Jangan Lalai dan Terpedaya Kemajuan Zaman

Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullah mengatakan :

قول النبي ﷺ في ⁧ أشراط الساعة ⁩ : “ويتقارب ⁧ الزمان”، من أحسن ما قيل في ذلك ما قاله شيخنا ⁧ ابن باز ⁩من حصول سهولة الاتصالات⁩ والمركوبات، وسرعة الوصول بها.

“Tentang sabda Nabi ﷺ saat menyebutkan tanda-tanda kiamat, ‘Berdekatannya zaman’, di antara pendapat terbaik tentang maknanya ialah yang disampaikan oleh guru kami, Ibnu Baaz, yaitu terwujudnya kemudahan dalam bidang komunikasi dan transportasi yang menjadikan jarak tempuh jadi semakin cepat.” (Transkrip Pelajaran Shahih Al Bukhari, 16 Rabi’ul Awal 1440)

Berikut ini kami nukilkan pernyataan dari Al Allamah Ibnu Baaz yang diisyaratkan oleh Asy-Syaikh Abdul Muhsin di atas :

“Pendapat yang paling mendekati (kebenaran) tentang makna ‘Berdekatannya zaman’ yang disebutkan dalam hadits ialah :

[1] hal-hal yang terjadi saat ini; yaitu menjadi berdekatannya kota-kota dan daerah-daerah serta,

[2] menjadi kian singkatnya jarak tempuh antar daerah.

Hal ini terjadi lantaran adanya penemuan pesawat terbang, mobil, radio, dan seterusnya. Wallahu a’lam.” (Al Fawa’id Al Majniyyah, I/262)

Allahu akbar. Kita yang melewati periode delapan puluh sembilan puluhan dan hidup hingga saat ini tentu benar-benar merasakan hal ini. Sebab kita menemui transisi antara dua zaman kehidupan yang berbeda.

Betapa dahulu kita harus pulang kampung untuk bertemu orangtua atau kakek-nenek. Namun kini, subhanallah, yang jauh terasa dekat, begitu kata orang.

Hanya bermodalkan hp seharga ratusan ribu pun sudah bisa berbincang langsung dengan saling melihat. Jarak boleh jauh, tapi terasa sangat dekat.

Takjub dan senang dengan teknologi itu wajar. Siapa pula yang tidak senang terhadap hal baru. Tapi kita harus mengingat, bahwa kemajuan zaman dalam kata ‘teknologi’ dan ‘penemuan’ merupakan satu dari tanda kian dekatnya hari akhir.

🗒 Maha Benar Allah ketika Dia berfirman :

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit; lalu tumbuhlah dengan begitu subur karena air itu tanam-tanaman bumi.

 

Ada yang dimakan manusia dan ada yang dimakan binatang ternak.

 

Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan memakai perhiasannya; dan para penduduk bumi mengira bahwa mereka akan menguasainya [ mereka menyangka bahwa kemajuan itu akan terus berlangsung dan berjalan selamanya, As-Si’di ]

Tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. [ hancur seketika seakan-akan belum pernah ada pembangunan atau kemajuan apapun di atasnya, baca : Umdah At-Tafsir, II/222 ]

 

Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” QS. Yunus : 24

Point pentingnya, perbagus ibadah, perbanyak taubat dan inabah pada Allah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.