Jadilah Pribadi Bermanfaat

tiada hati yang tersakiti karena ucapan dan perbuatannya. Sedapat mungkin ia senantiasa membantu orang lain sesuai kemampuannya, dan menghindarkan dirinya dari perbuatan yang bisa mengakibatkan kerusakan.
Saudaraku, dalam hidup ini kuncinya ada dua, yaitu kepada Allah kita menghamba, kepada umat kita berkhidmat. Berbahagialah bagi orang-orang yang senantiasa berikhtiar menjadikan dirinya menjadi manusia bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Karena demikianlah ciri-ciri dari sebaik-baiknya manusia.

Ibnu Umar meriwayatkan, pernah suatu ketika ada seorang laki-laki menemui Rasulullah Saw. Kemudian, laki-laki ini bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah, dan amal apakah yang paling dicintai Allah?”

Rasulullah lalu menjawab, “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat untuk manusia, dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam diri seorang muslim, atau engkau menghilangkan suatu kesulitan, atau engkau melunasi utang, atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan.

Dan, barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari Kiamat. Dan, barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

Ada sebuah ungkapan yang menarik dari saudara kita, Emha Ainun Najib mengenai klasifikasi manusia ditinjau dari segi kemanfaatannya bagi orang lain dan lingkungannya. Menurut beliau, manusia itu ada ‘manusia wajib’, ‘manusia sunah’, ‘manusia mubah’, ‘manusia makruh’ dan bahkan ada ‘manusia haram’. Bagaimana penjelasannya?

Manusia wajib adalah manusia yang kehadirannya selalu dirindukan, karena ketika dia ada maka orang-orang disekitarnya merasakan kemanfaatannya. Ketika ia tiada, maka orang-orang merasakan kehilangan. Mulia akhlaknya, tiada hati yang tersakiti karena ucapan dan perbuatannya. Sedapat mungkin ia senantiasa membantu orang lain sesuai kemampuannya, dan menghindarkan dirinya dari perbuatan yang bisa mengakibatkan kerusakan. Bahkan, ia pun menjauhi hal-hal yang sia-sia atau tiada berguna.

Pantang baginya berghibah, berbicara sesuatu yang tidak ia ketahui kebenarannya. Ia berhati-hati dalam bertutur kata. Mungkin pendidikannya tidak tinggi, tapi perbuatannya terpelihara dari sikap merendahkan atau menghina orang lain. Ia senantiasa berterima kasih dan membalas kebaikan orang lain kepadanya. Ia selalu antusias terlibat dalam urusan-urusan yang menjadi kepentingan lingkungannya.

Manusia sunah adalah manusia yang kehadirannya memberi manfaat, namun ketika ia tidak ada orang-orang tidak merasakan kehilangan. Boleh jadi hal ini disebabkan kesungguhannya dalam memberi manfaat belum secara tulus, karena ketulusan itu sebenarnya memiliki rasa dan bisa dirasakan. Hati hanya bisa disentuh oleh hati.

Manusia mubah adalah manusia yang kehadiran atau ketidakhadirannya tidak memberikan pengaruh apa pun bagi orang lain dan lingkungannya. Misalnya, seorang karyawan yang ia masuk atau pun tidak, sama sekali tidak berpengaruh pada perkembangan perusahaan. Manusia tipe ini tidak memberikan manfaat dan madharat, baik ia hadir maupun tidak.

Manusia makruh adalah manusia yang ketidakhadirannya tidak memberikan pengaruh apa-apa, namun kehadirannya justru menimbulkan masalah. Orang lain cenderung tidak suka jika dia datang. Boleh jadi karena ia sangat gemar membicarakan aib orang lain sehingga membuat risih yang mendengarkan, atau boleh jadi karena sikap-sikap atau ucapannya yang sering kali menyinggung hati yang mendengarkannya. Sedangkan saat dia tidak ada, maka suasana jadi lebih tenang.

Dan yang terakhir adalah manusia haram. Ini adalah tipe manusia yang kehadirannya malah banyak menimbulkan masalah dan bahaya bagi orang lain dan lingkungannya. Sedangkan ketika dia tidak ada, maka ketidakhadirannya disyukuri oleh orang-orang, bahkan diharapkan oleh mereka.

Masya Allah! Semoga kita semua bisa menjadi pribadi-pribadi yang penuh manfaat bagi orang lain, dan perbuatan serta ucapan kita jauh dari kezaliman. Jika kita memiliki pengetahuan maka sebarkanlah. Jika kita punya keahlian maka ajarkanlah. Jika kita punya kesempatan untuk menjadi sukarelawan demi meringankan beban orang lain di suatu tempat yang tertimpa musibah, maka lakukanlah.

Jangan biarkan waktu yang kita miliki berlalu dengan sia-sia. Sibukkanlah diri kita dengan menebar manfaat bagi orang lain. Sebenarnya jika kita tafakuri, waktu yang kita miliki ini sangatlah sedikit dibandingkan kesempatan untuk berbuat baik dan memberi manfaat. Karena kesempatan seperti itu tidak hanya akan datang kepada kita, melainkan kitalah yang bisa menjemput kesempatan itu sehingga menjadi milik kita.

Mari kita meneladani sosok Utsman bin ‘Affan yang senantiasa antusias dan bersegera mengambil kesempatan untuk berbuat kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain. Hidup di dunia ini hanya singgah belaka dan sebentar saja. Sungguh sayang sekali jika dibiarkan berlalu begitu saja. Sayang sekali jika kita hanya disibukkan dengan urusan atau kepentingan diri kita sendiri saja.

Semakin banyak orang yang kita bantu, semakin bermanfaat kita bagi orang lain, semoga semakin banyak doa yang mengalir untuk kita. Dan, semakin Allah rida kepada kita. Aamiin.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *