Berita
Ustaz Roni: Rasulullah Itu Pemimpin Pemersatu Umat

Ustaz Roni: Rasulullah Itu Pemimpin Pemersatu Umat
Sebelum Rasulullah menerima wahyu, beliau tidak memiliki musuh, dan sangat dihargai oleh bangsa Arab. Puncak karirnya ketika usia 35 tahun, saat peristiwa Ka’bah yang hampir roboh terkena banjir.

Gerimis dan udara yang dingin pada Selasa (10/10) malam, tidak menyurutkan semangat jamaah untuk menyimak Kajian Siroh Nabawiyah yang disampaikan Ustaz Roni Abdul Fattah. Hal itu terlihat dari padatnya jamaah yang menyimak di lantai utama, hingga lantai tiga Masjid Daarut Tauhiid (DT).
 
“Alhamdulillah malam hari ini Allah SWT pertemukan kita di Masjid DT tercinta dalam Kajian Siroh Nabawiyah. Mudah-mudahan majelis ini diberkahi oleh Allah. Mudah-mudahan duduknya kita di sini dicatat sebagai amal saleh yang akan memberatkan timbangan amal kebaikan kita di akhirat nanti,” tutur Ustaz Roni mengawali tausiahnya.
 
Tema kajian yang disampaikan Ustaz Roni adalah ‘Di bawah Naungan Wahyu’. Ia pun kemudian menceritakan proses Nabi Muhammad saw yang dipilih Allah menerima wahyu pada usia 40 tahun.

Menurutnya, turunnya wahyu dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril merupakan jawaban atas kegelisahan Rasulullah saw terhadap kondisi masyarakat Arab saat itu. Ustaz Roni juga mengungkapkan, sebelum Rasulullah menerima wahyu, beliau tidak memiliki musuh, dan sangat dihargai oleh bangsa Arab.

“Indikator kesuksesan seseorang adalah harta, tahta, citra atau nama baik, dan keluarga. Nah, Rasulullah saw memiliki itu semua. Puncak karir beliau ketika usia 35 tahun, saat peristiwa Ka’bah yang hampir roboh terkena banjir,” ungkapnya.
 
Ustaz Roni kemudian menceritakan betapa antusiasnya suku-suku dari bangsa Arab untuk merenovasi Ka’bah. Namun, mereka juga tidak mau gegabah, karena masih lekat dalam ingatan mereka peristiwa binasanya pasukan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah.

Setelah berunding, al-Walid, salah seorang pemuka kaum Quraisy mencoba mengawali renovasi dengan menghantamkan kapak ke salah satu bagian bangunan Ka’bah. “Satu kali hantaman, tidak terjadi apa-apa. Oh, berarti Allah meridai renovasi Ka’bah ini,” kata Ustaz Roni.

Arsitek Ka’bah waktu itu adalah Baqum, Orang Romawi yang sering datang ke Makkah. Tiba saatnya peletakkan Hajar Aswad. Semua bani (suku) merasa berhak untuk memindahkan Hajar Aswad tersebut ke tempat semula.

“Setiap kepala bani (suku), berdebat merasa paling berhak meletakkan Hajar Aswad. Perdebatan itu tidak beres-beres. Hampir saja peperangan terjadi. Mudah sekali saling bunuh. Dan, kalau sudah saling bunuh, diwariskan tujuh turunan dendamnya itu,” ujarnya.
 
Ustaz Roni lalu melanjutkan kisahnya, “Akhirnya Ibnu Umayyah berkata, begini saja kita cari penengah yang akan menyelesaikan masalah ini. Kita lihat besok siapa yang paling dulu masuk ke Masjidil Haram, maka dia yang berhak memutuskan perkara ini. Oke, akhirnya semua setuju,” paparnya.  
 
Allah takdirkan keesokan harinya yang masuk pintu Bani Shayyibah ke Masjidil Haram adalah Muhammad saw. Dan, ketika Rasulullah masuk, semua menyampaikan kalimat yang sama. “Ini Muhammad, ini al-Amin, kalau Muhammad, kami rida. Ayo panggil Muhammad, biar dia yang menyelesaikan perkara ini,” katanya.

Rasulullah saw memahami permasalahan tersebut, kemudian membawa Hajar Aswad ke kain yang telah dibentangkan olehnya. Rasulullah meminta masing-masing pemimpin bani (suku) untuk memegang ujung kain, dan sama-sama menyimpan Hajar Aswad ke tempat semuala.

Semua bani merasa puas dengan solusi yang diberikan Rasulullah. Maka, beliau pun diangkat menjadi pemimpin bangsa Arab, menggantikan Abu Thalib, pamannya.

“Pemimpin umat haruslah sosok yang luar biasa. Kita butuh sosok pemimpin yang dapat menyatukan umat. Termasuk ulama. Tidak akan beres permasalahan umat kalau setiap dai mengajarkan fanatik kepada kelompoknya saja. Selama masih ahlus-sunnah wal jama'ah, tidak sesat seperti syiah dan lain-lain, seharusnya kita bersatu,” jelasnya.
 
Terakhir, Ustaz Roni menegaskan peristiwa pemindahan Hajar Aswad adalah satu karya besar Rasulullah. Menyatukan kabilah-kabilah yang hampir berperang. “Kita butuh sosok seperti itu, sosok yang memahami perbedaan, dan semangat ingin menyatukan umat Islam,” pungkasnya. 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Berita Lainnya
Jamaah DT Cintai Kajian Siroh Nabawiyah
Jamaah DT Cintai Kajian Siroh Nabawiyah
Kamis, 12 Oktober 2017
Pemateri yang menyampaikan Kajian Siroh Nabawiyah adalah Ustaz Roni Abdul Fattah. Cara penyampaiannya yang jelas, tidak bertele-tele, dan mudah dipahami oleh jamaah, membuat kajian tersebut semakin diminati.
Sepeda dan Cita-Cita
Sepeda dan Cita-Cita
Rabu, 11 Oktober 2017
Sri hanyalah anak pantai yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Jangankan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bisa makan dan sekolah hingga SMP pun sudah sangat bersyukur.
Kajian Ba’da Magrib Sangat Diminati Jamaah
Kajian Ba’da Magrib Sangat Diminati Jamaah
Rabu, 11 Oktober 2017
Halimah, salah seorang jamaah asal Pasteur, menuturkan materi-materi kajian yang diberikan di Masjid DT, mudah dimengerti dan bermanfaat bagi keseharian.
Ustaz Mardais al-Hilali: Inilah Amal Pengantar Masuk Surga
Ustaz Mardais al-Hilali: Inilah Amal Pengantar Masuk Surga
Rabu, 11 Oktober 2017
Pada Kajian Ba’da Magrib di lantai utama Masjid Daarut Tauhiid DT, Ustaz Mardais membahas amalan yang mengantarkan seseorang masuk surga.