Jalut

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”. (Q.S. al-Lail/92: 8-10)

Usia Nabi Samuel kian menua. Beliau sadar bahwa kematian bisa tiba-tiba menghampirinya. Selepas menyiapkan para personil (hakim) sebagai kader penggantinya, Nabi Samuel memilih sebuah tempat untuk menghabiskan masa tuanya (menyambut panggilan Allah Azza wa Jalla).

Namun sayang, para bangsawan salah memanfaatkan. Terhadap para kader muda tersebut, mereka melakukan adu tawar. Beberapa syari’at yang telah ditetapkan Nabi Samuel mereka minta kelonggaran. Awal mulanya merayu dengan cara halus, namun akhirnya berakhir dengan pemaksaan.

Lama-kelamaan, kondisi ini menjadi kebiasaan. Para bangsawan menjadi pengendali kebijakan. Tidak sedikit dari mereka yang membuat kebijakan pro keinginan hawa nafsu mereka. Dan dalam rangka mempertahankan eksistensi kekuasaannya, mereka topang dengan kekuatan yang ada. Berikutnya, tampillah budaya “yang kuat adalah yang berkuasa” di kalangan mereka.

Suasana persatuan dan kesatuan berubah menjadi individualis. Bangsa Bani Israil berikutnya menjadi mementingkan diri dan golongannya. Berbagai cara mereka upayakan agar hegemoni diri dan kelompoknya tidak terusik. Mereka pun berlomba menjadi orang paling berpengaruh.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh kaum imperialis. Mereka menyusun rencana untuk menyerang. Maka, diaturlah sebuah strategi yang dianggap mampu mengalahkan pertahanan lawan. Pasukan ini dipimpin langsung oleh panglima perang kenamaan mereka yang bernama Jalut.

Dalam memimpin perangnya, Jalut selalu bertindak tegas. Ia terkenal sebagai sosok ambisius yang sangat bengis, kejam, dan tidak berperi-kemanusiaan. Seluruh pasukannya taat total kepadanya karena bila menolak, nyawa mereka menjadi balasannya.

Walau Tabut (kitab Tauret) tidak ada, Bani Israil tetap berjaya memenangi peperangan melalui bimbingan Nabi Samuel. Namun semenjak Nabi Samuel menyepi, bangsa Bani Israil mencari solusi bermodal logika dan persepsi yang dimiliki. Begitu pun di saat mereka mendapatkan serangan dari pasukan Jalut.

Momen yang ditentukan tiba. Di saat pasukan Jalut datang, kekuatan Bani Israil porak-poranda seketika. Pasukan Jalut menyerang dengan brutal sehingga tidak ada ruang untuk melawan. Kekuasaan Bani Israil di Kana’an pun tidak bisa dipertahankan. Panglima Jalut merebut dan menetapkan kebijakan yang berat bagi mereka.

Semakin hari, kedzaliman Jalut semakin merajalela. Namun tidak ada seorang pun berani melawan. Para hakim tidak bisa memberikan solusi. Dalam kondisi demikian, mereka ingat dengan sosok Nabi penyelamatnya.

Para bangsawan pun datang menemui Nabi Samuel. Di tempat kediamannya, mereka berbincang serius menyampaikan kondisi yang ada. Mengetahui demikian, Nabi Samuel menegur keras para bangsawan seraya mengatakan bahwa mereka sendirilah yang telah mengundang Jalut karena menyepelekan hukum Allah.

Para Bangsawan kalut mendengar pernyataan itu. Mereka sadar betapa kuatnya pasukan Jalut. Walaupun malu, dengan penuh hormat para bangsawan memohon kepada Nabi Samuel agar berkenan memberikan saran sekaligus solusi atas kejadian ini.

Nabi Samuel tahu persis karakter para bangsawan itu. Beliau pun menyatakan bahwa para bangsawan akan sulit menerima keputusannya, kecuali mau melepas ego diri dan meletakkan wahyu di atas logikanya. Atas pernyataan itu, para bangsawan menyatakan sanggup merealisasikannya.

Nabi Samuel pun memanjatkan do’a. Oleh karena Allah yang menghadirkan masalah ini maka Allah pula lah yang ia mintai solusinya. Wallahu a’lam.

(Oleh : Ustaz Edu)

Sumber foto : Houston Museum of Natural Science