Memaknai Suap Menyuap

Setiap tahun pengangguran meningkat, apalagi dibarengi dengan kelulusan anak-anak sekolah. Ada yang melanjutkan kejenjang sekolah yang lebih tinggi, ada pula yang langsung mencari lahan pekerjaan sebagai penunjang biaya hidup. Namun sedikit pula yang tidak melanjutkan sekolah dan tidak bekerja sama sekali dikarenakan kemampuan (skill) dan ketiadaannya biaya pendukung untuk itu.

Jika melanjutkan sekolah sangatlah wajar memerlukan biaya yang tinggi. Karena dana yang dibutuhkan penunjang belajar  seperti biaya buku, kuliah, praktikum dan lain-lain. Sehingga orang tua mesti siap menyediakan anggaran untuk anaknya dalam melanjutkan studinya. Berbeda dengan yang tidak dapat melanjutkan sekolah, ia harus mencari dan mendapatkan pekerjaan demi kelangsungan hidupnya.

Namun di zaman sekarang ini mencari pekerjaan sangatlah sulit jika tidak memiliki keahlian dalam bidangnya. Kalaupun ada lowongan pekerjaan, dan memiliki skill, meski main kucing-kucingan mereka (perusahaan) mesti meminta sesuatu yang disebut “pelicin”. Dan kita tetap saja terus menyediakan uang. Suap atau pelicin (risywah) dilarang dalam Islam. Bahkan, pelakunya dilaknat oleh Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa suap menyuap termasuk dosa besar.

Allah berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-baqarah [2]: 188). Diriwayatkan dari Tsauban bahwa Rasulullah saw melaknat penyuap, yang disuap dan perantaranya (HR Ahmad dan Hakim).

Suap adalah uang atau pemberian yang dibayarkan kepada yang berkuasa dan memiliki wewenang agar mereka menelurkan kebijakan bagi diri atau pesaingnya sesuai dengan keinginannya, atau melicinkan urusannya dan menghambat urusan pesaingnya. Pemberi dan penerima suap, serta mediatornya hukumnya sama saja. Jadi bagaimana solusinya agar pengangguran dapat dikurangi jika harus bermain lagi dengan uang?

Menurut Beliau 

Ada 4 hal seseorang akan menjadi pandai:

  1. Meninggalkan sikap berlebihan dalam berbicara.
  2. Bersiwak.
  3. Duduk bersama orang saleh.
  4. Hadir di majelis para ulama. (Imam Syafi’i)
  • Cobaan itu temannya kebahagiaan
  • Keamanan itu temannya rasa takut
  • Setelah kesukaran ada kemudahan
  • Dan tidaklah sesuatu itu bersih melainkan ada kotornya (ahli hikmah)

“Barang siapa yang pergi kemasjid pagi dan sore, Allah akan menyediakan tempat persinggahan baginya di surga.” (Rasulullah saw)

Hati itu ada 6 keadaan :

  1. Hidupnya hati adalah petunjuk
  2. Matinya hati adalah sesat
  3. Sehatnya hati adalah bersih
  4. Sakitnya hati adalah rasa bosan
  5. Bangunnya hati adalah dzikir
  6. Tidurnya hati adalah lalai (Abu Bakar al-Waraq)

(Citra Dewi)

sumber foto: news.detik.com