Malam Muhasabah Muslimah
Kalau sahabat muslimah lagi BT (Butuh Tausiyah) ikut aja M2M, mudah-mudahan bisa jadi chager penambah energi untuk menjalani hidup dengan syukur... Ayooo buruan IIikkkuuuuuttttt...... GRATIS.... Selengkapnya...
Masjid Daarut Tauhiid Malam Hari
Bandung, Juni 2008
Masjid Daarut Tauhiid Malam Hari
Wisata Rohani Warga
Pesantren Daarul Qur'an Tangeran, 12 Oktober 2008
Wisata Rohani Warga
Pendidikan & Pelatihan Dasar Zulfikar Daarut Tauhiid 2008
Daarut Tauhiid - Situ Lembang, 30 Juni - 8 Juli 2008
Pendidikan & Pelatihan Dasar Zulfikar Daarut Tauhiid 2008
PLPG
Persantren DT & UPI, Bandung 2009 - 2010
PLPG
Wisata Rohani Warga
Jakarta, 12 Oktober 2008
Wisata Rohani Warga
Konsultasi
Konsultasi Psikologi
erbagai metode iklan yang dikeluarkan Operator selular saat ini sudah sangat beragam untuk menggaet pelanggan baru ataupun untuk mempertahankan konsistensi pelanggan yang ada agar tetap menggunakan layanan selular miliknya
Setelah ke Jakarta, Gaji Suami Tak Pernah Cukup
Saya sudah menikah delapan tahun, punya dua putri.Usia saya dan suami sama, 28 tahun. Selama ini, saya dan anak-anak tinggal di Jawa Tengah bersama dengan orang tua saya. Mulai Juli 2001 ini, saya dan anak-anak diboyong ke Jakarta. Masalahnya, saya merasa bingung dengan kehidupan saya di Jakarta ini, saya selalu merasa kekurangan (karena setelah dianggarkan, gaji suami tidak mencukupi keperluan sehari-hari; untuk bayar sekolah anak-anak, pembantu dan lain-lain). Saya sebelumnya selalu merasa kecukupan karena di rumah orangtua, saya tidak memikirkan kebutuhan makan sehari-hari, rekening-rekening, sehingga uang dari suami terasa lebih dari cukup. Suami sendiri kelihatan santai-santai saja walaupun sudah berhutang ke sana ke mari. Saya takut dengan kelangsungan hidup saya. Rumah ortu selalu terbuka untuk saya dan anak-anak (toh mereka juga sangat kesepian ditinggal cucu-cucunya). Saya sekarang sedang hamil tiga bulan, kehamilan yg direncanakan satu tahun yang lalu justru didapat saat kami merasa kurang siap. Kadang-kadang saya sangat ingin berlari pulang ke Jawa tapi saya kasihan pada suami. Sementara fihak keluarga suami yang memang kaya, tidak mau tahu dengan keadaan kami (di rumah mertua yang besar dan hanya ada adik bungsunya, ada tiga buah tv, sementara di rumah kami tidak ada dan anak-anak merengek minta tv, suamipun masih malu untuk bilang pinjam tv bahkan untuk ke sana (sama-sama di Cempaka Putih), mengantar anak-anak melihat tv pun suami malu. Tolong saya harus bagaimana menghadapi hari-hari yang terasa berat ini. Selengkapnya...