Istiqlal, Masjid Kebanggaan dan Simbol Kerukunan Umat Beragama

Selain Monas (Monumen Nasional), ada satu lagi icon Kota Jakarta. Keberadaannya sangat populer. Tak hanya level nasional, tapi juga regional. Ya, Masjid Istiqlal merupakan masjid paling dikenal seantero Nusantara. Selain kemegahan arsitekturnya, masjid ini sarat nilai sejarah dan toleransi beragama yang layak dibanggakan.

Megah dan Menyejukkan

Menempati lahan seluas 93.200 meter persegi, membuat Istiqlal didaulat sebagai masjid terbesar tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Asia Tenggara. Saking luasnya, Masjid Istiqlal mampu menampung hingga 200.000 jamaah. Jumlah luar biasa untuk kapasitas bangunan tempat ibadah, termasuk tempat parkir yang menampung puluhan ribu kendaraan roda dua maupun roda empat.

Oleh karena itu, kesan megah adalah hal pertama yang muncul bagi siapa pun yang melihatnya. Apalagi masjid ini dibangun menggunakan 12 pilar berdiameter lebar serta tinggi menjulang. Kokoh menopang kubah utama masjid yang juga memiliki diameter luar biasa luas (45 meter). Istiqlal pun dibangun tidak hanya dengan satu atau dua lantai, tapi lima lantai yang membuat aura kemegahannya semakin terasa.

Selain megah, yang membuat istiqlal banyak diminati dan menjadi salah satu destinasi wisata religi nasional adalah keasriannya. Di sekitar masjid ditanami pepohonan yang dipadukan dengan taman dan kolam air mancur. Penataannya yang apik membuat rerimbunan pohon tersebut bagaikan hutan kota atau oase di tengah-tengah kegersangan ibukota yang didominasi ‘hutan beton’.

Semua kesan itu semakin terasa dengan kesemarakkan yang selalu menghiasi Istiqlal. Nyaris tiada hari tanpa dikunjungi umat muslim yang beribadah di tempat ini. Termasuk kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pengajian atau event-event yang bersifat nasional rutin digelar. Apalagi jika memasuki bulan Ramadan atau bulan puasa, Istiqlal jadi primadona berkumpulnya umat muslim seantero Jakarta. Untuk beribadah atau sekadar ngabuburit menunggu datangnya azan Magrib sebagai tanda berbuka puasa.

Bukan hanya rakyat biasa yang menjadikan Istiqlal sebagai pilihan pertama untuk dikunjungi, para pejabat teras bahkan setingkat presiden biasa mendatanginya. Tidak hanya itu, tamu-tamu negara pun sering memilih Istiqlal sebagai tempat tujuan selama mereka berada di Indonesia.

Sarat Nilai Histori dan Toleransi

Istiqlal tak hanya menyuguhkan kemegahan dan keasrian, tapi juga memiliki nilai histori yang berpilin erat dengan sejarah awal mula bangsa ini. Istiqlal dibangun atas prakarsa Ir. Soekarno, proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia (RI) pada tahun 1961.

Bapak bangsa tersebut menyambut ide dan aspirasi para ulana atau tokoh Islam saat itu. Ulama-ulama seperti Wahid Hasyim, Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan lain-lain menyatakan keinginan mereka untuk membangun masjid yang menjadi simbol kemerdekaan RI. Satu nama pun disepakati, yakni Istiglal. Kata ini diambil dari bahasa Arab yang berarti kemerdekaan.

Butuh waktu 17 tahun untuk membangun masjid kebanggaan bangsa Indonesia ini. Selain prosesnya yang cukup memakan waktu, ternyata ada fakta menarik di balik pembuatan Istiqlal. Salah satunya adalah fakta bahwa Masjid Istiqlal diarsiteki oleh Frederich Silaban, seorang arsitek berdarah Batak yang beragama Kristen. Ternyata, perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan kehormatan dan dipercaya sebagai arsitek Masjid Istiqlal.

Hal ini merupakan pesan toleransi beragama yang sangat jelas. Fakta lain yang semakin menegaskan kuatnya pesan toleransi dapat dilihat dari pemilihan lokasi tempat dibangunnya Masjid Istiqlal yang berseberangan dengan Gereja Katedral. Rumah ibadah bagi umat Kristiani dan merupakan salah satu bangunan cagar budaya karena dibangun pada awal abad ke-19.

Kiranya sangat tepat menjadikan Masjid Istiqlal sebagai destinasi wisata religi saat berada di Jakarta. Selain dapat menikmati kemegahan bangunan dan keasrian lingkungan di sekitarnya, pengunjung juga bisa merasakan kentalnya nilai historis dan rasa toleransi yang jadi ciri utama umat beragama di Nusantara. (daaruttauhiid)

sumber foto: wikimedia