Khidmat untuk Keluarga

Mengenyam pendidikan adalah keinginan setiap anak. Walau tak sampai perguruan tinggi, minimal merasakan masa putih abu-abu yang penuh gelora. Namun tidak halnya dengan diri ini. Perekonomian keluarga sedang sulit, ditambah adik yang masih harus melanjutkan sekolah. Sekolah Menengah Pertama hanya tinggal asa. Saya pun harus mandiri dengan memulai lembaran baru dalam dunia kerja.

Alhamdulillah dengan bekerja, saya bisa membantu biaya adik-adik. Bahkan, ketika ibu meninggal dan ayah sudah tidak bekerja, saya menjadi tulang punggung keluarga.

Semua adik-adik mengenyam pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama, bahkan yang bungsu bisa merasakan masa putih abu-abu yang saya idamkan. Saya bahagia bisa membantu mereka bersekolah dan menafkahi keluarga. Bahkan, ketika adik-adik menikah, biaya untuk pernikahan saya yang membantu.

Tidak banyak yang saya harapkan. Melihat keluarga bahagia adalah sebentuk kebahagiaan bagi saya. Pun saat lelah dan terpuruk, keluargalah tempat saya melabuhkan hati ini. Walau tangis sering melanda, lelah seakan tak bertepi, namun saya yakin Allah tetap bersama.

Sedekah saya kepada keluarga, tenaga dan pikiran adalah bukti nyata seorang hamba, seorang anak, dan kakak bagi keluarga. Walau seakan lupa dengan hidup pribadi saya sendiri karena sibuk dengan keluarga, insya Allah saya bahagia.

Alhamdulillah saya selalu dikelilingi dengan sahabat yang baik, dan mendapatkan lingkungan yang baik pula. Mungkin, itu bentuk penjagaan Allah atas perjuangan saya untuk keluarga. Saya pun merasa selalu dimudahkan bila mendapat kesulitan, dan lingkungan yang selalu mendukung.

Terima kasih ya Allah atas semua nikmat yang Kau berikan. Bimbing saya agar senantiasa ikhlas dan rida menjadi pulang tunggung keluarga, walaupun saya seorang perempuan. (Lia)