Belajar Sabar Meluruskan Niat

Saudaraku, tentu kita meyakini sesungguhnya Allah tidak menerima amal kebaikan seseorang kecuali ia mengiringinya dengan niat yang lurus mengharapkan rida-Nya. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan, siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sehebat apa pun amal kebaikan seseorang, apabila niatnya salah maka sia-sia. Oleh karenanya, sebelum berbuat sesuatu, bersabarlah terlebih dahulu untuk meluruskan niat. Sebagai contoh, saat seseorang ingin menikah, hendaklah meluruskan niat terlebih dahulu, atas dasar dan dengan tujuan apakah dirinya menikah. Berniatlah menikah dalam rangka untuk beribadah kepada Allah SWT. Berniatlah menikah dengan tujuan agar semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Ketika seseorang ingin membeli ponsel baru karena alasan teman-temannya pun memiliki ponsel baru, apakah perlu membelinya hanya karena alasan ikut-ikutan, gengsi atau ingin terlihat gaul? Padahal ketika dia membeli sesuatu yang baru, sesungguhnya dia pun akan membutuhkan biaya pengeluaran yang lebih banyak lagi. Belum ditambah dengan biaya perawatannya.

Itu masih belum dihitung dengan resiko dosa yang disebabkan oleh riya` atau sombong atas kepemilikan barang tersebut. Jika seperti ini yang terjadi, maka itu namanya adalah “biaya tambah”, bukan “nilai tambah”. Barang baru yang dimiliki malah menjadi beban, bukan memberi manfaat.

Sungguh, amal perbuatan seperti ini adalah sia-sia. Bahkan, perbuatan semacam ini justru malah berbalik menjadi malapetaka dan dosa terhadap diri sendiri. Seperti sabda Rasulullah saw, “Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang aku takutkan akan menimpa kalian adalah Asy Syirkul Ashghar (syirik kecil).” Kemudian, para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan Asy Syirkul Ashghar?” Beliau pun menjawab, “Ar Riya’.” (HR. Ahmad).

Ketika seseorang sangat bernafsu ingin memiliki sesuatu barang baru, ia tidak menyadari bahwa menambah barang itu sebenarnya menambah masalah. Karena setiap barang, apalagi barang yang dinilai mewah dan mahal, itu harus diurus. Oleh karenanya, hal terpenting dari suatu barang adalah sesuai dengan keperluan dan kemampuan. Jika membeli barang hanya didasarkan pada keinginan, maka camkanlah bahwa sesungguhnya ‘keinginan’ itu tidak pernah lama. Hanya muncul sekilas kedipan mata, sebelum akhirnya menguap begitu saja. Lain hanya dengan ‘keperluan’ atau ‘kebutuhan’ yang akan langgeng dan tahan lama.

Apa gunanya memiliki barang-barang baru jika dampaknya hanya menimbulkan kegelisahan, keresahan, dan dosa belaka. Oleh karenanya, janganlah tergesa-gesa. Tahan dirilah dulu untuk bertanya tentang manfaat dan keperluan terhadap keinginan-keinginan seperti itu.

Ketika seseorang ingin menjadi pejabat, hendaknya ia bertanya kepada dirinya sendiri untuk apakah ia menjadi pejabat. Jangan sampai keinginan menjadi pejabat itu hanya dilatarbelakangi hasrat meraup kekayaan dengan jalan yang salah. Jangan sampai pula keinginan tersebut hanya dilatarbelakangi hasrat untuk bisa tampil lebih terhormat dibandingkan orang lain.

Sungguh, jabatan setinggi apa pun jika diniatkan dengan seperti itu, maka jabatan tersebut tidak berkah dan tidak memberi kebaikan apa pun. Apalagi, pertanggungjawaban terhadap orang yang diamanahi jabatan sangat berat jika pada kenyataannya ia mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadanya.

Jika niat hanya karena ambisi kekuasaan, sesungguhnya kekuasaan itu segera berakhir sekejap saja. Jika niat hanya karena harta kekayaan, sesungguhnya kekayaan itu tidak pernah dibawa mati. Jika niat hanya karena ingin popularitas, maka belum tentu kebaikannya yang tersebar dan diketahui orang banyak. Bisa jadi yang tersiar adalah aib dan keburukannya. Maka dari itu, luruskanlah niat.

Jika di antara kita ada yang bermaksud ingin jadi seorang pemimpin, maka niatkanlah hal itu sebagai pengabdian terhadap masyarakat, bangsa dan agama. Bukan untuk meraup harta kekayaan dan prestise yang jelas-jelas semu. Niatkanlah sebagai ibadah dan mintalah kepada Allah SWT agar Ia memberikan jalan terbaik yang memang sesuai dengan kapasitas kita. Karena bila niat salah maka perbuatan pun akan turut salah.

Niat yang lurus adalah niat atau kesadaran di dalam hati untuk mengerjakan sesuatu hal dengan dilatarbelakangi harapan atau keinginan untuk mendapatkan rida dan pahala dari Allah. Bukan dilatarbelakangi karena mendambakan sanjungan atau pujian dari sesama manusia. Karena, seperti sudah disinggung sebelumnya, amal perbuatan sebagus apa pun jika dimaksudkan untuk mendapat sanjungan atau pujian dari orang lain, maka akan sia-sia belaka.

Jika pun seseorang melakukan suatu perbuatan dengan sangat baik dan mendapat pujian sesuai dengan harapannya, maka yang ia dapatkan itu hanyalah sebatas pujian semata. Sementara pujian dan penghargaan manusia itu semu belaka. Hanya sementara dan sebentar saja sebelum akhirnya berlalu dan terlupakan begitu saja.

Oleh karenanya, tentang seseorang yang berbuat sesuatu hal hanya berharap penghargaan manusia, Allah SWT berfirman, “…barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran [3]: 145)

Saudaraku, apakah pujian atau penghargaan dari manusia itu salah? Tentu tidak. Apa yang salah adalah penyikapan kita terhadap pujian dan penghargaan itu. Salah yaitu ketika kita terbuai dan terlena oleh pujian manusia, kemudian lupa pada Dzat Yang Maha Terpuji dan Pemilik segala pujian, yaitu Allah. Keliru jika kita berpikir prestasi yang kita raih hanyalah karena kemampuan dan kepandaian diri sendiri, tanpa kehendak dari Allah SWT.

Jika kita sudah meniatkan suatu perbuatan demi meraih rida Allah, kemudian rupanya perbuatan kita itu mendapatkan apresiasi dari manusia, maka apresiasi itu hanyalah bonus. Segera kembalikan apresiasi tersebut kepada Allah. Sadari bahwa apresiasi itu hakikatnya datang dari Allah dan tetap milik-Nya. Tetaplah mawas diri untuk selalu rendah hati. Tetaplah kokohkan hati untuk bersandar terus kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Terpuji.

Tentang dahsyatnya kekuatan niat ini, kita tentu tidak asing lagi dengan satu kisah tentang perempuan tuna susila yang diganjar ampunan dosa karena tulus memberi minum seekor anjing yang sangat kehausan. Kisah ini bahkan diriwayatkan dalam hadis shahih. Rasulullah bersabda, “Telah diampuni seorang perempuan pezina yang lewat di depan anjing yang tengah menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, ‘Anjing ini hampir mati kehausan.’ Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya anjing itu minum. Maka, diampuni perempuan itu karena memberi minum.” (HR. Bukhari)

Apa yang harus kita lakukan setelah berniat mengharap rida Allah SWT? Hal selanjutnya adalah menjaga niat kita agar tetap lurus. Ini adalah hal yang tidak mudah. Seperti halnya dalam berbagai urusan, memulai sesuatu hal itu selalu lebih mudah dibandingkan dengan menjaganya. Demikian pula dalam berniat. Tidak jarang kita mengalami pembelokan niat di tengah jalan, meskipun kita sudah berniat lurus di permulaan.

Dalam proses menjaga niat inilah perlunya kesabaran. Karena, sedikit saja kesabaran itu luput dari diri kita, maka kita sudah berbelok dari jalan yang lurus. Menjaga niat bukanlah hal yang mudah. Sehingga wajar, Allah memberikan ganjaran yang tidak terhitung banyaknya kepada siapa saja yang bisa bersabar di dalam menjaga niat kebaikannya. Allah berfirman,  “…Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu, akan disempurnakan pahalanya dengan tiada terhitung”. (QS. az-Zumar [39]: 10)

Niat yang baik bahkan sudah dicatat sebagai satu kebaikan meskipun niat tersebut belum sempat dilaksanakan. Bila dilaksanakan maka ganjarannya jauh lebih besar lagi. Penjelasan lebih rinci tentang hal ini terabadikan di dalam salah satu hadis Rasulullah. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut: Siapa yang berniat melaksanakan kebaikan kemudian dia tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.“(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga kita bisa menjadi insan yang memiliki kesabaran dalam menjaga niat. Agar setiap apa yang kita lakukan, setiap langkah yang kita gerakkan, bernilai ibadah di sisi Allah SWT. (KH. Abdullah Gymnastiar)

sumber foto: sabilulilmi.wordpress.com