keinginan berkorban, menghapus kekecewaan, dan keputusasaan. Makrifat kepada Allah juga akan menyebabkan terbukanya semua pintu hikmah dan mengantarkan manusia kepada kemuliaan iman.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Allah Swt berfirman : &quot;Rasul telah berfirman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya. Demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan) : &quot;Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya&rsquo;, dan mereka mengatakan : &lsquo;Kami dengar dan kami taat&rsquo;. (Mereka berdoa ) : &lsquo;Ampunilah kami, wahai Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.&rsquo;&quot; (QS 2 : 285).</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Lawan daripada hikmah-makrifat kepada tauhid Allah Swt adalah kejahilan dan kekufuran. Efek dari kejahilan dan kekufuran akan menjadikan manusia menuju kehancuran dan kebinasaan, menurunkan derajat manusia sehingga lebih rendah dari segala jenis hewan dan menjadikan mereka tidak tetap dalam menjalani kehidupan.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Allah Swt berfirman : &quot;Apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata : &lsquo;Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.&rsquo; Allah lebih mengetahui kepada siapa Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya. Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.&quot; (QS Al-An&rsquo;am, 6 : 124-125).</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><br />
<br />
<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Allah Swt juga telah berfirman :</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli dan tidak mengerti apapun.&quot;&quot;(QS Al-Anfal : 22).</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Dengan bahasa Rasul Saww dijelaskan sebagai kehidupan yang dipenuhi kegelisahan dan kerja keras tanpa akhir. Rasulullah Saww bersabda : &quot;Siapapun yang telah menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka dia tidak lagi memiliki hubungan dengan Allah Swt. Dan Allah menjadikan baginya empat keadaan : kegelisahan yang tak pernah putus, kefakiran tanpa kecukupan, angan-angan tanpa batas, kerja keras tanpa akhir.&quot;</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Demikianlah manusia dalam kehidupannya tidak mungkin membebaskan diri mereka dari keterikatan kepada hukum yang telah ditentukan Allah Swt. Dengan kembali kepada Allah sebagai sumber wujud, manusia akan menjadi mantap dalam mengarungi kehidupan, sedangkan meninggalkan-Nya akan menjadikan manusia hancur tergilas oleh sebab dan akibat.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Amirul Mukminin &lsquo;Ali as dengan menukil kalimat Plato bertanya kepada para sahabatnya.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&quot;Apabila alam semesta adalah busur dan kejadian alam sebagai anak panah dan kalian adalah sasarannya, sementara Allah yang memanah, kemanakah kalian akan lari ?&quot; </span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Para</span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma"> sahabat terdiam tak mampu menjawab, maka Amirul Mukminin &lsquo;Ali as mengatakan, &quot;Larilah kalian kepada Allah Swt.&quot;</span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&nbsp;</span><strong><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Logika Bertauhid dan Berlogika Tauhid</span></strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Problem tauhid merupakan masalah yang sampai hari ini masih selalu menjadi pembahasan par ahli makrifat. Mulai dari masalah definisi lafzhi atau hakiki sampai kepada makna yang lebih dalam dan rumit, senantiasa menjadi topik pembahasan yang menarik. Setiap pembahasan seputar masalah tauhid selalu didukung argumentasi akal, yakni kesimpulan selalu didukung oleh dasar-dasar akal yang bersifat pasti. </span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Perbedaan dan pertentangan dapat saja terjadi, tetapi bukan disebabkan oleh akal yang salah, melaikan disebabkan adanya pendahuluan (premis) yang salah pada akal. Oleh karenanya, setiap pencari tauhid harus selalu berhati-hati dalam menjaga perhatian akalnya sehingga tidak akan keliru dalam menarik kesimpulan. Nilai tauhid juga telah dijadkan sebagai satu-satunya ukuran benar dan tidaknya kesimpulan seseorang tentang masalah hidup dan yang berhubungan dengan kehidupan yakni apakah pemikiran yang telah menghasilkan kesimpulan tentang hidup itu memiliki muatan tauhid ataukah tidak.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><br />
<br />
<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Oleh karenanya, dalam makna tauhid terdapat dua nilai yang selalu dibahas di dalamnya. Yang pertama adalah pembahasan yang dibicarakan di dalamnya kebenaran suatu logika tentang tauhid. Sedangkan yang kedua adalah pembahasan yang dibicarakan di dalamnya tentang kandungan tauhid dalam suatu pemikiran. </span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Logika bertauhid sangat menentukan sikap hidup seseorang dan sebaliknya pemahaman seseorang terhadap tauhid dapat dinilai dari sikap hidupnya. Imam Ja&rsquo;far as bersabda, &quot;Ilmu selalu berhubungan dengan amal. Siapa yang berilmu maka ia beramal. Dan siapa yang beramal (dengan benar) maka ia berilmu.&quot;</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Allah Swt berfirman :</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&quot;Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (maka menjadi tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. &quot; (QS Ar-Rum : 30).</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span>
</div>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal" align="justify">
<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma"><br />
</span>
</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal" align="justify">
<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Secara umum kebutuhan manusia terbagi dua : </span>
</p>
<div align="justify">
<ol>
	<li>
	<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">yang bersifat alamiah</span><font face="Times New Roman" size="3"> </font>
	</li>
	<li>
	<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">karena kebiasaan atau budaya</span><font face="Times New Roman" size="3"> </font>
	</li>
</ol>
<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Kebutuhan alamiah adalah kebutuhan yang bersifat abadi dan tidak dapat dipisahkan dari manusia. Kebutuhan yang merupakan bagian dari hidup manusia. Dengan ibarat lain, kebutuhan yang merupakan fitrah manusia seperti kebutuhan beragama dan berkeluarga.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Sedangkan kebutuhan karena kebiasaan dan budaya adalah kebutuhan dari luar diri manusia yang kemudian menyatu dengan diri manusia. Kebutuhan ini tidak bersifat abadi dan dapat dipisahkan dari diri manusia seperti kebutuhan manusia terhadap rokok, kopi, atau pesiar dan pesta. Manusia tidak harus hidup dengan kebutuhan-kebutuhan ini.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Fitrah manusia menuntut pemenuhan kepada setiap kebutuhan mereka. Tuntutan fitrah ibarat tuntutan kepada air bagi orang yang kehausan. Apabila ditemukan adanya manusia yang tidak peka terhadap kebutuhan fitrahnya, bukan berarti disebabkan tidak adanya fitrah pada dirinya. Tetapi disebabkan tidak sehatnya fitrah pada diri orang tersebut. Seperti orang yang sakit, meskipun dua hari tidak makan, ia tetap tidak bersemangat untuk makan. Bukan disebabkan ia tidak butuh makan, tetapi disebabkan tidak pekanya ia terhadap kebutuhan tersebut.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Dalam hati kecilnya manusia memiliki kebutuhan untuk berkeluarga dan memiliki keturunan. Bahkan manusia merasa kehidupannya berakhir apabila tidak memiliki keturunan yang melanjutkan nasabnya. Manusia tidak akan tentram dan bahagia, apabila tidak mengetahui asal keturunannya. Semua itu disebabkan fitrahnya yang menuntut untuk berkeluarga, bahagia dan hidup tentram.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Karena kebutuhan fitrah bersifat abadi, maka sepanjang hidupnya manusia akan selalu berusaha mendapatkan keberuntungan dalam hidup yaitu dengan memenuhi semua kebutuhan fitrahnya. Hanya saja disebabkan adanya perbedaan sehat dan tidaknya fitrah, menjadikan adanya perbedaan pemahaman tentang arti keberuntungan.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><strong></strong><br />
<strong></strong><br />
<strong></strong><strong><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Apakah Arti Keberuntungan ?</span></strong><font face="Times New Roman"><strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"> </span></strong></font><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Terdapat beberapa pandangan arti keberuntungan dan tentang bagaimana mendapatkannya di antaranya :</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">a). <em>Nilai Jiwa</em><strong> </strong></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Pendapat dari filsuf kuno yang mengatakan bahwa sumber keberuntungan adalah kesempurnaan jiwa yaitu apabila manusia memiliki empat sifat kesempurnaan seperti keberanian, kebijaksanaan, harga diri dan keadilan, mereka adalah orang yang beruntung. Keberuntungan itu sendiri tidak berhubungan dengan masalah fisik. Artinya, meskipun secxara fisik mereka menderita, cacat misalnya, tetapi selama empat sifat kesempurnaan itu mereka miliki dan tidak menjadi hilang karena penderitaan tersebut, maka mereka adalah orang beruntung.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Kemudian dari mereka ada yang beranggapan bahwa karena fisik dan jiwa adalah hal yang bertentangan, maka setiap penderitaan bagi fisik adalah merupakan suatu kesempurnaan bagi jiwa. Oleh karenanya, untuk mencapai kesempurnaan jiwa manusia harus menyiksa fisik mereka. Semakin keras siksaan bagi fisik menjadikan semakin sempurnanya jiwa. Maka dilakukanlah praktik-praktik penyiksaan seperti tidur di atas paku, atau dengan mengaitkan tubuh dengan besi dan kemudian digantung, dan sebagainya.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman">&nbsp; </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">b). <em>Nilai Fisik</em> </span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Pendapat yang kedua ini seratus persen bertentangan dengan pendapat yang pertama. Pendapat ini banyak diyakini oleh para filsuf abad modern. </span><br />
<br />
<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Mereka berpendapat bahwa keberuntungan hanyalah bersumber dari nilai fisik. Moral tidak lagi memiliki tempat yang istimewa bagi mereka. Bahkan dapat menjadi penghalang keberuntungan bagi mereka. Dari mereka ada yang lebih menekankan kepada masalah pemenuhan kecenderungan hewani yakni manusia dikatakan beruntung apabila ia memiliki kehidupan dengan ekonomi yang baik, atau karena dapat memenuhi kelezatan fisik yang ia inginkan.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman">&nbsp; </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">c) Nilai Realitas</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Pendapat ketiga adalah pendapat dalam yang berdiri di antara dua pendapat sebelumnya yakni bahwa manusia dikatakan beruntung apabila mereka memiliki keimanan kepada Allah Swt. seperti yang telah dijelaskan dalam </span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">surat</span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma"> Al-&lsquo;Ashr :</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Tetapi mereka tidak menghilangkan nilai fisik yakni dalam kehidupan, kesempurnaan fisik juga harus dicari oleh manusia. Bahkan manusia yang mengabaikan masalah fisik, bagi mereka termasuk orang-orang celaka. Rasulullah Saww bersabda : &quot;Keberuntungan seseorang ada pada rumah yang luas, kendaraan yang baik, istri yang saleh, dan anak yang saleh.&quot; Amirul Mukminin &lsquo;Ali as bersabda : &quot;Celakalah orang yang menemukan air dan tanah, kemudian ia memilih hidup miskin.&quot;</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman">&nbsp; </font></span><strong><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Hikmah Perbedaan </span></strong><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Setiap maujud adalah sama dilihat bahwa semuanya merupakan ciptaan Allah Swt. Oleh karena itulah Allah berfirman : &quot;Kalian tidak akan menemukan adanya perbedaan dalam ciptaan Allah Swt. Semua itu disebabkan berserikatnya maujud dalam menerima kemurahan dan rahmat Allah Swt dan sepakatnya fitrah mereka pada satu penghambaan. </span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Namun maujud berbeda dilihat dari spesies yang telah membatasi masing-masing mereka setelah sebelumnya mersatu dalam makna wujud. Maka, perbedaan esensi terjadi disebabkan perbedaan tingkat kedekatan mereka kepada sumber wujud. </span><br />
<br />
<span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki banyak sekali perbedaan. </span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Allah Swt berfirman : &quot;Dan Aku angkat derajat sebagian dari kalian lebih tinggi dari sebagian yang lain. Akan tetapi, adanya perbedaan di antara manusia semata-mata disebabkan oleh hikmah dan kebijaksanaan Allah Swt yaitu pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri sehingga apabila ada orang yang berusaha hidup sendiri, ia akan binasa pada waktu yang amat singkat. Penyebabnya adalah kebutuhan yang paling utama bagi manusia dalam hidupnya seperti makanan, tidak dia dapatkan dalam keadaan yang telah siap untuk dipakai. Keduanya harus lebih dahulu disiapkan yang niscaya diperlukan alat serta keahlian. Berbeda dengan banyak jenis hewan yang lain.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Oleh karena itu manusia harus hidup bermasyarakat, sehingga dapat bekerja sama dengan membagi keahlian mereka. Maka terbagilah manusia dengan keahlian dan karya masing-masing di dalam suatu masyarakat. </span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Allah berfirman : Kamilah yang membagikan di antara mereka rezeki yang menghidupi mereka. Maka terbagi-bagilah pulalah keinginan, bakat, dan kekuatan mereka untuk memudahkan suatu kerja sama dalam hidup mereka. </span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Firman-Nya yang lain : Katakanlah : &lsquo;Tiap &ndash;tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Sedangkan adanya perbedaan kecenderungan-kecenderungan serta watak manusia dalam karya-karya mereka disebabkan tujuh faktor penyebab :</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">1. Perbedaan thinah (asal penciptaan)</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah Swt berfirman : &quot;Negeri yang baik akan menumbuhkan tumbuhan yang subur dengan izin Tuhannya. Dan yang buruk tidak akan menumbuhkan kecuali kering dan dan merana.&quot;</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah Swt juga berfirman : &quot;Dialah yang membentuk kalian di dalam rahim sesuai dengan dikehendaki-Nya.&quot;</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">2. Perbedaan baik dan buruknya keadaan orang tua</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hal itu disebabkan orang tua mewariskan sifat baik dan buruk kepada anak-anak mereka sebagaimana juga mewariskan kemiripan pada fisik anak-anak mereka. Oleh karena itulah, Nabi Allah Khidr as, saat menjelaskan hikmah tentang mengapa dia membangun dinding yang akan roboh, adalah karena untuk menjaga harta milik dua anak yatim yang kedua orang tuanya sale</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">3. Perbedaan pada nuthfa</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&nbsp;&nbsp;&nbsp; Baik dan buruknya nuthfah akan menentukan nasib anak-anaknya. Rasulullah Saww bersabda : &quot;Orang yang menikah, ibarat petani yang&nbsp;&nbsp;&nbsp; menyebarkan bibit. Maka hendaklah dia memperhatikan ke mana bibit itu akan diletakkan.&quot;</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">4. Perrbedaan susuan dan makanan</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&nbsp;&nbsp;&nbsp; Disebutkan di dalam hadis bahwa susuan mengubah tabiat</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">5. Perbedaan dalam pendidikan</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rasulullah Saww bersabda : &quot;Perintahkan mereka untuk shalat pada umur tujuh tahun dan cambuklah pada umur sepuluh tahun.&quot;</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">6. Perbedaan dalam pendidikan</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">7. Perbedaan dalam berusaha</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman">&nbsp; </font></span><strong><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Akhlak</span></strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Ilmu akhlak adalah ilmu yang dibahas di dalamnya tentang potensi manusia yang berhubungan dengan kekuatan nabati, hewani, dan manusiawi. Di dalamnya juga dibahas segala hal yang membedakan antara sikap hina dan terpuji, sehingga manusia dapat menentukan bagaimana ia harus bersikap semestinya di tengah masyarakat.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Manusia dalam setiap tindakannya selalu dilatarbelakangi tiga hal :</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><em><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Pertama</span></em><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">, kebutuhan-kebutuhan mereka seperti makan, minum, tidur, dsb; atau pencegahan terhadap sesuatu seperti mempertahankan diri, harta, dan tanah; atau logika dan pikir mereka. Oleh karenanya, dapat diketahui bahwa ada tiga kekuatan kesempurnaan pada diri manusia yang harus selalu dijaga keseimbangannya, yakni kekuatan syahwah (nafsu), ghadhab (amarah), dan akal. Kekuatan amarah yang yang terjaga keseimbangannya, menghasilkan keberanian (<em>saja&rsquo;ah</em>). Dan kekuatan nafsu menghasilkan harga diri (<em>&lsquo;iffah</em>). Dan kekuatan akan menghasilkan hikmah. Dan ada lagi satu kekuatan yang lahir dari tiga kekuatan sebelumnya, yaitu keadilan.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Empat kesempurnaan di atas merupakan sumber dari kesempurnaan akhlak manusia. Maka setiap manusia yang dapat menjaga keseimbangan nafsunya, ia akan hidup dengan kemuliaan. Dan perlakuan <em>tafrid</em> di dalamnya melahirkan sifat pengecut, dan perlakuan <em>ifrod</em> melahirkan kebrutalan. Dan keseimbangan akal melahirkan hikmah. Perlakuan <em>tafrid</em> di dalamnya melahirkan kebodohan dan perlakuan <em>ifrod</em> melahirkan kelicikan. Dan menjaga keseimbangan tiga kesempurnaan di atas melahirkan keadilan. Perlakuan <em>tafrid</em> akan melahirkan kemandhluman dan perlakuan <em>ifrod</em> akan melahirkan kedholiman.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman">&nbsp; </font></span><strong><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Anak di Antara Orang Tua dan Masyarakat</span></strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Bersabda Rasul Saww:</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><em><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">&quot;Orang yang beruntung telah beruntung sejak di perut ibunya, dan yang celaka telah celaka telah sejak di perut ibunya.&quot;</span></em><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman">&nbsp; </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Anak adalah buah hati orang tua. Maka sudah merupakan keharusan bagi setiap orang tua untuk membahagiakan anak-anak mereka. Tentu saja untuk mewujudkannya orang tua harus benar-benar memperhatikan dan menyiapkan semua sarana yang dapat mengantarkan anak mereka kepada kebahagiaan. Dalam hal ini sebagaimana telah dijelaskan di atas, Islam melihat persiapan-persiapan itu harus dimulai oleh setiap orang tua sejak mereka akan melakukan pernikahan, saat akan melakukan persetubuhan, saat anak dalam kandungan, saat lahir hingga tumbuh dewasa.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Setiap orang tua harus memiliki pengetahuan yang bermanfaat bagi mereka dalam membentuk kepribadian anak-anak mereka. Karena setiap anak akan menilai tindakan orang tuanya sebagai suatu kebaikan dan kemudian akan mencontohnya. Juga, watak anak-anak sangat dipengaruhi oleh sikap orang tua mereka.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Dalam memberikan kasih sayang dan penjagaan, setiap orang tua harus tetap mempertahankan nilai mereka sebagai manusia. Yakni kasih sayang dan penjagaan orang tua kepada anak mereka hendaknya tidak bersifat sementara dan terbatas, sebagaimana kasih sayang dan penjagaan hewan kepada anak-anak mereka.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Hendaknya pendidikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah pendidikan yang memberikan pengaruh baik bagi anak. Bukan pendidikan sebatas berita pengetahuan bagi anak.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Hendaknya orang tua menciptakan suatu kondisi yang benar-benar memberikan ketentraman dan keamanan kepada anak-anak mereka.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; color: #000040; line-height: 150%; font-family: Tahoma">Masyarakat memiliki pengaruh sangat besar terhadap perkembangan seorang anak. Maka setiap orang tua harus memilihkan lingkungan yang baik bagi anak-anak mereka. Atau membentuk pribadi anak sehingga dapat memilih lingkungan yang baik bagi mereka.[]</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%"><font face="Times New Roman">&nbsp; </font></span>
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Mengenal Ilmu Tauhiid</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/25/artikel-25.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/25/artikel-25.html</comments>
   			  <pubDate>Tue, 03 Mar 2009 13:35:23 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/25/artikel-25.html</guid>
			  <description>Apakah ilmu tauhid itu? Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas pengokohan keyakinan-keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli maupun aqli yang pasti kebenarannya sehingga dapat menghilangkan semua keraguan, ilmu yang menyingkap kebatilan orang-orang kafir, kerancuan dan kedustaan mereka. Dengan ilmu tauhid ini, jiwa kita akan kokoh, dan hati pun akan tenang dengan iman. Dinamakan ilmu tauhid karena pembahasan terpenting di dalamnya adalah tentang tauhidullah (mengesakan Allah). Allah swt. berfirman: [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <strong><font size="3"><font face="Times New Roman">MENGENAL ILMU TAUHIID</font></font></strong> 
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Apakah ilmu tauhid itu? Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas pengokohan keyakinan-keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli maupun aqli yang pasti kebenarannya sehingga dapat menghilangkan semua keraguan, ilmu yang menyingkap kebatilan orang-orang kafir, kerancuan dan kedustaan mereka. Dengan ilmu tauhid ini, jiwa kita akan kokoh, dan hati pun akan tenang dengan iman. Dinamakan ilmu tauhid karena pembahasan terpenting di dalamnya adalah tentang tauhidullah (mengesakan Allah). Allah swt. berfirman:</font>
</p>
<p style="margin: auto 0cm; text-align: justify" class="arabic">
<font face="Times New Roman" size="3">أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">&ldquo;Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.&rdquo; (Ar-Ra&rsquo;d: 19)</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<strong><font face="Times New Roman" size="3">Bidang Pembahasan Ilmu Tauhid</font></strong>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Apa saja yang dibahas? Ilmu tauhid membahas enam hal, yaitu:</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">1. Iman kepada Allah, tauhid kepada-Nya, dan ikhlash beribadah hanya untuk-Nya tanpa sekutu apapun bentuknya.</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">2. Iman kepada rasul-rasul Allah para pembawa petunjuk ilahi, mengetahui sifat-sifat yang wajib dan pasti ada pada mereka seperti jujur dan amanah, mengetahui sifat-sifat yang mustahil ada pada mereka seperti dusta dan khianat, mengetahui mu&rsquo;jizat dan bukti-bukti kerasulan mereka, khususnya mu&rsquo;jizat dan bukti-bukti kerasulan Nabi Muhammad saw.</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">3. Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya sepanjang sejarah manusia yang panjang.</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">4. Iman kepada malaikat, tugas-tugas yang mereka laksanakan, dan hubungan mereka dengan manusia di dunia dan akhirat.</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">5. Iman kepada hari akhir, apa saja yang dipersiapkan Allah sebagai balasan bagi orang-orang mukmin (surga) maupun orang-orang kafir (neraka).</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">6. Iman kepada takdir Allah yang Maha Bijaksana yang mengatur dengan takdir-Nya semua yang ada di alam semesta ini.</font>
</p>
<font face="Times New Roman" size="3">&nbsp;</font><font face="Times New Roman" size="3">&nbsp;</font><font face="Times New Roman" size="3">&nbsp;</font> 
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Allah swt berfirman:</font>
</p>
<p style="margin: auto 0cm; text-align: justify" class="arabic">
<font face="Times New Roman" size="3">&ldquo;آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">&ldquo;Rasul telah beriman kepada Al-Qur&rsquo;an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.&rdquo; (Al-Baqarah: 285)</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Rasulullah saw. ditanya tentang iman, beliau menjawab,</font>
</p>
<p style="margin: auto 0cm; text-align: justify" class="arabic">
<font face="Times New Roman" size="3">أنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">&ldquo;Iman adalah engkau membenarkan dan meyakini Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan taqdir baik maupun buruk.&rdquo; (HR. Muslim).</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<strong><font face="Times New Roman" size="3">Kedudukan Ilmu Tauhid di Antara Semua Ilmu</font></strong>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Kemuliaan suatu ilmu tergantung pada kemulian tema yang dibahasnya. Ilmu kedokteran lebih mulia dari teknik perkayuan karena teknik perkayuan membahas seluk beluk kayu sedangkan kedokteran membahas tubuh manusia. Begitu pula dengan ilmu tauhid, ini ilmu paling mulia karena objek pembahasannya adalah sesuatu yang paling mulia. Adakah yang lebih agung selain Pencipta alam semesta ini? Adakah manusia yang lebih suci daripada para rasul? Adakah yang lebih penting bagi manusia selain mengenal Rabb dan Penciptanya, mengenal tujuan keberadaannya di dunia, untuk apa ia diciptakan, dan bagaimana nasibnya setelah ia mati?</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Apalagi ilmu tauhid adalah sumber semua ilmu-ilmu keislaman, sekaligus yang terpenting dan paling utama.</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Karena itu, hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu &lsquo;ain bagi setiap muslim dan muslimah sampai ia betul-betul memiliki keyakinan dan kepuasan hati serta akal bahwa ia berada di atas agama yang benar. Sedangkan mempelajari lebih dari itu hukumnya fardhu kifayah, artinya jika telah ada yang mengetahui, yang lain tidak berdosa. Allah swt. berfirman,</font>
</p>
<p style="margin: auto 0cm; text-align: justify" class="arabic">
<font face="Times New Roman" size="3">فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">&ldquo;Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.&rdquo; (Muhammad: 19)</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<strong><font face="Times New Roman" size="3">Al-Quran adalah Kitab Tauhid Terbesar</font></strong>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Sesungguhnya pembahasan utama Al-Quran adalah tauhid. Kita tidak akan menemukan satu halaman pun yang tidak mengandung ajakan untuk beriman kepada Allah, rasul-Nya, atau hari akhir, malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah, atau taqdir yang diberlakukan bagi alam semesta ini. Bahkan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh ayat Al-Quran yang diturunkan sebelum hijrah (ayat-ayat Makkiyyah) berisi tauhid dan yang terkait dengan tauhid.</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Karena itu tak heran masalah tauhid menjadi perhatian kaum muslimin sejak dulu, sebagaimana masalah ini menjadi perhatian Al-Quran. Bahkan, tema tauhid adalah tema utama dakwah mereka. Umat Islam sejak dahulu berdakwah mengajak orang kepada agama Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Mereka mendakwahkan bukti-bukti kebenaran akidah Islam agar manusia mau beriman kepada akidah yang lurus ini.</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Bagi seorang muslim, akidah adalah segala-galanya. Tatkala umat Islam mengabaikan akidah mereka yang benar -yang harus mereka pelajari melalui ilmu tauhid yang didasari oleh bukti-bukti dan dalil yang kuat&ndash; mulailah kelemahan masuk ke dalam keyakinan sebagian besar kaum muslimin. Kelemahan akidah akan berakibat pada amal dan produktivitas mereka. Dengan semakin luasnya kerusakan itu, maka orang-orang yang memusuhi Islam akan mudah mengalahkan mereka. Menjajah negeri mereka dan menghinakan mereka di negeri mereka sendiri.</font>
</p>
<p style="text-align: justify">
<font face="Times New Roman" size="3">Sejarah membuktikan bahwa umat Islam generasi awal sangat memperhatikan tauhid sehingga mereka mulia dan memimpin dunia. Sejarah juga mengajarkan kepada kita, ketika umat Islam mengabaikannnya akidah, mereka menjadi lemah. Kelemahan perilaku dan amal umat Islam telah memberi kesempatan orang-orang kafir untuk menjajah negeri dan tanah air umat Islam.</font>
</p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify" class="MsoNormal">
&nbsp;
</p>
<font face="Times New Roman" size="3">&nbsp;</font>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Israel Gunakan Zat Kimia Untuk Mengebom Gaza</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/6/23/artikel-23.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/6/23/artikel-23.html</comments>
   			  <pubDate>Mon, 12 Jan 2009 09:44:38 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - vivanews.com</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/6/23/artikel-23.html</guid>
			  <description>VIVAnews - Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM), Human Rights Watch, Minggu 11 Januari 2009, meminta Israel agar berhenti menggunakan mesiu berbahan fosfor putih untuk menyerang kawasan padat penduduk di Jalur Gaza.Kelompok yang berbasis di New York, Amerika Serikat (AS) tersebut mengatakan bahwa [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Kelompok yang berbasis di New York, Amerika Serikat (AS) tersebut mengatakan bahwa mereka menemukan adanya pemakaian zat kimia fosfor putih, yang bisa menyebabkan kulit terkelupas di Kota Gaza dan Jabaliya, Jumat dan Sabtu pekan lalu.&nbsp;<br />
<br />
Dokter kepala di Rumah Sakit Nasser di wilayah selatan Gaza, Youssef Abu Rish, dia merawat beberapa orang dengan kulit terkelupas dari wajah dan tubuh mereka yang kemungkinan disebabkan oleh fosfor. Rish telah mengumpulkan informasi dari internet yang mengindikasikan bahwa bisa jadi penyebab luka bakar tersebut adalah fosfor putih.&nbsp;<br />
<br />
&quot;Hari ini [Sabtu] ada serangan besar-besaran di Jabaliya ketika kami sedang berada di sana. Kami melihat tembakan berkali-kali dan asap fosfor putih membumbung ke udara,&quot; kata Marc Garlasco, analis militer di Human Rights Watch, kepada stasiun televisi Al Jazeera, Sabtu pekan lalu.<br />
<br />
Juru bicara militer Israel, Mayor Avital Leibovich menolak berkomentar secara langsung tentang penggunaan fosfor putih oleh pasukannya. Namun Leibovich mengatakan bahwa militer Israel menggunakan mesiu sesuai dengan hukum internasional.&nbsp;<br />
<br />
Israel pernah menggunakan fosfor putih ketika bertempur dengan kelompok Hezbollah di Libanon, 2006 silam. Pasukan militer AS di Irak juga pernah memakai zat yang bersifat membakar tersebut selama operasi melawan pembelot di Fallujah, November 2004.&nbsp;<br />
<br />
&quot;Penggunaan fosfor putih di lokasi padat penduduk seperti kamp pengungsi menunjukkan bahwa Israel tidak bisa dipercaya untuk megambil langkah-langkah pencegahan terhadap dampak pemakaian fosfor kepada manusia,&quot; kata Garlasco dalam pernyataan tertulis. &quot;Tidak hanya menyebabkan luka pada tubuh warga sipil, tetapi juga membakar rumah dan infrastruktur,&quot; lanjut Garlasco. (AP)<br />
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Hukum Perayaan Tahun Baru</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/22/artikel-22.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/22/artikel-22.html</comments>
   			  <pubDate>Fri, 02 Jan 2009 09:26:49 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - Agam Rosyidi</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/22/artikel-22.html</guid>
			  <description>Pada saat pergantian tahun, kita akan menyaksikan betapa gencarnya liputan media massa dalam rangka menyambut datangnya tahun baru. Terlihat bahwa masyarakat bersuka cita menggantungkan harapan-harapan dengan adanya hal itu. [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Pada saat pergantian tahun, kita akan menyaksikan betapa gencarnya liputan media massa dalam rangka menyambut datangnya tahun baru. Terlihat bahwa masyarakat bersuka cita menggantungkan harapan-harapan dengan adanya hal itu.<br />
Sebelum membahas lebih jauh tentang hukum perayaan menyambut tahun baru, mari kita simak terlebih dahulu sejarah penetapan tahun 1 januari sebagai pertanda tahun baru.<br />
Bila melongok sejarahnya, penetapan 1 Januari sebagai pertanda Tahun Baru bermula pada abad 46 Sebelum Masehi (SM). Ketika itu Kaisar Julius Caesar membuat kalender Matahari. Kalender yang dinilai lebih akurat ketimbang kalender-kalender lain pernah dibuat sebelumnya.<br />
Sebelum Caesar membuat kalender Matahari, pada abad 153 SM, Janus seorang pendongeng di Roma yang menetapkan awal mula tahun. Dengan dua wajahnya, Janus mampu melihat kejadian di masa lalu dan masa depan. Dialah yang menjadi simbol kuno resolusi (sebuah pencapaian) Tahun Baru. Bangsa Roma berharap dengan dimulainya tahun yang baru, kesalahan-kesalahan di masa lalu dapat dimaafkan. Sebagai penebus dosa, tahun baru juga ditandai dengan tukar kado.Setelah menyimak sejarahnya, marilah kita lihat dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan atsar-atsar yang shahih yang melarang untuk menyerupai orang-orang kafir di dalam hal yang menjadi ciri dan kekhususan mereka.<br />
<br />
Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa tahun baru masehi awalnya merupakan suatu ritual Bangsa Roma, dan bahkan dianggap sebagai penebus dosa.<br />
Tahun baru merupakan suatu hari yang datang kembali dan terulang, yang diagung-agungkan oleh orang-orang kafir. Atau sebutan bagi tempat orang-orang kafir dalam menyelenggarakan perkumpulan keagamaan. Jadi, setiap perbuatan yang mereka ada-adakan di tempat-tempat atau waktu-waktu seperti ini maka itu termasuk hari besar mereka. Karenanya, larangannya bukan hanya terhadap hari-hari besar yang khusus buat mereka saja, akan tetapi setiap waktu dan tempat yang mereka agungkan yang sesungguhnya tidak ada landasannya di dalam agama Islam, demikian pula, perbuatan-perbuatan yang mereka ada-adakan di dalamnya juga termasuk ke dalam hal itu. Ditambah lagi dengan hari-hari sebelum dan sesudahnya yang nilai religiusnya bagi mereka sama saja sebagaimana yang disinggung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firmanNya.<br />
<br />
&quot;Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-zuur.&quot; [Al-Furqan : 72]<br />
.<br />
Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Sekelompok ulama seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan Ar-Rabi&rsquo; bin Anas menafsirkan kata &quot;Az-Zuura&quot; (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.<br />
<br />
Dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik Radhiyallahu &lsquo;anhu, dia berkata, Saat Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, &quot;Dua hari untuk apa ini ?&quot;. Mereka menjawab, &quot;Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa Jahiliyyah&quot;. Lantas beliau bersabda.<br />
&quot;Artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya : Iedul Adha dan Iedul Fithri&quot;<br />
Demikian pula terdapat hadits yang shahih dari Tsabit bin Adl-Dlahhak Radhiyallahu &lsquo;anhu bahwasanya dia berkata, &quot;Seorang laki-laki telah bernadzar pada masa Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam sembari berkata.<br />
<br />
&quot;Artinya : Sesungguhnya aku telah bernadzar untuk menyembelih onta sebagai qurban di Buwanah. Lalu Nabi Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam bertanya, &lsquo;Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari berhala-berhala Jahiliyyah yang disembah ? Mereka menjawab, &lsquo;Tidak&rsquo;. Beliau bertanya lagi. &lsquo;Apakah di dalamnya terdapat salah satu dari hari-hari besar mereka ?&rsquo;. Mereka menjawab, &lsquo;Tidak&rsquo;. Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam bersabda, &lsquo;Tepatilah nadzarmu karena tidak perlu menepati nadzar di dalam berbuat maksiat kepada Allah dan di dalam hal yang tidak dipunyai (tidak mampu dilakukan) oleh manusia&quot;<br />
<br />
Umar bin Al-Khaththtab Radhiyallahu &lsquo;anhu berkata, &quot;Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka&quot;<br />
<br />
Dia berkata lagi, &quot;Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka&quot;<br />
<br />
Dan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu &lsquo;anhu, dia berkata, &quot;Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festifal seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka&quot;<br />
.	Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan di atas, maka tidak boleh hukumnya seorang Muslim yang beriman kepada Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, mengadakan perayaan-perayaan hari-hari besar yang tidak ada landasannya dalam Agama Islam, termasuk diantaranya pesta &lsquo;Tahun Baru&rsquo;. Juga, tidak boleh hadir pada acaranya, berpartisipasi dan membantu dalam pelaksanaannya dalam bentuk apapun karena hal itu termasuk dosa dan melampaui aturan-aturan Allah sedangkan Allah sendiri terlah berfirman, &quot;Dan janganlah bertolong-tolongan di atas berbuat dosa dan melampaui batas, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah amat pedih siksaanNya&quot; [Al-Maidah : 2]<br />
Namun sangat disayangkan masih banyak di antara kaum muslimin yang meniru-niru perayaan mereka. Bahkan ada yang ikut serta merayakan hari raya mereka. Di antaranya ada yang memberikan ucapan selamat atau ikut meramaikannya dengan berbagai acara seperti meniup terompet pada malam tahun baru dan yang semisalnya. Serta memasang hiasan-hiasan di rumahnya pada saat perayaan mereka.&nbsp;<br />
Ini bukan berarti kaum muslimin mengabaikan serta tidak mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan kaum muslimin senantiasa dituntut untuk selalu mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta&rsquo;ala. Namun (hal ini dilarang) karena perayaan adalah salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh dikhususkan dengan dilakukan secara berulang-ulang (ditradisikan, red) kecuali ada perintah dari Allah Subhanahu wa Ta&rsquo;ala atau Rasul-Nya.&nbsp;<br />
Jika orang-orang terbaik dari umat ini (Rasul dan para sahabat) tidak melakukannya, lalu apa yang menyebabkan seseorang melakukannya? Apakah dirinya merasa lebih tahu dan lebih tinggi ilmunya dari para shahabat? Ataukah dia menganggap para shahabat lebih tahu namun mereka tidak mau mengamalkan ilmunya?&nbsp;<br />
<br />
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.<br />
<br />
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Oh Bunda....</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/21/artikel-21.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/21/artikel-21.html</comments>
   			  <pubDate>Thu, 18 Dec 2008 07:11:16 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - NN</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/21/artikel-21.html</guid>
			  <description>ibu merupakan sebuah peran sosial yang sangat kita kenal dan sangat dekat dengan kita. Ibu adalah seseorang wanita yang penuh dengan cinta dan kasih sayang yang berlimpah kepada keluarga....... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <font size="3"><strong>Bundaku&hellip;..</strong></font><br />
Ibu merupakan sebuah peran sosial yang sangat kita kenal dan sangat dekat dengan kita. Ibu adalah seseorang wanita yang penuh dengan cinta dan kasih sayang yang berlimpah kepada keluarganya, terutama anak-anaknya, atau bahkan ia melimpahkan kasih sayang ke kerabat lain. Seorang Ibu biasanya sangat sabar, pemaaf, berusaha mengerti anak-anaknnya, tidak pernah memberikan kasih sayangnya dengan syarat, dan sangat perhatian terhadap keluarganya. Sehari-harinya ibu menyiapkan segala keperluan anak-anak dan suaminya, ibu biasanya mengatur seluruh urusan rumah tangga, ibu yang memasak sehari-hari untuk anak dan suaminya, dan ibu biasanya yang merapikan rumah.<br />
Selain itu ibu membimbing anaknya dalam segala hal, misalnya ibu membimbing anaknya ketika sedang belajar atau mengerjakan tugas, ibu juga membimbing anaknya ketika menghadapi suatu permasalahan. Ibu biasanya juga menemani anaknya dalam berbagai situasi. Seorang ibu senang memberikan pelukan dan cium sayang untuk anak-anaknya, dan juga suaminya. Kadang kala ibu suka bertindak tegas atau bahkan marah ketika anak-anaknya melakukan kesalahan. Semua tindakan yang Ibu lakukan merupakan suatu usaha untuk membuat keluarganya nyaman, membentuk anaknya menjadi sebuah individu yang sehat baik jasmani dan rohani, dan membimbing anak-anaknya agar menjadi orang yang berhasil. Seluruh tindakan yang ibu lakukan merupakan bentuk kasih sayangnya yang sangat tulus dan ibu ingin membuat anak serta suaminya merasa dicintai dan diperhatikan.Bagi seorang ibu lembaga perkawinan dan keluarga, serta peraturan dalam rumah atau keluarga merupakan instrumen yang penting. Lembaga perkawinan dan keluarga adalah suatu media dimana ibu melimpahkan kasih sayangnya. Selain itu, peraturan dalam rumah merupakan peraturan-peraturan yang ditetapkan bersama suaminya untuk mengatur atau mengkontrol anak-anaknya. Peraturan tersebut merupakan batasan yang ditetapkannya untuk kebaikan keluarganya terutama anak-anaknya. Peraturan tersebut dibuat agar anak-anaknya dapat tearah dan kenyamanan dapat terbentuk.<br />
Dalam peran ibu, masalah dapat timbul dari anak, suami, dan urusan rumah tangga lainnya. Ketika anak kurang patuh kepada orangtua, hal ini menjadi sebuah problem bagi ibu. Namun hal tersebut merupakan hal yang normal dimana seorang anak sebagai sebuah individu yang unik kadangkala memilki pendapat yang berbeda. Misalnya ketika sang anak menolak mengikuti les piano, tapi sang ibu berkeinginan keras agar anaknya bisa main piano. Perbedaan keinginan tersebut menimbulkan bentrokan kecil dalam keluarga. Begitu pula dengan suami, terkadang memilki perbedaan pendapat dalam mendidik anak atau dalam pengaturan urusan rumah tangga. Problem-problem tersebut seharusnya dapat diatasi karena sebagai satu keluarga mereka harus saling mengerti.<br />
Ibu yang selalu melimpahkan kasih sayang yang tulus dan tanpa syarat, membuat kenyamanan dalam rumah bagi keluarganya, membimbing anak-anaknya, dan selalu memberikan yang terbaik bagi keluarga, menunjukkan bahwa ibu memilki archetype caregiver. Seorang ibu sebagai caregiver selalu memberikan segalanya yang terbaik untuk keluarganya sehingga terkadang ia lupa akan dirinya sendiri.<br />
<br />
<br />
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Keutamaan Berdzikir, Berdo’a dan Bertobat </title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/20/artikel-20.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/20/artikel-20.html</comments>
   			  <pubDate>Wed, 10 Dec 2008 09:12:51 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - Ahmad Rofi’ Usmani</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/20/artikel-20.html</guid>
			  <description>Suatu saat, selepas shalat, Rasulullah Saw berbagi sapa dan berbincang bincang dengan para sahabat tentang pelbagai hal. Dalam perbincangan itu, Rasulullah menyampaikan keutamaan majelis dzikir, do’a dan permohonan ampun kepada Allah Swt. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa Allah Swt boleh jadi mengabulkan do’a seorang hamba, menghindarkannya dari bencana yang belum turun, menyimpan pahala do’anya di akhirat atau menghapusnya dosa-dosanya. Beliau pun berceramah :........  [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <strong><font size="4">Keutamaan Berdzikir, Berdo&rsquo;a dan Bertobat&nbsp;</font></strong><strong><br />
</strong>
<p>
<strong>	</strong>
</p>
<p>
Suatu saat, selepas shalat, Rasulullah Saw berbagi sapa dan berbincang bincang dengan para sahabat tentang pelbagai hal. Dalam perbincangan itu, Rasulullah menyampaikan keutamaan majelis dzikir, do&rsquo;a dan permohonan ampun kepada Allah Swt. Selain itu, beliau juga menekankan bahwa Allah Swt boleh jadi mengabulkan do&rsquo;a seorang hamba, menghindarkannya dari bencana yang belum turun, menyimpan pahala do&rsquo;anya di akhirat atau menghapusnya dosa-dosanya.&nbsp;
</p>
<br />
Beliau pun berceramah :&nbsp;<br />
<br />
Sesungguhnya Allah Swt memiliki beberapa malaikat yang terus menerus berkeliling mencari majelis dzikir. Ketika menemukan majelis dzikir, mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah.<br />
Ketika majelis itu usai, mereka bubar dan kemudian naik kelangit. Ketika berada dilangit, mereka ditanya oleh Allah Swt. Yang sebenarnya lebih tahu ketimbang mereka, &ldquo;Kalian datang dari mana? !&rdquo;<br />
&ldquo;Kami datang dari sisi para hamba-Mu di bumi yang mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu, mengesakan-Mu, memuji-Mu, dan memohon kepada-Mu!&rdquo; jawab mereka.<br />
&ldquo;Apa yang mereka minta?&rdquo; tanya Allah Swt.<br />
&ldquo;Mereka memohon surga-Mu, &ldquo;jawab mereka penuh takzim.<br />
&ldquo;Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?&rdquo; tanya Allah swt lebih jauh<br />
&ldquo;Tidak, wahai Tuhan,&rdquo; jawab para malaikat dengan takzim.&nbsp;<br />
&ldquo;Betapa seandainya mereka melihat surga-Ku?&rdquo; kata Allah Swt.<br />
&ldquo;Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu, &ldquo;ucap mereka tetap takzim.<br />
&ldquo;Dari apa mereka memohon perlindungan kepada-Ku?&rdquo; tanya Allah Swt lagi.<br />
&ldquo;Dari Neraka-Mu, wahai Tuhan,&rdquo; Jawab mereka terus dengan takzim.<br />
&ldquo;Apakah mereka melihat Neraka-Ku ?&rdquo; tanya Allah Swt sekali lagi.&nbsp;<br />
&ldquo;Tidak&ldquo; jawab mereka serempak.<br />
&ldquo;Betapa seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku,&rdquo; kata Allah Swt.<br />
&ldquo;Mereka juga memohon Ampunan kepada-Mu, wahai Tuhan,&rdquo; ucap mereka tetap dengan takzim.&nbsp;<br />
&ldquo;Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka mohon, dan melindungi mereka dari neraka,&ldquo; jawab Allah SWT.<br />
&ldquo;Wahai Tuhan, tapi dalam majelis mereka ada seseorang yang berdosa yang hanya kebetulan lewat lantas duduk bersama mereka,&rdquo; lapor mereka.<br />
&ldquo;Dia juga Kami ampuni. Sebab, orang yang mau duduk bersama mereka tidak celaka !&rdquo; jawab Allah SWT.<br />
<br />
<br />
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Ayo Ber- Qurban....</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/19/artikel-19.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/19/artikel-19.html</comments>
   			  <pubDate>Thu, 04 Dec 2008 08:22:49 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - NN</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/19/artikel-19.html</guid>
			  <description>Ayat dalam Al Qur`an tentang ritual kurban antara lain : surat Al Kautsar ayat 2: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (anhar). Sementara hadits yang berkaitan dengan kurban antara lain: “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” (HR. Ahmad dan ibn Majah). [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ RITUAL QURBAN<br />
<br />
Ayat dalam Al Qur`an tentang ritual kurban antara lain : surat Al Kautsar ayat 2: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (anhar). Sementara hadits yang berkaitan dengan kurban antara lain: &ldquo;Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.&rdquo; (HR. Ahmad dan ibn Majah).<br />
<br />
Hadits Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: &ldquo;Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?&rdquo; Rasulullah menjawab: &ldquo;Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.&rdquo; Mereka menjawab: &ldquo;Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?&rdquo; Rasulullah menjawab: &ldquo;Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.&rdquo; Mereka menjawab: &ldquo;Kalau bulu-bulunya?&rdquo; Rasulullah menjawab: &ldquo;Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.&rdquo; HR. Ahmad dan ibn Majah&nbsp;<br />
<br />
&ldquo;Jika masuk tanggal 10 Dzul Hijjah dan ada salah seorang diantara kalian yang ingin berqurban, maka hendaklah ia tidak cukur atau memotong kukunya.&rdquo; HR. Muslim&nbsp;<br />
<br />
&ldquo;Kami berqurban bersama Nabi SAW di Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu sapi untuk tujuh orang. &ldquo; HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi.&nbsp;<br />
<br />
HUKUM QURBAN<br />
<br />
Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi&rsquo;in, tabiut tabi&rsquo;in, dan fuqaha (ahli fiqh) menyatakan bahwa hukum qurban adalah sunnah muakkadah (utama), dan tidak ada seorangpun yang menyatakan wajib, kecuali Abu Hanifah (tabi&rsquo;in). Ibnu Hazm menyatakan: &ldquo;Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.<br />
<br />
SYARAT-SYARAT QURBAN<br />
<br />
Syarat dan ketentuan pembagian daging kurban adalah sebagai berikut :<br />
&bull; Orang yang berkurban harus mampu menyediakan hewan sembelihan dengan cara halal tanpa berutang.&nbsp;<br />
&bull; Kurban harus binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing, atau biri-biri.&nbsp;<br />
&bull; Binatang yang akan disembelih tidak memiliki cacat, tidak buta, tidak pincang, tidak sakit, dan kuping serta ekor harus utuh.&nbsp;<br />
&bull; Hewan kurban telah cukup umur, yaitu unta berumur 5 tahun atau lebih, sapi atau kerbau telah berumur 2 tahun, dan domba atau kambing berumur lebih dari 1 tahun.&nbsp;<br />
&bull; Orang yang melakukan kurban hendaklah yang merdeka (bukan budak), baligh, dan berakal.&nbsp;<br />
&bull; Daging hewan kurban sebaiknya dibagi tiga, 1/3 untuk dimakan oleh yang berkurban, 1/3 disedekahkan, dan 1/3 bagian dihadiahkan kepada orang lain.<br />
<br />
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Kepolosan anak</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/18/artikel-18.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/18/artikel-18.html</comments>
   			  <pubDate>Tue, 02 Dec 2008 13:25:41 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - BJ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/18/artikel-18.html</guid>
			  <description>Alkisah seorang ayah yang sangat menggemari mobil, karen rasa sukanya yang sangat besar hingga ia memimpikan sebuah mobil baru untuk menggantikan mobil lamanya yang sudah hampir usang. Dan ia pun berdo’a kepada Allah SWT meminta diberikan sebuah mobil baru untuknya...... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Alkisah seorang ayah yang sangat menggemari mobil, karen rasa sukanya yang sangat besar hingga ia memimpikan sebuah mobil baru untuk menggantikan mobil lamanya yang sudah hampir usang. Dan ia pun berdo&rsquo;a kepada Allah SWT meminta diberikan sebuah mobil baru untuknya.<br />
Sungguh besar nikmat yang ia dapatkan, karena disamping Allah telah mengabulkan permintaanya, memiliki seorang istri yang cantik lagi solehah, juga ia dikaruniai seorang anak yang pintar menggambar. Sang anak yang masih sangat belia itu, yang sedang lucu-lucunya dengan kepolosannya tak jarang menggambar disetiap tempat yang ia temui; di tembok dinding rumah, di kertas, di tas, dan ditempat lain seketemunya.<br />
Suatu ketika sang Ayah hendak pergi ke kantor dengan menggunakan mobil lamanya, sementara mobil barunya ia simpan di garasi mobilnya, saat yang sama si anak sedang bermain di kamarnya, selang beberapa lama sang anak berjalan menuju garasi mobil ayahnya, didapatinya sebuah mobil baru yang masih sangat mengkilap, lalu si anak berfikir:&rdquo;wah kalau aku menggambar di mobil baru itu, tentu ayah akan suka dan memujiku, karena ayah tahu aku pintar menggambar...&rdquo; gumamnya.<br />
Sejurus kemudian si anak mengambil sebuah paku dengan ukuran besar dan menorehkannya ke badan mobil baru ayahnya itu, lalu ia mulai menggambar. Setelah sekian lamanya si anak asyik menggambar tiba &ndash; tiba Ayahnya pulang. Lalu sang Anak dengan riang gembira menceritakan hasil karyanya yang sudah ia buat:&rdquo;Ayah..ayah...ayah...aku membuat sebuah gambar yang bagus dan ayah pasti suka dengan gambarku itu.....? dan sang Ayah pun berkata dengan penuh rasa penasaran:&rdquo;wah Ayah tidak sabar ingin melihatnya...sekarang dimana gambarmu naak..?! kata Ayahnya.<br />
Lalu si anak menarik tangan Ayahnya menuju ke garasi tempat dimana gambar itu di buat, namun apa yang terjadi tatkala sang Ayah mendapati mobil barunya terdapat torehan gambar pada bagian badan mobilnya itu ! langsung saja sang Ayah menghardik si anak dengan serta merta menarik tangannya dan memukulnya dengan pukulan yang sangat keras saking murkanya, hingga tak sadar sang Ayah telah meremukkan jari &ndash; jari mungil tangan anaknya, hingga tangan si anak harus dipotong (amputasi).<br />
Setelah sekian lamanya si anak tidak lagi menggambar karena tangannya sudah tidak lagi mampu memegang pinsil gambar, maka ia berkata dengan suara mungilnya dan tentu saja dengan kepolosannya:&rdquo;Ayah....ayah....aku pinjam dulu jari &ndash; jari tanganku yang sudah terpotong, untuk meminta maaf pada Ayah karena sudah menggambar di mobil ayah, sehingga membuat ayah sangat marah padaku...................&rdquo;<br />
Lalu sang Ayah termenung penuh penyesalan, karena ia sudah mematikan langkah masa depan anaknya dengan memotong jari &ndash; jari tangannya hingga sang anak tidak lagi mampu menorehkan masa depan dalam indahnya hasil &ndash; hasil karya gambarnya, hanya karena sebuah mobil yang tidak lama kemudian setelah peristiwa itu, sudah kembali normal lagi, seperti baru kembali.<em><br />
<br />
<br />
</em>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Haji</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/17/artikel-17.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/17/artikel-17.html</comments>
   			  <pubDate>Tue, 02 Dec 2008 08:53:33 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - M. Quraish Shihab</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/17/artikel-17.html</guid>
			  <description>Memahami makna ibadah haji, membutuhkan pemahaman secarakhusus sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya, karenapraktek-praktek ritual ibadah ini dikaitkan denganpengalaman-pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim as. bersama...... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div>
<br />
Memahami  makna  ibadah  haji,  membutuhkan  pemahaman  secara<br />
khusus    sejarah   Nabi   Ibrahim   dan   ajarannya,   karena<br />
praktek-praktek   ritual   ibadah   ini    dikaitkan    dengan<br />
pengalaman-pengalaman  yang  dialami  Nabi Ibrahim as. bersama<br />
keluarga beliau.  Ibrahim  as.  dikenal  sebagai  &quot;Bapak  para<br />
Nabi&quot;,  juga  &quot;Bapak monotheisme,&quot; serta &quot;proklamator keadilan<br />
Ilahi&quot; kepada beliaulah merujuk  agama-agama  samawi  terbesar<br />
selama ini.<br />
<br />
Para  ilmuwan  seringkali  berbicara tentang penemuan-penemuan<br />
manusia yang mempengaruhi atau bahkan merubah jalannya sejarah<br />
kemanusiaan. Tapi seperti tulis al-Akkad,<br />
&nbsp;<br />
&quot;Penemuan  yang  dikaitkan  dengan  Nabi Ibrahim as. merupakan<br />
penemuan manusia yang terbesar dan yang  tak  dapat  diabaikan<br />
para  ilmuwan atau sejarawan, ia tak dapat dibandingkan dengan<br />
penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom  betapa<br />
pun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut, ... yang itu<br />
dikuasai manusia, sedangkan penemuan  Ibrahim  menguasai  jiwa<br />
dan  raga  manusia.  Penemuan  Ibrahim menjadikan manusia yang<br />
tadinya tunduk pada alam, menjadi mampu menguasai alam,  serta<br />
menilai  baik  buruknya, penemuan yang itu dapat menjadikannya<br />
berlaku  sewenang-wenang,  tapi  kesewenang-wenangan  ini  tak<br />
mungkin  dilakukannya  selama  penemuan  Ibrahim as. itu tetap<br />
menghiasi jiwanya ... penemuan tersebut berkaitan  dengan  apa<br />
yang   diketahui   dan   tak  diketahuinya,  berkaitan  dengan<br />
kedudukannya sebagai makhluk dan hubungan makhluk  ini  dengan<br />
Tuhan, alam raya dan makhluk-makhluk sesamanya ...&quot;<br />
&nbsp;<br />
&quot;Kepastian&quot; yang dibutuhkan ilmuwan menyangkut hukum-hukum dan<br />
tata kerja alam ini, tak dapat  diperolehnya  kecuali  melalui<br />
keyakinan  tentang  ajaran  Bapak  monotheisme itu, karena apa<br />
yang dapat menjamin kepastian tersebut jika sekali  Tuhan  ini<br />
yang  mengaturnya  dan di lain kali tuhan itu? Dengan demikian<br />
monoteisme Ibrahim as. bukan sekedar  hakikat  keagamaan  yang<br />
besar,  tapi  sekaligus penunjang akal ilmiah manusia sehingga<br />
lebih tepat, lebih  teliti  lagi,  lebih  meyakinkan.  Apalagi<br />
Tuhan yang diperkenalkan Ibrahim as. bukan sekedar tuhan suku,<br />
bangsa  atau  golongan  tertentu  manusia,  tapi  Tuhan   seru<br />
sekalian  alam,  Tuhan  yang imanen sekaligus transenden, yang<br />
dekat  dengan   manusia,   menyertai   mereka   semua   secara<br />
keseluruhan  dan  orang per orang, sendirian atau ketika dalam<br />
kelompok, pada saat diam atau bergerak, tidur atau jaga,  pada<br />
saat  kehidupannya,  bahkan  sebelum dan sesudah kehidupan dan<br />
kematiannya.  Bukannya  Tuhan   yang   sifat-sifat-Nya   hanya<br />
monopoli  pengetahuan para pemuka agama, atau yang hanya dapat<br />
dihubungi  mereka,  tapi  Tuhan  manusia   seluruhuya   secara<br />
universal.<br />
&nbsp;<br />
Ajaran   Ibrahim   as.   atau  &quot;penemuan&quot;  beliau  benar-benar<br />
merupakan suatu lembaran baru dalam  sejarah  kepercayaan  dan<br />
bagi  kemanusiaan,  walaupun  tauhid  bukan  sesuatu  yang tak<br />
dikenal sebelum masa beliau,  demikian  pula  keadilan  Tuhan,<br />
serta pengabdian pada yang hak dan transenden. Namun itu semua<br />
sampai  masa  Ibrahim  bukan  merupakan  ajaran  kenabian  dan<br />
risalah  seluruh umat manusia. Di Mesir 5.000 tahun lalu telah<br />
dikumandangkan ajaran keesaan Tuhan,  serta  persamaan  antara<br />
sesama  manusia,  tapi  itu  merupakan  dekrit dari singgasana<br />
kekuasaan  yang  kemudian  dibatalkan  oleh  dekrit   penguasa<br />
sesudahnya.<br />
&nbsp;<br />
Ibrahim    datang   mengumandangkan   keadilan   Ilahi,   yang<br />
mempersamakan semua manusia dihadapan-Nya, sehingga betapa pun<br />
kuatnya  seseorang.  Ia  tetap  sama  di  hadapan Tuhan dengan<br />
seseorang yang paling lemah sekali  pun,  karena  kekuatan  si<br />
kuat  diperoleh  dari  pada-Nya,  sedangkan kelemahan si lemah<br />
adalah atas hikmah kebijaksanaan-Nya. Dia dapat mencabut  atau<br />
menganugerahkan  kekuatan  itu  pada  siapa saja sesuai dengan<br />
sunnah-sunnah yang ditetapkan-Nya.<br />
&nbsp;<br />
Ibrahim hadir di pentas kehidupan pada suatu masa persimpangan<br />
menyangkut  pandangan  tentang manusia dan kemanusiaan, antara<br />
kebolehan memberi sesajen  yang  dikorbankan  berupa  manusia,<br />
atau  ketidakbolehannya  dengan  alasan  bahwa  manusia adalah<br />
makhluk yang sangat mulia, melalui Ibrahim as. secara  amaliah<br />
dan  tegas  larangan  tersebut dilakukan, bukan karena manusia<br />
terlalu tinggi nilainya sehingga tak wajar  untuk  dikorbankan<br />
atau  berkorban,  tapi  karena  Tuhan  Maha Pengasih lagi Maha<br />
Penyayang.   Putranya   Ismail   diperintahkan   Tuhan   untuk<br />
dikorbankan,  sebagai  pertanda bahwa apa pun --bila panggilan<br />
telah tiba wajar untuk dikorbankan demi karena Allah.  Setelah<br />
perintah  tersebut  dilaksanakan  sepenuh  hati  oleh ayah dan<br />
anak, Tuhan  dengan  kekuasaan-Nya  menghalangi  penyembelihan<br />
tersebut  dan  menggantikannya  dengan  domba sebagai pertanda<br />
bahwa hanya karena kasih sayang-Nya pada manusia, maka praktek<br />
pengorbanan semacam itu pun tak diperkenankan.<br />
&nbsp;<br />
Ibrahim menemukan dan membina keyakinannya melalui pencaharian<br />
dan pengalaman-pengalaman kerohanian yang dilaluinya  dan  hal<br />
ini  secara  agamis  atau  Qur`ani  terbukti  bukan saja dalam<br />
penemuannya  tentang  keesaan  Tuhan   seru   sekalian   alam,<br />
sebagaimana diuraikan dalam QS. al-An`am 6:75, tapi juga dalam<br />
keyakinan tentang hari kebangkitan. (Menarik  untuk  diketahui<br />
bahwa  beliaulah  satu-satunya  Nabi  yang  disebut  al-Qur`an<br />
meminta  pada  Tuhan  untuk  diperlihatkan  bagaimana  caranya<br />
menghidupkan  yang  mati, dan permintaan beliau itu dikabulkan<br />
Tuhan, lihat, QS. al-Baqarah 2:260).<br />
&nbsp;<br />
Demikian  sebagian  kecil  dari  keistimewaan  Nabi   Ibrahim,<br />
sehingga  wajar jika beliau dijadikan teladan seluruh manusia,<br />
seperti   ditegaskan   al-Qur`an   surah   al-Baqarah   2:127.<br />
Keteladanan  tersebut  antara  lain  diwujudkan  dalam  bentuk<br />
ibadah haji dengan  berkunjung  ke  Makkah,  karena  beliaulah<br />
bersama    putranya    Ismail    yang    membangun   (kembali)<br />
fondasi-fondasi Ka`bah  (QS.  al-Baqarah  2:127),  dan  beliau<br />
pulalah yang diperintahkan untuk mengumandangkan syari`at haji<br />
(QS. al-Haj 22:27). Keteladanan yang diwujudkan  dalam  bentuk<br />
ibadah  tersebut  dan yang praktek-praktek ritualnya berkaitan<br />
dengan  peristiwa  yang  beliau  dan  keluarga   alami,   pada<br />
hakikataya  merupakan  penegasan  kembali  dari  setiap jamaah<br />
haji, tentang keterikatannya dengan prinsip-prinsip  keyakinan<br />
yang dianut Ibrahim, yang intinya adalah,<br />
&nbsp;<br />
&nbsp;1. Pengakuan Keesaan Tuhan, serta penolakan terhadap segala<br />
&nbsp;   macam dan bentuk kemusyrikan baik berupa patung-patung,<br />
&nbsp;   bintang, bulan dan matahari bahkan segala sesuatu selain<br />
&nbsp;   dari Allah swt.<br />
&nbsp;<br />
&nbsp;2. Keyakinan tentang adanya neraca keadilan Tuhan dalam<br />
&nbsp;   kehidupan ini, yang puncaknya akan diperoleh setiap<br />
&nbsp;   makhluk pada hari kebangkitan kelak.<br />
&nbsp;<br />
&nbsp;3. Keyakinan tentang kemanusiaan yang bersifat universal,<br />
&nbsp;   tiada perbedaan dalam kemanusiaan seseorang dengan lainnya,<br />
&nbsp;   betapa pun terdapat perbedaan antar mereka dalam hal-hal<br />
&nbsp;   lainnya.<br />
&nbsp;<br />
Ketiga  inti  ajaran   ini   tercermin   dengan   jelas   atau<br />
dilambangkan  dalam  praktek-praktek ibadah haji ajaran Islam.<br />
Tulisan  ini  akan  menitikberatkan  uraian  menyangkut  butir<br />
ketiga,  walau  pun  disadari, keyakinan tentang keesaan Tuhan<br />
dan ketundukan semua makhluk di bawah  pengawasan,  pengaturan<br />
dan pemeliharaan-Nya, mengantar makhluk ini, khususnya manusia<br />
menyadari bahwa mereka semua sama dalam ketundukan pada Tuhan,<br />
manusia  dalam  pandangan al-Qur`an, sama dari segi ini dengan<br />
makhluk-makhluk  lain,  karena  walau  pun  manusia   memiliki<br />
kemampuan  menggunakan  makhluk-makhluk  lain, namun kemampuan<br />
tersebut bukan bersumber dari dirinya, tapi akibat  penundukan<br />
Tuhan dan karena itu ia tak dibenarkan berlaku sewenang-wenang<br />
terhadapnya, tapi berkewajiban bersikap bersahabat dengannya.<br />
&nbsp;<br />
Keyakinan akan keesaan  Tuhan  juga  mengantar  manusia  untuk<br />
menyadari,  bahwa semua manusia dalam kedudukan yang sama dari<br />
segi nilai kemanusiaan, karena  semua  mereka  diciptakan  dan<br />
berada  di  bawah  kekuasaan  Allah  swt.  QS.  al-Hujurat  13<br />
menunjukkan betapa erat kaitan antara keyakinan  akan  keesaan<br />
Tuhan dengan persamaan nilai kemanusiaan.<br />
&nbsp;<br />
Ibadah  haji  dikumandangkan  Ibrahim  as.  sekitar 3600 tahun<br />
lalu. Sesudah masa  beliau,  praktek-prakteknya  sedikit  atau<br />
banyak  telah  mengalami  perubahan, namun kemudian diluruskan<br />
kembali oleh Muhammad saw. Salah satu hal yang diluruskan itu,<br />
adalah  praktek  ritual  yang  bertentangan dengan penghayatan<br />
nilai universal kemanusiaan haji. Al-Qur`an  Surah  al-Baqarah<br />
2:199,  menegur  sekelompok  manusia (yang dikenal dengan nama<br />
al-Hummas) yang merasa  diri  memiliki  keistimewaan  sehingga<br />
enggan  bersatu  dengan  orang  banyak  dalam melakukan wuquf.<br />
Mereka wukuf di Mudzdalifah sedang  orang  banyak  di  Arafah.<br />
Pemisahan  diri  yang  dilatarbelakangi  perasaan superioritas<br />
dicegah oleh al-Qur`an  dan  turunlah  ayat  tersebut  diatas.<br />
&quot;Bertolaklah  kamu  dari tempat bertolaknya orang-orang banyak<br />
dan  mohonlah  ampun  kepada  Allah  sesungguhnya  Allah  Maha<br />
Pengampun lagi Maha Penyayang.&quot;<br />
&nbsp;<br />
Tak jelas apakah praktek bergandengan tangan saat melaksanakan<br />
thawaf pada awal periode sejarah Islam, bersumber dari  ajaran<br />
Ibrahim   dalam   rangka   mempererat  persaudaraan  dan  rasa<br />
persamaan. Namun yang pasti  Nabi  saw  membatalkannya,  bukan<br />
dengan tujuan membatalkan persaudaraan dan persamaan itu, tapi<br />
karena alasan-alasan praktis pelaksanaan thawaf.<br />
&nbsp;<br />
Salah satu bukti yang jelas tentang  keterkaitan  ibadah  haji<br />
dengan  nilai-nilai  kemanusiaan  adalah  isi khutbah Nabi saw<br />
pada haji wada` (haji  perpisahan)  yang  intinya  menekankan:<br />
Persamaan;  keharusan  memelihara  jiwa,  harta dan kehormatan<br />
orang lain; dan larangan melakukan penindasan  atau  pemerasan<br />
terhadap kaum lemah baik di bidang ekonomi maupun fisik.<br />
&nbsp;<br />
Pengamalan Nilai-nilai Kemanusiaan Universal<br />
&nbsp;<br />
Makna  kemanusiaan  dan  pengalaman  nilai-nilainya  tak hanya<br />
terbatas pada persamaan nilai antar perseorangan  dengan  yang<br />
lain, tapi mengandung makna yang jauh lebih dalam dari sekedar<br />
persamaan tersebut. Ia mencakup seperangkat nilai-nilai  luhur<br />
yang   seharusnya  menghiasi  jiwa  pemiliknya.  Bermula  dari<br />
kesadaran  akan  fitrah  atau  jati  dirinya  serta  keharusan<br />
menyesuaikan  diri dengan tujuan kehadiran di pentas bumi ini.<br />
Kemanusiaan mengantar putra-putri  Adam  menyadari  arah  yang<br />
dituju  serta  perjuangan  mencapainya. Kemanusiaan menjadikan<br />
makhluk  ini  memiliki  moral  serta   berkemampuan   memimpin<br />
makhluk-makhluk  lain  mencapai tujuan penciptaan. Kemanusiaan<br />
mengantarnya menyadari bahwa ia  adalah  makhluk  dwi  dimensi<br />
yang harus melanjutkan evolusinya hingga mencapai titik akhir.<br />
Kemanusiaan mengantarnya sadar bahwa ia adalah makhluk  sosial<br />
yang  tak  dapat  hidup  sendirian  dan harus bertenggang rasa<br />
dalam berinteraksi.<br />
&nbsp;<br />
Makna-makna tersebut  dipraktekkan  dalam  pelaksanaan  ibadah<br />
haji,  dalam  acara-acara  ritual,  atau  dalam  tuntunan  non<br />
ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, dalam  bentuk<br />
nyata  atau  simbolik  dan  kesemuanya pada akhirnya mengantar<br />
jemaah haji hidup dengan pengamalan dan pengalaman kemanusiaan<br />
universal. Berikut ini dikemukakan secara sepintas beberapa di<br />
antaranya.<br />
&nbsp;<br />
Pertama, ibadah haji dimulai dengan niat  sambil  menanggalkan<br />
pakaian   biasa   dan  mengenakan  pakaian  ihram.  Tak  dapat<br />
disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya dan juga  menurut<br />
al-Qur`an  berfungsi  sebagai  pembeda  antara  seseorang atau<br />
sekelompok dengan lainnya. Pembedaan tersebut dapat  mengantar<br />
kepada  perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian<br />
juga dapat memberi pengaruh  psikologis  pada  pemakainya.  Di<br />
Miqat  Makany  di  tempat  dimana  ritual ibadah haji dimulai,<br />
perbedaan dan pembedaan  tersebut  harus  ditanggalkan.  Semua<br />
harus  memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis<br />
dari pakaian harus ditanggalkan,  hingga  semua  merasa  dalam<br />
satu  kesatuan  dan  persamaan.  &quot;Di Miqat ini ada pun ras dan<br />
sukumu lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan  sehari-hari<br />
sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan),<br />
tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan<br />
tipu   daya),  atau  domba  (yang  melambangkan  penghambaan).<br />
Tinggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai  manusia<br />
yang sesungguhnya. [2]<br />
&nbsp;<br />
Di   Miqat   dengan  mengenakan  dua  helai  pakaian  berwarna<br />
putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuhnya ketika ia<br />
mengakhiri   perjalanan  hidup  di  dunia  ini,  seorang  yang<br />
melaksanakan ibadah  haji  akan  atau  seharusnya  dipengaruhi<br />
jiwanya  oleh  pakaian  ini. Seharusnya ia merasakan kelemahan<br />
dan  keterbatasannya,  serta  pertanggungjawaban   yang   akan<br />
ditunaikannya  kelak  di  hadapan  Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang<br />
disisi-Nya tiada perbedaan antara seseorang dengan yang  lain,<br />
kecuali atas dasar pengabdian kepada-Nya.<br />
&nbsp;<br />
Kedua,   dengan  dikenakannya  pakaian  ihram,  maka  sejumlah<br />
larangan harus diindahkan oleh  pelaku  ibadah  haji.  Seperti<br />
jangan menyakiti binatang, jangan membunuh, jangan menumpahkan<br />
darah, jangan  mencabut  pepohonan.  Mengapa?  Karena  manusia<br />
berfungsi memelihara makhluk-makhluk Tuhan itu, dan memberinya<br />
kesempatan  seluas  mungkin  mencapai  tujuan   penciptaannya.<br />
Dilarang  juga menggunakan wangi-wangian, bercumbu atau kawin,<br />
dan berhias supaya setiap haji menyadari bahwa  manusia  bukan<br />
hanya  materi  semata-mata  bukan  pula  birahi.  Hiasan  yang<br />
dinilai Tuhan adalah hiasan rohani. Dilarang pula  menggunting<br />
rambut,  kuku, supaya masing-masing menyadari jati dirinya dan<br />
menghadap pada Tuhan sebagaimana apa adanya.<br />
&nbsp;<br />
Ketiga, Ka`bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang  amat<br />
berharga  dari  segi  kemanusiaan.  Di  sana misalnya ada Hijr<br />
Ismail yang arti harfiahnya pangkuan Ismail. Di sanalah Ismail<br />
putra  Ibrahim,  pembangun  Ka`bah  ini  pernah  berada  dalan<br />
pangkuan Ibunya yang  bernama  Hajar,  seorang  wanita  hitam,<br />
miskin  bahkan budak, yang konon kuburannya pun di tempat itu,<br />
namun demikian budak wanita ini ditempatkan Tuhan di sana atau<br />
peninggalannya diabadikan Tuhan, untuk menjadi pelajaran bahwa<br />
Allah swt  memberi  kedudukan  untuk  seseorang  bukan  karena<br />
keturunan  atau  status  sosialnya,  tapi  karena kedekatannya<br />
kepada  Allah  swt  dan  usahanya  untuk  menjadi  hajar  atau<br />
berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan<br />
menuju peradaban.<br />
&nbsp;<br />
Keempat, setelah  selesai  melakukan  thawaf  yang  menjadikan<br />
pelakunya  larut  dan  berbaur  bersama  manusia-manusia lain,<br />
serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan  yang  sama<br />
yakni  berada dalam lingkungan Allah swt dilakukanlah sa`i. Di<br />
sini  muncul  lagi  Hajar,   budak   wanita   bersahaja   yang<br />
diperistrikan  Nabi  Ibrahim  itu,  diperagakan  pengalamannya<br />
mencari  air  untuk  putranya.  Keyakinan  wanita   ini   akan<br />
kebesaran  dan  kemahakuasaan Allah sedemikian kokoh, terbukti<br />
jauh sebelum peristiwa pencaharian  ini,  ketika  ia  bersedia<br />
ditinggal  (Ibrahim)  bersama  anaknya  di  suatu  lembah yang<br />
tandus,  keyakinannya  yang  begitu  dalam  tak  menjadikannya<br />
samasekali  berpangku  tangan  menunggu  turunnya  hujan  dari<br />
langit,   tapi   ia   berusaha   dan   berusaha   berkali-kali<br />
mondar-mandir  demi  mencari kehidupan. Hajar memulai usahanya<br />
dari bukit Shafa yang arti  harfiahnya  adalah  &quot;kesucian  dan<br />
ketegaran&quot;  [3]  --sebagai  lambang  bahwa  mencapai kehidupan<br />
harus  dengan  usaha  yang   dimulai   dengan   kesucian   dan<br />
ketegaran--   dan  berakhir  di  Marwah  yang  berarti  &quot;ideal<br />
manusia, sikap menghargai, bermurah hati dan  memaafkan  orang<br />
lain&quot; [4].<br />
&nbsp;<br />
Adakah  makna  yang  lebih  agung  berkaitan dengan pengamalan<br />
kemanusiaan   dalam   mencari   kehidupan   duniawi   melebihi<br />
makna-makna   yang   digambarkan   di   atas?   Kalau   thawaf<br />
menggambarkan larutnya dan meleburnya  manusia  dalam  hadirat<br />
Ilahi,  atau  dalam  istilah  kaum sufi al-fana` fi Allah maka<br />
sai` menggambarkan usaha  manusia  mencari  hidup  --yang  ini<br />
dilakukan  begitu  selesai  thawaf--  yang  melambangkan bahwa<br />
kehidupan dunia  dan  akhirat  merupakan  suatu  kesatuan  dan<br />
keterpaduan.  Maka  dengan  thawaf  disadarilah  tujuan  hidup<br />
manusia.   Setengah   kesadaran   itu   dimulai   sa`i    yang<br />
menggambarkan,   tugas   manusia  adalah  berupaya  semaksimal<br />
mungkin.  Hasil  usaha  pasti  akan  diperoleh  baik   melalui<br />
usahanya  maupun  melalui anugerah Tuhan, seperti yang dialami<br />
Hajar bersama putranya Ismail dengan ditemukannya  air  Zamzam<br />
itu.<br />
&nbsp;<br />
Kelima,  di  Arafah, padang yang luas lagi gersang itu seluruh<br />
jamaah  wuquf  (berhenti)  sampai  terbenamnya  matahari.   Di<br />
sanalah   mereka  seharusnya  menemukan  ma`rifat  pengetahuan<br />
sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya,  serta<br />
di  sana  pula  ia  menyadari  langkah-langkahnya  selama ini,<br />
sebagaimana ia menyadari pula betapa  besar  dan  agung  Tuhan<br />
yang   kepadaNya   bersimpuh   seluruh   makhluk,  sebagaimana<br />
diperagakan    secara    miniatur    di    padang    tersebut.<br />
Kesadaran-kesadaran  itulah  yang  mengantarkannya  di  padang<br />
`arafah  untuk  menjadi  `arif  atau  sadar  dan   mengetahui.<br />
Kearifan  apabila  telah  menghias  seseorang, maka Anda akan,<br />
menurut Ibnu  Sina,  &quot;Selalu  gembira,  senyum,  betapa  tidak<br />
senang  hatinya  telah  gembira  sejak ia mengenal-Nya, ... di<br />
mana-mana ia melihat satu saja, ...  melihat  Yang  Maha  Suci<br />
itu,  semua  makhluk  di  pandangnya sama (karena memang semua<br />
sama, ... sama membutuhkan-Nya). Ia tak akan mengintip-ngintip<br />
kelemahan  atau  mencari-cari  kesalahan  orang, ia tidak akan<br />
cepat tersinggung walau melihat yang mungkar sekalipun  karena<br />
jiwanya selalu diliputi rahmat dan kasih sayang.<br />
&nbsp;<br />
Keenam,  dari  Arafah  para jamaah ke Mudzdalifah mengumpulkan<br />
senjata  menghadapi  musuh   utama   yaitu   setan,   kemudian<br />
melanjutkan perjalanan ke Mina dan di sanalah para Jamaah haji<br />
melampiaskan  kebencian  dan  kemarahan  mereka  masing-masing<br />
terhadap   musuh  yang  selama  ini  menjadi  penyebab  segala<br />
kegetiran yang dialaminya.<br />
&nbsp;<br />
Demikianlah ibadah haji merupakan kumpulan simbol-simbol  yang<br />
sangat  indah,  apabila dihayati dan diamalkan secara baik dan<br />
benar, maka pasti akan  mengantarkan  setiap  pelakunya  dalam<br />
lingkungan  kemanusiaan  yang  benar  sebagaimana  dikehendaki<br />
Allah.<br />
<br />
<br />
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Ada Apa Dibalik Pernikahan (AADP)</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/16/artikel-16.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/16/artikel-16.html</comments>
   			  <pubDate>Fri, 28 Nov 2008 14:03:50 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - NN</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/16/artikel-16.html</guid>
			  <description>Nikah. Untuk satu kata ini, banyak pandangan sekaligus komentar yang berkaitan dengannya. Bahkan sehari-hari pun, sedikit atau banyak, tentu pembicaraan kita akan bersinggungan dengan hal yang satu ini. Tak terlalu banyak beda, apakah di majelisnya para lelaki, pun di majelisnya wanita. Sedikit diantara komentar yang bisa kita dengar dari suara-suara di sekitar, diantaranya  [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <br />
Nikah. Untuk satu kata ini, banyak pandangan sekaligus komentar yang berkaitan dengannya. Bahkan sehari-hari pun, sedikit atau banyak, tentu pembicaraan kita akan bersinggungan dengan hal yang satu ini. Tak terlalu banyak beda, apakah di majelisnya para lelaki, pun di majelisnya wanita. Sedikit diantara komentar yang bisa kita dengar dari suara-suara di sekitar, diantaranya ada yang agak sinis, yang lain merasa keberatan, menyepelekan, atau cuek-cuek saja.<br />
<br />
Mereka yang menyepelekan nikah, bilang &quot;Apa tidak ada alternatif yang lain selain nikah ?&quot;, atau &quot;Apa untungnya nikah?&quot;.<br />
Bagi yang merasa berat pun berkomentar &quot;Kalau sudah nikah, kita akan terikat alias tidak bebas&quot;, semakna dengan itu &quot;Nikah ! Jelasnya bikin repot, apalagi kalau sudah punya anak&quot;.<br />
Yang lumayan banyak `penggemarnya` adalah yang mengatakan &quot;Saya pingin meniti karier terlebih dahulu, nikah bagi saya itu gampang kok&quot;.<br />
Terakhir, para orang tua pun turut memberi nasihat untuk anak-anaknya &quot;Kamu nggak usah buru-buru menikah, cari duit dulu yang banyak&quot;.<br />
<br />
Ironisnya bersamaan dengan banyak orang yang `enggan` nikah, ternyata angka perzinaan atau `kecelakaan&quot; semakin meninggi! Itu beberapa pandangan orang tentang pernikahan. Tentu saja tidak semua orang berpandangan seperti itu. Sebagai seorang muslim tentu kita akan berupaya menimbang segalanya sesuai dengan kaca mata islam. Apa yang dikatakan baik oleh syariat kita, pastinya baik bagi kita. Sebaliknya, bila islam bilang sesuatu itu jelek pasti jelek bagi kita. Karena pembuat syariat, yaitu Allah adalah yang menciptakan kita, yang tentu saja lebih tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita.<br />
Persoalan yang mungkin muncul di tengah masyarakat kita sehingga timbul berbagai komentar seperti di atas, tak lepas dari kesalahpahaman atau ketidaktahuan seseorang tentang tujuan nikah itu sendiri.<br />
<br />
Nikah di dalam pandangan islam, memiliki kedudukan yang begitu agung. Ia bahkan merupakan sunnah (ajaran) para nabi dan rasul, seperti firman Allah :<br />
&quot;dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan&quot; (QS Ar-ra`d : 38)<br />
<br />
Sedikit memberikan gambaran kepada kita, nikah di dalam ajaran islam memiliki beberapa tujuan yang mulia, diantaranya :<br />
Nikah dimaksudkan untuk menjaga keturunan, mempertahankan kelangsungan generasi manusia. Tak hanya untuk memperbanyak generasi saja, namun tujuan dari adanya kelangsungan generasi tersebut adalah tetap tegaknya generasi yang akan membela syariat Allah, meninggikan dienul islam , memakmurkan alam dan memperbaiki bumi.&nbsp;<br />
Memelihara kehormatan diri, menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan, sekaligus menjaga kesucian diri.&nbsp;<br />
Mewujudkan maksud pernikahan yang lain, seperti menciptakann ketenangan, ketenteraman. Kita bisa menyaksikan begitu harmoninya perpaduan antara kekuatan laki-laki dan kelembutan seorang wanita yang diikat dengan tali pernikahan, sungguh merupakan perpaduan yang begitu sempurna.&nbsp;<br />
Pernikahan pun menjadi sebab kayanya seseorang, dan terangkatnya kemiskinannya. Nikah juga mengangkat wanita dan pria dari cengkeraman fitnah kepada kehidupan yang hakiki dan suci (terjaga). Diperoleh pula kesempurnaan pemenuhan kebutuhan biologis dengan jalan yang disyariatkan oleh Allah. Sebuah pernikahan, mewujudkan kesempurnaan kedua belah pihak dengan kekhususannya. Tumbuh dari sebuah pernikahan adanya sebuah ikatan yang dibangun di atas perasaan cinta dan kasih sayang.<br />
<br />
&quot;Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir&quot; (QS Ar Ruum : 21)<br />
<br />
Itulah beberapa tujuan mulia yang dikehendaki oleh Islam. Tentu saja tak keluar dari tujuan utama kehidupan yaitu beribadah kepada Allah.<br />
<br />
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Cerita dari Gunung</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/15/artikel-15.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/15/artikel-15.html</comments>
   			  <pubDate>Thu, 27 Nov 2008 12:56:20 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - BJ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/15/artikel-15.html</guid>
			  <description>seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. &quot;aduhh!&quot; jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, &quot;aduhh!&quot;. dasar anak-anak, ia berteriak lagi, &quot;hei! siapa kau?&quot; jawaban yang terdengar, &quot;hei! siapa kau?&quot; lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, &quot;pengecut kamu!&quot; lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa. ia bertanya kepada sang ayah, &quot;apa yang terjadi?&quot; dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, &quot;anakku, coba perhatikan.&quot; lelaki itu berkata keras, &quot;saya kagum padamu!&quot; suara di kejauhan menjawab, saya kagum padamu!&quot; sekali lagi sang ayah berteriak &quot;kamu sang juara!&quot; suara itu menjawab, &quot;kamu sang juara!&quot; sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. lalu sang ayah menjelaskan, &quot;suara itu adalah gema, tapi sesungguhnya itulah kehidupan.&quot;&nbsp;<br />
kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu. dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu.bila kamu menginginkan tim kerjamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.<br />
<br />
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Penyakit Hati</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/14/artikel-14.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/14/artikel-14.html</comments>
   			  <pubDate>Thu, 27 Nov 2008 12:52:12 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - noname</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/14/artikel-14.html</guid>
			  <description>Hati itu dapat hidup dan dapat mati, sehat dan sakit. Dalam hal ini, ia lebih penting dari pada tubuh.Allah berfirman, artinya:&quot;Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.&quot; (Al-An`am : 122)  [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Hati itu dapat hidup dan dapat mati, sehat dan sakit. Dalam hal ini, ia lebih penting dari pada tubuh.<br />
Allah berfirman, artinya:<br />
&quot;Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.&quot; (Al-An`am : 122)&nbsp;<br />
<br />
Artinya, ia mati karena kekufuran, lalu Kami hidupkan kembali dengan keimanan. Hati yang hidup dan sehat, apabila ditawari kebatilan dan hal-hal yang buruk, dengan tabi`at dasarnya ia pasti menghindar, membenci dan tidak akan menolehnya. Lain halnya dengan hati yang mati. Ia tak dapat membedakan yang baik dan yang buruk.&nbsp;<br />
<br />
Dua Bentuk Penyakit Hati:&nbsp;<br />
Penyakit hati itu ada dua macam: Penyakit syahwat dan penyakit syubhat. Keduanya tersebut dalam Al-Qur`an.<br />
Allah berfirman:<br />
&quot;Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melembut-lembutkan bicara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. &quot; (Al-Ahzab:32)<br />
Ini yang disebut penyakit syahwat.&nbsp;<br />
<br />
Allah juga berfirman, artinya:<br />
&quot;Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya...&quot;(Al-Baqarah : 10)<br />
Allah juga berfirman:<br />
&quot;Dan adapun orang yang didalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada).&quot; (At-Taubah : 125)&nbsp;<br />
<br />
Penyakit di sini adalah penyakit syubhat. Penyakit ini lebih parah daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat masih bisa diharapkan sembuh, bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh, kalau Allah tidak menanggulanginya dengan limpahan rahmat-Nya.&nbsp;<br />
<br />
Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui cara penyembuhan dan sebab-sebab (munculnya) penyakit tersebut. Bahkan terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati. Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil. &quot;Luka, tak akan dapat membuat sakit orang mati.&quot; Terkadang ia juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hatinya, berpengaruh semakin sulit dirinya menelan obat. Karena obatnya dengan melawan hawa nafsu. Itu hal yang paling berat bagi jiwanya. Namun baginya, tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat dari obat itu. Terkadang, ia memaksa dirinya untuk bersabar. Tapi kemudian tekadnya mengendor dan bisa meneruskannya lagi. Itu karena kelemahan ilmu, keyakinan dan ketabahan. Sebagai halnya orang yang memasuki jalan angker yang akhirnya akan membawa dia ke tempat yang aman. Ia sadar, kalau ia bersabar, rasa takut itu sirna dan berganti dengan rasa aman. Ia membutuhkan kesabaran dan keyakinan yang kuat, yang dengan itu ia mampu berjalan. Kalau kesabaran dan keyakinannya mengendor, ia akan balik mundur dan tidak mampu menahan kesulitan. Apalagi kalau tidak ada teman, dan takut sendirian.&nbsp;<br />
<br />
Menyembuhkan Penyakit Dengan Makanan Bergizi dan Obat:&nbsp;<br />
Gejala penyakit hati adalah, ketika ia menghindari makanan-makanan yang bermanfaat bagi hatinya, lalu menggantinya dengan makanan-makanan yang tak sehat bagi hatinya. Berpaling dari obat yang berguna, menggantinya dengan obat yang berbahaya. Sedangkan makanan yang paling berguna bagi hatinya adalah makanan iman. Obat yang paling manjur adalah Al-Qur`an masing-masing memiliki gizi dan obat. Barangsiapa yang mencari kesembuhan (penyakit hati) selain dari Al-kitab dan As-sunnah, maka ia adalah orang yang paling bodoh dan sesat.<br />
Sesungguhnya Allah berfirman:<br />
&quot;Katakanlah: &quot;Al-qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat jauh.&quot; (Fushshilat : 44)&nbsp;<br />
<br />
Al-qur`an adalah obat sempurna untuk segala penyakit tubuh dan hati, segala penyakit dunia dan akherat. Namun tak sembarangan orang mahir menggunakan Al-qur`an sebagai obat. Kalau si sakit mahir menggunakannya sebagai obat, ia letakkan pada bagian yang sakit, dengan penuh pembenaran, keimanan dan penerimaan, disertai dengan keyakinan yang kuat dan memenuhi syarat-syaratnya. Tak akan ada penyakit yang membandel. Bagaimana mungkin penyakit itu akan menentang firman Rabb langit dan bumi; yang apabila turun di atas gunung, gunung itu akan hancur, dan bila turun di bumi, bumi itu akan terbelah? Segala penyakit jasmani dan rohani, pasti terdapat dalam Al-qur`an cara memperoleh obatnya, sebab-sebab timbulnya dan cara penanggulangannya. Tentu bagi orang yang diberi kemampuan mamahami kitab-Nya.<br />
<br />
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Saat Bicara dan Saat Menahan Diri</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/13/artikel-13.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/13/artikel-13.html</comments>
   			  <pubDate>Sun, 29 Jun 2008 07:01:43 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - KH. Abdullah Gymnastiar</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/13/artikel-13.html</guid>
			  <description>Apa yang akan terjadi apabila orang yang sedang dilanda emosi kita debat atau lebih halus dari itu, kita nasihati? Alih-alih meredakannya, yang lebih mungkin terjadi adalah ibarat menyiramkan bensin ke api. Bukannya mereda, amarahnya malah akan semakin membara dan membakar segala-gala.Mengapa demikian? Orang yang sedang marah jelas cenderung tidak siap menerima nasihat atau mendengar pendapat yang berseberangan dengan apa-apa yang menjadi unek-uneknya. Mentalnya saat itu tentu lebih disiapkan untuk memuaskan segala yang sedang bergolak di dalam dadanya. [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <p class="hitam" align="justify">
<em>
&quot;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.&quot; (H.R. Bukhari-Muslim)</em>   
</p>
<p>
Apa
yang akan terjadi apabila orang yang sedang dilanda emosi kita debat
atau lebih halus dari itu, kita nasihati? Alih-alih meredakannya, yang
lebih mungkin terjadi adalah ibarat menyiramkan bensin ke api. Bukannya
mereda, amarahnya malah akan semakin membara dan membakar segala-gala.
</p>
<p>
Mengapa
demikian? Orang yang sedang marah jelas cenderung tidak siap menerima
nasihat atau mendengar pendapat yang berseberangan dengan apa-apa yang
menjadi unek-uneknya. Mentalnya saat itu tentu lebih disiapkan untuk
memuaskan segala yang sedang bergolak di dalam dadanya.
</p>
<p>
Adapun
tindakan yang paling pantas kita lakukan dalam keadaan demikian adalah
berusaha sekuat-kuatnya untuk menahan diri. Ya, kalaupun harus berucap,
maka ucapan seperti, &quot;Ya, saya maklum&quot; atau &quot;Saya dapat memahami
perasaan Anda&quot; akan jauh lebih maslahat dan dapat sangat efektif
meredakan emosinya ketimbang nasihat atau kata-kata kebenaran yang
salah pasang.
</p>
<p>
Dengan
demikian, dalam ikhtiar membermutukan lisan, setelah faktor keikhlasan
sebagai kata kunci utama (baca &quot;Lisan yang Bermutu&quot;), faktor tujuan dan
apa yang dikatakan harus sesuai kenyataan, sesungguhnya ada satu lagi
faktor yang jangan sekali-kali diabaikan, yakni waktu atau momentum
yang tepat. Artinya, kita harus pandai-pandai memilih dan memilah waktu
dan kondisi, sehingga sesuai dengan keadaan yang membutuhkannya. Pendek
kata, pilihlah kata-kata terbaik, waktu terbaik, dan tempat terbaik
agar kata-kata kita membawa hasil terbaik pula.
</p>
<p>
Ketahuilah,
sebelum berkata-kata, sesungguhnya kata-kata itu tawanan kita. Akan
tetapi, sesudah telontar dari lisan, justru kitalah yang ditawan oleh
kata-kata sendiri. Buktinya? Betapa banyak orang yang sengsara,
menanggung malu, terbebani batinnya, bahkan membuat nyawanya melayang
gara-gara kata-kata yang salah ucap, yang keluar dari mulutnya sendiri.
Begitu banyak contoh nyata dalam kejadian sehari-hari yang bisa
membuktikan semua ini.
</p>
<p>
Mungkin
suatu ketika kita baca di koran berita tentang beberapa pelajar SMA
yang terlibat pergaulan bebas dengan sesama teman sebayanya. Biasanya
mulut ini begitu gatal untuk segera berkomentar, &quot;Mareka sebenarnya
adalah korban-korban dari ketidakbecusan para orang tuanya dalam
mendidik anak-anaknya sendiri.&quot; Atau, kadang-kadang ketika berkumpul
bersama teman-teman, tidak bisa tidak, kita sering dengan sadar dan
bahkan dinikmati, terjebak dalam perbuatan ghibah,
mengumbar-umbar aib dan keburukan orang lain, teman, atau bahkan
beberapa sikap dan periaku orang tua sendiri yang dalam penilaian hawa
nafsu kita, tidak kita sukai.
</p>
<p>
Nah,
bila kita acap atau kerap kali senang menggelincirkan lisan ini ke
dalam perbuatan-perbuatan demikian, pertanyaan yang harus segera
diajukan terhadap diri sendiri adalah, mestikah saya berbicara?
Haruskah saya mengomentari masalah ini? Mengapa saya harus ikut-ikutan
memberikan penilaian, padahal kita mungkin tidak tahu permasalahan yang
sebenarnya?
</p>
<p>
Subhanallah!
Siapa pun yang ingin memiliki lisan yang bermutu serta kata-kata yang
mengandung kekuatan dahsyat untuk mengubah orang lain menjadi lebih
baik, satu hal yang harus direnungkan, yakni bahwa kekuatan terbesar
dari kata-kata kita adalah harus membuat orang senantiasa mendapatkan
manfaat dari apa pun yang kita ucapkan.
</p>
<p>
Kalau hanya bicara, padahal kita sendiri tidak tahu akan membawa manfaat atau tidak, sebaiknya diam saja. &quot;Falyaqul khairan aw liyaskut!&quot;
demikian sabda Rasulullah saw. Hendaklah berkata yang baik atau diam!
Berkata itu bagus dan boleh boleh saja, namun diam itu jauh lebih bagus
kalau toh kata-kata yang kita ucapkan akan tidak membawa manfaat.
</p>
<p>
Kalaupun
kita memandang perlu untuk berkata-kata-kata, sebaiknya berikan yang
terbaik kepada orang yang mendengarkannya, kata-kata yang paling indah,
paling tulus, paling bersih dari segala niat, dan motivasi yang tidak
lurus.
</p>
<p>
Karenanya,
usahakanlah kata-kata yang keluar dari lisan ini kita kemas sedemikian
rupa sehingga membawa manfaat dan maslahat baik bagi diri sendiri
maupun bagi jalan hidup serta tumbuhnya motivasi, kehendak, ataupun
tekad seseorang.
</p>
<p>
Hanya
empat hal dari kata-kata yang paling tinggi nilai dan mutu-nya, yang
seyogianya keluar dari lisan kita. Pertama, ketika mendapat karunia
nikmat, suruhlah lisan ini bersyukur kepada Allah. Kedua, ketika
ditimpa ditimpa musibah, segera suruh mulut ini untuk bersabar, inna lillaahi wa inna ilayhi raaji`uun.
Ketiga, ketika mendapat taufik dari Allah berupa kemampuan beribadah
yang lebih baik daripada yang bisa dilakukan orang lain, suruh mulut
ini berkata bahwa semua kemampuan ibadah kita adalah semata-mata berkat
karunia dari Allah Azza wa Jalla. Keempat, ketika kita tergelincir
berbuat dosa, lekas-lekas suruh lisan ini ber-istighfar memohon ampunan kepada Allah. Dan selebihnya adalah sikap hati-hati setiap kali lisan kita hendak berkata-kata.
</p>
<p>
Hendaknya
kita tidak membiarkan mulut ini sembarang berbunyi. Daripada berakibat
sengsara, lebih baik menahan diri. Sebab, jangankan menyampaikan
nasihat, bukankah untuk bertanya saja dalam ajaran Islam demikian
tinggi adabnya.
</p>
<p style="text-align: justify">
Misalnya,
terhadap seseorang yang kita tahu suka melaksanakan saum sunnah, kita
bertanya, &quot;Mas, Anda sedang saum?&quot; Padahal di sekelingnya sedang banyak
orang. Ini kan pertanyaan yang berat. Betapa tidak? Kalau
orang tersebut menjawab, &quot;Ya, saya saum&quot;, hatinya mungkin bisa
tergores-gores karena kekhawatirannya berbuat riya. Kalau ia menjawab
tidak saum, berarti dusta dan itu dosa sekaligus bisa menghilangkan
pahala saumnya. Kalau memilih diam saja, bisa-bisa dianggap sombong.
Demikian pula kalau hendak berdiplomasi saja, minimal ia akan kerepotan
untuk mencari kata-kata yang tepat. Ini berarti pertanyaan kita
membebani batin orang dan sekaligus mubazir.
</p>
<p>
Oleh
sebab itu, tidak heran kalau para ulama dan orang-orang yang saleh
serta berkedudukan di sisi Allah sangat hemat dengan kata-kata.
Kendati, mungkin ilmunya sangat luas, pemahamannya begitu dalam dan
jembar, hafal seluruh surat Alquran dan ribuan hadis Nabi, telah
menyusun berpuluh-puluh kitab yang monumental, ibadahnya begitu
dahsyat, sementara akhlaknya pun demikian cemerlang.
</p>
<p>
Semua
itu karena mereka sangat yakin bahwa kesia-siaan dalam berkata-kata
pastilah akan mengundang setan dan niscaya pula akan menyeretnya ke
dalam jurang neraka Saqar (Q.S. Mudatstsir: 45). 
</p>
<p>
Walhasil,
marilah kita tata lisan yang cuma satu-satunya ini. Percayalah, diam
itu emas. Orang yang sanggup memelihara lisannya akan lebih kuat
wibawanya daripada orang yang gemar menghambur-hamburkan kata-kata,
tetapi kosong makna. 
</p>
<p>
Berusahalah
senantiasa agar kata-kata yang kita ucapkan benar-benar bersih dari
penambahan-penambahan dan rekayasa yang tiada artinya. Ukurlah selalu,
di mana, kapan, dan dengan siapa kita berbicara agar setiap kata yang
terucap benar-benar bermutu dan tinggi maknanya.
</p>
<p>
Mudah-mudahan
Allah Yang Maha Menyaksikan segala-gala senantiasa menolong kita agar
selalu sadar bahwa rahasia kekuatan lisan yang bisa menggugah dan
mengubah orang lain itu, berawal dari hati yang tulus ikhlas. Tidak
rindu apa pun dari yang kita katakan, kecuali rindu kemuliaan bagi yang
mendengarkannya, rindu demi senantiasa mulia dan tegaknya agama Allah,
serta rindu agar segala yang kita ucapkan menjadi ladang amal saleh
untuk bekal kepulangan kita ke akhirat kelak. Insya Allah! 
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Mencari Makna Dari Banyaknya Musibah yang Melanda</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/3/artikel-3.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/3/artikel-3.html</comments>
   			  <pubDate>Sun, 29 Jun 2008 07:00:38 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid - Adi Sumaryadi</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/3/artikel-3.html</guid>
			  <description>Musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Namun, umumnya dipahami musibah selalu identik dengan kesusahan. Padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya musibah juga... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti
segala yang menimpa pada sesuatu baik berupa kesenangan maupun
kesusahan. Namun, umumnya dipahami musibah selalu identik dengan
kesusahan. Padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya musibah
juga. Dengan musibah, Allah SWT hendak menguji siapa yang paling baik
amalnya.<br />
<br />
`Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai
perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka,
siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.` (QS Al-Kahfi
(18): 7) Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama,
orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab
kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.<br />
<br />
Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa.
Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada
Allah SWT. Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang
peningkatan iman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang
serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan
bagi dirinya.<br />
<br />
Musibah yang ditimpakan kepada manusia ada dua macam. Pertama, musibah
dunia; dan kedua, musibah akhirat. Musibah dunia salah satunya ialah
ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT
jelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 155. `Dan pasti akan kami uji
kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan
harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi
orang-orang yang sabar.` Adapun musibah akhirat adalah orang yang
tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala.
Rasulullah SAW pernah bersabda, `Orang yang terkena musibah, bukanlah
seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu
yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.`<br />
<br />
Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi
dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia
tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.<br />
<br />
Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai
mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Karena, bukan
pahala yang ia peroleh, melainkan dosa.<br />
<br />
Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman,
`Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba-Ku yang
Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus
perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian
pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yang tersisa
dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai
Aku seperti bayi yang baru dilahirkan.`<br />
<br />
(Deni Rahman, Hikmah Republika )
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Pesankan Saya Tempat Di Neraka</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/8/artikel-8.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/8/artikel-8.html</comments>
   			  <pubDate>Sat, 28 Jun 2008 20:51:20 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/artikel/detail/2/8/artikel-8.html</guid>
			  <description>ORANG-ORANG Mesir sangat gandrung sama al-Quran. Kemanapun mereka pergi, mereka tidak lupa untuk membawa mushaf. Tidak heran bila hampir semua orang (apapun tugas, karir dan jabatannya) terlihat membaca Quran di sela-sela waktu senggang atau bada shalat. Begitu juga pemilik toko, penjaganya, [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ ORANG-ORANG Mesir sangat gandrung sama al-Quran. Kemanapun mereka
pergi, mereka tidak lupa untuk membawa mushaf. Tidak heran bila hampir
semua orang (apapun tugas, karir dan jabatannya) terlihat membaca Quran
di sela-sela waktu senggang atau bada shalat. Begitu juga pemilik
toko, penjaganya, para karyawan, satpam, sopir taksi, bos-bos kantoran,
selalu terlihat membaca al-Quran. Kalau tidak dibaca, Al-Quran mereka
letakkan dengan rapih di atas mejanya, atau ditenteng dan disimpan
dalam tas jika bepergian.<br />
<br />
Ayat al-Quran juga sering diperdengarkan dari rumah-rumah sederhana
hingga hotel berbintang lima, dari warung-warung kecil hingga shopping
center mewah, dari sarana transportasi butut hingga pesawat terbang.<br />
<br />
Nyaris di semua tempat selalu ada yang membaca al-Quran. Begitupun di
dalam taksi, mikrolet, bus kota, kereta api, tram kota, senantiasa para
pemuda, bapak-bapk dan kaum hawa senantiasa khusyu membaca Quran sambil
mengusir suara bising obrolan dan deru knalpot. <br />
<br />
Secara umum, ayat-ayat al-Quran yang &quot;distel&quot; di dalam kendaraan sangat
bempengaruhi &quot;karakteristik&quot; pendengarnya. Normalnya, para penumpang
malu untuk berbuat hal-hal yang tidak senonoh. <br />
<br />
Kendati begitu, tetap saja ada saja pemandangan yang di luar dugaan.
Misalnya, gara-gara ada copet akhirnya copot seluruh isi dompet. Atau
ada saja yang berbuat ricuh di dalam bus lantaran rebutan tempat duduk,
tak setuju tarif, perempuan disenggol laki-laki nakal, dsb. Sementara
pembaca al-Quran tetap anteng dan adem ayem. <br />
<br />
Pemandangan lain (yang di luar dugaan) juga terjadi di musim panas
tahun 2002, dalam perjalanan menuju Alexandria, kota pantai yang
bersejarah itu. Ada seorang gadis yang berpakaian sangat minim, bahkan
tipis dan tembus pandang. Semula dia tidak kebagian tempat duduk,
akhirnya berdiri, dan &quot;terlihat&quot; oleh semua penumpang (jangan lupa lho,
gadis-gadis Mesir kebanyakan montok-montok atawa berisi). Kebetulan
Seorang syekh mencoba mengingatkan, tapi tidak digubris. Selengkapnya
ditulis oleh kolumnis majalah Almannar (bukan Almannar yang dulu
dikelola syekh Muhammad Rasyid Ridho yang kemudian menulis tafsir
Almannar itu, melainkan Almannar Aljadid/neo-Almannar) berikut ini: <br />
<br />
***<br />
<br />
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah,
untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak
lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin,
dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab
memang memiliki multifungsi. <br />
<br />
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria;
di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak
untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan.
Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara
pakaian seperti itu mengundang perhatian kalau bisa dibahasakan
sebagai keprihatinan sosial. <br />
<br />
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya
mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu
yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut
juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara
agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.<br />
<br />
Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia
ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak
berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang! <br />
<br />
<em>&quot;Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!&quot;</em><br />
<br />
Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya
beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang
lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.<br />
<br />
Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat
kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu. <br />
<br />
Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir
mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun,
tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat
tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar. <br />
<br />
<em>&quot;Bangunkan saja!</em>&quot; kata seorang penumpang. <br />
<em>&quot;Iya, bangunkan saja!&quot;</em> teriak yang lainnya.<br />
<br />
Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming. <br />
<br />
Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya
mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar
posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi?
Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui
ajalnya dalam keadaan memesan neraka! <br />
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta
menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang
duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar
dengan linangan air mata.<br />
<br />
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan. <br />
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya.... <br />
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat... <br />
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk... <br />
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah... <br />
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya. <br />
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat. <br />
<br />
Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar... <br />
mumpung kesempatan itu masih ada!<br />
<br />
Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu alam.
 ]]></content:encoded>
			</item></channel></rss> 