Masjid Kota Baru Parahyangan: “Syahadat”

Tanpa keelokan. Tanpa ornamen atau hiasan memukau. Tanpa daya impresif yang menghentak. Ia hanyalah sebentuk kubus berselimutkan kain hitam. Senantiasa tegas berdiri di halaman Masjidil Haram. Tanpa tendensi apa pun. Kecuali meniadakan segunung keangkuhan sang hamba.

Ka’bah. Simbol pemutusan segala keakuan manusia. Peniadaan apa pun selain Ia, Sang Maha Ada. Pesan ini kiranya terngiang jelas. Memantul dalam ingatan kolektif manusia. Beribu tahun yang lampau, saat ia, bapak para nabi mulai membangunnya.

Kubus adalah sebentuk pola, simbolisasi kerendahan hati. Kau boleh menyebutnya gaya minimalis yang misterius. Tapi aku, lebih nyaman mengingatnya sebagai kesadaran akan nihilisasi kesombongan. Keakbaran hanyalah haknya. Selain Ia, tak boleh ada. Allahu Akbar.

Sensasi serupa juga dialami oleh seorang arsitek dari negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, Ridwan Kamil. Ketika bersua dengan simbol spiritual yang terpancang ribuan tahun itu, berpijarlah daya kreatifnya. Mengharmonikan filosofi yang menggeliat, lalu melukisnya jadi sebentuk wujud kasat mata. Tak hanya sekadar idea.

Tepat setahun sejak inspirasi sang arsitek mulai bergema, lahir sebuah masjid bersemangatkan bangunan kubus itu. Hari ke-17 Ramadhan 1431H (27 Agustus 2010) akan senantiasa dikenang ketika pertama kalinya, suara panggilan bersua dengan-Nya berkumandang lantang. Membelah hati para perindu untuk mendatangi, membasuh jasad dengan kebeningan air, dan kemudian bersujud kepada-Nya. Subhanallah.

***

Memang, ini bukanlah Mekah. Kota suci utama umat Islam. Ini hanyalah sebuah kota permai berarsitektur kosmolitan. Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Jawa Barat. Dipayungi keindahan abadi tataran Sunda, untuk suatu masa tertentu. Kehadiran rumah-Nya di lahan seluas 1 Ha, menggenapkan kedamaian yang telah hinggap di kota penuh berkah ini.

Kesan itu menyeruak kala setiap indera tersapa olehnya. Lihatlah! Mata ini menatap gugusan dua kalimat syahadat yang melekat erat pada sisi luar bangunan masjid. Dirancang dengan pola kaligrafi tiga dimensi berukuran jumbo. Apabila petang mulai menjelang, cahaya-cahaya dari dalam masjid akan memancar keluar untuk menunjukkan keajaiban. Yaitu ketika sebentuk kaligrafi cahaya tercipta. Syahadat.

Itu tidaklah cukup. Melangkah kedalam, keheningan melingkupimu. Sejauh mata yang bisa kau edarkan, hanya ruang kubus berkarpet merah hitam memanjang. Tak ada lagi yang lain. Di atasnya, bertonjolan 99 kotak persegi dengan guratan di wajahnya. Jika gelap mulai menyelimuti, sebuah keajaiban lagi tersaji. 99 kotak persegi itu akan memancarkan 99 nama Ia Yang Maha Suci. Asmaul Husna.

Apakah masih ada lagi visual yang bisa memuaskan dahaga spiritualmu?

Ya. Tepat berada di depan mihrab, kupastikan kau akan bersujud tanpa daya. Di depanmu, terpisah oleh air bening mengalir, terlihat perbukitan dengan beribu pesona. Tanpa hijab apa pun, selain bola besar berwarna hitam bertuliskan kaligrafi Allah. Membetotmu untuk menyadari, kau dan alam berawal dan berakhir dari pemilik yang serupa. Indah tapi tak abadi.

Atau, dengarlah! Tatkala gemericik air kolam di tepi mimbar, ditingkahi kecipak manja ikan mas, dan desir angin membelai pori-porimu, menghadirkan satu momen dahsyat yang seringkali tersisih. Tertutup oleh hingar bingar kota yang sering kali melenakan. Disini, keberadaan-Nya begitu nyata. Kau tak perlu berteriak memanggil-Nya. Cukup dengan helaan halus, ar-Rahman dan ar-Rahim-Nya akan merengkuhmu.

Masjid ini memang berbentuk jauh dari pakemnya. Tapi percayalah, ia akan memberimu banyak cerita. Sebagaimana ia pun telah memberiku banyak rasa.

Ayo, ajak orang-orang terkasihmu. Siapa pun dia. Dari mana pun dia. Dengan luas 1.696 m2, dan selasar 807 m2, rumah-Nya ini mampu menyediakan 1.500 raga para hamba-Nya. Bersama-sama kita bersujud, menyelami samudera kekerdilan diri yang terengkuh oleh keMahaan-Nya. Melihat dengan mata hati, jalan kehidupan yang telah dan sedang ditapaki. Sembari bertanya, ”Akankah jalan ini berujung pada cinta-Nya?”

Kau pun boleh mengajak dirimu sendiri mendatangi masjid ini. Terutama ketika lelah menggelayut dalam tarikan rutinitas hidup yang tak selalu ceria. Atau kala kelam kehidupan semakin gemar menghantuimu. Datanglah kemari. Dan rasakan saat keheningan mulai bersahabat denganmu. Sensasi dingin menyenangkan mengalir dalam rongga nafas. Bersatu dengan gumpalan darah, terpompa dahsyat oleh detak di dadamu. Kemudian menyusup begitu jauh dan riaknya terasa dalam pembuluh kapiler yang kau punya.

Hingga pada satu titik, kau sadar, kau bukanlah apa-apa. Sebagaimana hidup ini pun bukanlah apa-apa. Ia hanyalah sebentuk kisah pengulangan antara yang meninggalkan dan ditinggalkan. Pabila kau tak membingkainya dengan sabar, syukur dan keikhlasan, kehambaranlah yang pasti kau rasakan. All in the world is nothing. That’s Allah is one thing.

***

Mungkin, di suatu waktu, masjid ini akan dipanggil dengan nama as-Syahadah. Terinspirasi dari untaian kaligrafi syahadat yang tercetak di tiga sisinya. Mungkin di suatu waktu pula, masjid ini akan diingat dengan beragam nama indah yang bisa terekam oleh ingatan sejarah. Berubah sesuai mau dan lakunya manusia.

Tapi, ada satu hal yang tak akan pernah berubah. Satu ikrar tak ada illah selain Ia. Dan tak ada utusan-Nya selain Rasul-Nya. Syahadat. Pilar pertama dan utama dari keislaman seorang muslim. Komitmen yang menunjukkan identitas seorang abdi.

Dan biarlah, seiring pena ini yang mulai mengering, ikrar itu tetap terjalin kekeuh di dalam diri. Terus mengalir tak pernah sirna. Mengabarkan bahwa hidup hanyalah sebentuk penghambaan. Tak peduli siapa pun engkau. Seangkuh apa pun engkau. Dan ketika ia dikukung oleh kefanaan, kau dan aku, pastinya tahu kemana harus mengadu. La illaha illahlah. (Suhendri Cahya Purnama)