Menyikapi Perubahan dengan Kepedulian Sosial

Perubahan ibarat hari yang tak bisa dihentikan lajunya. Bergerak tanpa lelah. Begitu pun perubahan. Tak bisa dihentikan. Tak salah bila orang bilang bahwa perubahan adalah sesuatu yang sudah menjadi suatu ketetapan sejarah, bahkan menjadi ketentuan Allah (sunatullah). Kita bisa berkaca kepada diri: apakah saat kita dilahirkan sudah dalam keadaan seperti sekarang? Apakah kita sekarang sama dengan kita pada tahun-tahun yang lalu? Tentu saja tidak. Sebab sudah menjadi hukum sejarah bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini terus mengalami perubahan.

Perubahan terjadi di dalam semua lini kehidupan. Ia mirip sosok makhluk hidup yang mengalami proses melahirkan, tumbuh, sakit, tua dan mati seperti makhluk hidup lainnya. Begitu juga dalam pergantian tahun. Di dalam masa tahun baru itu pasti setiap saat, setiap waktu akan tumbuh tantangan atau pesaing-pesaing baru dengan berbagai kekhasan dan keungulan. Sehingga akan muncul “trend-trend” baru yang kemudian akan menggantikan “trend-trend” lama, yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap setiap aktifitas kehidupan.

Dua Bentuk Perubahan 

Dalam kehidupan sosial tidak ada perubahan yang terjadi dengan alamiah. Semuanya diciptakan. Itu sebabnya dalam kehidupan ini dihadapkan pada dua pilihan, antara menciptakan perubahan sendiri atau justru diubah (mengikuti perubahan yang dibuat orang lain). Yang pertama, memberikan banyak ruang untuk merancang, memilih, menciptakan dan mewujudkan berbagai keinginan dari sisi idealisme. Sedangkan yang kedua, cenderung membelenggu dan memaksa untuk turut pada skenario yang dirancang orang lain. Bila memilih ini, dipastikan tidak membuat diri lebih bebas dan memuaskan dalam hidupnya.

Namun yang harus direnungkan, jika dikaitkan dengan organisasi atau perusahaan tempat kita bekerja, akan terus adakah atau masihkah bertahan di tengah arus perubahan yang semakin cepat dan susah untuk diprediksi seperti sekarang ini. Tentu butuh analisa yang mendalam untuk bisa menjawabnya. Tapi sudahkah memiliki standar untuk mengukurnya?

Memang banyak teori yang berkembang di Barat. Namun jauh sebelum orang-orang Barat bicara manajemen perubahan, Rasulullah saw sudah memberikan isyarat tentang pentingnya sikap terbaik dalam menghadapi perubahan. Dalam sebuah hadits disebutkan, orang-orang yang akan beruntung adalah yang apabila hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin. Sedangkan orang-orang yang akan rugi adalah yang hari ini sama dengan hari kemarin dan akan lebih buruk lagi (bangkrut) jika hari ini lebih jelek dari hari kemarin. Jika pesan ini direnungkan lebih mendalam, maka jelas bisa menjadi standar perubahan, termasuk diri dan aspek luar diri.

CSR Solusi Pemberdayaan

Peningkatan kualitas kehidupan mempunyai arti adanya kemampuan manusia sebagai individu anggota masyarakat untuk dapat menanggapi keadaan sosial yang ada dan dapat menikmati serta memanfaatkan lingkungan hidup, termasuk perubahan-perubahan yang ada sekaligus memelihara.

Apalagi bila dikaitkan dengan perkembangan isu global, manusia yang berdiri secara individu pun secara tak sadar merupakan bagian dunia global. Sehingga konsep diri dan perubahan dunia, terutama dalam kepedulian terhadap manusia secara global pun mulai diperhitungkan.

Dalam hal ini, Corporate Social Responbility (CSR) menjadi salah satu jalan keluar, sekaligus sumber terlaksananya program-program sosial, kemanusiaan, dan pemberdayaan di masyarakat. Namun dikarenakan belum adanya aturan baku dan pemahaman yang sama tentang pemberdayaan masyarakat, masih banyak perusahaan yang melaksanakan CSR hanya sekedar kegiatan yang bersifat insidental, seperti pemberian bantuan untuk korban bencana, sumbangan, serta bentuk-bentuk kegiatan yang bersifat bagi-bagi habis (charity). Apa yang disebut sebagai persoalan oleh perusahaan tersebut cenderung merupakan persoalan dalam konteks sempit, bukan perspektif skala kebutuhan di wilayah perusahaan tersebut beroperasi. Sehingga CSR tersebut hanya menuntaskan permasalahan yang belum menjadi prioritas utama. Sedangkan persoalan-persoalan yang sangat mendesak justru tidak memperoleh perhatian. Karenanya, sudah seharusnya CSR tak hanya bergerak dalam aspek philantropy, melainkan harus merambat naik ke tingkat pemberdayaan masyarakat (community empowerment) dan harus merupakan salah satu bagian policy dari pihak manajemen perusahaan.

Dalam penelitian seorang mahasiswa program Ekonomi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Muhammad Asep Zaelani, dalam beberapa tulisannya memberikan contoh bagaimana sebuah perusahaan melaksanakan program CSR di masyarakat. Ia mencontohkan PT. Unilever yang memiliki program CSR berupa pendampingan terhadap petani kedelai. Bagi para petani, menurut Asep Zaelani, adanya program CSR ini berperan dalam meningkatkan kualitas produksi, sekaligus menjamin kelancaran distribusi. Sedangkan bagi Unilever, hal ini akan menjamin pasokan bahan baku untuk setiap produksi mereka yang berbasis kedelai, seperti kecap Bango, yang telah menjadi salah satu andalan produknya. Di sini tampak bahwa CSR bisa dikatakan potensi besar dana non-pemerintah yang harus didukung sebagai embrio transformasi menuju kemandirian masyarakat. Sebab CSR menjadi salah satu solusi alternatif bagi penyelesaian permasalahan kemiskinan yang ada di masyarakat sekaligus jembatan antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan masyarakat. Sehingga hubungan perusahaan dengan masyarakat dan lingkungannya bisa berjalan dengan lebih baik, lebih harmonis dan saling menguntungkan.

Jadi, pemberdayaan masyarakat tidak hanya dilakukan lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah, tapi juga perusahaan itu sendiri. Yang dalam pelaksanaannya bisa bekerjasama dengan lembaga-lembaga sosial atau pemberdayaan seperti yang konsern dan memiliki pengalaman dalam pemberdayaan masyarakat. (Ahmad Sahidin)