Dengki Biangnya Penyakit Hati

Abul Laits meriwayatkan dengan sanandnya dari Anas bin Malik ra berkata, “Saya telah menjadi pelayan Nabi Muhammad saw sejak berumur delapan tahun dan pertama yang diajarkan Nabi Muhammad kepadaku: “Ya Anas, tetapkan wudukmu untuk salat supaya dicinta oleh Malaikat yang menjagamu, dan ditambah umurmu. Ya Anas, mandilah dari janabat dan sempurnakan di dalam mandi itu sebab di bawah tiap helai rambut ada janabat.” Saya bertanya: “Bagaimana menyempurnakannya?” Jawab Nabi Muhammad saw, “Puaskan sampai kedalam rambut-rambutmu dan bersihkan benar kulitmu, supaya engkau keluar dari tempat mandi sudah diampunkan dosa-dosamu. Ya Anas, jangan engkau tinggalkan salat dhuha sebab itu sembahyangnya orang-orang awwaabiin (yang taubat kembali kepada Allah SWT) dan perbanyakkan salat malam dan siang sebab selama engkau salat maka Malaikat mendoakan untukmu.”

“Hai Anas, jika engkau berdiri salat maka tegakkan dirimu dihadapan Allah dan jika rukuk maka letakkan kedua tapak tangan dilututmu dan renggangkan jari-jarimu dan renggangkan kedua lenganmu dari pinggangmu, dan bila bangun dari rukuk maka tegakkan sehingga kembali semua anggota ditempatnya, dan jika sujud maka letakkan wajahmua ditanah dan jangan sebagai burung yang menyucuk makanan dan jangan kau hamparkan kedua lenganmu sebagaimana pelanduk, dan jika duduk di antara dua sujud maka jangan sebagaimana duduk anjing dan letakkan kedua bokongmu di antara dua kaki dan letakkan bahagian atas tapak kaki di tanah sebab Allah tidak melihat salat yang tidak sempurna rukuk sujudnya. Dan jika dapat engkau tetap berwuduk siang malam maka kerjakanlah, sebab jika tiba mati kepadamu engkau sedang berwuduk, maka engkau tidak luput dari mati syahid.”

“Hai Anas, jika engkau masuk kerumahmu maka berilah salam kepada keluargamu, supaya banyak berkat rumahmu dan jika engkau keluar untuk hajat maka beria salam pada tiap muslim yang bertemu kepadamu supaya masuk manisnya iman dalam hatimu, dan kila terkena dosa ketika keluar maka akan kembali sudah diampunkan dosamu.”

“Hai Anas, jangan sampai diwaktu siang dan malam engkau mendendam dengki kepada seorang muslim sebab itu dari ajaranku maka siapa yang mengikuti ajaranku bererti cinta kepadaku dan siapa yang cinta kepadaku maka ia bersamaku disurga. Hai Anas, jika engkau melakukan dan mengingati wasiatku ini, maka tidak ada sesuatu yang lebih suka daripada maut sebab disitulah istirahatmu.”

Pada akhir wasiat Rasulullah dalam kisah di atas, tersirat ungkapan Rasulullah agar kita terhindar dari rasa dengki. Dengki merupakan penyakit hati. Penyakit ini tergolong kronis dan berbahaya. Jika disejajarkan dengan penyakit fisik, mungkin dengki sejenis dengan penyakit jantung, paru-paru atau HIV/AIDS. Serangan penyakit itu bisa mematikan pelakunya. Siapapun kita bisa tertular oleh penyakit yang satu ini. Mengapa demikian? Karena dengki merupakan ‘biangnya’ penyakit hati. Dikatakan ‘biangnya’, karena penyakit ini dapat menularkan berbagai penyakit menahun lainnya seperti penyakit ghibah, buruk sangka, dan kebohongan.

Secara ringkas dengki artinya senang melihat orang lain susah. Susah melihat orang lain senang. Oleh karena itu, orang yang memiliki penyakit dengki hidupnya tak pernah tenang. Tak pernah gembira. Dan sering merasa kecewa. Karakter orang dengki selalu memikirkan kesalahan orang lain, aib orang lain, serta buruk sangka.

Sekuat tenaga kita harus berupaya menghindari penyakit yang satu ini, sebab penyakit ini memiliki indikasi. Pertama, dapat menghapuskan amalan baik. Setiap kita melaksanakan kebaikan, maka pada saat yang sama kita akan memperoleh pahala. Tetapi apabila kita memiliki penyakit dengki, amalan baik yang pernah kita lakukan akan terhapus gara-gara penyakit yang satu ini. Dari Alhasan ra. berkata Rasulullah bersabda,”Hasad dan dengki itu keduanya akan memakan habis kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar.”

Kedua,  menutup pintu kebaikan. Lazimnya orang yang memiliki penyakit dengki tidak pernah mau mengakui kebaikan orang lain. Dampaknya, yang bersangkutan selalu menutup rapat kebaikan apapun yang datang kepadanya, Apalagi jika kebaikan itu datangnya dari orang yang ia tidak sukai.

Padahal Rasulullah sudah mengingatkan. Ibrahim bin Aliyah dari Abbad bin Ishaq dari Abdurrahman bin Mu’awiyah berkata Rasulullah bersabda, “Tiga macam sifat yang tidak dapat selamat daripadanya seorangpun yaitu, buruk sangka, hasad dengki, takut sial karena sesuatu. Lalu ditanya Rasulullah, bagaimana untuk selamat dari semua itu? Jawab Rasulullah, Jika kamu hasad maka jangan kamu lanjutkan, dan jika menyangka maka jangan kamu buktikan (jangan kamu cari-cari kenyataannya) dan jika merasa takut dari sesuatu maka hadapilah (jangan mundur). Yakni jika hasad dalam hatimu maka jangan kamu lahirkan  dalam amal perbuatanmu sebab selama hasad itu masih dalam hati maka Allah  memaafkan selama belum keluar dengan lidah atau perbuatan. Jika suudhan (buruk sangka)  maka jangan kamu buktikan, jangan berusaha menyelidiki mencari kenyataannya. Demikian pula jika akan keluar untuk sesuatu lalu ada suara burung atau lain-lain yang menimbulkan was-was atau takut dalam hati maka teruskan hajatmu dan jangan mundur.”

Akhir kata, memahami gejala penyakit dengki dan segera mengobatinya merupakan langkah preventif agar kita terhindar dari  penyakit kronis dan berbahaya. Wallahu a’lam. (Encon Rahman)