Mencari Rujukan Quran tentang Kepedulian Sosial

Ada banyak kisah dalam hidup Rasulullah saw yang menggambarkan nilai-nilai kepedulian sosial dalam Islam. Kisah-kisah tersebut dapat dijadikan rujukan bagi kita sebagai umatnya, yang telah berikrar menjadikan segala perilaku beliau sebagai contoh teladan (uswatun hasanah). Untuk menguatkan bahwa Islam sangat menonjolkan kepedulian sosial, maka mari kita buka al-Quran. Karena bukankah al-Quran adalah rujukan kita yang pertama dalam hidup ini?

Surah al-Balad [90] Ayat 10-18.
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang, mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa ada dua jalan yang bisa kita pakai dalam memanfaatkan harta. Al-Quran menyarankan kita untuk mengambil jalan yang sukar dan mendaki, yaitu memerdekakan budak atau memberi makan pada anak yatim atau orang miskin. Allah tidak menjelaskan tentang jalan yang mudah, melainkan memberi contoh jalan yang sukar.

Mengapa disebut jalan yang sukar? Karena kebanyakan manusia enggan atau merasa berat atau merasa sukar melakukannya. Jika kita mampu mengalahkan rasa berat dan rasa sukar pada diri kita dalam beramal, maka Allah menjanjikan kita termasuk golongan yang kanan (ahli surga).

Bukalah cermin hati kita sekali lagi. Apakah kita merasa sukar untuk beramal pada orang miskin dan anak yatim? Hanya cermin hati teramat dalam yang mampu menjawabnya dengan jujur.

Surah al-Ma’arij [70] ayat 19-25.
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).”

Secara tegas Allah menyebutkan bahwa keluh kesah dan kikir itu telah menjadi sifat bawaan manusia sejak ia diciptakan. Allah melukiskan sifat manusia dengan sangat baik. Ayat ini kiranya telah menelanjangi sifat kita. Bukankah kalau kita tidak memiliki harta kita sering berkeluh kesah, sebaliknya kalau memiliki banyak harta kita cenderung untuk kikir? Lalu bagaimana caranya agar sifat bawaan (keluh kesah dan kikir) kita tersebut tidak menjelma atau dapat kita padamkan?

Allah menyebutkan paling tidak ada dua jalan. Pertama, mengerjakan salat secara kontinyu. Kedua, menyadari bahwa dalam harta yang kita miliki terkandung bagian tertentu untuk fakir miskin. Dua resep ini insya Allah akan mampu memadamkan sifat keluh kesah dan sifat kikir yang kita miliki.

Sekali lagi, bukalah cermin hati kita. Tahanlah nafas kita untuk sejenak. Tidakkah merasakan bagaimana Allah menyinggung perilaku buruk kita dalam ayat-ayat-Nya yang suci? Subhanallah.

Surah al-Qalam [68] ayat 17-33.
“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan insya Allah. Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari.”

“Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya. Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu. Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (meonolongnya.”

“Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).’”

“Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, ‘Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?’”

“Mereka mengucapkan, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.’”

“Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela Mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kita, sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas. Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu, sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan.’ Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.”

Sekelompok ayat ini menceritakan sebuah kisah nyata yang terjadi sebelum masa Rasulullah. Kisah pemilik kebun melukiskan dengan sangat baik betapa harta manusia itu tak ada artinya dibanding kekuasaan Allah. Kebun yang sudah sekian lama diurus dan tinggal sekejap mata saja untuk dipetik hasilnya menjadi musnah terbakar. Apa kesalahan pemilik kebun tersebut sehingga mendapat azab sedemikian rupa?

Pertama, mereka lupa bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu. Ini dilukiskan dalam ayat tersebut ketika mereka tidak menyebut insya Allah. Mereka merasa pasti akan meraih hasil yang luar biasa. Mereka lupa bahwa sedetik ke depan kita tak tahu apa yang terjadi dengan hidup kita. Kita tak tahu ‘skenario’ Allah terhadap diri kita.

Kedua, mereka bersifat kikir. Mereka sudah bersiap-siap agar orang miskin tak bisa masuk ke kebun mereka saat panen tiba. Allah murka pada mereka. Allah turunkan azab-Nya pada mereka. Di akhir ayat ini Allah mengingatkan bahwa azab yang Ia timpakan pada pemilik kebun hanyalah azab dunia, sedangkan azab akhirat jauh lebih besar lagi.

Cermin hati mengatakan agar tidak tertimpa azab Allah di dunia. Manakala kita memiliki kelebihan rezeki, maka janganlah sungkan untuk memberi sebagian pada orang miskin. Cermin hati telah berkata, mampukah kita melaksanakan kata hati itu?

Kalau Allah mampu memusnahkan dengan amat mudah kebun yang siap dipanen, jangan-jangan Allah pun akan memusnahkan sumber penghasilan kita jika kita berlaku kikir! Na’udzu billah.

Demikianlah semoga kita saling mengingatkan bahwa di cermin hati telah tergambar sejumlah orang yang membutuhkan kepedulian kita. Persoalannya, maukah kita melihat ke dalam cermin tersebut? (daaruttauhiid)