<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss"
	>
<channel>
<title>Pesantren Daarut Tauhiid | Konsultasi</title>
<atom:link href="http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/rss</link>
<description>[25 Konsultasi terbaru Pesantren Daarut Tauhiid]</description>
<copyright>Copyright by Pesantren Daarut Tauhiid! - All rights reserved.</copyright>
<language>id</language>

			<item>
			  <title>Bagaimana cara mencari akhwat sholehah?</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/1/7/konsultasi-7.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/1/7/konsultasi-7.html</comments>
   			  <pubDate>Thu, 10 Jul 2008 16:25:23 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/1/7/konsultasi-7.html</guid>
			  <description>erbagai metode iklan yang dikeluarkan Operator selular saat ini sudah sangat beragam untuk menggaet pelanggan baru ataupun untuk mempertahankan konsistensi pelanggan yang ada agar tetap menggunakan layanan selular miliknyaerbagai metode iklan yang dikeluarkan Operator selular saat ini sudah sangat beragam untuk menggaet pelanggan baru ataupun untuk mempertahankan konsistensi pelanggan yang ada agar tetap menggunakan layanan selular miliknyaerbagai metode iklan yang dikeluarkan Operator selular saat ini sudah sangat beragam untuk menggaet pelanggan baru ataupun untuk mempertahankan konsistensi pelanggan yang ada agar tetap menggunakan layanan selular miliknya ? [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <span>erbagai metode iklan yang
dikeluarkan Operator selular saat ini sudah sangat beragam untuk
menggaet pelanggan baru ataupun untuk mempertahankan konsistensi
pelanggan yang ada agar tetap menggunakan layanan selular miliknya</span><span>erbagai metode iklan yang
dikeluarkan Operator selular saat ini sudah sangat beragam untuk
menggaet pelanggan baru ataupun untuk mempertahankan konsistensi
pelanggan yang ada agar tetap menggunakan layanan selular miliknya</span><span>erbagai metode iklan yang
dikeluarkan Operator selular saat ini sudah sangat beragam untuk
menggaet pelanggan baru ataupun untuk mempertahankan konsistensi
pelanggan yang ada agar tetap menggunakan layanan selular miliknya</span><span>erbagai metode iklan yang
dikeluarkan Operator selular saat ini sudah sangat beragam untuk
menggaet pelanggan baru ataupun untuk mempertahankan konsistensi
pelanggan yang ada agar tetap menggunakan layanan selular miliknya</span><span>erbagai metode iklan yang
dikeluarkan Operator selular saat ini sudah sangat beragam untuk
menggaet pelanggan baru ataupun untuk mempertahankan konsistensi
pelanggan yang ada agar tetap menggunakan layanan selular miliknya</span>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Suami yang suka menunda waktu shalat</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/1/3/konsultasi-3.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/1/3/konsultasi-3.html</comments>
   			  <pubDate>Wed, 02 Jul 2008 10:28:33 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/1/3/konsultasi-3.html</guid>
			  <description>Assalamu`alaikum, begini saya bingung hrs cerita selengkapnya atau langsung pada pertanyaan saya. saya bingung pada kebiasaan suami saya yang selalu suka menunda sholatnya, yg tapi pada akhirnya dia sholat juga...spt sholat dhuhur, dia pasti sholatnya sdh sktr jam 2.30 dan pada sholat ashar juga pasti sdh sktr jam 17.30. yg paling parah sholat isya...dia pasti tidur dulu dgn alasan kantuk padahal sblmnya nonton tv msh semangat lalu setlh puas nonton tv langsung tidur tdk sholat dulu...saya yg memperhatikan &amp; saya mengingatkan bhw dia blm sholat isya...dia bilang setelkan weker utk dibunyikan jam 4.00 supaya terbangun utk sholat isyanya tp pernah saya lupa setel wekernya akhirnya dia lewat sholat isyanya...bagaimana yah...saya jadi lelah selalu utk mengingatkan trus...apa yg hrs saya lakukan supaya suami saya selalu mengingat waktu sholatnya? saya tdk mau dia jadi tergantung sama saya dan juga kadang dia sering marah2 bila sering di-ingat2kan waktu sholatnya. oh ya, apakah ini termasuk  [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ umah tangga yg penuh tantangan bagi istri adalah jalan paling pintas
menuju surga, maka dari itu kesabaran dalam mengingatkan suami adalah
kuncinya. semakin besar tantangan, semakin dekat dengan surga, sekali
kali dapat di ingatkan, Mas,, kita tidak tahu usia kita sampai jam
berapa, maka selagi ada kesempatan segeralan tunaikan tugas dari Allah,
toh kita dihidupkan oleh Allah, diberimakan oleh Allah, semuanya dari
Allah, masa iya Allah nyuruh shalat aja kita sudah enggan . selamat
berjuang.
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Diri selalu diselimuti Rasa Minder</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/2/5/konsultasi-5.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/2/5/konsultasi-5.html</comments>
   			  <pubDate>Wed, 02 Jul 2008 06:38:31 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/2/5/konsultasi-5.html</guid>
			  <description>Udah 3 tahun aku terus menerus diliputi rasa minder selama duduk di perguruan tinggi ini, teman-teman seakan menjauhiku karena aku tidak memiliki apa-apa, lebih parahnya lagi aku baru kehilangan teman kepercayaan sekaligus teman curhatku satu-satunya padahal cuman dia tempat pelarianku selama ini karena ortunya dipindahkan tugas ke negara lain, uli....kok aku merasa asing di kampus padahal sudah cukup lama aku belajar disitu? gimana ya li baiknya.....aku perlu masukan. makasih sebelumnya udah dengerin curhatku [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <p style="line-height: 150%; text-align: justify" class="MsoNormal">
Wah
asyik juga ya tinggal di luar, pasti banyak pengalaman berharga yang bisa kamu
ambil. Sebaiknya mumpung disana, cobalah sebanyak mungkin menjalin pertemanan
dengan siapa aja, nggak harus orang Indo aja dan cuman satu orang saja....
Dengan begitu kamu bisa banyak mengetahui karakter orang, juga memperlancar
bahasa asing kamu dan tentunya ilmu yang beragam.<br />
<br />
Untuk berteman tentulah akan lebih disenangi jika kita ramah (tapi nggak basa
basi), cobalah mulai dari dirimu sendiri dulu untuk menjadi pribadi yang
menyenangkan, cari perkumpulan yang positif atau organisasi sosial, sehingga
mereka pun akan tertarik untuk berkenalan dan menjadi temanmu. 
</p>
<p>
Mungkin
cuman ini kiat-kiat yang dapat saya sampaikan untuk mengawasi rasa minder yang
menyelimuti kamu selama ini, Selamat mendapatkan teman baru ya!
</p>
<ul>
	<li>
	<p style="margin-top: 4px; margin-bottom: 0px; margin-right: 15px" class="MsoNormal" align="justify">
	Percaya
	akan kompetensi/kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan,
	penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain 
	</p>
	</li>
	<li>
	<p style="margin-top: 4px; margin-bottom: 0px; margin-right: 15px" class="MsoNormal" align="justify">
	Tidak
	terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang lain
	atau kelompok
	</p>
	</li>
	<li>
	<p style="margin-top: 4px; margin-bottom: 0px; margin-right: 15px" class="MsoNormal" align="justify">
	Berani
	menerima dan menghadapi penolakan orang lain &ndash; berani menjadi diri kamu
	sendiri
	</p>
	</li>
	<li>
	<p style="margin-top: 4px; margin-bottom: 0px; margin-right: 15px" class="MsoNormal" align="justify">
	Punya
	pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosi kamu kudu stabil)
	</p>
	</li>
	<li>
	<p style="margin-top: 4px; margin-bottom: 0px; margin-right: 15px" class="MsoNormal" align="justify">
	Memiliki
	internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan,
	tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau
	keadaan serta tidak tergantung/mengharapkan bantuan orang lain) 
	</p>
	</li>
	<li>
	<p align="justify">
	Mempunyai
	cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi di
	luar dirinya
	</p>
	</li>
</ul>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Setelah ke Jakarta, Gaji Suami Tak Pernah Cukup</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/4/4/konsultasi-4.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/4/4/konsultasi-4.html</comments>
   			  <pubDate>Wed, 02 Jul 2008 06:35:22 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/4/4/konsultasi-4.html</guid>
			  <description>Saya sudah menikah delapan tahun, punya dua putri.Usia saya dan suami sama, 28 tahun. Selama ini, saya dan anak-anak tinggal di Jawa Tengah bersama dengan orang tua saya.Mulai Juli 2001 ini, saya dan anak-anak diboyong ke Jakarta. Masalahnya, saya merasa bingung dengan kehidupan saya di Jakarta ini, saya selalu merasa kekurangan (karena setelah dianggarkan, gaji suami tidak mencukupi keperluan sehari-hari; untuk bayar sekolah anak-anak, pembantu dan lain-lain).Saya sebelumnya selalu merasa kecukupan karena di rumah orangtua, saya tidak memikirkan kebutuhan makan sehari-hari, rekening-rekening, sehingga uang dari suami terasa lebih dari cukup. Suami sendiri kelihatan santai-santai saja walaupun sudah berhutang ke sana ke mari. Saya takut dengan kelangsungan hidup saya. Rumah ortu selalu terbuka untuk saya dan anak-anak (toh mereka juga sangat kesepian ditinggal cucu-cucunya).Saya sekarang sedang hamil tiga bulan, kehamilan yg direncanakan satu tahun yang lalu justru didapat saat kami merasa kurang siap. Kadang-kadang saya sangat ingin berlari pulang ke Jawa tapi saya kasihan pada suami. Sementara fihak keluarga suami yang memang kaya, tidak mau tahu dengan keadaan kami (di rumah mertua yang besar dan hanya ada adik bungsunya, ada tiga buah tv, sementara di rumah kami tidak ada dan anak-anak merengek minta tv, suamipun masih malu untuk bilang pinjam tv bahkan untuk ke sana (sama-sama di Cempaka Putih), mengantar anak-anak melihat tv pun suami malu. Tolong saya harus bagaimana menghadapi hari-hari yang terasa berat ini. [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <p>
<font face="arial" size="2" color="#000000">Mbak Wulan yang tabah, </font>
</p>
<p>
<font face="arial" size="2" color="#000000">Dari
penuturan Anda dapat dirasakan suami Anda kurang mendukung memanfaatkan
hubungan kekeluargaan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan materi seperti
TV. Agaknya pendekatan kekeluargaan untuk pemenuhaan kebutuhan pribadi
merupakan kebiasaan Anda waktu di Jawa. </font>
</p>
<p>
<font face="arial" size="2" color="#000000">Kemungkinan besar cara itu
bukan kebiasaan fihak suami (dan tidak harus menjadi kebiasaan mereka).
Sekarang yang utama adalah hubungan ke dalam, yaitu hubungan antara
suami-isteri dan anak-anak, jadilah satu kesatuan untuk menghadapi
kebutuhan-kebutuhan keluarga inti ini karena merupakan tanggung jawab
pertama. </font>
</p>
<p>
<font face="arial" size="2" color="#000000">Pengalaman Anda di Jawa
kelihatannya harus diubah dengan kedekatan kepada suami dan bila lebih
utuh hubungannya maka niscaya semua kebutuhan akan terpenuhi.
Pemikiran-pemikiran lama, karena kebiasaan lama itulah yang cenderung
membelenggu dan membatasi kemampuan manusia untuk memperoleh segala
yang dibutuhkan. Tentu sikap ini harus didukung oleh kekuatan keiimanan
(faith) yaitu selain pada Maha Pencipta juga pada kemampuan pribadi
untuk dapat mengatasi segala kekurangan dan rintangan. Keraplah berdoa
bersama dan juga ajak anak-anak (meski masih kecil) untuk turut berdoa
dan membayangkan keluarga yang mandiri dan sejahtera. </font>
</p>
<p>
<font face="arial" size="2" color="#000000">Kekuatan pribadi itulah
yang harus dibangun di dalam setiap keluarga agar tidak perlu bersandar
pada siapapun atau apapun selain yang Maha Kuasa dan kekuatan keluarga
sendiri. Doa kami, agar tidak lama lagi Anda sekeluarga dalam keadaan
kesejahteraan yang membawa berkah. Amien.</font>
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Salat Fajar, Qobliyah Subuh, Rawatib dan Tarawih</title>
			  <link>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/3/2/konsultasi-2.html</link>
			  <comments>http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/3/2/konsultasi-2.html</comments>
   			  <pubDate>Wed, 02 Jul 2008 06:23:52 +0700</pubDate>
			  <author>Pesantren Daarut Tauhiid</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.daaruttauhiid.org/konsultasi/detail/3/2/konsultasi-2.html</guid>
			  <description>Bapak Kiai, saya ingin bertanya tiga soal tentang salat sunnah: 1. Salat sunnah tarawih 4 rakaat satu salam, tanpa tahiyyat awal ataukah pakai tahiyyat awal? 2. Di suatu tempat dilakukan salat sunnah fajar antara imsak dan azan Subuh, dan antara azan dan ikamah. Pertanyaan saya: Apakah salat sunnah fajar dan sunnah qabliyah Subuh itu berbeda? Padahal di dalam buku 400 Hadis pilihan (Drs. Muslich Shabir) disebutkan bahwa salat sunnah fajar adalah sunnah rawatib? 3. Apakah Rasulullah Saw. pernah mengerjakan salat sunnah rawatib secara berjamaah? [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <ol>
	<li>
	<p>
	Yang saya tahu dikerjakannya umumnya kaum muslim selama ini,
	salat tarawih itu setiap dua rakaat satu salam, seperti salat-salat
	sunnah lainnya. Kebanyakan kitab kuning pun menyatakan begitu. Bahkan
	di kitab Syafi`iyah seperti <em>Kifayat al-Akhyaar</em>, salat Tarawih
	4 rakaat satu salam dinyatakan tidak sah. (Menurut kitab lain, tidak
	sah bagi yang mengetahui).Memang ada riwayat 4 rakaat, seperti hadis
	sahihnya <em>Sayyidah</em> `Aisyah r.a:<img src="http://www.cybermq.com/tambahan/hadis1.gif" alt=" " width="374" height="218" align="middle" /><em><br />
	&quot;Nabi
	Saw. salat tidak lebih dari sebelas rakaat, baik dalam bulan Ramadhan
	maupun lainnya: Beliau salat empat rakaat --jangan tanya tentang bagus
	dan lamanya-- kemudian empat rakaat lagi---jangan tanya pula tentang
	bagus dan lamanya--, kemudian tiga rakaat...&quot;</em> <strong>(HR. Muslim)</strong>Akan 	tapi umumnya ulama &quot;membawa&quot; hadis ini ke salat lail atau 	salat Witir. (Baca misalnya, <em>&quot;Kitab al-Fiqhu `ala 	al-Madzaahib al-Arba`ah&quot;</em> jilid I hal 342-343; <em>&quot;Shahih 	Muslim&quot;</em> I/hal. 305-307; <em>&quot;Ibanat al-Ahkam&quot;</em> 	I/hal. 505-519; <em>&quot;Kifayat al-Akhyaar&quot;</em> I/hal. 88; 	<em>&quot;Nail al-Authaar&quot;</em>
	III/hal. 37-48)Tapi memang dalam salat sunnah secara umum, ada
	perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai jumlah rakaat di setiap
	salam. Apa dua-dua, tiga-tiga, atau empat-empat. Menurut Imam Malik dan
	Imam Syafi`i, salat sunnah, baik di waktu malam maupun siang, dua-dua;
	salam setiap dua rakaat. Menurut Imam Abu Hanifah, boleh dua-dua,
	tiga-tiga atau &lt;!-- @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } TD P
	{ margin-bottom: 0in } P { margin-bottom: 0.08in } --<font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>empat-empat,
	enam-enam, delapan-delapan, tanpa salam setiap dua rakaatnya. Ada yang
	membedakan antara salat sunnah malam dan siang; kalau malam dua-dua,
	kalau siang empat-empat. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan hadis
	yang datang dalam masalah ini. (Lebih lanjut bacalah </span></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>Bidayat 	al-Mujtahid</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>
	jilid I hal. 207-208).Nah, beberapa kaitan yang menyebutkan riwayat
	salat sunnah malam lebih dari dua (termasuk 4) rakaat satu salam, tidak
	menyinggung masalah </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>tasyahhud</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	atau </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>tahiyyat 	awal</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>. 	&quot;Kitab al-Fikih&quot; yang saya tunjuk di atas hanya menyebut 	tentang &quot;duduk&quot; (bukan </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>tahiyyat</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>). 	Bahkan </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>Ibanat 	al-Ahkam</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	ketika mengomentari hadis-hadis </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>sayyidah</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	`Aisyah tentang salat lail Rasulullah Saw. yang 10 rakaat (jilid I 	hal. 516), menyebutkan pemahaman tidak adanya duduk untuk </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>tasyahhud</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>.</span></font></font></font></font>
	</p>
	</li><font color="#000000">
	<li>
	<p>
	<font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>Menurut
	hadis-hadis sahih, di antara salat-salat yang tidak pernah ditinggalkan
	oleh Rasulullah Saw. adalah dua rakaat ketika fajar menyingsing dan
	sebelum mengerjakan salat Subuh. </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>Sayyidah</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	`Aisyah dalam hadis </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>muttafaq 	`alaih</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	menyatakan:</span></font></font></font> <br />
	<br />
	<img src="http://www.cybermq.com/tambahan/hadis2.gif" alt=" " /> <br />
	<em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>&quot;Tidak 	ada nafilah, salat sunnah, yang sangat dijaga pelaksanaannya oleh 	Nabi Saw. melebihi dua rakaat fajar.&quot;</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	</span></font></font></font><strong><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>(HR. 	Bukhari dan Muslim)</span></font></font></font></strong><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>Dua 	rakaat itu disebut salat Fajar karena dikerjakan di waktu fajar dan 	disebut </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>Qobliyah 	Subuh</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	karena dikerjakan sebelum salat Subuh. Kalau sebelum fajar, tentu 	tidak bisa disebut salat Fajar. Juga disebut </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>Ratib</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	atau (min) rawatib karena pelaksanaannya selalu mengikuti salat 	fardlu (Subuh).</span></font></font></font>
	</p>
	</li>
	<li><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>Memang
	selain hadis yang biasa untuk dalil tarawih, ada juga beberapa hadis
	yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah mengerjakan salat sunnah
	dan para sahabat ikut</span></font></font></font><span> makmum. 	Dan ada yang karenanya kemudian Rasulullah Saw. menasehati mereka:</span><img src="http://www.cybermq.com/tambahan/hadis3.gif" alt=" " width="362" height="92" /><br />
	<em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>&quot;Hai
	sekalian manusia, salatlah di rumah kamu. Salat seseorang yang paling
	baik adalah salat di rumahnya, kecuali salat fardlu.&quot;</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	</span></font></font></font><strong><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>(HR. 	Muttafaq `alaih dari Zaid bin Tsabit)</span></font></font></font></strong><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>Tapi 	saya tidak tahu persis apakah salat sunnah yang disebut-sebut dalam 	hadis-hadis (yang biasa dibuat dengan dasar </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>masyru`nya</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	jamaah salat sunnah itu) itu termasuk salat sunnah </span></font></font></font><em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span>rawatib</span></font></font></font></em><font color="#000000"><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2"><span> 	atau tidak. Yang jelas kebanyakan hadis-hadis tersebut menyangkut 	salat malam.</span></font></font></font>
	<p>
	&nbsp;
	</p>
	   	 	 	 	 	 	 	<!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		TD P { margin-bottom: 0in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--> 	  
	<p>
	<em><font face="Verdana, sans-serif"><font size="2">Wallaahu A`lam.</font></font></em>
	</p>
	</li></font>
</ol>
 ]]></content:encoded>
			</item></channel></rss> 